Si Cacat & Si Sempurna

Aku tidak sempurna, dan kamu datang sebagai penyempurna.

•••

“Agatha di sini dulu sebentar.”

“Oke, papa masuk duluan. Sebentar lagi pasti Rio sampai.” Dani keluar dari mobil dan meninggalkan Agatha yang sebenarnya sama sekali tak ingin datang ke acara besar itu.

Agatha menyandarkan punggungnya pada jok mobil seraya menghela napas berulang kali, ia tak suka berada di tempat yang di kelilingi oleh orang-orang penting—terutama rekan bisnis Dani, Agatha sangat ingin pulang dan mengunci diri di kamarnya. Ia juga tak nyaman menggunakan gaun hitam yang sudah membalut tubuh langsingnya, apalagi tatanan rambut serta make up itu. Agatha merasa itu bukan dirinya.

Andai ia punya banyak pilihan, pasti ia tak akan memenuhi keinginan Dani untuk ikut dalam acara peresmian kantor cabang Asoka Group yang notabene dimiliki oleh Ryan—ayah Rio, mungkin itulah alasan paling tepat Dani mengajaknya untuk ikut karena Rio pasti juga akan datang, dan Dani berharap hubungan putri angkatnya ikut kian rekat.

Agatha membuka pintu mobil, ia mengeluarkan tongkat yang bisa ditekuk tersebut dan menjatuhkan kaki kanannya lebih dulu—barulah kaki kiri yang sudah tak berfungsi lagi. Ia menutup pintu dan mengedar pandang ke penjuru parkiran, keadaan masih ramai di luar kantor baru itu. Sejujurnya Agatha malu untuk masuk ke dalam sana, ia takut mempermalukan saja.

Gadis itu melangkah menghampiri beranda, ia sesekali sibuk menyibak gaun hitamnya yang tak nyaman dipakai apalagi dadanya terekspos cukup jelas, hawa dingin juga dengan mudah menguliti dan menusuk tulangnya malam-malam seperti ini.

“Nggak nyaman yah?” celetuk seseorang yang berhasil membuat Agatha menghentikan langkah saat sebentar lagi masuk melewati pintu utama.

Tampak Jonas di belakang gadis itu dengan tampilan yang memikat, Jonas mengenakan setelan jas hitam yang cukup formal dan pas untuk tubuhnya, poni acak-acakan Jonas jatuh di dahi—menambah kesan baby face lebih kuat untuk makhluk itu. Jonas menghampiri Agatha seraya memasukan satu tangannya ke saku celana.

“Gaunnya kepanjangan, kenapa nggak pakai dress aja,” ujar Jonas. Ia memperhatikan Agatha dari ujung kaki sampai kepala, gadis itu memang tampak sempurna meski kakinya cacat, dan Jonas merasa familier dengan sosok itu sekarang. “Kayak pernah lihat.”

“Mungkin,” sahut Agatha memasang raut datar, “saya juga pernah lihat kamu.”

Jonas menggaruk pelipisnya, “Iya, gue Jonas.” Remaja itu mengulurkan tangannya.

Mendengar nama itu membuat Agatha mengingat sesuatu, ia merasa familier, tapi buru-buru ditepisnya prasangka buruk itu. Lagipula makhluk bernama Jonas di dunia pasti begitu banyak, Agatha membalas uluran tangan Jonas.

“Agatha.”

“Iya, kita satu kampus walaupun baru kemarin gue lihat elo.” Sekarang Jonas memamerkan kebodohannya sebagai laki-laki kuper yang baru tahu kalau ada makhluk semanis Agatha di kampusnya.

“Oh gitu, saya masuk dulu.”

“Iya, lain kali kalau emang gaunnya nggak nyaman mending jangan dipakai,” pesan Jonas membuat Agatha tersenyum tipis, gadis itu masuk melewati lobi dan menghampiri resepsionis.

•••

Saat Rio dipanggil untuk naik ke altar rendah oleh pembawa acara, Agatha memilih meninggalkan acara tersebut—padahal semua orang bertepuk tangan, ia benar-benar bosan terutama setelah melihat tatapan menyeramkan beberapa pria padanya—yang mungkin menginginkan gadis itu, Agatha benci berada di sana. Ia memilih kembali duduk di sebelah kemudi seraya menyandarkan punggung yang dipenuhi sejuta beban tak kasat mata, rasanya lebih tenang sendirian daripada mendengar hiruk pikuk gelegar tawa atau ocehan orang-orang tentang uang, relasi, pendidikan anak mereka bahkan membandingkan yang satu dengan lainnya. Apa Dani tak berpikir dua kali saat mengajak Agatha untuk ikut? Rio bahkan berbicara dengan gadis lain ketimbang dirinya. Ah, Agatha tak ingin peduli dengan itu—intinya ia tak suka segala hal di dalam sana. Mereka semua begitu membosankan, tak ada satu pun yang menarik di mata Agatha.

Agatha berkali-kali menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, ia tak suka tatanan rambutnya yang sengaja dikeriting malam ini, bukan ia yang make over sendiri, tapi salon langganan sang ibu.

Agatha juga menurunkan kaca jendela, dadanya kembang kempis merasakan pertukaran oksigen dan karbondioksida dalam tubuhnya. Ia ingin lekas pulang sekarang, tapi acara baru saja dimulai. Agatha perlu memperpanjang rasa bosannya tanpa harus melihat orang-orang di dalam sana.

Kapan mereka mau ngalah sama aku, batin Agatha, ia menerawang memikirkan banyak hal yang begitu tak sejalan dengan pemikiran serta kata hatinya. Agatha lelah bersandiwara, hanya saja ia tak punya hak untuk banyak bicara.

Ternyata mobil di sebelahnya juga tak kosong, pemiliknya berada di balik kemudi dan baru saja menurunkan kaca jendela—membuat Agatha menoleh dan menemukan wajah Jonas di sana.

“Kok di sini?” tanya Jonas sedikit terkejut mendapati wajah itu lagi.

“Kamu juga di situ.”

“Eum, gue lagi bingung aja mau ngapain.” Jonas tak memiliki alasan lain yang lebih pas, ia merasa kikuk.

“Kalau saya emang nggak suka di sana, semuanya ngebosenin,” aku Agatha tanpa peduli ia bicara dengan siapa, Agatha bahkan tak menatap lawan bicaranya.

“Kenapa? Karena gaunnya nggak nyaman? Bukannya lo sama Rio terus, atau karena dia tadi bicara sama cewek lain terus lo kesal—jadinya ngumpet di situ,” asumsi Jonas, rupanya ia cukup cermat memperhatikan banyak orang di ballroom tadi.

Seketika Agatha menoleh dan menyipitkan matanya. “Kamu cenayang atau apa? Cuma opsi pertama yang benar. Soal Rio itu urusan dia, kami cuma berteman.” Raut Agatha berbeda dari saat gadis itu bertemu Rio di kampus, tapi Jonas tak bisa membaca apa yang terselip di balik iris Agatha.

Jonas manggut-manggut, ia memang memperhatikan Agatha saat di dalam, bahkan saat gadis-gadis anak relasi Jordan—ayah Jonas—banyak yang mendekati dan mengajak bercengkrama, Jonas tak peduli dan memprioritaskan Agatha yang berdiri sendiri seraya sesekali sibuk membenarkan posisi gaun hitam miliknya. Jonas bahkan tersenyum kecil saat Agatha sibuk mengatur japit rambutnya, terlihat sangat tidak nyaman. Lalu ia berakhir di dalam mobil setelah benar-benar merasa penat dengan acara di dalam, khususnya karena ia menghindari para gadis itu. Jonas tak terlalu suka berada di lingkungan yang kebanyakan menampilkan gadis-gadis muda seumuran dirinya, Jonas tak terbiasa bercengkrama dengan mereka—apalagi jika urusannya sampai meminta nomor ponsel.

“Bukan-bukan, tapi semoga cepat jadi cenayang biar bisa baca isi hati orang,” ujar Jonas tersenyum miring seakan mengisyaratkan sesuatu pada gadis yang diajaknya bicara sekarang.

“Terserah kamu.” Agatha kembali menerawang, tak menghiraukan tatapan Jonas yang masih fokus padanya.

“Lebih enak kumpul sama anak-anak Mapala, isinya cowok semua, jadi nggak ada yang bikin cemburu. Udah gitu sharing pengalaman,” ucap Jonas memulai topik pembahasan yang lain.

Awalnya Agatha hanya diam, lima menit berselang ia mulai angkat suara.

“Kalau saya lebih suka lihat latihan teater di kampus, saya pengin dansa tapi nggak bisa.” Agatha tertawa kecil. “Mana bisa saya dansa.”

Jonas suka tawa kecil itu, pandangannya jatuh hati. “Gue bisa ajarin lo dansa.”

Agatha menoleh dan kembali menyipit. “Nggak perlu.”

“Cuma tawarin aja, siapa tahu suatu hari berubah pikiran.”

“Kaki saya lumpuh, mana bisa dansa,” celetuk Agatha langsung pada topik masalah, “lagian siapa sih yang mau ajak saya dansa.”

“Gue,” aku Jonas tanpa ragu lagi.

“Kamu cuma iming-iming, saya belum bisa bedain mana yang tulus atau cuma omong aja. Saya juga mau jadi cenayang yang bisa baca pikiran orang lain, banyak orang di sekitar saya, mau berteman sama saya tapi entah alasan apa.

“Entah karena mereka cuma kasihan atau memang tulus melihat saya apa adanya, andai memilih semudah itu ya?” Agatha kembali tertawa, tawa yang bagi Jonas diartikan sebagai rasa sedih. Tangan yang terus menyelipkan anak rambut itu membuat Jonas gemas karena mengganggu pemandangannya.

“Emangnya kalau kaki lo itu lumpuh, terus hati sama pikiran lo juga lumpuh?”

Agatha menggeleng. “Saya terima semuanya kok, saya bersyukur karena Tuhan masih kasih saya napas buat waktu selanjutnya. Seenggaknya saya hidup buat membuktikan sama orang-orang kalau ada yang lebih nggak sempurna dari yang lainnya.”

“Tolong jangan bahas itu, Agatha.” Jonas membuka pintu mobil dan turun, ia bergerak menghampiri mobil Agatha dan membungkuk menyentuh jendela, menatapnya dalam lekat perempuan di dalam sana. “Jangan nilai lo nggak berguna, Tuhan menciptakan manusia pasti banyak syaratnya. Salah satu itu adalah gimana lo bisa menghargai diri sendiri, love yourself, oke?”

Sungguh, perkataan Jonas mampu membuat kedua sudut bibir Agatha tertarik tanpa terpaksa. Namun, saat tangan Jonas terulur tanpa canggung untuk membenarkan japit rambut gadis itu—Agatha membeku.

“Kalian berdua ngapain?”

Seketika Jonas menegakan tubuhnya dan menarik tangan dari rambut halus Agatha, ia menoleh ke sumber suara yakni Rio yang baru datang ke parkiran dan memergoki Agatha serta Jonas terlihat begitu dekat—membuatnya curiga.

“Maaf.” Jonas mundur menghampiri mobilnya, sedangkan Rio membungkuk menatap Agatha lewat jendela mobil, menggantikan posisi Jonas tadi.

“Kamu kenapa di sini?” tanya Rio.

“Nyari angin aja, kenapa kamu keluar?” kilah Agatha.

“Nggak ada kamu, jadi aku cariin dan ternyata ada di sini. Bahas apa sama Jonas?”

Agatha menatap ke arah Jonas yang menyandarkan kepala pada jok mobil, laki-laki itu tampak memejamkan matanya.

“Bahas nggak penting, ya udah saya turun sekarang.” Rio membukakan pintu untuk Agatha, ia membantu gadis itu turun dan membiarkan Agatha mengapit tongkatnya. Sungguh, Agatha jauh lebih sempurna tanpa tongkat itu dan mungkin banyak yang antre menunggunya, tapi Tuhan sengaja memberitahu bahwa kecantikan atau sempurnanya fisik seseorang tidak untuk dipamerkan, siapa pun mereka yang tulus pasti segera bisa melihat jelas—terutama hati.

Jonas membuka mata kala mendengar suara derap langkah yang kian jauh, dilihatnya Agatha yang melangkah bersama Rio, terdengar pula tawa mereka begitu mengganggu indra pendengaran Jonas. Ada yang kontradiksi dengan sikap gadis itu saat bersama atau tanpa Rio di sebelahnya, apa Agatha sedang berpura-pura?

•••

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.