"Ganteng sih... Tapi galak..."
Sindy tertawa dengan ucapan Wenny. Wenny gadis Papua yang tampil sederhana, dengan kunciran rambut ikal dan baju atasan berwarna gelap serta paduan celana berwarna senada, Wenny berperawakan tegap seperti gadis paskibrata yang pandai baris berbaris, tidak setinggi Sindy, jadi ia tetap terlihat imut walaupun nampak sangat tomboi.
Wenny akan blak-blakan ketika berbicara, ia terkenal sebagai anggota baru yang sering menyampaikan pendapat dengan polosnya. Saat perkenalan, Wenny menyampaikan bahwa ia lahir dan dibesarkan di Papua, namun kedua orang tua nya berasal Dari suku Jawa.
Sindy merasa nyaman dengan sikap Wenny dan dengan penampilan Wenny yang sederhana, apa adanya. Sindy tersenyum dan bersyukur akan kegiatan ini, setidaknya ia bisa mengenal Wenny. Sindy masih tersenyum lebar memikirkan Wenny, dan tanpa sadar ia melirik sekilas ke arah senior Imam, seakan akan ada dorongan halus untuk memperhatikan keberadaannya. Tepat di saat itu, momen mata mereka saling beradu. Senior Imam menoleh, mencari sumber suara tawa yang terdengar, ia mengenali suara Sindy dan menemukan bayangan Sindy yang tersenyum menatapnya. Sindy yang terdorong untuk melihat kembali ke arah senior Imam, termangu melihat laki-laki bersuara serak tersebut sedang memperhatikannya. Mereka terdiam dalam kontak mata yang hanya sepersekian detik, namun terasa lama, membekukan waktu yang berjalan. Bahkan senyuman Sindy masih belum hilang dari wajahnya, ia tidak tahu apakah harus menganggukkan kepala, atau tetap tersenyum dan melambai. Sindy berpikir keras dalam sorot mata yang gelap itu, hingga Fuad datang menyadarkan lamunan Sindy.
Sindy melihat ke arah Fuad yang terlihat khawatir, meminta maaf karena tidak fokus dan bertanya kembali apa yang tadi di sampaikan oleh Fuad.
"Apa kau baik baik saja?" Fuad melihat wajah Sindy dan berpikir wajah Sindy yang merah karena Sindy merasa tidak enak badan.
"Ya, maaf aku tadi melamun..." Sindy menjawab dengan malu, malu dengan moment yang baru saja terjadi. Ia tak pernah menatap mata laki-laki yang belum ia kenal dengan baik seperti apa yang baru saja terjadi. Debaran jantungnya semakin kuat terasa, Sindy mengira jantung nya akan melompat keluar dari Dada. Ini baru pertama kalinya untuk Sindy.
Fuad mengulurkan tangan dan memegang dahi Sindy, ia menekan telapak tangannya dan mencoba mengecek suhu badan Sindy. Hal yang terlihat sederhana, tapi bagi Sindy itu sangat mengejutkan, ia bahkan tak bisa mengucapkan sepatah katapun.
Wenny mendekat dan bertanya pada Fuad, Mereka berdua memutuskan untuk menyampaikan pada senior bahwa kondisi Sindy mungkin kurang Fit, hingga akhirnya Sindy menemukan kembali suaranya dan berteriak dengan gugup.
"Aku baik baik saja, aku masih kuat...."
Cahyo datang dan ikut bergabung ke dalam team, ia menekan bahu Wenny dan meminta Wenny melakukan hal yang sama pada bahunya.
"Pijat balik ya, kita orang bersaudara..."
Wenny menjitak kepala Cahyo dengan gerakan tanpa bayangan, Fuad dan Sindy tertawa melihat kekonyolan rekan team mereka.
Mereka berempat merasa siap melanjutkan perjalanan dan kembali menghadap ke senior di pintu gerbang masjid untuk menyampaikan melanjutkan perjalanan.
Team satu dan Team tiga bersama-sama melaporkan kesiapan untuk segera menuju pos selanjutnya. Team dua masih tertahan di Pos, menangani salah satu anggota yang mengalami kram otot. Team empat sedang melaksanakan sholat dhuhur, sedangkan team lima yang baru tiba masih bernafas, meletakkan diri di pinggir halaman masjid dengan wajah pasrah kelelahan.
Senior Imam dan senior Bayu muncul tiba-tiba dan melangkah ke depan panitia, mereka menyampaikan mengambil alih pimpinan, berdiri berjejer dengan ketinggian yang sama, kehadiran mereka berdua terlihat seperti sedang melakukan pemotretan, namun aura gelap sudah mulai nampak dari bayangan mereka.
"Team yang siap silahkan berkumpul, sebutkan berapa menit waktu yang diberikan pada kalian oleh senior di sini!" Senior Bayu bertanya dengan suara dingin.
"15 menit kak..." Jawab Fuad dan Willy, ketua regu team satu dan tiga.
"Yang merasa memakai waktu lebih dari 15 menit silahkan maju ke depan dan push up 15 Kali" teriak senior Imam dengan gusar. Ia berdiri di depan Sindy Dan Wenny, cukup dekat, Sindy hanya bisa melihat ke arah sepatu. Ia tidak tahu apakah harus lari menjauh atau justru maju mendekat.
Kedua pimpinan team saling menatap, tidak ada yang yakin dengan waktu yang mereka habiskan saat di Musholla.
Sindy khawatir membuat masalah lagi, ia merasa bersalah atas hukuman periksa perlengkapan yang merepotkan kawan angkatannya. Sudah cukup membuat ia jera, Sindy memutuskan untuk maju ke depan dan segera melantai, melakukan push up 15 kali. Dari sudut matanya ia melihat Wenny mengikuti gerakan melantai, diikuti oleh salah satu anggota pria dari team tiga.
"Cukup, silahkan berdiri. Kalian bertiga segera berangkat, kamu Yudha, ketua regu... Anggota Sindy dan Wenny" Senior Imam tiba-tiba memutuskan tanpa alasan.
"Siap kak...." Sindy Dan Wenny melihat ke arah Fuad dan Cahyo, mereka merasa sangat kehilangan. Kebersamaan mereka yang sebentar terasa solid. Fuad menganggukkan kepala melepas kepergian mereka berdua, Cahyo mencoba protes dan menyampaikan keberatan, tapi ia justru mendapat hukuman push up.
Senior Imam meminta ketiganya segera berangkat dan kemudian menghadap ke arah sisa anggota.
"Kalian semua tidak ada yang menghargai waktu... 20 menit lebih, silahkan melantai, 20 Kali..."
Pemandangan anggota yang melantai tidak dapat dilihat lagi oleh Sindy dan Wenny, mereka bergegas mengikuti ketua regu yang baru.
Perjalanan menuju pos selanjutnya, lokasi kemah, tempat mereka menghabiskan sisa hari. Sindy merasa sedikit lega ketika mengetahui bahwa senior senior mereka menyewa tenda milik PMI Kota, tenda darurat yang berukuran besar, biasa digunakan saat ada bencana alam yang membutuhkan dapur umum atau tempat bernaung, setidaknya akan terasa nyaman berbaring di dalamnya bersama teman-teman.
Perut Sindy yang terasa lapar mulai berbunyi, mereka membawa beras dan peralatan memasak, tapi mereka tidak tahu apakah mereka diijinkan untuk membuat makanan di tengah perjalanan. Wenny membawa cukup banyak snack, dan mereka tertolong akan hal tersebut. Karena tidak ingin tertahan di jalan, mereka memakan snack sambil terus berjalan, sesuatu yang jarang dilakukan oleh Sindy. Dia merasa aneh, tapi saran untuk terus berjalan cukup wajar, mengingat air minum mereka sudah mulai sampai pada batas darurat. Rasa lelah semakin terasa, Wenny mulai mengeluh bahwa ia mulai merindukan bahasa canda milik Cahyo yang konyol.
"Setidaknya kita bisa tertawa dengan tolol, antara menertawakan Cahyo atau mengejeknya..."
Sindy merasa ikut berempati, ditatapnya punggung teman seperjalanannya dengan sendu, ia juga ikut merindukan Fuad dan Cahyo.
Perjalanan kali ini jauh lebih panjang, rumah warga mulai jarang terlihat, hamparan Pematang sawah mulai mendominasi pemandangan. Beberapa kali Yudha memberi kesempatan untuk kedua anggota perempuan meluruskan kaki yang terasa kram. Meletakkan tas untuk istirahat dan kemudian memakainya kembali, sungguh perjuangan yang sia sia. Jauh lebih mudah duduk tanpa meninggalkan tas punggung.
Yudha bukan sosok yang banyak bicara, tapi dari caranya memberikan waktu break, Sindy sudah merasa sangat bersyukur.





