PLAYBOY PENSIUN!

Penerbangan domestik antara Jakarta-Surabaya tak memakan waktu lama. Tommy sengaja menggoda Michaele. Pasalnya, sudah cukup lama mereka tidak bertemu face-to face. Kalaupun ada kerjasama diantara keduanya tanpa kunjungan proyek, mereka membahas proyek lewat meeting online.

"Sabar Mich, hidup manusia pasang surut. Pesanku yang benar-benar pernah nyemplung comberan tapi masih bisa keluar dari comberan kotor itu jangan duakan Greeta! Bisa kualat kamu nanti! Camkan kata-kataku ini Mich. Aku nggak ngasih saran gila tadi! Garis bawah pake stabilow merah yang tebel. Dan tulis di atas meja kerjamu! Biar kamu ingat!”

Michaele mencibir lalu meraih tehnya dan menyeruputnya. Tak lama setelah adegan serang dan menangkis majalah itu pramugari mengantarkan lunch untuk keduanya. Nasi Rendang juga salad buah. Pilot pun memberi informasi kalau pesawat akan segera mendarat di Bandara Juanda.

Perjalanan pun mereka lanjutkan. Setelah turun dari pesawat, mereka di sambut oleh manajer proyek dari kantor kontraktor yang bekerjasama dengan perusahaan keduanya. Indie Corporate adalah perusahaan kontraktor yang melayani banyak klien besar untuk pembangunan aneka gedung mulai mall, gedung universitas, sekolah, juga aneka bangunan dengan nilai tender besar. Mereka tidak melayani tender kecil, Karena scopenya yang luas, perusahaan ini memiliki beberapa kantor cabang diantaranya Surabaya, Jakarta, Medan juga Kalimantan. Kantor Cabang Surabaya adalah kantor cabang terbesar karena letaknya yang berdekatan dengan Australia sebagai kantor pusat Indie Corp.

"Selamat pagi Pak Michaele, Pak Tommy!” Sapa manajer operasional. "Kita langsung ke lokasi proyek kita?”

"Pagi……. Pak Samanhudi.” Michaele menjabat tangan pria yang seumuran dengannya. Tommy juga menjabat tangan Pak Samanhudi dengan semangat.

Mereka berjalan beriringan. Di belakang Samanhudi—driver siaga menemani manajer operasional.

"Pak Michaele, arsitek kita kali ini wanita. Bu Sydney, orang kepercayaan bos besar langsung. Meskipun wanita tapi kemampuannya nggak kaleng-kaleng Pak!”Kata Samanhudi dengan semangat empat lima. Lebih dari lima tahun Samanhudi bekerja dengan sang arsitek di beberapa proyek. Terang saja Samanhudi memujinya.

"Wanita, hah?"Sahut Michaele dengan suara sumbang meremehkan.

"Apa salahnya, ini jaman emansipasi Mich. Toh Greeta sudah selesai S3 dan sebentar lagi juga dapat gelar profesornya kan?"Balas Tommy.

Tak membela. Namun, Tommy sungkan pada Samanhudi karena sikap Michaele yang terlihat benar-benar meremehkan koleganya. Ia takut kalau Michaele membuat masalah yang mengakibatkan kerugian pada tender yang mereka kerjakan.

"Awas saja kalau nggak pecus kerja! Cuma modal tampang dan lenggak lenggok diatas gedung. Ku pecat!” Kata Michaele sarkas.

Samanhudi, manajer operasional menelan ludah. Michaele sangat sensitive. Ia takut Sydney justru akan di persulit. Jangan sampai maju kena mundur pun kena!

Tak berselang lama. Michaele dan Tommy turun di depan bangunan yang sedang di penuhi oleh beberapa truk berisi muatan semen, beberapa alat pengaduk semen dan truk berisi tangki air. Mercedez Ben hitam mengkilat itu menjadi mobil paling mewah tanpa tanding. Driver turun dan membuka pintu untuk para bos.

Tommy turun lebih dahulu kemudian di susul Michaele.

Samanhudi mengambil dua helm keselamatan dan dua masker. "Pak, jangan lupa di pakai. Ini……….” Samanhudi menyerahkan helm keselamatan dan masker pada Tommy dan Michaele.

Tommy memakainya lalu Michaele mengikuti Tommy meskipun dengan ogah-ogahan. Mereka berjalan naik ke lantai tiga dengan menaiki tangga. Mall itu akan di bangun menjadi lima lantai. Mereka akan mengunjungi arsitek di lantai tiga, tempat dimana banyak mandor juga kuli saling bahu membahu bekerja dengan segala alat pertukangan.

Pertama kali dalam hidupnya, Michaele tertegun akan pemandangan yang ia anggap aneh. Seorang wanita dengan setelan jeans mengenakan kemeja warna biru dengan rompi keselamatan. Ia memakai helm keselamatan sedang duduk bersila bersama kumpulan mandor juga kuli. Mereka duduk melingkar sembari makan dan sedikit bercakap-cakap juga bersenda gurau tanpa rasa canggung sama sekali.

Michaele tak berkedip saat melihat wanita itu. Ia ingin mengumpat, bagaimana bisa wanita secantik itu mau bekerja dengan adukan semen tanpa risih berbaur dengan pria berbagai umur bahkan semuanya terlihat sangat akrab.

Kalau Michaele menolak Celline, maka ia justru tertarik dengan si arsitek.

"Mbak Sydney, ini calon pemilik gedung ini nantinya.”Kata Samanhudi memperkenalkan Tommy dan Michaele.

Sydney menoleh mendengar ucapan Samanhudi. Ia meletakkan nasi bungkus yang belum habis ia makan. Ia mengambil karet gelang dari tangan kanannya lalu menarik karet itu untuk membungkus nasi itu. Ia meletakkan nasi itu diatas keranjang milik pedagang warteg yang biasa dipakai untuk mengantar nasi ke gedung.

"Nitip, jangan di buang. Mubazir Bro!”Kata Sydney dengan entengnya.

Para kuli juga mandor hanya mengangguk. Tak berani banyak omong karena tau ada kunjungan bos besar.

Sydney berdiri."Sebentar Pak, saya cuci tangan dulu."

Sydney melenggang ke kamar mandi. Parfum yang di pakai Sydney menguar sampai tercium oleh Michaele karena angin berhembus cukup kencang.

Sydney melenggang ke toilet untuk mencuci muka dan tangannya. Tak lupa, ia menyemprotkan hand sanitizer ke tangannya lalu memakai helm keselamatannya kembali. Sydney berjalan pelan ke arah Samanhudi dan Tommy. Michaele sengaja bergeser jadi berada persis di depan Tommy jadi Sydney mau tidak mau harus menjabat tangan Michaele terlebih dahulu.

"Saya Sydney Pak.” Ucap Sydney dengan suara sopan dan merendah.

Michaele menjabat tangan Sydney dengan ogah-ogahan. Meskipun ia kesal setengah mati pada Sydney, namun di hati kecilnya ia tak menampik pesona Sydney, muda, belia, cerdas dan cantik. Sydney tak ubahnya Greeta di masa mudanya. Tipikal wanita yang sesuai dengan standar Michaele.

Michaele merasakan getaran-getaran yang membuat hatinya berbunga-bunga. Seketika wajah dan senyum Greeta terngiang di kepalanya. Ia segera menarik tangannya kasar dari Sydney.

Sydney terperangah. Ia berusaha menutupi kegugupannya karena sikap Michaele.

"Pak Michaele, Pak Tommy silahkan berkeliling gedung. Saya harus memantau dan melihat stok semen juga keramik yang baru saja datang dari supplier bahan bangunan. Kalau Bapak menemukan kejanggalan dari desain juga konsep bangunan yang sudah di sepakati, Bapak bisa complain ke saya. Maaf, saya harus segera ke kantor pusat setelah ini.”Kata Sydney dengan jelas. Ia tak mau basa-basi membuang waktu. Apalagi menghadapi bos arogan model Michaele.

"Maksud kamu?”Tanya Michaele dengan suara tinggi.

"Saya arsitek tetap tapi saya juga menangani proyek di kantor pusat, Pak. Saya juga ada kunjungan ke proyek lain. Itu kesepakatan kerja yang diajukan perusahaan. Semuanya sudah di setujui di awal!" Lagi-lagi Sydney harus mengelus dada menjelaskan dengan mulut berbusa-busa pada Michaele.

"TIDAK PROFESSIONAL!”Teriak Michaele.

Lagi-lagi Sydney mengelus dada. Ucapan Michaele benar-benar pedas, tak beda jauh dengan Seblak Mercon level badas yang pedasnya bukan main.

Beberapa kuli dan mandor menatap Michaele dengan tatapan tak suka. Mereka menatap sinis pada Michaele.

Arogan, khas Michaele. Bodo amat batin Michaele. "Saya bos kamu saat ini! Saya nggak mau tau. Kamu harus menunggu saya sampai selesai meneliti gedung ini dengan detail. NO DEBATE!” Kata Michael.

"Bapak bilang apa barusan?”Tanya Sydney balik dengan raut wajah marah.

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.