Perjanjian 100 Hari Menikah Dengan Om CEO

Fania terbangun dan ia langsung terkejut melihat ke sekeliling

ruangan yang begitu asing.

“Hah! Gue di mana ini?” Fania mencoba bangun dengan memegang

kepalanya yang masih berputar-putar.

Ia menatap ke sekeliling untuk mencari ponselnya. Namun,

sayangnya tidak ketemu. Lalu ia mencoba berdiri dan berjalan menuju pintu

keluar.

Saat sudah keluar dari kamar. Ia melihat sosok lelaki yang

tertidur pulas di sofa depan televisi.

Ia mengendap-ngendap mendekat ke arah pria itu untuk memastikan

pria di depannya bukan orang jahat.

Namun, sialnya saat mendekat kakinya tersandung karpet. Membuat

tubuh Fania menjadi limbung dan terjatuh ke atas tubuh pria itu.

Ya. Pria itu adalah Elnathan Devandra—sang pemilik mobil.

Devan langsung terbangun dan menatap wanita yang berada di

atas tubuhnya.

“Kamu mau godain saya?” ucapnya menelisik. Devan bahkan

menatap Fania dengan tatapan tajam.

“Maaf, nggak sengaja!” Fania langsung berdiri dan merapikan

bajunya yang berantakan.

Devan terduduk lalu ia berdiri dan melangkah mendekat ke

arah Fania.

Fania mundur secara perlahan.

“Awas ya, kalo lo berani macem-macem sama gue. Gue bakalan

teriak!” ancam Fania. Namun, Devan tetap mendekat ke arahnya.

Devan menarik tangan Fania dengan keras. Membuat Fania kini

berada di dekapan Devan dengan jarak yang begitu dekat.

“Kenapa kamu berada di mobilku? Apa kamu sengaja, biar orang

mengira aku menculikmu? Iya, begitu!” hardik Devan sinis.

Fania pun mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Namun,

sialnya dia belum mengingat semua.

“Jadi benar kamu memang sengaja? Ada motif apa kamu sampai

masuk ke mobilku! Katakan? Kamu butuh uang? Lalu ingin menjebakku?” cecar Devan

membuat Fania tidak terima dikatakan seperti itu.

“Jangan nuduh sembarangan! Gue wanita baik-baik, ya. Dan gue

nggak ada maksud menjebak lo. Gue hanya—,” jeda Fania. Dia bahkan tidak bisa

mengingat semuanya. “Plis. Lo siapa? Kenapa gue bisa ada di sini!” sambung

Fania bertanya. Dia benar-benar tidak ingat.

Namun, Devan tidak semudah itu percaya. “Kamu kira aku

percaya dengan alasanmu?”

“Aku serius. Aku ti—,” ucapan Fania terhenti karena ada

suara bel dari luar.

Devan melangkahkan kakinya ke arah pintu. Lalu ia

membukanya.

Betapa terkejutnya Fania melihat siapa yang datang.

“Karina ....” teriak Fania senang ia bahkan berlari

menghampiri sahabatnya dan memeluknya.

“Lo nggak apa-apa kan, Fan?” tanya Karina cemas.

Fania menggeleng. “Lo kok bisa tahu gue ada di sini?” tanya Fania.

“Ceritanya panjang. Ya udah kita pulang ya. Lo pasti bakal kena

omel bokap lo, jam segini baru pulang!” cecar Karina. Fania pun mengangguk.

Karina menatap ke arah Devan. “Tuan Elnathan, maaf kami jadi

menganggumu dan maafkan teman saya!” ucap Karina tidak enak.

“Tidak masalah,” sahut Devan. Ia juga melirik ke assisten

pribadinya yang mengantar seorang wanita ke apartemennya. “Jadi dia pacarmu?”

tanya Devan yang langsung diangguki oleh Reihan.

“Maaf, Tuan. Fania ini,” unjuk Reihan ke arah Fania yang

berdiri di dekat Karina. “Dia adalah teman pacar saya.” Reihan memberi tahu.

Fania terdiam menatap tajam ke arah Devan. Ia bahkan merasa

malu dan bersalah.

Devan hanya mengangguk. “Ingat, Nona. Lain kali hati-hati.

Jangan sampai ceroboh!” kata Devan menghadap ke Fania dengan sorot mata yang tajam

juga.

Fania akhirnya meminta maaf atas kecerobohan dirinya. Meski

ia masih sangat kesal karena sudah dituduh sebagai wanita penggoda.

Mereka bertiga pun berpamitan. Fania mengambil tasnya yang

di sofa ruang tengah. Lalu ia berjalan keluar meninggalkan apartemen milik

Devan.

***

Satu jam kemudian. Mobil Karina kini berhenti di gerbang tinggi

berwarna hitam.

Fania berterima kasih kepada Karina dan Reihan yang sudah

menjemputnya. Fania turun lalu masuk ke dalam rumah setelah mobil sahabatnya

menghilang dari bayangan matanya.

Waktu sudah menunjuk pukul dua pagi. Fania sudah menduga

jika ayahnya pasti sudah tertidur. Ia berjalan pelan naik ke arah tangga.

Namun, saat baru naik beberapa tangga. Dirinya dipanggil oleh suara yang ia

sangat kenal.

“Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang?” tanya

Alnando—ayah Fania. Dia menatap tajam ke arah putrinya.

Langkah Fania langsung terhenti. Dan ia membalikkan badannya

ke arah Alnando yang berdiri tepat di depan anak tangga. Fania bahkan hanya

terdiam menatap wajah ayahnya yang penuh amarah.

“Mau jadi apa kamu Fania, jika kamu sering keluyuran tiap malam?

Contoh kakakmu. Dia tidak pernah keluar malam kalo bukan pekerjaan. Harusnya

kamu mencontoh dia, bukan malah seenaknya seperti ini!” cecar Alnando dengan

keras.

Dada Fania seketika memanas mendengar perbandingan dirinya

dengan kakak tirinya. Hal yang sangat ia benci.

“Terus aja, Pah. Apapun yang Fania lakukan selalu salah di

mata Papah!” Fania membela diri.

“Salah bagaimana? Sudah jelas kamu memang salah, Fania!”

geram Alnando semakin memuncak. Ia bahkan akan melayangkan tangan kanannya ke

arah putrinya.

Fania langsung memejamkan mata. Namun, tangan Alnando

langsung di cekal oleh Angela—ibu tiri Fania.

“Sudah, Mas. Jangan terlalu keras pada Fania,” ucap Angela

lembut. Ia juga mendekat ke arah Fania lalu mengusap rambut Fania dengan pelan.

“Fania hanya bermain dengan temannya, Mas. Kenapa kamu malah

mempermasalahkan?” sambung Angela lagi dengan bibir yang menyungging.

“Aku hanya ingin Fania bisa meniru kakaknya. Bukan malah

suka keluyuran tidak jelas seperti i—,”

“Sudah, tidak perlu diperpanjang,” sela Angela. Ia menatap

ke arah anak tirinya. “Fania dan Shanum mereka berbeda, Mas. Fania juga pasti

akan berubah seperti kakaknya. Iya ‘kan Fania?” tanya Angela dengan senyum

jahatnya.

Fania melolot ke arah ibu tirinya. Dia tidak menjawab.

Bahkan ia langsung berlari ke arah kamarnya meninggalkan ayah dan ibu tirinya.

Alnando mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa bersalah

karena sudah terlalu keras pada putri kandungnya. Namun, yang ia lakukan demi

kebaikan masa depan Fania.

“Terima kasih untuk sikapmu yang selalu baik pada putriku.

Meski ia belum mau menerimamu sampai detik ini!” ucap Alnando pada Angela yang

sudah berdiri di hadapannya ia bahkan langsung memeluk tubuh istrinya.

“Tidak masalah, Mas. Suatu saat Fania pasti akan menerimaku,

dan juga Shanum,” sahut Angela tersenyum setelah pelukannya terlepas.

Alnando mengusap pipi Angela. Lalu mengecup keningnya.

“Aku cinta kamu,” ucap Alnando. Lalu mereka kembali masuk ke

dalam kamar.

Angela tersenyum bahagia. Ia sudah menguasai hati Alnando.

Hanya saja Fania belum bisa menerima kehadirannya. Itu tidak masalah!

Sedangkan di tempat lain. Yakni kamar Fania. Fania sendiri

sedang menangis sesegukan. Semenjak Alnando menikah kembali, ayahnya sedikit

berubah. Ia pun sangat membenci sikap manis ibu tirinya. Pandai bermuka dua.

Menjijikan!  

Fania mengambil sebuah foto di laci meja dan meraba foto

kecilnya yang begitu terlihat bahagia. Ia juga menatap ke arah seorang

perempuan yang sangat berarti di hidupnya. Ya dia adalah ibu kandung Fania.

“Bu, Fania kangen!”

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.