Suamiku Selingkuh Dengan Pembantu

Bahu Bu Tari bergetar hebat. Rasa mual yang tak tertahankan mencengkeram perutnya, jauh lebih parah daripada mual di awal kehamilannya dulu. Ia ingin muntah, memuntahkan semua rasa sakit dan pengkhianatan yang baru saja ia telan mentah-mentah. Mata Maya, yang kini menunduk penuh rasa bersalah, hanya memperjelas kepahitan di hatinya. Bayi di gendongan Maya seolah memancarkan aura tak kasat mata, menudingnya dengan bisu. Tanda lahir di pipi mungil itu, juling di salah satu matanya, telinga yang sedikit tidak simetris – semua itu adalah cap pengkhianatan suaminya.

"Jadi... ini anakmu... dengan Hadit?" Suara Bu Tari serak, nyaris tak bisa dikenali. Setiap kata terasa seperti pecahan kaca yang melukai tenggorokannya.

Maya hanya mengangguk, tanpa berani menatap mata Bu Tari. Air matanya terus mengalir, membasahi pipi bayi yang tak berdosa dalam pelukannya.

Bu Tari merasakan lututnya lemas. Rasanya seluruh kekuatan di tubuhnya menguap. Ia terhuyung mundur selangkah, lalu bersandar pada mobilnya, memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut hebat. Dunia seolah berputar, dan suara hujan gerimis yang mulai membasahi rambutnya terasa seperti air mata langit yang ikut meratapi nasibnya.

"Kenapa, Maya?" tanya Bu Tari lagi, suaranya kini naik satu oktaf, penuh kepedihan dan amarah yang meledak. "Kenapa kamu melakukan ini? Dia... dia punya istri! Dia punya anak-anak! Apa yang kurang dari dia sampai dia harus mencari yang lain?"

Maya mengangkat kepalanya perlahan, matanya merah dan bengkak. "Maafkan saya, Bu Tari... saya... saya khilaf." Suaranya begitu kecil, begitu rapuh.

"Khilaf?" Bu Tari tertawa getir. Tawa yang kosong, tawa yang penuh rasa sakit. "Khilaf itu bukan sampai punya anak, Maya! Itu namanya niat! Perencanaan! Kalian berdua sama saja!"

Bayi dalam pelukan Maya mulai rewel, seolah ikut merasakan ketegangan yang mencekik di antara dua wanita itu. Maya segera menenangkan bayinya, mengusap punggungnya dengan lembut. Pemandangan itu, Maya sebagai seorang ibu, dengan anak suaminya, menghantam Bu Tari dengan gelombang kepedihan yang baru.

"Sudah berapa lama ini?" desak Bu Tari, mendekat lagi, tatapannya tajam menembus Maya.

Maya menunduk lagi. "Sejak... sejak Ibu hamil besar, Bu."

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Maya. Bukan dari tangan Bu Tari, melainkan dari kenyataan yang baru saja ia dengar. Bu Tari sedang berjuang dengan mual, kelelahan, dan ketidaknyamanan kehamilan, mengorbankan segalanya demi keluarga mereka, sementara suaminya... suaminya sedang berselingkuh dengan pembantu rumahnya sendiri.

"Saat aku sedang mengandung anak-anaknya?" Bu Tari berbisik, matanya berkaca-kaca menahan luapan emosi. "Saat aku sedang mempertaruhkan nyawaku untuk melahirkan anak-anaknya? Saat itu dia justru menidurimu? Apa dia tidak punya hati, Maya? Apa kamu juga tidak punya hati?"

Maya tidak menjawab. Ia hanya terus menangis, memeluk bayinya erat-erat.

Bu Tari merasakan dadanya sesak. Ia ingin berteriak, merobek-robek kemeja Maya, menampar wajah suaminya. Tapi yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri di sana, di bawah hujan gerimis yang semakin deras, membiarkan air mata membasahi wajahnya, bercampur dengan tetesan hujan.

"Bagaimana aku bisa hidup setelah ini?" desahnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Maya. "Bagaimana aku bisa melihat wajahnya? Wajah anak-anakku?"

Ia melihat ke arah bayi yang digendong Maya. Sekali lagi, matanya terfokus pada tanda lahir itu. Lalu ia teringat pada guratan serupa di punggung Pak Hadit. Sebuah benang merah yang tak terbantahkan. Bayi ini adalah bukti hidup dari pengkhianatan yang paling keji.

"Aku akan bicara dengannya," kata Bu Tari dengan suara dingin, penuh tekad yang tiba-tiba muncul. "Hari ini juga. Kalian berdua akan mempertanggungjawabkan perbuatan ini."

Maya tersentak, tatapan panik terpancar di matanya. "Jangan, Bu Tari... tolong... jangan bilang Pak Hadit saya yang memberitahu."

"Apa peduliku?" balas Bu Tari. "Ini semua akan terungkap cepat atau lambat. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang sementara aku menderita!"

Tanpa menunggu jawaban Maya, Bu Tari berbalik, berjalan terhuyung-huyung kembali ke mobilnya. Air matanya semakin deras. Ia menyalakan mesin, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tak wajar, menyusuri jalanan yang basah, seolah ingin melarikan diri dari kenyataan yang baru saja menghantamnya.

Di sepanjang perjalanan pulang, pikiran Bu Tari kacau balau. Kenangan-kenangan indah bersama Pak Hadit melintas di benaknya, berubah menjadi duri yang menusuk hatinya. Pernikahan mereka yang dulu begitu dielu-elukan, cinta mereka yang dianggap sempurna, kini hanya tinggal puing-puing. Senyum manis Pak Hadit, pelukannya yang hangat, bisikan cintanya – semua itu terasa menjijikkan. Bagaimana bisa seseorang yang begitu ia cintai, yang begitu ia percayai, melakukan hal sekeji ini? Dan dengan Maya, seorang wanita yang ia terima di rumahnya, ia perlakukan dengan baik?

Ketika ia tiba di rumah, hujan sudah berhenti. Lampu-lampu rumah bersinar terang, menciptakan ilusi kehangatan dan kebahagiaan yang kini terasa palsu. Pak Hadit sedang duduk di ruang keluarga, membaca koran, seolah tidak ada yang terjadi. Suara tawa bayi-bayi mereka terdengar dari kamar, membuat hati Bu Tari semakin ngilu.

Pak Hadit mengangkat kepalanya saat mendengar pintu terbuka. Ia tersenyum, senyum yang langsung membuat Bu Tari muak. "Sudah pulang, Sayang? Kok basah kuyup begitu?" tanyanya, nada suaranya riang.

Bu Tari tidak menjawab. Ia hanya berjalan lurus ke arah Pak Hadit, matanya yang merah dan bengkak menatap suaminya dengan nyala kemarahan yang membara. Ia melemparkan amplop kosong yang berisi kuitansi kontrakan Maya ke atas meja, tepat di hadapan Pak Hadit.

Senyum di wajah Pak Hadit menghilang. Matanya melirik amplop itu, lalu kembali menatap Bu Tari. Ia bisa melihat badai yang mengamuk di mata istrinya.

"Apa ini, Hadit?" tanya Bu Tari, suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang menakutkan.

Pak Hadit mengambil amplop itu, membuka kuitansi di dalamnya. Wajahnya langsung memucat. Ia menatap Maya, lalu kembali ke Bu Tari. "Ini... ini bukan apa-apa, Tari. Ini... ini hanya kuitansi lama."

"Kuitansi lama?" Bu Tari tertawa sinis. "Kuitansi lama yang kebetulan atas nama Maya? Pembantu yang katanya pulang kampung karena orang tuanya sakit, padahal dia ada di kontrakan itu, dengan... dengan anakmu!"

Kata "anakmu" menggema di ruangan itu, menusuk telinga Pak Hadit seperti belati tajam. Tubuhnya menegang, seluruh darah seolah mengalir deras dari wajahnya. Ia tergagap, mencari kata-kata. "Anakku? Apa... apa maksudmu, Tari?"

"Jangan pura-pura bodoh, Hadit!" Bu Tari berteriak, suaranya pecah oleh emosi. Ia tidak bisa lagi menahan diri. "Aku baru saja dari kontrakan itu! Aku melihat Maya! Aku melihat bayinya! Bayi itu... bayi itu anakmu!"

Pak Hadit terhuyung mundur, menjatuhkan kuitansi itu ke lantai. Ia tidak bisa menyangkal lagi. Maya sudah mengakuinya. Semua sudah terbongkar. Wajahnya yang pucat kini berganti merah padam, bercampur rasa malu dan ketakutan.

"Tari... Sayang... dengarkan aku," Pak Hadit mencoba mendekati Bu Tari, meraih tangannya.

Namun Bu Tari menepis tangannya dengan kasar. "Jangan sentuh aku! Jangan panggil aku Sayang! Kau menjijikkan, Hadit! Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Pada kita? Pada anak-anak kita?!" Air mata Bu Tari kembali mengalir deras, membasahi pipinya. "Saat aku sedang mengandung, saat aku sedang mengurus bayi-bayimu, kau justru bersenang-senang dengan pembantumu! Kau menidurinya! Dan sekarang... dia punya anakmu! Anak yang... yang cacat itu!"

Kata "cacat" lolos begitu saja dari mulut Bu Tari. Ia tahu itu kejam, tapi rasa sakit dan kemarahan telah menguasai dirinya.

Mendengar kata-kata itu, Pak Hadit tertunduk. Rasa bersalah menghimpit dadanya. Ia tahu ia pantas menerima semua makian ini. Ia telah menghancurkan segalanya.

"Aku... aku minta maaf, Tari," Pak Hadit berbisik, suaranya penuh penyesalan. "Aku khilaf. Aku... aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini."

"Khilaf?" Bu Tari mengulang kata itu dengan nada jijik. "Khilaf yang menghasilkan seorang anak? Kau tahu seberapa besar ini melukaiku, Hadit? Seberapa besar ini menghancurkan harga diriku? Aku memercayaimu dengan sepenuh hatiku! Aku mencintaimu! Dan kau membalasnya dengan pengkhianatan semurah ini?!"

Bu Tari menunjuk ke arah Pak Hadit, jari telunjuknya gemetar. "Kau bilang cinta adalah sebuah permata? Dan aku adalah permata bagimu? Lalu apa ini, Hadit? Apa ini? Kau membuang permata itu demi... demi sebutir biji jagung!" Ia menunjuk ke arah pintu, seolah Maya masih berdiri di sana. "Dan lihat apa yang kau dapatkan! Biji jagung yang busuk! Anak yang cacat!"

Kata-kata itu menghantam Pak Hadit seperti pukulan bertubi-tubi. Ia merasa seperti sampah. Ia memang pantas disebut sampah. Semua kesuksesan, semua kekayaan, semua citra sempurna yang selama ini ia bangun, kini runtuh berkeping-keping di hadapan istrinya.

"Aku tidak bisa menerima ini, Hadit," kata Bu Tari, suaranya pelan tapi tegas. "Aku tidak bisa hidup dengan seorang pengkhianat. Aku tidak bisa hidup dengan orang yang telah menodai kesucian rumah ini."

Pak Hadit mengangkat kepalanya, matanya membelalak panik. "Tari... jangan bicara begitu. Kita bisa menyelesaikan ini. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku akan memutuskan hubungan dengan Maya. Aku akan... aku akan lakukan apapun untukmu."

"Apapun?" Bu Tari tersenyum pahit. "Bisakah kau menghapus semua ini? Bisakah kau membuat semua ini tidak pernah terjadi? Bisakah kau membuat anak itu tidak pernah ada?"

Pak Hadit terdiam. Ia tidak bisa. Tidak ada yang bisa mengembalikan waktu.

"Aku tidak tahu harus berbuat apa," kata Bu Tari, suaranya bergetar. "Aku... aku butuh waktu. Aku butuh menjauh darimu. Aku tidak bisa melihatmu sekarang."

Ia berbalik, berjalan menuju tangga, air matanya masih mengalir. Pak Hadit mencoba menghentikannya, meraih tangannya lagi. "Tari, jangan pergi. Kita harus bicara. Bagaimana dengan anak-anak?"

Bu Tari menarik tangannya. "Aku akan membawa anak-anak. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup di bawah atap yang sudah ternoda ini."

Pak Hadit panik. "Jangan, Tari! Mereka masih bayi! Mereka butuh aku!"

"Mereka butuh ibu yang waras, Hadit!" Bu Tari berteriak, lalu berlari menaiki tangga.

Pak Hadit hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan kepergian istrinya. Suara tangisan bayi-bayinya yang kini terdengar lebih jelas, menambah penderitaannya. Ia telah menghancurkan keluarganya sendiri. Ia telah menukar kebahagiaan sejati dengan nafsu sesaat.

Malam itu, Bu Tari mengemasi barang-barangnya dan barang-barang bayi kembar mereka. Dengan bantuan suster, yang wajahnya menunjukkan kebingungan dan kekhawatiran, ia menyiapkan segala sesuatunya. Pak Hadit mencoba membujuk, memohon, dan bahkan mengancam, tetapi Bu Tari tetap teguh. Ia menelepon orang tuanya, memberi tahu bahwa ia akan pulang ke rumah mereka, tanpa menjelaskan detail apapun selain "ada masalah keluarga".

Orang tua Bu Tari, yang tinggal di kota lain, segera mengirimkan mobil untuk menjemput. Dini hari, ketika kota masih diselimuti kegelapan, Bu Tari dan kedua bayinya meninggalkan rumah mewah itu. Rumah yang dulu adalah surga baginya, kini terasa seperti neraka.

Pak Hadit berdiri di teras, menyaksikan mobil yang membawa istri dan anak-anaknya menjauh, menghilang ditelan kegelapan malam. Ia merasakan kehampaan yang luar biasa. Rumah ini, yang tadinya penuh tawa dan kehangatan, kini terasa dingin dan sepi. Hanya ada dirinya, dan bayangan-bayangan penyesalan yang menghantuinya.

Ia kembali masuk ke dalam rumah yang hening. Suara hembusan AC dan detak jam dinding terdengar begitu jelas, seolah mengejek kesunyian yang mencekam. Ia berjalan menuju ruang keluarga, tempat pertengkaran hebat itu terjadi. Amplop dan kuitansi Maya masih tergeletak di lantai, seperti saksi bisu dari kehancuran yang ia ciptakan.

Pak Hadit duduk di sofa, menenggelamkan wajahnya di telapak tangan. Rasa sakit, penyesalan, dan ketakutan bercampur aduk di dalam dirinya. Ia telah mengorbankan segalanya demi kenikmatan sesaat. Istrinya yang jelita, anak-anaknya yang menggemaskan, reputasinya, dan kebahagiaan keluarganya – semuanya telah ia hancurkan dengan tangannya sendiri.

Bayangan wajah Maya, senyum misteriusnya, sentuhannya yang memikat, kini terasa menjijikkan. Ia menyalahkan Maya, menyalahkan keadaan, tetapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa satu-satunya yang patut disalahkan adalah dirinya sendiri. Dialah yang memulai semuanya, dialah yang terbawa nafsu, dialah yang menghancurkan pondasi pernikahannya.

Lalu, bagaimana dengan Maya dan anaknya? Pikirannya kembali tertuju pada mereka. Ia telah menjamin akan membiayai hidup mereka, namun kini, dengan terbongkarnya rahasia ini, semuanya menjadi lebih rumit. Ia tidak bisa mengabaikan mereka, karena bagaimanapun juga, anak itu adalah darah dagingnya. Namun, ia juga tidak bisa membawa mereka ke dalam kehidupannya yang sekarang sudah hancur berantakan.

Malam itu, Pak Hadit tidak tidur. Ia menghabiskan sisa malamnya dengan menenggelamkan diri dalam alkohol, mencoba melarikan diri dari kenyataan. Namun, setiap tegukan hanya memperjelas bayangan penyesalan yang terus-menerus muncul.

Keesokan harinya, berita tentang kepergian Bu Tari mulai menyebar di antara para pekerja rumah tangga. Mereka berbisik-bisik, saling pandang penuh pertanyaan. Pak Amir, kepala rumah tangga, tampak tegang. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres, namun tidak berani bertanya kepada Pak Hadit.

Pak Hadit menghabiskan hari-harinya dalam kesunyian yang menyiksa. Ia pergi ke kantor, tetapi pikirannya tidak fokus. Bisnisnya mulai terganggu. Mitra kerjanya menyadari ada yang salah dengan dirinya, namun Pak Hadit hanya menjawab dengan singkat, "Masalah keluarga."

Setiap malam, ia kembali ke rumah yang kosong, merasakan dinginnya kesendirian. Ia merindukan tawa bayi-bayinya, suara lembut Bu Tari, bahkan omelan kecilnya. Semua kehangatan itu kini telah tiada, digantikan oleh kekosongan yang mematikan.

Ia mencoba menelepon Bu Tari berkali-kali, namun tidak pernah diangkat. Pesan-pesannya tidak pernah dibalas. Ia mencoba menghubungi orang tua Bu Tari, namun mereka hanya mengatakan bahwa Bu Tari sedang membutuhkan waktu.

Pak Hadit merasa putus asa. Ia telah kehilangan permata berharganya, dan kini, ia terjebak dalam dilema yang mengerikan. Ada seorang wanita lain, Maya, dan seorang anak lain, yang kini bergantung padanya. Anak yang lahir dari dosa, anak yang cacat, anak yang menjadi pengingat abadi akan kebodohannya.

Apakah ini karma? Ya, Pak Hadit percaya itu adalah karma. Sebuah balasan yang adil atas pengkhianatan yang telah ia lakukan. Ia telah membuang berlian demi sebuah biji jagung, dan kini, biji jagung itu justru menjadi duri di kakinya, melukai setiap langkahnya.

Hidup Pak Hadit, yang dulu tampak sempurna dan penuh kebahagiaan, kini berubah menjadi neraka. Ia tidak tahu bagaimana caranya keluar dari semua ini. Ia tidak tahu apakah ia akan pernah mendapatkan kembali apa yang telah ia sia-siakan. Kebahagiaan sejati telah direnggut darinya, digantikan oleh bayang-bayang penyesalan dan konsekuensi yang pahit. Bab ini hanyalah awal dari perjalanan panjangnya dalam menghadapi badai yang menerjang hati dan kehidupannya.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.