Rabu, 12 Desember 2022
Kyorin menatap Jeno meminta penjelasan. Dia melihat enam pria berdiri di depan gedung bioskop. Salah satunya melambai begitu melihat Kyorin dan Jeno berjalan mendekat.
"Bukankah kau perlu menjelaskan sesuatu padaku?"
Kyorin mengatakannya sembari tersenyum paksa. Dia sedang membalas lambaian tangan Michel.
Sambil terus berjalan. Jeno menjawab, "Apa? Bukankah kau ingin nonton film. Sekarang kita akan nonton film."
"Tapi kenapa ada mereka?" tanya Kyorin. Owh, ayolah Jeno. Kau tidak peka apa yang diinginkan Kyorin?
"Biasanya juga selalu nonton bersama mereka."
Jeno sangat tahu sebenarnya maksud pertanyaan Kyorin. Wanita di sebelahnya ini yang masih sibuk tersenyum dan melambaikan tangan hanya ingin menonton berdua. Dia bahkan bisa melihat beberapa detik raut wajahnya berubah kesal.
Wanita itu pandai berakting. Empat tahun berhubungan bersama Kyorin sangat tau dengan kemampuannya itu. Mungkin mata kuliah kajian drama di jurusannya semakin menguatkan kemampuannya. Seperti saat sekarang ini.
"Film apa yang akan kita tonton?" tanya Juan.
Mereka belum memutuskan. Terus melihat-lihat poster film yang menarik. Ah, sebenarnya tidak semua. Dari awal Kyorin sudah menetapkan film yang ingin ditontonnya.
Ia hanya sedikit rahu untuk mengatakannya. Matanya menatap penuh minat pada poster film 'Don't Worry Darling'.
"Guys, mari kita nonton film-"
"Pamali!" Mereka berseru serempak dan semangat.
Kyorin sontak menoleh ke kiri, menatap kaget lima pria yang berdiri di depan poster film horor Pamali.
"Kalian yakin?" tanya Kyorin.
"Yakinlah, masa nggak yakin," jawab Michel.
"Kalian juga ingin menonton itu?"
Kyorin menatap bergantian Jeno dan Theo. Pasalnya, mereka berdua yang tidak ikut bersuara tadi.
Mereka hanya mengangguk. Dengan cepat, Kyorin menunjuk poster film horor Pamali. "Oke, sudah diputuskan. Kita nonton film itu!"
***
"Aaa!!!"
Jantung Juan terasa akan melompat keluar. Dia memegang dadanya refleks karena terkejut saat hantu muncul di layar. Reaksi Juan jauh lebih baik dari Michel. Ia bahkan mendapat cubitan di paha oleh Jordi karena telah memeluk lengannya.
Dia mengaduh sakit, melotot, protes pada Jordi.
Jordi mencibir, " Kau seperti wanita. Kyorin bahkan menguap nonton film ini."
Pria yang dicibirnya itu mencebik kesal. "Jangan pura-pura. Aku bahkan dapat merasakan detak jantungmu berdetak sangat cepat tadi."
Lantas tersenyum miring, melanjutkan, " Kupikir akan lompat keluar tadi. Aku sudah berjaga-jaga untuk menelpon ambulan."
Ucapan itu berdampak tatapan tajam dari Jordi. "Sialan!" umpat Jordi.
"Diamlah, kalian berisik!"
Sontak Alan yang mengatakan itu mendapat tatapan tajam dari keduanya.
"Memang kau tidak takut?"
"Aku bisa baca ayat kursi," ujar Alan tidak nyambung menjawab pertanyaan Jordi.
"Mari kita abaikan orang gila disebelah kananku itu," ujar Jordi.
Kyorin tertawa, dia menyaksikan semuanya. Bagaimana teman-temannya bertengkar dengan suara berbisik. Melihat tingkah mereka jauh lebih menyenangkan daripada film yang berputar di depan layar sana.
"Kau tampan. Tapi sayang, di saat-saat seperti ini kau terlihat membosankan."
Lirikannya tajam. Dia mendengar, tentu saja. Kata-kata yang terdengar sangat menyebalkan di telinganya itu. Harga dirinya sedikit terluka karena ketampanan wajahnya diejek.
Kyorin tertawa kecil, masih bertopang tangan di dagu menyaksikan teman-temannya di sisi kanan kursi Jeno.
"Tingkah mereka jauh lebih menarik."
Ia terkejut saat pandangannya beralih dan Jeno tepat sedang menatapnya. Itu terlihat sangat tajam dalam pencahayaan yang temaram ini.
"Duduklah dengan benar dan perhatikan filmnya dengan baik. Kau yang mengajak nonton."
Kyorin membenarkan duduknya. "Ya, tapi bukan film ini. Aku sudah menontonnya."
Itu sangat pelan tapi pendengaran Jeno mampu menangkapnya.
"Kenapa menyetujuinya?" Alih-alih bertanya kapan? Jeno bertanya kenapa?
Kyorin sedikit tersentak, "Ah kau bisa mendengarnya?"
"Karena mereka terlihat sangat ingin menontonnya. Jika aku bilang film yang ingin kutonton adalah film yang lain. Mereka pasti akan menurutinya. Walaupun mereka sedang ingin menonton film yang lain."
"Kau berkorban? Tidak terlihat seperti dirimu yang aku tau, egois." Jeno tersenyum miring.
"Diamlah dan tonton film itu. Kau berisik malam ini. Tidak seperti yang aku tau, selalu mengabaikanku."
Kyorin membalas. Telak, Jeno merasa wajahnya kaku. Syukurlah fokus Kyorin beralih pasa layar di depan. Wanita ini benar-benar tau cara membalikkan keadaan. Tidak membiarkan lawannya menang.
Popcorn tidak membuat perut kenyang. Di sinilah mereka, sebuah restoran tidak jauh dari gedung bioskop.
"Aku rasa setannya tidak menyeramkan," ujar Theo sambil memasukkan kentang goreng ke mulutnya.
Juan bertanya, "Kau serius? Aku pikir itu sedikit menyeramkan."
"Malah aku pikir lebih terasa menyeramkan film KKN di Desa Penari," lanjut Theo.
"Ya, kau benar. Aku pikir rupa setan di film itu memang tidak seram. Hanya saja KKN di Desa Penari sedikit terasa berbeda. Walaupun keduanya memiliki muatan mistis tentang tradisi, budaya, dan mitos-mitos yang dipercaya. Ada sesuatu yang menjadi keparnoan sediri bagi yang menonton," terang Kyorin.
"Karena kita saat itu akan KKN jadi terasa lebih menyeramkan," timpal Nando.
"Betul-betul, bahkan saat di lokasi KKN kami ada kejadian."
Mereka menatap penasaran akan perkataan Alan. Berharap ada lanjutan cerita tapi pupus karena Alan tidak ingin melanjutkan cerita.
"Sorry, kau tau? Bahkan kami harus tanda tangan pakai materai agar tidak menceritakan kejadian itu."
"Wah, ini gila." Michel kaget mengetahui fakta itu, begitupun dengan yang lainnya.
"Di tempat kalian bagaimana?" tanya Alan.
"Tidak ada yang spesial."
Jawaban itu sangat datar. Sedatar raut wajah orang yang mengatakannya, Jordi. Membuat mereka tergelak.
"Aku sudah pernah menceritakannya kan? Ada satu hari dua anggota KKN di lokasi KKN yang kesurupan karena membersihkan lapangan menjelang magrib untuk acara 17 Agustusan di desa itu."
Ya, 'kami' yang dimaksud Theo di dalamnya ada Nando dan Jeno. Entah bagaimana caranya mereka bisa satu lokasi KKN padahal sistem pembagian kelompok dilakukan secara acak. Dari ribuan mahasiswa di universitas ini, mereka bertiga bisa satu lokasi? Beruntung sekali. Membuat iri teman mereka yang lima lagi.
"Hei, guys. Apa rumor seorang mahasiswi berbuat mesum dengan pemuda daerah itu benar? Kudengar mereka melakukannya di kebun milik salah satu warga."
"Aku tidak tahu. Tapi sangat mengejutkan karena berita itu beredar di minggu awal KKN," ujar Alan menanggapi perkataan Michel.
Kyorin tertawa. Dia merasa seseorang sudah meliriknya tajam saat ini. Benar saja, dia yakin Jeno saat ini merasa kesal padanya.
Kyorin lah yang pelaku yang menyebarkan berita itu. Sangat viral di seantero kampus karena dia menulisnya di akun besar base kampus yang memiliki belasan ribu pengikut itu.
Pihak kampus pontang-panting menenangkan masa yang penasaran. Admin base yang harusnya menjaga kerahasiaan si pengirim pun turut bekerja sama mencari tahu identitas akun si pengirim.
Nihil, itulah hasilnya. Kyorin tidak bodoh, tentu tidak menggunakan akun aslinya. Ia membuat banyak akun palsu dan selalu menutup akun yang sudah digunakan. Sehingga tidak terlacak.
Kyorin memiringkan sedikit kepalanya menunjukkan raut mengejek pada Jeno. Ini semua tidak akan terjadi jika saja pria itu tidak berulah saat di KKN.
'Kau masih mengabaikanku, Jeno?'
Dan untuk ke-100 kalinya Jeno mengabaikan pesan dan panggilan Kyorin tiga harian ini selama di lokasi KKN.
'Ah, apakah mood-mu buruk karena harus melihat pasangan dari orang yang pernah kau suka itu satu lokasi KKN denganmu?'
'Apa sekarang dia ada di depanmu dan sedang bertelepon dengan kekasihnya?'
'Kasihan sekali kau.' Kyorin mengejek lewat pesan.
'Perhatikan baik-baik! Besok saat kau bangun, aku jamin seluruh lokasi KKN akan gempar.'
Itu pesan terakhir malam ini yang diterima Jeno. Matanya terpejam, berusaha tidur dengan suara berbisik yang mengganggu dari Theo yang berada di sampingnya sedang menelpon pacarnya.
Di tempat lain, Kyorin tersenyum kecut karena pesannya hanya dibaca oleh Jeno. Ia dengan cepat membuka aplikasi twitter, melancarkan aksinya.
"Jangan terlalu marah padaku. Kau yang memulainya."
Kyorin sangat yakin dia akan menjadi buronan kampus karena berita palsu yang ia sebarkan ini.
"Aku yakin ini akan berhasil, karena tentu saja kau tidak akan menghancurkan masa depan orang yang pernah kau suka itu."
"Ralat, orang yang kau suka itu hingga sekarang."
***
"Terima kasih."
Sebelum menutup pintu mobil berkata, "Hati-hati di jalan." Kemudian berjalan untuk masuk ke rumah.
Di dalam rumah, Kyorin dikejutkan pertanyaan tiba-tiba dari seseorang yang duduk di sofa.
"Bagaimana film yang kau tonton? Menyenangkan?"
Kyorin duduk di sebelah pria itu, "Tidak menyenangkan lagi, Jo."
Kyorin yang melihat alis pria itu bertaut, lanjut menjelaskan. Ia mengerti akan kebingungan yang dirasakan oleh orang di sampingnya.
"Kita sudah menontonnya kalau kau lupa? Dan aku menontonnya lagi hari ini."
"Kau kan bisa bilang kalau mau nonton film yang lain. Kenapa diam saja dan malah setuju untuk untuk film yang itu?"
Kyorin melepaskan sling bag-nya yang masih tersampir di pundaknya.
"Hei, kenapa kalian sangat ingin sekali melihat film itu! Kau dan juga mereka. Aku sampai harus menontonnya dua kali." Ia merengut kesal.
"Kau kan bisa menolak. Kenapa tidak bilang?" Ia bertanya lagi mengapa wanita itu tidak mengatakan jika ingin menonton film yang lain. Suaranya terdengar lembut saat bertanya.
"Aku tidak ingin mengecewakan mereka dengan mengutamakan keinginanku. Mereka semua terlihat sangat ingin menontonnya. Terlebih Juan dan Michel. Dua orang itu penakut tapi entah mengapa suka menonton film horor! Heran pula aku."
Pria itu tersenyum, "Kau hebat sekali. Aku bangga padamu. Terima kasih sudah mengalah untuk yang lain."
Kyorin tertawa akan reaksi yang didapatkan pada ucapannya tersebut, sangat berbeda 360° dengan Jeno yang malah mengejeknya saat mendengar ucapannya yang itu.
"Kenapa?" tanya pria itu. Sepertinya menatap gurat kesedihan di wajah Kyorin meskipun wanita itu sedang tertawa.
"Aku ingin menonton berdua dengannya. Tidak menyangka yang lain akan ikut."
Pria itu menenangkan, "It's oke. Kau bisa menontonnya lagi di lain waktu dengan Jeno. Hanya berdua. Tidak akan ada yang menganggu, aku atau yang lainnya."
Kyorin tersenyum, "Terima kasih, Jo. Kau yang paling mengerti aku."





