Suamiku Selingkuh Dengan Pembantu

Minggu-minggu setelah kepergian Bu Tari terasa seperti tahunan bagi Pak Hadit. Rumah mewah yang dulunya dipenuhi tawa riang bayi kembar dan kehangatan suara Bu Tari, kini terasa hampa dan dingin. Setiap sudut seolah menyimpan gema pertengkaran mereka, bisikan pengkhianatan yang tak termaafkan. Sarapan pagi yang dulu selalu dihidangkan dengan rapi oleh Maya, kini terasa hambar, dimasak oleh asisten rumah tangga pengganti yang baru datang dan belum terbiasa dengan selera Pak Hadit. Namun, bahkan jika rasanya sempurna pun, Pak Hadit tak akan bisa menikmatinya. Nasi yang ia telan terasa seperti kerikil, kopi yang ia sesap terasa pahit.

Ia mencoba mengisi kekosongan itu dengan bekerja, tenggelam dalam tumpukan berkas dan proyek-proyek baru. Namun, fokusnya buyar. Angka-angka di laporan keuangan tampak kabur, presentasi di hadapan klien terasa seperti gumaman tak berarti. Pikirannya terus-menerus kembali pada Bu Tari dan anak-anaknya, lalu beralih pada Maya dan bayi yang cacat itu. Ada dua dunia yang kini menuntut perhatiannya, dan ia berdiri di persimpangan jalan, diliputi penyesalan yang tak berujung.

Setiap malam, ia kembali ke rumah yang senyap. Biasanya, setelah makan malam, ia akan menghabiskan waktu di ruang keluarga, bermain dengan bayi-bayinya atau mengobrol ringan dengan Bu Tari. Kini, sofa itu kosong, mainan-mainan bayi teronggok di sudut, seolah mengejek kesendiriannya. Ia seringkali duduk di sana, menatap kosong ke arah televisi yang tak menyala, membiarkan bayang-bayang kesalahannya menari-nari di dinding.

Telepon genggamnya menjadi satu-satunya jembatan ke dunia luar, namun jembatan itu pun terasa rapuh. Ia terus mencoba menghubungi Bu Tari, mengirim pesan demi pesan, memohon maaf, menjelaskan bahwa ia "khilaf" dan berjanji akan "memperbaiki semuanya." Namun, balasan yang ia dapatkan hanyalah keheningan. Terkadang, ia mencoba menelepon orang tua Bu Tari, memohon bantuan mereka untuk membujuk putri mereka kembali. Namun, Ayah Bu Tari, seorang pensiunan jenderal yang disegani, hanya menjawab dengan suara dingin.

"Hadit, kau sudah tahu konsekuensi dari perbuatanmu. Putriku terluka parah. Dia butuh waktu. Jangan ganggu dia."

Kata-kata itu bagai pukulan telak. Bahkan mertuanya pun, yang dulu sangat menyayanginya, kini berbalik melawannya. Reputasinya, yang selama ini ia bangun dengan susah payah, mulai terkikis. Bisikan-bisikan tentang "masalah keluarga" di kalangan rekan bisnisnya semakin santer terdengar. Beberapa proyek penting tiba-tiba tertunda, dan ada beberapa investor yang menarik diri, beralasan "mempertimbangkan ulang situasi pasar." Pak Hadit tahu itu hanya alasan. Mereka pasti sudah mendengar kabar miring tentang dirinya.

Di sisi lain, ada Maya. Setelah kejadian di kontrakan itu, Pak Hadit meneleponnya, menginterogasinya habis-habisan mengapa ia berani memberitahu Bu Tari. Maya, yang masih syok dan ketakutan, hanya bisa meminta maaf berulang kali, mengatakan bahwa ia "tidak sengaja" dan "terlalu takut untuk berbohong." Pak Hadit mencak-mencak, namun di lubuk hatinya, ia tahu bahwa cepat atau lambat, rahasia ini pasti akan terbongkar.

Meskipun marah dan kesal, Pak Hadit tidak bisa mengabaikan Maya dan anaknya. Bagaimanapun, darah dagingnya mengalir di tubuh bayi itu. Ia tetap mengirimkan uang setiap bulan untuk kebutuhan mereka, bahkan menambah jumlahnya sedikit untuk biaya perawat dan pengobatan kondisi khusus bayi itu. Sesekali, dengan menyamar dan menggunakan mobil yang berbeda, ia akan mengunjungi kontrakan Maya. Bukan untuk mencari nafsu, melainkan untuk melihat anaknya, bayi yang lahir dari kesalahannya.

Setiap kali melihat bayi itu, hati Pak Hadit akan diselimuti campuran rasa bersalah, penyesalan, dan juga sedikit kasih sayang yang aneh. Ia akan mengamati Rian, nama yang diberikan Maya untuk putranya. Rian adalah nama yang sederhana, mungkin nama yang dipilih Maya sendiri, jauh dari nama-nama mewah yang ia siapkan untuk anak-anaknya yang sah. Rian akan menatapnya dengan mata kecilnya yang sedikit juling, terkadang tersenyum polos tanpa tahu siapa pria di depannya ini.

Tanda lahir di pipi Rian selalu menjadi pengingat yang menyakitkan. Setiap kali melihatnya, Pak Hadit akan teringat kata-kata pedas Bu Tari: "Anak yang cacat!" Ia membenci kata-kata itu, namun ia tidak bisa menyangkalnya. Kondisi Rian memang berbeda. Dan itu adalah konsekuensi langsung dari perbuatannya.

Suatu sore, di tengah kunjungannya yang rahasia, Maya mencoba berbicara dengannya. "Pak Hadit... saya tahu saya salah. Saya tahu saya sudah menghancurkan segalanya. Tapi... bisakah Bapak memikirkan Rian?"

Pak Hadit menatap Maya. Wanita itu tampak lebih kurus, wajahnya kuyu karena kelelahan mengurus bayi sendirian. Ada kerutan di sudut matanya, bekas tangisan yang tak terhitung jumlahnya. Pesona yang dulu memikatnya seolah telah memudar, tergantikan oleh aura kesedihan dan keputusasaan.

"Maksudmu?" tanya Pak Hadit datar.

"Rian... dia membutuhkan ayahnya, Pak. Dia membutuhkan pengakuan," Maya berbisik, suaranya tercekat. "Saya tahu ini tidak mudah, tapi... dia pantas mendapatkan status, Pak."

Pengakuan. Kata itu membuat Pak Hadit merinding. Mengakui Rian berarti mengakui perselingkuhannya di depan publik, di depan keluarganya, di depan dunia bisnisnya. Itu berarti kehancuran total bagi reputasinya. Ia akan menjadi bahan ejekan, pria yang meniduri pembantunya dan memiliki anak di luar nikah.

"Tidak mungkin, Maya," kata Pak Hadit tegas. "Aku tidak bisa. Jangan meminta hal yang mustahil."

"Tapi, Pak..."

"Maya, aku sudah menanggung semua biaya kalian. Aku sudah memberikan kalian tempat tinggal. Apa lagi yang kamu mau?" Suara Pak Hadit meninggi. Ia merasa terpojok.

"Bukan hanya uang, Pak," Maya menjawab dengan suara lemah. "Dia membutuhkan seorang ayah. Nama. Masa depan."

Pak Hadit menghela napas. "Masa depannya akan terjamin. Aku akan mengurus pendidikan dan kehidupannya. Tapi bukan sebagai anakku yang diakui secara terang-terangan. Itu tidak mungkin."

Maya menunduk, air mata kembali mengalir. "Jadi... kami akan selamanya menjadi rahasia?"

Hati Pak Hadit mencelos melihat kesedihan Maya. Ia tahu itu egois, namun ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak bisa kehilangan segalanya. Atau setidaknya, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bu Tari dan anak-anaknya yang sah masih bisa ia rebut kembali, jika rahasia ini tidak menyebar lebih jauh.

"Ini demi kebaikan semua, Maya," kata Pak Hadit, suaranya melembut sedikit, meskipun ia sendiri tidak yakin akan kebenaran kata-katanya. "Jika semua ini terungkap, hidup kalian juga tidak akan tenang. Aku akan dicemooh, dan kalian... kalian juga akan menjadi korban gosip. Bukankah lebih baik seperti ini? Kalian aman, terjamin, dan tidak ada yang tahu?"

Maya tidak menjawab. Ia hanya terus menangis, memeluk Rian yang tertidur pulas di pangkuannya. Pak Hadit merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia adalah seorang pengecut. Ia telah berbuat dosa, dan kini ia mencoba menutupinya dengan kebohongan lain, bahkan mengorbankan masa depan anaknya sendiri.

Beberapa hari kemudian, Pak Hadit memutuskan untuk mengambil langkah drastis. Ia mencoba menelepon Bu Tari lagi. Kali ini, ia tidak memohon, ia hanya menyampaikan sebuah ultimatum.

"Tari, aku tahu kau marah. Aku tahu aku salah. Tapi kita punya dua anak. Mereka butuh kedua orang tuanya. Aku akan datang ke rumah orang tuamu besok. Kita harus bicara. Jika kau tidak mau bicara, aku akan... aku akan menganggap ini sebagai perpisahan. Dan aku akan mencari jalan lain."

Kata-kata "jalan lain" yang ia maksud adalah ancaman terselubung untuk menuntut hak asuh atas anak-anaknya secara hukum, meskipun ia tahu ia berada di posisi yang sangat lemah. Namun, ia berharap ancaman itu akan cukup untuk membuat Bu Tari mau berhadapan dengannya.

Mengejutkannya, Bu Tari merespons. Bukan dengan suara, melainkan dengan pesan singkat: "Datanglah. Aku akan bicara. Tapi jangan harap aku akan memaafkanmu."

Pak Hadit merasakan sedikit kelegaan. Setidaknya, ada celah. Ia masih punya kesempatan.

Keesokan harinya, Pak Hadit terbang ke kota tempat orang tua Bu Tari tinggal. Ia datang dengan setelan jas rapi, mencoba menampilkan citra pria yang menyesal namun masih berwibawa. Namun, saat ia melangkah masuk ke rumah besar bergaya kolonial milik mertuanya, ia tahu ia sedang menghadapi medan perang yang berat.

Ayah Bu Tari menyambutnya dengan tatapan dingin, tanpa senyum. Ibu Bu Tari hanya mengangguk sopan, matanya menyiratkan kesedihan. Dan Bu Tari, ia duduk di ruang tamu, dengan Bu Tari di sampingnya. Ia tampak kurus, matanya masih merah, namun sorot matanya kini mengandung ketegasan yang belum pernah Pak Hadit lihat sebelumnya.

Bayi kembar mereka, Arjuna dan Saraswati, digendong oleh pengasuh di ruangan terpisah. Pak Hadit bisa mendengar gumam tawa mereka, yang justru membuat hatinya semakin nyeri.

"Kau datang, Hadit," kata Bu Tari, suaranya datar.

"Aku ingin bicara denganmu, Tari," jawab Pak Hadit, suaranya bergetar.

"Apa yang ingin kau bicarakan? Mengapa kau menidurinya? Mengapa kau membohongiku? Mengapa kau menghasilkan anak dari wanita itu?" Pertanyaan Bu Tari langsung menusuk jantung.

Pak Hadit tergagap. "Aku... aku sudah bilang, aku khilaf. Aku tidak tahu apa yang merasukiku. Aku menyesal, Tari. Sungguh-sungguh menyesal."

"Menyesal?" Bu Tari mengangkat alisnya. "Penyesalanmu tidak akan mengembalikan harga diriku, Hadit. Tidak akan menghapus fakta bahwa kau telah mengkhianatiku di rumah kita sendiri."

"Aku tahu, Tari. Aku pantas menerima ini. Aku pantas menerima semua kemarahanmu," kata Pak Hadit. "Tapi... bisakah kita memikirkan anak-anak? Mereka masih kecil. Mereka butuh kita berdua."

Bu Tari terdiam. Ia menoleh ke arah orang tuanya, seolah mencari kekuatan. Ayahnya mengangguk kecil, seolah memberi izin untuk melanjutkan.

"Aku sudah memikirkannya," kata Bu Tari, suaranya serius. "Aku tahu aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tahu anak-anak butuh ayah. Tapi aku juga tidak bisa hidup dengan pengkhianat. Ada beberapa syarat, Hadit."

Pak Hadit mengangkat kepalanya, ada secercah harapan di matanya. "Syarat apapun, Tari. Akan aku penuhi."

"Pertama, hubunganmu dengan Maya harus benar-benar berakhir. Tidak ada lagi kontak, tidak ada lagi pertemuan, tidak ada lagi uang yang mengalir ke sana. Aku akan memastikan sendiri."

"Baik, aku setuju," kata Pak Hadit cepat, meskipun ia tahu betapa sulitnya itu. Bagaimana dengan Rian? Ia tidak bisa begitu saja memutuskan hubungan dengan anaknya sendiri. Namun, ia tidak berani menyuarakan keraguannya.

"Kedua," lanjut Bu Tari, matanya menajam, "Kau harus mengakui semua perbuatanmu kepadaku. Semua detailnya. Aku ingin tahu segalanya. Dari awal sampai akhir. Aku ingin kau jujur, Hadit, meskipun itu akan melukaiku lebih dalam."

Pak Hadit menelan ludah. Ini adalah bagian tersulit. Mengakui semua detail yang memuakkan itu adalah siksaan. Tapi ia tahu, jika ia ingin mendapatkan Bu Tari kembali, ia harus melakukannya.

"Baik," bisik Pak Hadit. "Aku akan ceritakan semuanya."

"Ketiga," Bu Tari menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak akan pernah melupakan ini, Hadit. Luka ini akan tetap ada. Jadi, kau harus hidup dengan rasa bersalahmu. Kau harus menebusnya seumur hidupmu. Dan kau harus selalu memperlakukanku dengan hormat, dengan kesetiaan yang tak pernah kau berikan padaku selama ini."

Pak Hadit mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku bersumpah, Tari. Aku akan lakukan semua itu. Aku akan menebusnya seumur hidupku."

"Dan yang terakhir..." Bu Tari terdiam sejenak, menatap Pak Hadit dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mengenai anak itu..."

Jantung Pak Hadit berdebar kencang. Ini dia. Ini adalah inti masalahnya.

"Aku tidak ingin dia berada di dekat kita," kata Bu Tari, suaranya bergetar, namun ia berusaha keras untuk tetap tegas. "Aku tidak ingin dia menjadi bagian dari keluarga ini. Dia adalah pengingat abadi dari pengkhianatanmu, Hadit. Aku tidak bisa melihatnya setiap hari."

Pak Hadit merasakan pukulan keras. Permintaan itu kejam, namun ia mengerti. Bagaimana mungkin Bu Tari bisa menerima anak dari wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya?

"Lalu... bagaimana dengan dia, Tari?" tanya Pak Hadit, memikirkan Rian.

"Terserah kau mau mengurusnya bagaimana," jawab Bu Tari dingin. "Aku tidak peduli. Selama dia tidak muncul di hadapanku, dan tidak mengganggu kehidupan kita. Itu urusanmu dan Maya. Aku tidak mau tahu."

Kini giliran Pak Hadit yang terdiam. Ia dihadapkan pada pilihan yang sangat berat. Kembali pada kehidupan lamanya yang sempurna bersama Bu Tari dan anak-anaknya, namun dengan syarat harus menyingkirkan Rian, anaknya sendiri. Atau tetap mempertahankan Rian, yang berarti kehilangan Bu Tari selamanya, dan hidup dengan konsekuensi dari perbuatan yang ia lakukan dengan Maya.

Ia memandang wajah Bu Tari yang masih terluka, namun juga memancarkan tekad yang kuat. Lalu ia membayangkan wajah Rian, bayi tak berdosa yang lahir ke dunia karena kesalahan fatalnya. Ia adalah ayahnya. Bagaimana mungkin ia bisa menelantarkan anaknya sendiri?

Namun, ia juga tidak bisa kehilangan Bu Tari. Bu Tari adalah pondasi hidupnya, ibu dari anak-anaknya yang sempurna. Ia adalah berlian yang telah ia sia-siakan.

Pak Hadit menarik napas dalam-dalam, mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Ia tidak punya pilihan. Untuk mendapatkan kembali berliannya, ia harus membuang biji jagung itu jauh-jauh.

"Aku setuju, Tari," kata Pak Hadit, suaranya parau, namun ia mengatakannya dengan tegas. "Aku akan pastikan dia... dia tidak akan mengganggu hidup kita."

Bu Tari menatapnya lama, seolah mencoba mencari kebohongan di matanya. Namun, ia tidak menemukan apa-apa selain penyesalan dan keputusasaan.

"Baiklah," kata Bu Tari akhirnya. "Mulai sekarang, kita akan mencoba. Tapi ingat, Hadit, satu kesalahan lagi, satu kebohongan lagi, dan semuanya akan berakhir selamanya. Aku tidak akan pernah kembali padamu."

Malam itu, Pak Hadit kembali ke rumahnya dengan Bu Tari dan anak-anaknya. Rumah itu tidak lagi kosong. Tawa bayi-bayinya kembali memenuhi setiap sudut. Bu Tari tampak lelah, namun ia berusaha untuk kuat. Mereka mulai menjalani kehidupan baru, sebuah kehidupan yang dibangun di atas puing-puing kepercayaan yang hancur, dan sebuah janji yang berat.

Namun, di dalam diri Pak Hadit, ada sebuah pertarungan batin yang belum selesai. Ia telah berjanji kepada Bu Tari untuk memutuskan semua hubungan dengan Maya dan Rian. Tapi bagaimana mungkin ia bisa menelantarkan darah dagingnya sendiri? Bayangan wajah Rian, matanya yang sedikit juling, tanda lahir di pipinya, terus menghantuinya. Apakah ia akan benar-benar bisa hidup bahagia setelah ini, dengan bayangan karma yang terus mengikutinya? Apakah harga yang ia bayar untuk mendapatkan kembali berliannya terlalu mahal?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benaknya, menandakan bahwa meskipun Bu Tari telah kembali, perjuangan Pak Hadit untuk menemukan kedamaian sejati belumlah berakhir. Kebahagiaan seolah masih menjadi fatamorgana di tengah gurun penyesalan yang membentang luas.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Chapters
Customize

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.