"Si-apa orang yang bersamamu?”
"Oh, ini papa," kekeh Edward, tetapi tentu saja ekspresi Alesya selalu berbeda dengannya.
'Jadi, Edward adalah anak si pembunuh. Jadi, yang membeli lahan kakek adalah orang yang memusnahkan papa!' Alesya berusaha mengingat dengan jelas wajah pembunuh ayahnya yang sempat ditangkapnya dalam kamera handphone walau kini wajah itu hanya tinggal dalam memori otaknya, tetapi ditatap berulang kalipun wajahnya tetap sama seperti yang ada di foto.
Edward mengendarai mobilnya tanpa menyadari jika sang ayah sedang menjadi bahan perhatian Alesya. "Apa Nona masih punya waktu lebih, aku bisa mengajak Nona keliling kota ini," kekeh si pria yang sudah memiliki ketertarikan khusus pada Alesya.
"Iya, aku punya waktu lebih," jawaban yang diberikan Alesya padahal sebelumnya dirinya tidak memiliki niat pergi bersama Edward.
"Syukurlah. Nona mau kemana?" Edward sering sekali melirik Alesya karena dirinya dibuat gembira oleh jawaban si gadis.
"Mengunjungi tempat tinggal kamu juga tidak apa," ceplos Alesya di luar dugaan Edward. Sontak pria ini terhenyak, baru kali ini dirinya bertemu wanita yang langsung to the point seperti ini.
"Eu, apa!”
"Iya, aku mau melihat kediaman kamu," lugas Alesya karena dirinya ingin mencari bukti tentang si pembunuh yang ternyata sangat dekat dengannya, setidaknya jika dirinya memiliki hubungan dekat dengan Edward maka secara otomatis memiliki aset penting milik si pembunuh yang bisa dipakainya untuk mengancam sebagai upaya menjebloskan si pria itu.
Edward sedikit tabu dengan ajakan Alesya, tetapi dirinya tetap menyetujui karena mana mungkin menampik seorang tamu. Maka, tidak perlu menunggu lama sebuah apartemen menaungi keduanya. "Aku hanya akan tinggal sementara di sini. Kamu bagaimana, apa pindah ke pulau ini?”
"Tidak, aku juga cuma sementara." Tatapan Alesya begitu dingin saat menyapu ruangan yang sejajar dengan arah matanya. 'Ya Tuhan, detik ini aku masuk ke dalam salah satu sarang pembunuh itu. Apa aku akan selamat?' Gadis ini ingin membuktikan kecurigaannya, tetapi terdapat banyak sekali rasa takut yang menyelubunginya saat ini karena pembunuh itu sangat brutal saat menghabisi nyawa ayahnya, apalagi dirinya yang tidak akan mampu melakukan perlawanan apapun.
"Hei, kenapa melamun," kekeh Edward seiring menjentikan jemarinya di hadapan wajah Alesya hingga gadis itu mengerjap.
"Maaf, ini pertama kalinya aku masuk ke apartemen lelaki." Senyuman hambar Alesya saat membuat alasan cukup diterima logika hingga Edward terkekeh.
"Silakan duduk." Edward menjamu tamunya dengan hangat sebagaimana pada rekan bisnisnya yang lain karena Alesya memang salah satunya, pria ini tidak melihatnya sebagai seorang teman. Belum, itu yang dia tanamkan karena di titik ini mereka bertemu karena bisnis tidak ada alasan lain, "tunggu sebentar, aku akan membuatkan minuman." Ramahnya bersama senyuman selaras.
"Iya." Datar Alesya. Baru saja Edward menuju dapur, gadis ini segera bangkit dari duduknya untuk mencari informasi penting. 'Apatemen ini cukup kosong, tidak banyak benda di sini, terutama bukti yang harus aku dapatkan. Sepertinya dia tidak punya rencana tinggal lama, sampai kapan dia di sini? Aku tidak boleh kehilangan jejaknya, kita harus tetap saling mengenal. Teman. Iya, aku harus menjadi temannya supaya kita tidak putus kontak!’
Alesya merancang rencana dalam waktu singkat demi sebuah pembuktian. Edward berdeham kala si gadis berdiri di dekat kaca besar apartemennya. "Kamu suka jeruk? Kebetulan cuma ada buah jeruk, jadi aku cuma membuatkan jus jeruk," kekeh pria ini. Edward sangat tulus berbeda dengan Alesya maka sikap hangatnya tanpa kepalsuan sama sekali.
Alesya segera berbalik ke arah sumber suara. "Iya, aku menyukainya." Kini, dirinya kembali duduk di hadapan Edward.
"Aku dengar kamu masih anak kuliahan." Basa-basi Edward. Namun, hal itu membuat Aleya curiga.
"Tahu dari mana?”
"Dari papa karena papa punya hubungan baik dengan kakek kamu.”
"Oh." Datar nan dingin Alesya, kemudian menambahkan senyuman kecil dalam kalimatnya, "iya, aku masih kuliah, apa itu terdengar buruk?”
"Tidak, tidak sama sekali." Tawa kecil Edward, "sesekali aku ingin mengunjungi kampus tempat kamu belajar." Tatapan Edward sangat insten seolah sedang menunjukan maksudnya jika dirinya ingin lebih mengenal Alesya.
"Silakan, tapi tidak ada apapun yang bisa kamu lihat di sana." Senyuman palsu Alesya berpura-pura ramah.
"Ada.”
Alesya mengeryitkan dahinya. "Kamu pernah ke sana sebelumnya?”
"Belum, tapi aku bisa melihat kamu di sana." Senyuman teduh Edward mulai diperlihatkan sebagaimana seorang pria yang memiliki ketertarikan khusu pada lawan jenis. Alesya membalasnya dengan senyuman kecil yang dibuat seolah merona. "Silakan diminum jusnya," tawaran ramah Edward.
Alesya menerima jusnya walau sedikit ragu karena mungkin Edward menambahkan bumbu kejahatan di dalamnya, tetapi nama kakeknya menjadi jaminan untuk Edward membatasi diri, itu yang bersemayam dalam benak Alesya hingga dirinya berani menyeruput seujung bibir. "Ini manis, kamu pandai membuat jus," pujian palsunya.
"Itu sudah keahlianku," kekeh Edward saat tersipu mendapatkan pujian dari gadis yang membuatnya menumbuhkan ketertarikan khusus.
'Aku harus tetap berbaik hati pada laki-laki ini seolah mau berteman dan terus mengenalnya. Ayo Alesya, kamu bisa menjebloskan si pembunuh itu, pasti papa akan tenang di alam sana dan bangga sama kamu!' Asupan semangat untuk dirinya sendiri.
Edward menyalakan televisi besar. "Andai apertemen kita bersebelahan, kita akan lebih mudah bertemu, aku tidak suka sendiri." Hampir semua kalimat yang diucapkannya selalu ditambahkan kekeh hangat.
"Aku juga tidak suka sendiri." Alesya meniru gaya bicara Edward supaya menunjukan persamaan antara mereka walau itu hanyalah kepalsuan.
"Bagaimana kalau selama di sini aku sering jemput kamu untuk menghabiskan waktu bersama?" usulan yang dikatakan Edward sangat ragu karena mungkin dirinya akan tampak seperti pria agresif.
"Ide bagus, kita bisa menonton bersama atau mungkin memasak," kekeh palsu Alesya yang sedang berpura-pura tertarik pada tawaran Edward.
"Bagus sekali." Puas Edward karena dia pikir telah menemukan gadis yang sefrekuensi. Maka, kini keduanya menikmati acara televisi bersama.
'Bagus sekali, sampai di titik ini semuanya mulus. Pa, Alesya akan membantu papa membalas dendam, papa cuma tinggal mendukung Alesya dari atas sana, lindungi Alesya.’
Edward tertawa saat menyaksikan acara komedi. "Lucu sekali.”
"Ngomong-ngomong, apa kamu sendiri di pulau ini?" Alesya mulai mempertanyakan ayah si pria yang entah di mana dan siapa nama pria keji itu.
"Ada papa, hanya saja sekarang papa entah di mana. Papa bilang sore ini harus pergi ke kota lain di pulau ini.”
"Apa ada kemungkinan papa kamu datang kesini?" Alesya mulai gelisah karena bagaimanapun juga dirinya harus betatapan langsung dengan si pembunuh.
"Entahlah." Senyuman kecil Edward. Pertanyaannya di kapal belum terjawab, mengapa Alesya bisa mendapatkan masalah dari ayahnya? Apa hubungan keduanya?
"Apa kamu pernah mengenal papa?" Ini adalah salah satu pertanyaan demi menjawab rasa penasarannya walau tidak berharap Alesya akan memberikan jawaban, tetapi andaipun tidak mendapatkan jawaban dari si gadis, dirinya masih memiliki sang ayah untuk ditanyai.
Bersambung ....





