Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Puncak Nafsu Ayah Mertua
Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

7.9
/ 10
Dilarang menginginkan ayah mertua sendiri. Namun saat sentuhannya mulai menjelajah di tubuhku, aku tak bisa lagi berpaling. Hasrat terlarang ini membakar setiap malam, membuatku tenggelam dalam nafsu yang tak bisa kuhentikan.

Ringkasan Puncak Nafsu Ayah Mertua

Aku masih terpaku pada tubuhnya yang tegap, otot dadanya berdenyut seiring napas yang berat. Kulitnya mengilat, Mengundang sentuhan, dan getaran aneh menjalari tubuhku hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, auranya yang panas menyapu kulitku. Tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membukanya. Aku menahan napas saat bibirnya mendarat di perutku, turun sedikit, dan kembali naik dengan usapan lembut. Tiba di dadaku, tangannya mengusap sisi kiri, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya hangat dan basah, lidahnya melingkari putingku perlahan membuatku menggeliat. Desah pelan keluar begitu saja, dan saat jemarinya memijit, aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras hingga aku mengerang. Setiap tarikan dan jilatan terasa seperti aliran listrik. Saat dia berpindah ke sisi lain, aku tak tahan lagi. Aku ingin menarik kepalanya dan memaksanya terus melakukan itu. "Jangan berhenti," bisikku, dan dia hanya tertawa pelan sebelum melanjutkan—makin dalam, makin kuat, membuatku lupa dunia.
Selengkapnya

Puncak Nafsu Ayah Mertua Bab 1

Aku berbaring di atas ranjang. Sprei yang kusentuh sudah tak rapi lagi, masih menyimpan bekas tubuh Leo yang barusan menindihku. Udara kamar ini dipenuhi bau tubuhnya, hangatnya masih tersisa, tapi tidak ada artinya. Ia datang, seperti biasa, terburu-buru, berat, dan tanpa kata. Hanya mengambil, tidak memberi. Dan aku? Aku sudah tahu betul peranku dalam semua ini.

Bibirnya sempat menyentuh bibirku, cepat, dingin, tanpa rasa. Tangannya menjelajah tubuhku seperti sedang menyelesaikan sesuatu, bukan menikmati. Aku memejamkan mata dan menarik napas dalam, mencoba bertahan. Hatiku kosong, tapi aku tahu harus tetap terlihat hidup. Aku harus membuatnya merasa bahwa ia masih laki-laki yang hebat.

Tanganku naik ke punggungnya, menggeliat sedikit untuk mendukung sandiwara ini.

"Ahh... iya... Leo... pelan sedikit..." desahku lembut, membuat diriku terdengar lemas.

"Uhh... ahhh... di situ... iya..." ucapku lagi, mencoba seolah menikmati, padahal pikiranku entah di mana.

Gerakannya makin cepat, makin kasar, tanpa irama, hanya nafsu yang meledak-ledak. Napasnya menghantam telingaku, berat dan memaksa. Aku tahu itu tanda-tandanya. Dia akan selesai sebentar lagi. Dan benar saja, hanya butuh beberapa hentakan terakhir, tubuhnya menegang, dan semuanya selesai. Begitu saja.

Aku masih menahan napas pura-pura ketika dia sudah menarik tubuhnya dariku. Aku tetap terbaring, tubuhku masih terbuka sebagian, kehangatan itu pun menguap lebih cepat dari yang kuduga. Saat kubuka mata, yang kulihat hanya punggung Leo yang menjauh dalam diam.

"Leo... kamu mau ke mana?" tanyaku pelan. Suaraku hampir tak terdengar, seolah hanya satu hela napas yang putus di udara. Sebagian dari diriku masih berharap dia menoleh, walau hanya sebentar.

Namun dia tetap diam. Ia meraih celananya dari kursi, berdiri, lalu menjawab tanpa menatapku.

"Wanita mandul tidak perlu tahu."

Aku tak bisa berkata apa-apa. Kata-kata itu menghantam dadaku seperti batu yang dilempar keras-keras ke kaca rapuh. Tangan yang tadi kugunakan untuk menggenggam selimut kini jatuh lemas. Semua desahan yang baru saja kulontarkan, semua rintihan yang kupaksakan, mendadak terasa kotor.

Aku menunduk, menggigit bibir bawahku, menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk mata. Tubuhku masih basah, bukan karena kenikmatan, tapi karena terlalu sering dipaksa percaya bahwa kebohongan ini harus dinikmati.

Aku menarik selimut dan membungkus tubuhku rapat-rapat, hanya ingin menyembunyikan apa pun yang tersisa dariku malam ini. Leo sudah keluar dari kamar tanpa menoleh sedikit pun. Yang tertinggal hanyalah sisa napas yang berat, bukan karena gairah, tapi karena luka yang kembali terbuka.

Tempat tidur ini masih hangat, tapi bagiku rasanya semakin dingin.

Aku menatap langit-langit kamar, membiarkan sepi mengendap di dalam tubuhku. Di balik selimut yang menutupi tubuh telanjangku, suara detik jam terdengar pelan, mengisi ruang yang kosong dalam hatiku. Dalam diam, aku bicara pada diriku sendiri. Ini bukan cinta. Ini hanya sisa.

Namaku Ayu Setianingrum. Usia dua puluh tiga tahun. Aku menikah dengan Leo, pria yang tiga tahun lebih tua dariku. Kami menikah tiga tahun yang lalu. Saat itu, aku yakin cinta cukup untuk menjaga segalanya tetap utuh.

Leo dulu adalah pria yang hangat. Ia mencium keningku setiap pagi, memelukku diam-diam dari belakang saat aku memasak, dan selalu menanyakan kabarku meski hari sedang sibuk. Pelukannya pernah menjadi tempat paling aman di dunia. Senyumnya mampu meredakan semua yang gelisah dalam hidupku.

Tapi semuanya berubah perlahan, bukan karena orang ketiga, bukan pula karena uang. Sumbernya lebih sunyi dari itu, lebih menyakitkan, karena semua berawal dari satu hal yang tak bisa kusembunyikan darinya. Aku belum juga hamil.

Tahun pertama kami masih bisa tertawa. Setiap hasil test pack yang menunjukkan satu garis, Leo memelukku dan berkata, belum rezeki. Tapi lama-kelamaan, kalimat itu tidak pernah terdengar lagi. Yang tersisa hanya diam, jarak, dan tatapan kosong.

Kini, aku tahu. Di matanya, aku bukan lagi seorang istri. Aku hanya beban, sesuatu yang menghalangi keinginannya untuk menjadi ayah. Ia menyebutku wanita mandul, dan aku tak bisa membantah, karena nyatanya memang belum ada kehidupan yang tumbuh dari rahimku.

Tapi yang paling menyakitkan bukan ucapan itu. Yang menghancurkan adalah kenyataan bahwa aku tak tahu kapan tepatnya Leo berhenti mencintaiku. Atau mungkin, aku hanya terlalu lambat menyadari bahwa cintanya sudah lebih dulu pergi.

Aku tetap duduk di atas ranjang, memeluk lutut dalam diam. Keheningan menelanku bulat-bulat. Lama-kelamaan, selimut ini terasa seperti perangkap, bukan pelindung.

Akhirnya aku berdiri. Tubuhku dingin, meski udara kamar tak sedingin hati yang kutahan. Aku mengenakan daster tipis dari kursi tanpa repot memakai dalaman. Tak ada yang peduli pada bentuk tubuhku lagi, bahkan aku sendiri.

Dengan langkah pelan, aku berjalan keluar dari kamar, menuruni tangga satu demi satu. Rumah ini terlalu sepi, hanya diterangi cahaya remang dari ruang tengah dan sedikit nyala lampu dapur yang belum dipadamkan. Tenggorokanku kering. Aku butuh air. Mungkin seteguk bisa sedikit meringankan isi kepala yang kacau.

Tapi saat aku sampai di ambang pintu dapur, langkahku terhenti.

Di sana, berdiri seorang pria membelakangiku. Tubuhnya tinggi dan kekar, hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan. Punggungnya lebar, otot-ototnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu dapur yang kuning pucat. Ia sedang meneguk air langsung dari botol, tanpa menyadari bahwa aku ada di belakangnya.

Aku terpaku. Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Siapa dia? Kenapa ada pria asing di rumahku? Tengah malam, tanpa baju, dan seolah begitu nyaman di tempat ini.

Tanganku refleks menggenggam ujung dasterku. Aku tidak tahu harus merasa takut, marah, atau justru... penasaran. Aku hanya berdiri diam, memperhatikan punggungnya yang lebar dan tubuhnya yang berotot, seperti seseorang yang terbiasa menjaga fisiknya dengan serius.

Lalu pria itu menurunkan botol air dari mulutnya. Ia menghela napas pelan, lalu menoleh.

Saat wajahnya terlihat, aku hanya bisa mematung. Tidak terkejut. Tidak panik. Hanya diam. Dan dalam kepala yang tiba-tiba hening, aku bergumam pada diriku sendiri.

Pria bertubuh indah itu... ayah mertuaku.

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
Cinta Dalam Hati
Cinta Dalam Hati
Dalam novel Cinta Dalam Hati, Tania, pengacara berani yang melawan mafia perdagangan manusia, terjebak perjodohan paksa dengan rival masa kecilnya, Yudi. Simak aksi seru dan intrik dalam romance modern ini. Baca kisah selengkapnya di web novel ini sekarang!
Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
Di hari ulang tahun pernikahan kedelapan, Jessica mendapati suaminya, Rio Aditya, berselingkuh dengan Nadia. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis kanker ovarium stadium akhir. Menyadari suaminya berniat menceraikannya, Jessica memilih pergi dengan damai. Baca novel romantis modern ini di novel web.
En-PD158
En-PD158
Dalam novel modern En-PD158, pernikahan hancur saat Zhou Yu'an meminta cerai demi menyelamatkan anak dari masa lalunya. Konflik pengkhianatan ini menjadi inti romance novel yang emosional. Akankah ia bertahan? Baca kisah selengkapnya di web novel ini sekarang.
Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
Dalam Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu, Angela nekat mengandung anak Jeremy meski hanya diperalat. Demi bayi mereka, ia melarikan diri dari miliarder kejam itu. Temukan kisah seru ini di billionaire romance novels kami, pilihan tepat bagi pembaca romance stories yang mencari drama.
Misteri Ular Xaver
Misteri Ular Xaver
Misteri Ular Xaver adalah novel misteri modern tentang teror patung dewa ular yang meminta darah perawan demi awet muda. Demi melindungi rahasia masa lalu, sang anak terpaksa berbohong, memicu kutukan mengerikan pada ibunya. Temukan kisah horor menegangkan ini di novel web kami.
Rahasia Gelap Sang Kekasih
Rahasia Gelap Sang Kekasih
Novel romantis misteri Rahasia Gelap Sang Kekasih mengisahkan kecurigaan yang muncul setelah sebuah pesan video larut malam dari sahabat memperlihatkan sosok wanita misterius. Detail pakaian dalam video tersebut memicu penyelidikan rahasia pacar sendiri. Baca novel online gratis sekarang.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.