Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Setelah Mati, Aku Dijadikan Patung
Setelah Mati, Aku Dijadikan Patung

Setelah Mati, Aku Dijadikan Patung

9.2
/ 10
Dalam novel horor Setelah Mati, Aku Dijadikan Patung, korban pembunuhan tragis dijadikan patung gips oleh keluarganya sendiri demi ketenaran. Namun, rahasia kelam ini terancam terbongkar saat karya seni tersebut retak. Simak cerita misteri menegangkan ini.

Ringkasan Setelah Mati, Aku Dijadikan Patung

Setelah tewas akibat siraman air keras di ruang bawah tanah, jasadku tidak dikenali atau dilaporkan oleh keluargaku. Ibu justru memisahkan daging dari tulangku, lalu ayah melapisi kerangkaku dengan gips hingga menjadi patung indah. Karya itu dipamerkan kakakku hingga ia dipuja sebagai gadis genius yang meraih banyak penghargaan. Namun, kepalsuan mereka terancam hancur saat patung itu pecah dan memperlihatkan setengah ruas jariku yang terputus di dalamnya, memicu kepanikan luar biasa.
Selengkapnya

Setelah Mati, Aku Dijadikan Patung Bab 1

Aku disiram air keras dan mati di ruang bawah tanah.

Keluargaku tidak mengenali jasadku, mereka juga tidak melaporkan kejadian ini pada polisi.

Ibuku mengambil pisau bedah yang sudah lama tak terpakai, lalu memisahkan daging dan tulangku.

Ayahku dengan penuh semangat melapisi rangka tulangku dengan gips, hingga terbentuklah sebuah patung gips yang sangat indah.

Kakakku memamerkan patung itu dan meraih banyak penghargaan, menjadi seorang gadis genius yang dipuja banyak orang.

Namun kemudian, patung itu pecah, dan terungkaplah setengah ruas jariku yang terputus di dalamnya.

Mereka panik.

Larut malam, ruang bawah tanah.

Dengan pisau bedah, ibuku mengiris kulit dan dagingku dengan cekatan.

Mungkin karena sudah bertahun-tahun tidak memegang pisau, tangannya agak gemetar.

Lapisan demi lapisan kulit dan otot dipisahkan dengan rapi, lalu dilempar ke kantong sampah di sebelahnya.

Kakakku, Lenny Lianto, memeluk lengannya sendiri sambil meringkuk di sudut ruangan. Mata besarnya penuh ketakutan. "Bu, kita lapor polisi saja. Aku takut."

Aku melayang ke sampingnya, memandangnya dengan tatapan menyipit.

Beberapa hari lalu, aku menerima pesan dari ibuku, memintaku ke ruang bawah tanah untuk menemuinya.

Begitu masuk, sebuah benda keras menghantam bagian belakang kepalaku. Setelah rasa sakit yang tajam, aku kehilangan kesadaran.

Saat membuka mata lagi, yang kulihat adalah tubuhku sendiri yang berlumuran darah, dimutilasi hingga tak berbentuk.

Wajah dan tubuhku telah disiram air keras, sehingga sama sekali tidak bisa dikenali lagi.

Lenny gemetar ketakutan, nyaris tidak berani membuka mata.

Ibuku bahkan tidak mengangkat kepalanya. "Buat apa lapor polisi? Orang ini menerobos masuk sendiri, bukan kita yang membunuhnya. Daripada lapor polisi, lebih baik kita manfaatkan sedikit jasadnya."

"Bukannya kamu sebentar lagi akan ikut lomba mematung …?"

Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, ayahku memotong, sambil menepuk dahinya sendiri. "Benar juga, kenapa nggak terpikir olehku sebelumnya? Lenny, teknik mematungmu biasa saja, tapi kalau pakai rangka tulang asli sebagai model, hasilnya pasti beda."

Mendengarnya, aku melongo tidak percaya.

Mereka benar-benar akan menggunakan kerangka tubuhku sebagai model patung Lenny?

Dengan marah aku berjongkok, mengayunkan kedua tanganku, mencoba berdebat dengan mereka.

Pisau bedah itu menembus telapak tanganku, tak henti-hentinya membelah tubuhku.

Aku hanya bisa menyaksikan ibuku memisahkan kerangka tulangku, dengan darah yang berceceran menutupi tubuhnya.

Aku tidak pernah tahu dia begitu terampil.

Saat aku masih kecil, aku nakal dan tidak sengaja jatuh dari pohon.

Ibuku secara refleks menangkapku, melukai tangan kanannya, sehingga sejak itu dia tidak bisa lagi memegang pisau bedah.

Bakatnya yang luar biasa pun jadi sia-sia, membuatnya terjebak di apotek, menunggu waktu berlalu.

Selama bertahun-tahun, tidak heran jika dia membenciku.

Saat fajar belum menyingsing, dia mengemudikan mobilnya bersama Lenny, lalu membuang semua kulit dan dagingku ke laut.

Cairan merah itu ditelan laut sebelum sempat menyebar.

Dalam perjalanan pulang, dia tampak linglung dan menerobos beberapa lampu merah.

Ponselnya, yang tergeletak di konsol tengah, terus berdengung dengan notifikasi.

Dia meliriknya dan melemparkannya ke samping dengan sembarangan.

Aku duduk di kursi depan, dengan jelas melihat layar ponsel itu. Di layar percakapan milikku, ada dua baris pesan yang mencolok: [Bu, aku ada urusan mendadak, sudah kembali ke sekolah.]

[Aku akan sibuk sementara waktu ini, jadi nggak akan pulang.]

Aku sudah mati. Siapa yang memegang ponselku dan mengirim pesan?

Aku berusaha keras mengingat semua yang terjadi di ruang bawah tanah. Selain suara benda keras jatuh ke lantai, tidak ada lagi yang lain.

Selama beberapa hari berikutnya, ruang bawah tanah itu terang benderang.

Lenny dengan hati-hati memahat kepala plester dengan pisau pahat.

Saat ujung pisau yang tajam menelusuri kontur rongga mata, dia tertegun.

Tanpa sadar, tangannya gemetar.

Ayahku mendekat, lalu mengangguk puas.

Sambil menunjuk patung seukuran manusia yang berdiri di dekatnya, dia memanggil Lenny, "Ayah sudah mengerjakan ini selama seminggu penuh. Bagaimana menurutmu?"

Sebagai pematung terkenal, keahliannya tidak diragukan lagi.

Patung tubuh manusia setinggi orang dewasa itu memiliki garis yang halus dan sangat indah, hanya saja kepalanya belum ada.

Lenny berjinjit, menempatkan kepala yang dipegangnya ke bagian leher patung itu. Dia menepuk-nepuk sisa gips di tangannya, lalu mundur dua langkah.

Ayahku menepuk bahunya. "Lenny, pakai patung ini untuk ikut lomba. Namamu pasti akan dikenal."

Lenny berdiri di samping, matanya memancarkan sedikit kecemasan.

Aku berpegangan erat pada patung itu, merasakan cairan dingin menetes ke lehernya, tanpa meninggalkan jejak.

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
CINTA DI MUSIM SEMI
CINTA DI MUSIM SEMI
Dalam novel CINTA DI MUSIM SEMI, David dan Arina berjuang menyatukan visi hidup mereka di tengah dinamika modern. Romance novel ini mengeksplorasi cara mereka saling memahami demi mempertahankan kebahagiaan. Temukan kisah mereka melalui platform read novels online gratis sekarang.
En-PD158
En-PD158
Dalam novel modern En-PD158, pernikahan hancur saat Zhou Yu'an meminta cerai demi menyelamatkan anak dari masa lalunya. Konflik pengkhianatan ini menjadi inti romance novel yang emosional. Akankah ia bertahan? Baca kisah selengkapnya di web novel ini sekarang.
Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
Dalam novel romantis misteri Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku, seorang wanita dipaksa menyerahkan tunangannya di hari pernikahan demi kakaknya yang sekarat. Saat disekap orang tuanya agar tidak mengacau, ia justru dibunuh dengan kejam. Baca novel online gratis ini untuk mengungkap misteri tragisnya.
I Fall Endlessly
I Fall Endlessly
Dalam novel I Fall Endlessly, Neva Zetrix berjuang mempertahankan bayinya di hadapan Brian Anderson. Kisah romance novel ini mengikuti pengorbanan Neva menghadapi sang konglomerat dalam balutan billionaire romance books yang penuh tekanan hidup dan pilihan sulit di dunia modern.
Istri Untuk Suamiku
Istri Untuk Suamiku
Dalam romance novel Istri Untuk Suamiku, Fatma menghadapi kanker stadium 4 dan kemandulan. Ia mendesak Satria menikah lagi demi keturunan, meski harus menghadapi kenyataan pahit tentang perasaan suaminya. Temukan kisah pengorbanan ini saat Anda read books online free di platform kami.
Jadi Wanita
Jadi Wanita
Dalam novel fantasy modern Jadi Wanita, Artisa nekat mengubah tubuh putranya, Sota, demi membuang sifat malasnya. Sota harus menghadapi transformasi drastis ini untuk bertahan hidup. Baca kisah unik ini di webnovel kami, pilihan tepat bagi pencinta fiction fantasy novels terbaik.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.