TEPIAN HATI SEORANG ISTRI

Setelah 3 bulan, rehab rumah mas Alya pun selesai. Setidaknya aku kini terbebas dari keharusan untuk selalu bertemu dengan mereka berdua. Bahkan bisa dibilang, aku kini menghindari mereka.

Karena aku tetap terjebak, bahkan makin terperosok dalam pada perasaan indah dan selalu terbayang pada pesona yang Alya tebarkan waktu itu. Aku sering melamunkan Alya, membayangkan pesonanya saat itu.

Aku jatuh cinta pada Alya.

Beneran, aku jatuh cinta padanya.

Jatuh cinta pada istri sahabatku sendiri, yang sudah aku anggap kakakku.

Jatuh cinta pada istrinya yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri...

Kini, Alya bahkan telah menjadi adik kesayanganku. Adikku tersayang, tepatnya, walau hanya aku yang merasakan itu.

Aku gak bisa menyembunyikan perasaan berdebar setiap aku bertemu dengan Alya. Sungguh aku sangat suka pada perasaan berdebar itu. Tapi aku juga gak tahan pada perasaan bersalah setiap bertemu atau teringat mas Ricky.

Aaaahhh

Maju kena, mundur kena

Dimakan mati, tidak dimakan juga mati

Alya semakin dalam mengisi hatiku, memenuhi otakku

Mau merem mau melek, Alya selalu hadir dalam benakku, tersenyum senyum ndak jelas menggodaku.

Halah, ini cuma perasaanku sendiri....

Alya tak pernah bersikap seperti itu lagi padaku, kok

Uwaaaseeemmmm

Maboknya orang jatuh cinta Kalian bisa mengerti, kan?

Alya tersenyum sambil menatapku dalam. Tak ada kata yang diucapkannya, namun tatapannya menusuk ke hatiku.

Aku hanya bisa berdiri kaku, tergagap diam tanpa mampu berbuat apa apa.

Alya maju selangkah ke arahku, aku malah mundur juga selangkah.

Tiba tiba Alya menghambur memelukku, mendorong tubuh kami hingga aku terpepet di dinding. Tinggi kami hampir sama, sehingga dengan mudah Alya mencium bibirku, melumat habis penuh perasaan.

Ciuman orang yang tak tahan menanggung rindu

Begitu dalam, begitu tercurah apa yang dirasakannya, apa yang selama ini ditahannya.

Kak . . . desah Alya disela ciumannya. Kangeeennn. .

Aku lepas kendali, aku balas melumat bibirnya, ikut menumpahkan semua rindu yang aku punya.

Tangan Alya melingkari leherku, sementara tanganku erat memeluk pinggangnya. Tubuh kami menyatu dalam pelukan erat, bibir kami saling melumat. Desah Alya, desahku, bercampur satu dalam kecipak bibir yang beradu. Dada kami saling menekan, seiring dengan kedua kaki yang mencari posisi ternyaman.

Saling mendukung, agar tumpahnya rasa rindu ini bisa maksimal.

Kakak juga kangen kamu, dek . . desahku disela ciuman.

Alya semakin ganas melumat bibirku, aku mengimbangi dengan menjilat dan menghisap bibirnya.

Lidah Alya menerobos masuk ke dalam mulutku, langsung aku hisap dan balas mengusapnya dengan lidahku.

Alya semakin mendesah. Tangannya kini memegang kepalaku, semakin membenamkan ciuman kami.

Aku menarik tubuh Alya, membalikkan arahnya hingga kini Alya yang memepet ke dinding. Tanpa bisa kau tahan, kini aku sudah menciumi leher jenjang Eni yang putih mulus. Alya tertengadah, mendesah geli penuh nikmat.

Oh, Kaaaakkk..

Aku semakin bernafsu menciumi leher Alya, bahkan menjilati dan menggigitnya dengan bibirku. Tangan Alya semakin erat memeluk leherku, meremasi rambutku.

Alya semakin gelisah dalam desahannya.

Dari dagunya, aku bergerak turun menciumi batang tenggorokan Alya. Terus turun hingga daguku mengait di kaos yang dipakainya, mendorongnya semakin turun hingga kini bibirku berada di tengah dadanya.

Tubuh Alya melengkung menahan geli, berakibat kepalaku semakin terbenam di tengah belahan dadanya karena tangan Alya semakin erat memeluk kepalaku. Mataku terpejam, berkonsentrasi agar terbenam semakin dalam di sana.

Buah dada Alya, cukup besar dan kencang, hingga lembah yang terbentuk di tengahnya terlihat begitu nyata. Di lembah itulah sebagian besar wajahku terperosok dalam. Hidungku menghirup wangi tubuhnya, bibir dan lidahku mengecap lembut dadanya.

Alya menjerit lirih.

Kakaaaaakkkk Ooohh..

Tak puas dengan lembahnya, kepalaku mulai menggeleng ke kiri dan ke kanan, menciumi satu persatu buah dada lembut berkulit putih yang dihiasi guratan hijau pembuluh darahnya. Sensasi daging lembut semakin nyata aku rasakan.

Harum.

Lembut.

Kenyal.

Geliat tubuhnya yang menahan geli, jerit tertahannya menyembunyikan rasa nikmat yang menderitanya.

Sensasi itu yang aku rasakan, dalam gelap pejaman mataku di tengah lembah dadanya.

Aku mengerjapkan mataku, mencoba mencari cahaya namun tetap gelap menyelimuti pandanganku. Semakin lama, aku bisa menangkap temaram cahaya lampu tidur di kamarku.

Aku menjerit dalam hati

Ini sudah semakin gila!

Jika sudah sampai terbawa mimpi, artinya saat ketiduran tadi sebenarnya aku tak pernah berhenti memikirkan Alya.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.