Perjanjian 100 Hari Menikah Dengan Om CEO

Hari dengan cepat telah berganti. Fania pagi ini akan

bersiap-siap ke kampus. Sebagai mahasiswa akhir membuat ia sedikit sibuk

mempersiapkan untuk sidang skripsi.

Skripsi sudah ia mulai kerjakan meski belum sepenuhnya

selesai.

Fania keluar dari kamar menuruni anak tangga. Netranya

melihat ke sekeliling rumah yang sudah disulap menjadi taman bunga.

“Bi Iyas!” panggil Fania saat duduk di ruang makan.

“Iya, Non. Mau sarapan apa?” tanya Iyas yang mendekat ke

hadapan Fania.

Fania bukannya menjawab. Ia malah bertanya pada Bi Iyas.

“Mau ada acara apa, Bi? Rumah dihias begini?” Fania penasaran.

“Oh itu, Non. Non shanum mau kedatangan calon besan dan

calon suaminya.”

“Shanum? Calon suami?”

“Iya, Non. Tadi Tuan sudah berpesan. Nanti malam non Fania

tidak boleh pergi,” ucap Bi Iyas membuat Fania memutar bola matanya.

“Kan yang mau nikah Shanum, apa hubungannya sama aku!” cebik

Fania kesal.

Iyas hanya tersenyum. Ia sudah paham dengan anak majikannya.

“Ya udah, aku berangkat dulu, Bi.” Fania berpamitan. Iyas

mengangguk lalu membereskan gelas s**u yang sudah kosong.

Fania melangkahkan kakinya ke garasi mobil. Mobil berwarna

merah melaju meninggalkan halaman rumahnya.

Perjalanan dari rumah ke kampus memakan waktu tiga puluh

menit. Fania memarkirkan mobilnya di halaman parkir. Dan ia langsung masuk ke

dalam kelas untuk mengikuti bimbingan skripsi.

“Rin, lo hari ini mau kemana?” tanya Fania setelah kelas

selesai.

“Gue mau nganterin nyokap ke rumah sakit. Biasa mau check

up rutinan. Kenapa memang?”

“Enggak apa. Tanya aja!”

“Oh ya, Fan. Lo kemarin pas di apartemen Tuan Elnathan, lo

nggak diapa-apain ‘kan?” Karina bertanya karena penasaran.

“Enggak. Aman kok, Rin!” sahut Fania. “Gue baru tahu kalo

Reihan ternyata assiten om-om itu?” tanya Fania.

“Maksud lo, Elnathan?”

Fania mengangguk.

“Iya kalo itu, gue juga baru tahu. Eh, ya udah, gue duluan ya.

Mami dah telpon nih. Bay!” ucap Karina dan langsung berlari ke arah mobilnya.

Fania melambaikan tangan. Ia merasa jenuh membuat ia masuk

ke mobil dan melajukan mobilnya entah kemana.

“Masa jam segini pulang! Mana di rumah mau ada acara!

Tapi gue laper banget. Ah aku mampir ke resto itu aja deh!” Fania

memarkirkan mobilnya di halaman resto serba sambal yang tidak jauh dari kampus.

Setelah itu ia masuk lalu memesan ayam bakar madu, sambal matah

dan juga es teh manis bercampur lemon.  

Ia mencari tempat duduk di dekat jendela. Lalu mengeluarkan

laptop dari tasnya. Ia akan menonton drakor untuk menemani rasa gabutnya

sendirian.

Hampir dua jam Fania betah di dalam resto. Ia memutuskan

untuk pulang ke rumah. Ia tidak mau kena omel bokapnya lagi.

“Berapa semua, Kak?” tanya Fania di depan kasir.

“Seratus dua puluh ribu, Kak!” sahut kasir wanita.

“Bentar, ya.” Fania merogoh tasnya. Namun, ia tidak menemukan

dompetnya.

“Waduh dompetku di mana ini?” Fania panik.

“Bentar ya, Kak. Dompetku hilang!” ucap Fania merasa malu.

Ia mencari ke tempat duduknya. Namun, tidak ada juga.

“Duh, di mana sih! Apa gue lupa bawa ya?” gerutu Fania.

Fania mendekat ke arah kasir kembali. “Maaf, kayanya

dompetku ketinggalan. Aku pulang ambil dompet dulu ya, Kak?” tanya Fania.

Namun, wajah kasir langsung berubah jadi kesal.

“Nggak bisa gitu, Kak! Nanti kalo kamu kabur, gimana? Aku

bisa kena omel dan ganti rugi!” sahut Kasir dengan nada tinggi.

Fania malah semakin kesal karena ia seakan-akan dianggap mau

kabur begitu saja. Padahal niat ia baik. Dan tidak mau kabur. Dia juga mau

membayar kalo bisa dua kali lipat juga dia akan bayar.

“Kak aku nggak ad—,”

“Totalnya berapa, Mbak? Sekalian sama ini!” unjuk pria

berjas hitam ke arah nota Fania.

Fania kaget saat melihat pria di sampingnya dan pria itu

juga membayarkan makanannya.

“Lo, pria yang kemarin ‘kan?” tunjuk Fania. Namun, pria itu

tidak merespon. Ya, pria itu ialah Devan.

“Makasih sebelumnya. Minta nomor lo, biar nanti gue ganti

uangnya?” Fania menadahkan tangannya seakan orang meminta.

Devan hanya menggeleng. Lalu melangkahkan kakinya keluar

dari resto. Fania mengejar, tetapi ia lupa tas laptopnya masih di meja. Ia pun

membalik untuk mengambil.

Fania kehilangan jejak. Devan dengan cepat menghilang. Dan

hal ini membuat Fania cukup kesal karena merasa ia hutang budi.

“Dia kan atasan Reihan. Pasti Reihan tahu nomor dia. Iya,

gue akan meminta ke Karina!” gumam Fania setelah berada di dalam mobil.

Lalu mobil melaju meninggalkan halaman resto.

***

Malam harinya. Fania sudah berada di rumah. Ia juga sudah

berdandan cantik karena malam ini adalah acara pertunangan Shanum—kakak

tirinya.

Ia memakai gaun berwarna pink, rambut hitamnya tergerai

dengan hiasan mutiara di kepalanya. Sangat anggun.

Fania keluar dari kamar. Ia berpapasan dengan Shanum yang

hendak turun ke bawah juga.

“Hai! Adikku!” sapa Shanum. Shanum terlihat sangat cantik

menggunakan kebaya warna maroon dengan model kekinian.

Fania hanya tersenyum miring. “Selamat, ya. Lo bakalan

secepatnya pergi dari rumah ini! Kenapa nggak dari dulu aja sih lo nikahnya!”

ucap Fania mengejek.

Shanum menatap Fanis tajam. “Gue memang menikah, tetapi gue

akan tetap akan tinggal di sini!”

Fania memutar bola matanya. “Kita lihat aja nanti!” Fania

langsung bergegas turun. Namun, ia kembali membalik ke arah Shanum yang masih

berdiri di ujung tangga. “Jangan pernah bermimpi ingin menguasahi rumah gue,

nggak akan gue biarkan! Dan gue akan membongkar niat busuk lo dan ibu lo secepat

mungkin! Ingat itu!” ancam Fania serius.

Shanum menatap punggung adik tirinya dengan tatapan penuh

amarah. Ia pun turun karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan calon suaminya.

Ia mengatur ekspresi terbaiknya. Lalu melangkah kakinya menuruni tangga menuju

ruang keluarga.

Fania duduk di samping Alnando. Alnando bahkan sudah

bersikap kembali seperti biasa. Ia bahkan merangkul bahu Fania sejak tadi dan

itu hal yang sangat bahagia untuk Fania.

“Tuan! Keluarga Tuan Samuel sudah datang!” ucap Joko salah

satu satpam rumah.

Alnando langsung berdiri dan menyambut kedatangan

Samuel—sahabat sekolahnya dulu waktu di perguruan tinggi.

“Selamat datang, Sam!” sapa Alnando yang langsung

berpelukan.

“Bagaimana kabarmu? Sam berbalik tanya.

“Seperti yang kamu lihat,” sahut Alnando. “Mana putramu?”

tanya Alnando melihat ke sekeliling Sam hanya datang seorang diri.

“Oh, dia masih di perjalanan. Bentar lagi juga sampai,”

jawab Sam. Alnando hanya mengangguk dan mengajak Sam masuk.

“Kenalkan ini istriku, Angela. Ini Shanum dan ini Fania.”

“Saya Samuel.”

Angela mengajak duduk di ruang makan. Karena ia sudah

menyiapkan jamuan yang enak untuk calon besan. Lalu Alnando langsung membahas mengenai

masalah pertunangan putra putri mereka.

“Jadi, yang mana yang akan bersanding dengan putra saya?”

tanya Sam melihat ke arah Shanum dan Fania.

“Ini, Tuan Sam. Shanum.” Angela menunjuk Shanum yang tampak

malu-malu. “Shanum bekerja sebagai model dan ia wanita yang sangat pemalu. Shanum

juga tidak suka bermain diluar, ia lebih suka di rumah selepas pulang

pemotretan,” sambung Angela membanggakan putri kandungnya.

Sam mengangguk dan tersenyum bahkan bangga.

Fania memutar bola matanya merasa jenggah. Ia merasa

tersindir.

“Sambil menunggu putramu datang. Bagaimana kalau kita makan

dulu aja, daripada nanti keburu dingin,” ajak Alnando yang langsung disetujui

oleh Sam dan semuanya.

Mereka menikmati makan malam dengan begitu hangat. Bahkan

Fania sesekali ditanyai oleh Sam. Membuat Fania merasa sungkan.

Namun, makan malam terhenti. Dikarenakan seorang pria masuk

ke dalam diantar oleh Joko.

“Maaf, saya telat!” ucap pria itu. Membuat Fania yang sedang

melahap dengan nikmat tersedak.

Fania membelalak tak percaya. Saat melihat pria itu. Ya,

pria itu adalah Devan. Pria yang tadi siang sudah menolongnya di resto. Bahkan

ia membayarkan pula.

“Kenalkan ini putra saya, Elnathan Devandra.” Samuel berkata

ke semua orang.

Devan menyalami semua. Dan saat tangan menyentuh telapak

tangan Fania. Devan menyapa biasa seperti orang yang tidak pernah saling

bertemu.

Devan duduk di hadapan Shanum. Akan tetapi, tatapannya

selalu mengarah ke arah Fania. Fania merasa risih di tatap oleh Devan seperti

itu.

“Dev, ini calon istrimu.” Sam menunjuk Shanum yang

memberikan senyuman terbaiknya. Shanum bahkan terpana akan ketampanan Devan

yang sangat berwibawa.

Devan menatap ke arah Shanum. Namun, ia langsung kembali

menatap Fania yang sedang menunduk.

“Bagaimana, Dev? Apa kamu setuju menikah dengan putri saya?”

tanya Angela lembut.

Devan mengangguk. Membuat senyum Shanum semakin melebar.

“Kapan? Pernikahan ini dilangsungkan?” tanya Devan sambil melihat

ke arah Alnando.

Alnando tersenyum senang. “Secepatnya kalau bisa!”

“Itu sangat bagus!” Sam juga antusias.

Angela dan Shanum. Mereka berdua saling memandang dengan

bahagia.

“Aku mau menikah. Tapi dengan dia?” tunjuk Devan mengarah ke

Fania.

Fania terkejut. Bukan hanya Fania tetapi semuanya.

“Apa?”

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.