“Abel, giliran kamu.”
Abelian pun menoleh dan menganggukkan kepalanya, berjalan menuju tempat pemotretan. Dia memakai atasan model crop top berwarna putih dengan model jaring dan bermotif bunga yang memperlihatkan perut ratanya, dipadukan dengan rok pendek yang panjangnya hanya sampai setengah paha. Terlihat sangat seksi jika dipakai oleh Abelian, apalagi bentuk tubuhnya yang nyaris sempurna dengan lekukan tubuh yang pas.
“So sexy,” bisik Vero dengan suara serak. Vero adalah rekan kerja Abelian selama bertahun-tahun. Dia juga satu dari sekian pria yang tertarik dengan Abelian.
“Tutup mulutmu jika tidak ingin aku bungkam dengan sepatu,” balas Abelian dingin.
Vero tidak tersinggung, justru dia tertawa dengan perkataan Abelian. Bukan sekali dua kali Vero menggoda Abelian namun selalu diabaikan. Vero bahkan sering mendapatkan makian dari Abelian, tak jarang Abelian kerap melontarkan perkataan sarkas bahkan tak segan menamparnya.
“Ambil posisi, iya bagus, satu … dua.“ Fotografer memberikan aba-aba untuk Abelian dan Vero yang tengah berpose di depan kamera.
Abelian sekali diarahkan langsung mengerti dan langsung berpose layaknya model profesional. Ah, dia memang model profesional, terkenal, dan sering menjadi model untuk brand-brand ternama dunia.
Abelian memiliki sifat yang buruk menurut rekan kerjanya, meskipun begitu Abelian selalu menjadi bahan taruhan oleh para model pria yang bernaung di agensi yang sama. Tidak ada yang dapat mengelak bahwa Abelian, meskipun terlihat seperti wanita liar, faktanya Abelian masih perawan. Meskipun pergaulannya terbilang sangat bebas, tapi tidak dengan dirinya. Prinsip Abelian adalah no sex before marriage.
Abelian memiliki wajah yang menawan meskipun dalam mode datar, dia tetap menarik bagi kaum pria. Penampilan fisiknya memang sangat luar biasa, tapi tidak dengan sifatnya. Abelian memiliki sifat keras kepala, emosional, dan blak-blakan yang sering dianggap sebuah kejujuran. Apa yang Abelian suka dan apa yang tidak dia suka, dia akan mengatakannya secara gamblang tanpa memikirkan apakah perkataannya itu menyakiti orang lain atau tidak.
“Oke. Terima kasih semuanya,” kata fotografer tersebut, menandakan pemotretan hari ini telah selesai.
Abelian segera menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sebelumnya. Vero mengikuti langkah Abelian menuju ruang ganti. Sudah biasa baginya dan Vero memakai ruang ganti yang sama. Dia tidak pernah mempermasalahkannya karena sudah bertahun-tahun mereka melakukannya. Akan tetapi tidak dengan model lain, dia hanya berbagi ruang ganti dengan Vero saja. Itu karena Vero adalah satu-satunya model pria yang dikontrak dalam jangka waktu yang lama dan menjadi rekan kerja tetap Abelian.
“Bel, selesai pemotretan, mau pergi berkencan denganku?” tanya Vero disela langkah mereka menuju ruang ganti pakaian. Ruang ganti pakaian mereka memang sama, tapi terdapat dua bilik untuk berganti pakaian sehingga mereka tidak akan melihat satu sama lain.
“Tidak. Aku ada janji.” jawab Abelian kemudian masuk ke bilik untuk berganti pakaian.
“Ayolah, sudah berkali-kali aku mengajakmu berkencan. Sekali saja, Bel.” Vero masih berusaha merayu Abelian agar menerima ajakannya.
“Sorry to say, tapi kau tidak berada di level dimana bisa mengajakku kencan.” Setelah mengatakan itu Abelian keluar dari ruang ganti meninggalkan Vero yang lagi-lagi menghembuskan napas kecewa.
“Aku tidak akan menyerah, aku yakin sebentar lagi kau akan berhasil aku taklukan. Hanya masalah waktu, dan itu tidak akan berlangsung lama, Bel.” Monolog Vero.
***
Abelian melangkahkan kakinya menuju tempat hiburan malam. Meskipun tempatnya berisik dan kepulan asap rokok di mana-mana, tapi tempat inilah yang selalu berhasil membuat amarah Abelian berkurang jika sudah berhadapan dengan minuman beralkohol.
Abelian duduk di depan meja bar, memesan minuman kepada bartender dengan kadar alkohol yang rendah. Dia tidak ingin mabuk karena tidak ingin berakhir di ranjang bersama pria yang tidak dikenalnya. Bukan sekali dua kali Abelian diajak oleh para pria untuk menghangatkan ranjangnya dan Abelian tidak sudi melakukannya dengan sembarang orang.
“Hai, tumben kesini tidak bilang dulu padaku.”
Abelian menoleh sesaat pada seseorang yang duduk di sampingnya tanpa permisi. Siapa lagi kalau bukan Selena, sahabat satu-satunya yang dia punya. Abelian tidak menghiraukannya dan kembali menyesap minumannya.
“Sialan!” maki Abelian, dia merasa sangat kesal kala melihat sepasang manusia sedang berciuman diujung sofa, tidak jauh dari tempatnya berada. Ia kesal karena ciuman mereka mengingatkannya dengan insiden ciuman pria asing itu. Entah kenapa hal itu tiba-tiba saja terlintas di pikirannya.
Ciuman pertamanya yang ingin dia berikan kepada pria yang dicintainya, direnggut paksa oleh pria yang bahkan dia tidak tahu namanya siapa. Andai bukan di tempat umum, mungkin Abel akan memukulnya habis-habisan. Sayang sekali, karena harus menjaga image, dia rela menahan keinginannya itu. Beruntung kekesalannya tidak berdampak pada pekerjaannya, meskipun setelah bekerja dia kembali dibuat kesal oleh Vero.
“Bel, kau kenapa?” tanya Selena begitu Abel meletakan gelas kosongnya dengan kasar.
“Brengsek!”
“Kau mengataiku?” tanya Selena sambil menunjuk dirinya sendiri.
Abelian menoleh dan menatap Selena dengan wajah datarnya, “Bukan kau, tapi pria gila itu.” jawab Abelian dengan kesal.
“Pria gila mana yang membuatmu kesal. Vero?” tanya Selena, pasalnya hanya Vero pria yang biasanya mengganggu Abelian saat bertemu.
“Bukan. Aku bahkan tidak tau siapa namanya. Kita baru pertama bertemu dan dia dengan kurang ajarnya berani menciumku. Dia benar-benar pria gila!”
“What? dia menciummu? disini?” tanya Selena sambil menunjuk bibirnya. Abelian mengangguk pelan kemudian menenggak minumannya lagi.
“Apa dia tampan?” tanya Selena, dia lebih penasaran bagaimana rupa pria itu dibanding kejadian yang menimpa sahabatnya.
“Apa kau pikir aku masih sempat meneliti wajahnya seperti itu?” tanya Abelian dengan kesal.
Selena menggeleng pelan sambil tertawa kecil, “Tidak. Hanya saja kalau dia tampan, aku rasa tidak masalah.” jawab Selena dengan santainya.
“Tidak masalah itu untukmu. Untukku sebuah bencana.” ucap Abelian dengan sarkas.
“Sudahlah, lupakan soal pria itu untuk sesaat. Sekarang ayo kita turun ke lantai dansa. Kau tampak menyedihkan kalau disini sendirian.” ucap Selena.
Abelian menggeleng, “Aku sedang tidak ingin. Kau saja yang pergi. Tinggalkan aku sendiri.” tolak Abelian.
Selena pun tidak memaksa jika Abelian memang tidak ingin. Ia memilih pergi dan membiarkan Abelain melampiaskan kekesalannya pada minuman.
***
Entah berapa banyak Abelian minum, tapi kekesalannya masih belum menghilang. Ciuman itu selain membekas diingatannya juga rasa hangat dan kenyalnya masih terasa di bibirnya. Itulah yang membuat Abelian kesal setengah mati karena ini adalah ciuman pertamanya.
Abelian meletakan gelasnya dengan sedikit kasar, “Aku pastikan, jika bertemu lagi aku akan membuatnya babak belur. Tidak peduli dia hidup atau mati. Aku benar-benar akan memukulnya.”
“Siapa yang akan kau pukul, Baby?”
“Astaga!”
Abelian berjengit kaget saat mendengar bisikan dari seseorang dan begitu menoleh, alangkah terkejutnya Abelian melihat Castello sedang tersenyum miring sambil menatapnya. Wajah mereka sangat dekat hingga hembusan nafasnya terasa hangat menerpa wajahnya.
“Kau menggodaku, Baby?” bisik Castello serak.
Buru-buru Abelian mendorong Castello, dia bangun dari duduknya dan menatap tajam Castello. Tidak dapat dipungkiri jika Abelian sempat merasa terpesona pada ketampanan Castello, tapi begitu mengingat pria didepannya ini adalah pria kurang ajar itu, kekesalan Abelian kembali mencuat.
“Kau!” Abelian menunjuk Castello dengan jari telunjuknya.”Untuk apa kau di sini? Kau mengikutiku, hah!” tuduh Abelian.
Castello terkekeh geli. “Sungguh percaya diri sekali kau, Baby. Aku ke sini ada pertemuan bisnis, bukan mengikutimu. Atau…kau memang ingin aku ikuti, hm?” tanya Castello, sengaja menggoda Abelian.
“Cih! Tidak perlu!” Abelian kembali duduk dan mengabaikan Castello.
Castello duduk di samping Abelian tanpa izin. Matanya menatap Abelian dengan intens disertai ekspresi wajah datarnya. Castello mengepalkan tangan begitu menyadari jika Abelian memakai pakaian yang sangat minim. Gelenyar aneh menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat pasokan udara di sekitarnya seakan menipis. Napas Castello terasa sesak, dia menelan saliva dengan susah payah melihat Abelian menyingkirkan rambutnya ke satu sisi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus.
‘Sial! kau sengaja memancingku ternyata. Lihat saja, akan ku beri pelajaran.' batin Castello geram.
Castello membuka dua kancing kemejanya, melonggarkan dasi yang terasa semakin mencekik lehernya. Dia berdiri dan langsung memenjarakan Abelian di antara kedua tangannya dari belakang. Castello menghirup dalam-dalam aroma shampo yang menguar dari rambutnya. Wangi buah-buahan segar, dan Castello sangat menyukainya.
Abelian terkejut begitu ada sepasang tangan yang memerangkap dirinya, bulu kuduknya berdiri kala ada seseorang yang mencium rambutnya. Jantung Abelian berdetak lebih kencang, dua kali lipat, ah tidak, tiga kali lipat atau mungkin berkali-kali lipat dari biasanya.
“Aku suka aromamu.” bisik Castello kemudian mengecup singkat pucuk kepala Abelian.
Abelian langsung berdiri karena terkejut. Dia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Castello dan menatapnya tajam.
“Jangan bersikap kurang ajar. Aku tidak kenal kau, dan kau juga tidak kenal aku. Tolong bersikaplah yang sopan,” desis Abelian.
Bukannya takut dengan tatapan tajamnya, Castello justru semakin mendekat. Dia menarik pinggang Abelian dan merapatkan tubuhnya. Tangannya membelai wajah Abelian dengan lembut, refleks Abelian memejamkan matanya.
“Castello. Namaku Castello, Baby. Ingat itu di otak cantikmu.” bisik Castello.
Abelian terdiam dengan tubuh yang meremang. Bisikan itu, sentuhan lembut di pipinya, dan suara beratnya yang terdengar seksi membuat Abelian kehilangan kesadarannya untuk sesaat. Seharusnya dia tidak seperti ini. Alarm bahaya langsung berbunyi di otaknya.
“Bernapaslah.” bisik Castello kemudian terkekeh geli.
Abelian membuka mata kemudian mendorong tubuh Castello dengan kasar hingga rengkuhannya terlepas. Sial! dia hampir saja kehabisan nafas karena Castello membuatnya terpaku hingga tanpa sadar menahan nafas. Abelian menatap tajam Castello yang tersenyum miring sambil menatapnya.
“Aku tidak peduli mau kau Castello, Castillo, atau siapapun itu. Jangan-bersikap-kurang-ajar.” ucap Abelian penuh penekanan.
Castello kembali tersenyum miring, dia sedikit menunduk hingga wajah mereka saling berhadapan, sangat dekat, bahkan Abelian bisa merasakan napas hangat Castello yang menerpa wajahnya. Tanpa diduga Castello mengecup singkat bibir Abelian.
“Kau!” Abelian membulatkan matanya, dia terkejut karena kecupan yang tiba-tiba itu.
“Jangan kau kira bisa memerintah seenaknya. Kau belum tau siapa diriku, Baby. Tapi biar aku beritahu sesuatu, aku paling tidak suka ditolak. Camkan itu baik-baik, Baby.” ucap Castello kemudian dia membalikkan tubuhnya, meninggalkan Abelian yang terdiam dengan wajah memerah karena menahan amarah.
Bugh!
Abelian melemparkan sepatu yang dipakainya hingga mengenai punggung Castello. Wajahnya memancarkan aura menyeramkan, tangannya terkepal kemudian dia berjalan menghampiri Castello yang sedang memegang sepatunya.
“Dengar Tuan tidak tahu malu, jangan kau pikir kau juga bisa memerintahku seenaknya. Satu hal yang harus kau tahu, aku tidak suka diatur apalagi oleh orang sepertimu.” Setelah mengatakan itu Abelian merebut sepatunya dari tangan Castello dan langsung keluar dari cafe.
Castello terkekeh geli sambil menatap kepergian Abelian, “You are so sexy, Baby.” ucap Castello dengan lantang. Abelian menoleh dan mengacungkan jari tengahnya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Castello.





