Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Foto Istriku di Aplikasi Michat
Foto Istriku di Aplikasi Michat

Foto Istriku di Aplikasi Michat

8.3
/ 10
Pasca PHK, Panji mencari hiburan melalui aplikasi MiChat. Namun, saat hendak memesan layanan dari akun Dira, ia menemukan kemiripan mengejutkan dengan istrinya. Telusuri misteri pengkhianatan dalam modern romance Foto Istriku di Aplikasi Michat, sebuah web novel penuh rahasia gelap.

Ringkasan Foto Istriku di Aplikasi Michat

Pasca terkena PHK, Panji yang sedang tertekan menerima saran Bowo untuk menggunakan aplikasi kencan daring demi mencari hiburan. Panji merasa jenuh dengan istrinya, Shira, yang kini tampil kusam dan tidak lagi menarik di matanya. Ia merindukan pelayanan dari wanita seksi dan memutuskan memesan seseorang bernama Dira melalui aplikasi tersebut. Namun, saat mengamati foto Dira yang memikat, Panji justru merasa janggal karena kemiripan wajah wanita itu dengan Shira istrinya sendiri.
Selengkapnya

Foto Istriku di Aplikasi Michat Bab 1

"Panji, daripada pusing dan stres mikirin nasib kita yang habis kena PHK, mending kita main aplikasi MiChat aja. Wanita di sana cantik-cantik dan seksi-seksi," kata Bowo, rekan kerjaku itu sambil tersenyum miring.

Aku duduk diam di pojokan kafe, menatap cangkir kopi hitam yang sudah setengah dingin. Bowo duduk di seberangku, santai seperti biasanya. Kafe kecil ini biasanya tempat kami melepas penat setelah kerja, tapi hari ini suasananya berbeda.

Ada keheningan yang menggantung di udara, seperti beban tak terlihat yang tak terucapkan. PHK massal yang baru saja kami alami masih menghantui pikiranku. Perusahaan tempat kami bekerja selama bertahun-tahun gulung tikar, dan kami serta para karyawan yang lain pun ditinggalkan tanpa harapan.

Bowo menyeruput kopinya pelan, tampak tenang meski aku tahu dia sama frustrasinya denganku. Dia menghela napas panjang sebelum berbicara, memecah kesunyian.

Aku memandang Bowo, menelusuri wajahnya yang tampak santai, tetapi matanya menunjukkan kelelahan. Ia berusaha menghibur dirinya sendiri dengan cara yang menurutku sia-sia. Aku menggeleng pelan.

"Sorry, bro. Tapi gue nggak berminat," jawabku singkat sambil meletakkan cangkir kopiku yang hampir habis.

Aku tidak bisa membayangkan jika diriku sampai terlibat dalam hal semacam itu, apalagi dengan Shira, istriku, yang selalu menunggu di rumah.

Bowo menatapku sejenak, lalu mengangkat bahunya, tak peduli. "Ya udah, terserah lo. Yang penting, gue nggak mau terus-terusan terjebak mikirin nasib buruk ini," ujarnya dengan nada acuh.

Dia mengambil ponselnya dan mulai sibuk dengan layar, tenggelam dalam dunianya sendiri.

Kini aku hanya bisa menghela napas pelan, merasa bahwa ada jurang yang semakin lebar antara aku dan Bowo. Dia bisa berlarut-larut dalam pelarian yang dangkal, sementara aku tak bisa begitu saja melupakan kenyataan pahit ini. Shira dan masa depan kami terus menghantui pikiranku.

Bowo masih bujangan dan bisa bebas menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan banyak wanita. Berbeda denganku yang sudah terikat dalam pernikahan dengan istriku.

Aku berdiri, meraih jaket yang kusampirkan di sandaran kursi. "Gue balik dulu, ya. Lo hati-hati di jalan," ucapku.

Bowo hanya melambai singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

Keluar dari kafe, aku merasakan angin malam yang sejuk menyambutku, tapi tak cukup untuk mendinginkan kekhawatiranku. Jalanan di depan sepi, lampu-lampu jalan menyinari aspal yang basah setelah hujan sore tadi. Kaki-kakiku melangkah lambat, berat oleh beban pikiran yang tak kunjung hilang.

Shira... Apa yang akan kukatakan padanya nanti?

Aku tahu dia kuat, tapi aku tetap tak ingin mengecewakannya. Aku ingin menjadi suami yang bisa diandalkan, tapi sekarang, tanpa pekerjaan, rasanya masa depan kami begitu suram.

Langkahku terhenti sejenak di depan toko kecil yang sudah tutup. Aku merogoh saku, memeriksa ponselku, tapi tak ada pesan dari Shira. Biasanya, dia akan menanyakan kapan aku pulang. Aku menghela napas sekali lagi sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Jalanan yang gelap dan sepi seperti cerminan dari suasana hatiku yang gelap, penuh keraguan, dan ketidakpastian.

Aku hanya bisa berharap, entah bagaimana, segalanya akan membaik. Kini aku pun cepat-cepat mengendarai motorku menuju ke rumah, dimana aku yakin bahwa saat ini Shira pasti sedang menungguku.

---

Saat aku tiba di rumah, Shira menyambutku di depan pintu, seperti biasanya. Dia mengenakan daster usangnya, daster yang sudah berulang kali kulihat dan, sejujurnya, mulai membuatku bosan. Rambutnya diikat asal, wajahnya kusam dan berminyak, dengan beberapa jerawat yang menonjol. Tak ada sedikit pun riasan di wajahnya. Aku berusaha tersenyum, tapi dalam hati, ada rasa kecewa yang tak bisa kutahan.

"Mas, capek ya?" tanya Shira lembut, sambil membantuku melepas sepatu dan dasi. Dia selalu seperti ini, perhatian dan melayani. Tapi, di saat seperti ini, aku merasa ada yang kurang. Mungkin karena dulu dia selalu tampil menarik, tapi kini... aku bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali dia dandan.

"Nggak apa-apa kok," jawabku pendek. Aku tidak mau membebani Shira dengan masalahku. Dia sudah cukup baik, tapi perasaan tak nyaman ini terus mengganggu.

Shira masuk ke dapur, menyiapkan kopi dan makanan untukku. Aku duduk di ruang tamu, menatap meja dengan pikiran melayang. Dia memang istri yang baik, selalu memanjakanku dengan perhatian yang penuh. Tapi entah kenapa, aku merasa tidak lagi tertarik padanya seperti dulu.

Dia datang dengan secangkir kopi hangat, menyodorkannya padaku sambil tersenyum. "Mas, kalau ada yang mau dibicarakan, Shira siap dengerin, kok," ujarnya, mencoba memahami kegelisahan yang mungkin terlihat di wajahku.

Aku hanya menggeleng. "Nggak ada apa-apa," kataku sambil meminum kopi. Dalam hatiku, aku tahu aku berbohong. Ada sesuatu yang sangat mengganggu, tapi aku tak ingin Shira tahu.

---

Malam itu, rumah terasa sunyi setelah makan malam yang tak lebih dari rutinitas bisu. Shira langsung masuk ke kamar setelah membersihkan meja. Biasanya, ia akan duduk di ruang tamu, menemani sejenak sebelum kami tidur, tetapi malam ini berbeda. Aku tahu, ada yang salah dalam hubungan kami, tetapi aku juga merasa terlalu lelah untuk memikirkan solusinya.

Aku duduk di sofa ruang tamu, ponsel di tangan, memainkan layar tanpa tujuan. Pikiran tentang PHK di kantor, ketidakpastian masa depan, dan kehampaan dalam pernikahanku bercampur menjadi satu. Rasanya segalanya mulai membebani.

Ting!

Layar ponselku bergetar, menandakan pesan masuk. Ternyata dari Bowo. Aku membuka pesan itu tanpa ekspektasi, tetapi yang kulihat membuatku tertegun sejenak.

Foto-foto wanita dengan pose sensual terpampang di layarku. Wanita-wanita dengan tubuh yang menawan, senyum menggoda, dan mata penuh pesona. Semua itu dikirimkan Bowo melalui MiChat, aplikasi yang baru-baru ini ia rekomendasikan.

"Gila, cakep-cakep amat," gumamku, setengah terkejut dan setengah tertarik.

Ada dorongan halus dalam diriku, perasaan yang sudah lama tak kurasakan. Seolah godaan merasukiku perlahan. Wanita-wanita itu berbeda jauh dari Shira-istriku yang semakin hari semakin tampak kusam di mataku. Bukannya Shira tak cantik, tapi sekarang dia lebih sering sibuk dengan rutinitas rumah tangga, membuatnya terlihat letih dan tanpa kilauan yang dulu pernah memikatku.

Aku menelan ludah, merasakan denyut kecil di dada yang memicu rasa ingin tahu. "Ah, sekali-kali nggak apa-apa," bisikku, mencoba meyakinkan diri. "Lagipula, Shira udah nggak menarik lagi," gumamku, setengah bersalah.

Aku melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, memastikan Shira sudah tertidur. Lalu, tanpa berpikir panjang, jariku menari di layar, mengunduh aplikasi MiChat. Hanya butuh beberapa menit sebelum aku tenggelam dalam profil demi profil wanita cantik yang muncul di aplikasinya. Mereka tampak sempurna, jauh dari sosok Shira yang kini terasa semakin asing bagiku.

Setelah beberapa saat, pandanganku tertumbuk pada satu profil yang menarik perhatian. Dira. Wanita ini memiliki kecantikan yang nyaris tak terbayangkan, dengan senyum yang menggoda dan tubuh yang proporsional. Dada besarnya terlihat jelas dari foto-foto yang ia unggah, membuat pikiranku berkelana lebih jauh. Persis seperti yang Bowo katakan, wanita seperti ini tampaknya bisa menawarkan pelarian dari semua masalahku.

Aku ragu sejenak, tapi kemudian mengirim pesan padanya. "Hai, apa kabar?" Pesan sederhana, tapi penuh harapan.

Tak ada balasan. Namun, aku tak berhenti di sana. Aku terus menelusuri foto-fotonya, memperhatikan setiap detail. Namun, semakin aku melihatnya, semakin ada sesuatu yang terasa aneh.

Aku memperbesar salah satu fotonya. Rambut hitam panjang, senyum lebar, dan bentuk wajahnya ....

"Tunggu... kenapa wanita ini mirip banget dengan Shira?" bisikku, nyaris tak percaya.

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
Di hari ulang tahun pernikahan kedelapan, Jessica mendapati suaminya, Rio Aditya, berselingkuh dengan Nadia. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis kanker ovarium stadium akhir. Menyadari suaminya berniat menceraikannya, Jessica memilih pergi dengan damai. Baca novel romantis modern ini di novel web.
DOSEN ITU SUAMIKU
DOSEN ITU SUAMIKU
Dalam novel modern DOSEN ITU SUAMIKU, Bunga harus menghadapi realita saat Ezza, suaminya, tiba-tiba mengajar di kampusnya. Temukan rahasia di balik kehadirannya dalam romance novel ini. Baca kisah lengkapnya di platform web novel kami sekarang.
Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
Dalam novel romantis misteri Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku, seorang wanita dipaksa menyerahkan tunangannya di hari pernikahan demi kakaknya yang sekarat. Saat disekap orang tuanya agar tidak mengacau, ia justru dibunuh dengan kejam. Baca novel online gratis ini untuk mengungkap misteri tragisnya.
Misteri matinya teman-temanku
Misteri matinya teman-temanku
Dalam Misteri matinya teman-temanku, satu per satu nyawa hilang secara tragis tanpa jejak. Sang pembunuh cerdik mengincar siapa pun yang menyakiti tokoh utama. Ungkap teka-teki mematikan dalam mystery story dan horror novel mencekam ini melalui platform read novels online terbaik.
My Bad Boss
My Bad Boss
Dalam novel My Bad Boss, Xaiver Narendra Maximilian harus menghadapi tantangan saat prinsipnya goyah oleh Adeeva Adelia. Ikuti perjalanan romansa penuh dinamika ini dalam billionaire romance novels pilihan. Baca kisah seru mereka hanya di platform web novel terbaik saat ini.
Penantian Yang Tak Kunjung Kembali
Penantian Yang Tak Kunjung Kembali
Novel romantis miliarder Penantian Yang Tak Kunjung Kembali mengisahkan seorang istri yang memilih bercerai dan pergi membawa putranya setelah sang suami terus mengabaikan mereka. Saat sang direktur panik mencari keberadaan mereka, keputusan untuk pergi selamanya telah bulat.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.