Sempurna atau tidaknya, biar Tuhan yang menilai. Tetaplah menjadi pribadi yang pandai menata hati.
•••
Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam atau yang biasa disebut Mapala Universitas Teratai baru saja menyudahi kegiatan sharing pengalaman oleh para senior yang lebih dulu mengikuti kegiatan outdoor survival itu selama mereka menempuh pendidikan di kampus yang sama, semua terdengar menantang—khususnya untuk para mahasiswa, ada juga beberapa mahasiswi tangguh yang ikut kegiatan itu. Setiap kampus pasti memiliki komunitas Mapala, sebuah komunitas yang terbentuk sekitar 54tahun silam, komunitas pecinta alam yang dibuat tanggal 22 Desember 1964 oleh salah satu Universitas terbesar di Indonesia.
Komunitas itu mencakup banyak kegiatan yang notabene dilakukan pada alam terbuka seperti hiking, arung jeram, menyelam, panjat tebing, jelajah hutan, telusur gua dan paralayang. Hanya jelajah hutan dan hiking yang bukan merupakan satu divisi khusus, dan dua kegiatan itu adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki tiap-tiap anggota.
Kegiatan Mapala bisa ada di setiap kampus yang mencakup seluruh anggota fakultas, bisa juga ada di tiap-tiap fakultas. Sedangkan di Universitas Teratai semuanya mencakup seluruh fakultas.
Jonas melangkah sendirian setelah berpisah dengan teman-teman Mapala yang berbeda fakultas dengannya, Jonas adalah mahasiswa fakultas komunikasi. Dia tak terlalu terkenal di kampus, hanya kalem dan memiliki pembawaan yang tenang, Jonas justru terkenal di kalangan anak-anak Mapala.
"Kak Jonas!" seru seorang gadis yang juga baru keluar dari ruang rapat Mapala tadi.
Jonas menghentikan langkah dan memutar tubuh, gadis dengan rambut diikat ekor kuda itu sudah berdiri di depannya.
"Iya?"
"Namaku Anggun, Kak. Sebenarnya aku mau ...." Anggun menggantung kalimatnya.
"Mau apa?"
"Minta tanda tangan sama selfie boleh?" Wajah Anggun mengiba, sedangkan Jonas menganga mendengar permintaan itu.
"Yang bener aja, buat apa?" Jonas menggaruk pelipisnya, ia merasa aneh dengan permintaan gadis itu. Memang apa bagusnya sampai ingin berfoto dengan Jonas.
"Suatu kebanggaan kalau bisa punya foto senior Mapala yang ganteng model Kak Jonas, please boleh ya? Satu aja kok." Anggun menyatukan dua tangannya, memohon.
Jonas menghela napas pasrah. "Oke, satu aja, dan jangan bilang soal ini ke teman-teman lo. Gue bukan aktor."
Anggun tersenyum lebar, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan membuka kamera depan. "Tapi Kakak mirip aktor, habisnya baby face banget sih. Gimana dong?"
"Terserah lo."
"Sini dong deketan." Anggun menarik lengan Jonas ke dekatnya, dan empunya lagi-lagi pasrah. Jonas memang tidak tegaan terhadap perempuan, ia merasa kaku seperti robot sekarang saat wajah itu dipaksa tersenyum tanpa alasan.
"Lihat kamera ya, Kak. Jangan lupa pasang senyum paling manis, kalau di dekat aku harus bahagia."
Kenapa Jonas harus berhadapan dengan perempuan cerewet seperti Anggun yang notabene junior di komunitas Mapala, Anggun baru bergabung dua bulan yang lalu, sedangkan Jonas sudah setahun lamanya. Meski Anggun cukup lama memperhatikan Jonas yang sering memimpin rapat, tapi baru kali ini ia memberanikan diri meminta foto bersama, mungkin sedikit lancang, tapi Anggun benar-benar suka.
Jonas menarik sudut bibirnya hingga tercipta sebuah lengkungan secara paksa, tapi tetap begitu memikat, sedangkan Anggun pamer deretan giginya seraya merangkul lengan Jonas tanpa canggung.
Ckrek!
"Makasih, Kak." Anggun melihat hasil fotonya di ponsel dan ia tersenyum bangga. "Pasti orang-orang bakal iri lihat ini."
Jonas berdecak. "Bukannya tadi gue bilang jangan kasih tahu siapa-siapa, artinya jangan dipamerin."
"Lupa."
Jonas memutar tubuh, ia hendak melenggang pergi, tak saat itu juga ia menubruk seorang gadis yang melangkah ke arahnya hingga tongkat serta pemiliknya tersungkur di selasar.
"Eh, Maaf!" Buru-buru Jonas membantu gadis itu berdiri dan memberikan tongkat yang diapit pada ketiak kiri. "Nggak sengaja."
"Saya tahu." Gadis itu mengedar pandang, ia mencari seseorang dan tak terlalu memperbesar adegan jatuh tadi. Gadis berambut panjang itu menatap Jonas, menelitinya dari ujung kaki hingga kepala. "Kamu kenal Rio?"
"Kenal, dia ada di—"
"Agatha!" seru Rio yang baru keluar dari ruang rapat anak Mapala, ia melangkah menghampiri Jonas dan gadis bernama Agatha itu.
"Saya cari kamu," ucap Agatha seraya tersenyum. Meski hanya seulas senyum tipis, tapi banyak anak fakultas sastra tahu kalau senyum Agatha paling memikat.
"Iya, ya udah langsung pulang aja sekarang."
"Oke."
"Eh, sekali lagi maaf ya," sela Jonas tak enak hati, ia mengusap tengkuknya dan tampak kebingungan untuk berinteraksi dengan sepasang manusia di depannya.
Rio menatap Agatha dan Jonas bergantian. "Emang dia ngapain kamu, Agatha?"
"Oh itu, nggak sengaja jatuh tadi." Agatha tersenyum tipis, ia menatap Jonas sesaat. "Ayo kita pulang."
"Oke."
Setelah diskusi itu berakhir, Agatha dan Rio melenggang pergi. Gadis itu tampak menyeimbangkan langkahnya yang tertatih dengan tongkat yang ia apit pada ketiak kiri, dan Rio begitu sabar menyamai laju langkah mereka meski harus pelan. Kedua kaki Agatha tampak sempurna, utuh. Namun, sayangnya memang harus pincang seperti yang banyak orang lihat.
"Kasihan Kak Agatha," celetuk Anggun yang sedari tadi hanya diam, dan perkataan itu berhasil membuat Jonas menoleh padanya.
"Emang dia kenapa?"
"Kan kakinya lumpuh satu, katanya sih karena kecelakaan waktu kecil. Padahal dia cantik banget, aku aja iri sama dia."
Jonas manggut-manggut, ia kembali menatap Agatha dan Rio yang akhirnya menghilang di ujung koridor. Selama setahun kuliah di Universitas Teratai, baru kali ini Jonas melihat Agatha. Gadis itu mahasiswi baru atau Jonas yang tak pernah mengitari area kampus hingga baru sekarang melihatnya.
Jonas menggaruk pelipisnya, tak perlu juga memikirkan sesuatu yang bukan ranahnya. Jonas melenggang pergi meninggalkan Anggun sendirian.
•••
"Makasih," ucap Agatha setelah turun dari mobil Rio, sedangkan empunya setia duduk di balik kemudi. "Hati-hati di jalan."
"Oke, aku pulang duluan." Rio melambaikan tangan sesaat sebelum kembali melajukan mobilnya menjauhi kediaman Agatha.
Gadis itu menghela napas menatap rumah besarnya, rumah yang sudah hampir sebelas tahun menemani hari-harinya, rumah yang pertama kali ia tinggali saat usia tujuh tahun. Mereka yang berbaik hati membawa gadis pincang itu ke rumah mewah tanpa peduli latar belakangnya. Mereka orang-orang baik yang sudi membawa gadis pincang masuk ke istana dan menyebutnya sebagai anggota keluarga.
Agatha menarik kakinya melewati gerbang yang terbuka lebar, terlihat mobil hitam milik Dani—ayah angkatnya—ada di halaman rumah. Tumben sekali pria itu sudah di rumah meski kanvas di atas sana masih terlihat cerah.
Agatha masuk ke rumah, dengan tertatih ia mengampiri kamarnya yang kebetulan berada di lantai dasar—jadi tak perlu tenaga ekstra untuk menapaki tangga.
"Agatha." Panggilan itu membuat Agatha yang sudah menarik daun pintu akhirnya mengurungkan niat, ia memutar tubuh menatap Dani yang menuruni tangga menghampiri dirinya.
"Tumben Papa udah pulang?" Agatha meraih tangan Dani dan mengecupnya.
"Tadi Papa lihat Rio antar kamu dari jendela kamar, apa hubungan kalian makin dekat?"
"Biasa aja kok."
"Kamu masih ingat 'kan soal perjanjian kita?"
Dada Agatha terasa sesak tiap kali Dani mengingatkannya soal itu, ia merasa dimanfaatkan—meski Dani menganggapnya sebagai ajang balas budi karena ia telah mengadopsi Agatha dari panti asuhan dan mengurusnya hingga hari ini, bahkan memberi pendidikan terbaik untuk Agatha. Sebagai anak angkat Agatha bisa apa, tidak tahu diri namanya kalau sampai protes macam-macam sedangkan keluarga barunya itu terlalu baik sampai Agatha sendiri kadang lupa dengan segala hal buruk yang pernah menimpanya di masa kecil. Keluarga itu membuatnya merasa memiliki rumah yang seharusnya.
"Agatha ingat kok, Pa. Agatha masuk kamar dulu." Sorot mata gadis itu meredup, sebenarnya ia paling benci jika harus membahas semua itu lagi, Agatha merasa seperti didorong terus-terusan agar semua yang Dani inginkan berjalan sesuai rencana, dan Agatha yang jadi peran utama untuk skenario yang disiapkan orangtuanya.
"Oke, tapi ingat ya kalau kamu harus dapatkan Rio biar bisnis Papa sama ayah dia berjalan lancar."
Iya, dan Agatha selalu benci rencana itu, batin Agatha. "Tenang aja, Agatha selalu ingat semua itu. Agatha masuk dulu." Gadis itu masuk kamar dan mengunci pintunya.
Agatha menghempas pantatnya di ranjang, ia menyugar rambut panjangnya seraya menghela napas panjang, gadis itu merebahkan tubuh menatap langit-langit kamar. Ia ingin berteriak nyaring menyuarakan isi hatinya yang benar-benar kecewa, tapi Agatha belum temukan tebing yang pas untuk melakukan hal bebas itu. Ia merasa seperti kepompong yang tak pernah bisa memiliki sayap kupu-kupu, Agatha terikat dengan banyak hal, dan ia masih membenci hidupnya meski tinggal dilingkup keluarga yang benar-benar anggap Agatha berharga.
Agatha kadang merasa bingung kenapa Dani sampai menyuruhnya memanfaatkan hubungan itu, padahal ia cacat. Memangnya siapa yang ingin memiliki kekasih pincang seperti dirinya? Meski Agatha tahu selama ini Rio memang laki-laki yang baik, tulus berteman dengannya. Sedikit pun Agatha tak ingin memanfaatkan pertemanan mereka apalagi berhubungan dengan hati, Agatha tak pernah mencintai siapa-siapa. Ia hanya tahu diri dan posisi, Agatha hanya anak adopsi dan Rio putra tunggal pemilik Asoka Group dengan furniture mewah yang terkenal di mana-mana. Ia tak ingin membuat Rio malu jika berhubungan dengannya, masih banyak gadis sempurna yang bisa Rio ajak kencan atau dijadikan kekasih.
Meski Rio sendiri pun tak pernah mempermasalahkan fisik Agatha, mereka berteman sejak lulus SMA hingga kini, bahkan seseringnya Rio memuji sosok Agatha yang tak pernah mengeluh perihal kurangnya—meski hati Agatha berkata lain. Ia pernah menjauh dari Rio, tapi laki-laki itu mengejarnya lagi hingga Agatha lelah mengelak. Bahkan mereka dianggap sepasang kekasih di kalangan anak kampus, padahal hanya berteman dekat.
•••
Jonas berdiri di dekat jendela kamar apartemennya, ia mengangkat panggilan yang sudah lima kali membuat ponselnya terus berdering. Tertera nama Papa pada layar yang menampilkan wallpaper pemandangan Gunung Bromo nan cantik tertutup kabut.
"Ada apa nyariin? Udah tahu 'kan kalau Jonas nggak akan pulang, mending piring-piring di rumah beresin dulu daripada nanti habis sama Jonas."
"Mama kamu kangen, Jo. Papa—"
"Papa juga? Bullshit tahu!" Jonas melompati jendela dan berdiri di balkon apartemen yang ia huni pada lantai dua puluh gedung pencakar langit itu, ia kini menatap prmandangan pencakar lain lain yang berlomba-lomba menyentuh jingga di atasnya, Jonas menghela napas kasar seraya menyugar poni yang jatuh di dahinya.
"Terserah kamu, Papa mau minta tolong."
"Apa?"
"Besok ikut Papa ke acara peresmian kantor cabang Asoka Group yang baru. Kebetulan Papa diundang."
"Terus apa hubungannya sama aku?" Jonas tampak tidak setuju.
"Semua yang diundang bawa anak mereka, khususnya yang udah kuliah. Papa mohon, Jo."
"Ini sayembara atau apa?"
"Jonas."
"Kita lihat aja besok." Jonas mematikan panggilan secara sepihak, ia menatap langit jingga yang kian meredup, yang sebentar lagi akan diganti pekat malam.
•••





