Pengantin Yang Terjebak Dalam Dendam

Sephia duduk di ruang makan besar yang tampak megah, dengan jendela-jendela tinggi yang menghadap ke halaman belakang rumah mewah milik keluarga Varela. Cahaya matahari sore menembus masuk, menciptakan bayang-bayang lembut di lantai marmer yang dingin. Di depannya, hidangan makan malam telah siap disajikan, namun ia tak tertarik. Semua itu tampak seperti gambaran kehidupan orang lain-bukan miliknya.

Elandro belum kembali, namun Sephia tahu bahwa ia akan segera datang. Wanita yang melayani di rumah ini, bernama Camille, memberinya panduan singkat tentang segala hal yang perlu dilakukan, namun Sephia merasa terasing. Seakan ada jurang yang membentang jauh di antara dirinya dan kehidupan yang terpapar di depan matanya.

Sebelum kejadian itu, ia selalu merasa hidupnya cukup normal. Meskipun sederhana, kehidupannya penuh dengan kebahagiaan yang kecil. Namun sekarang, ia merasa seperti seorang tahanan yang tak tahu kapan akan dibebaskan, atau bahkan apakah kebebasan itu masih mungkin. Semua pilihan tampak hilang, dan yang ada hanyalah kewajiban yang tak terhindarkan.

"Apakah kamu sudah makan, Nona?" tanya Camille, dengan nada suara lembut yang memecah keheningan.

Sephia mengangguk pelan, meski kenyataannya ia sama sekali tidak merasa lapar. "Ya, terima kasih," jawabnya, suaranya lemah dan hampir tidak terdengar.

Camille tersenyum kecil, lalu pergi. Namun langkahnya sempat terhenti di pintu. "Nona, saya tahu ini sulit, tapi percayalah, Anda tidak sendirian di sini." Camille mengangguk singkat sebelum melanjutkan keluar.

Sephia menghela napas panjang, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Rumah ini begitu megah, namun terasa kosong dan dingin. Setiap sudutnya tampak seperti sebuah pameran kemewahan, tak lebih dari sekadar lapisan yang menutupi kenyataan pahit yang tersembunyi. Ia teringat akan kata-kata Elandro, kata-kata yang mengikat hidupnya pada sebuah takdir yang tidak pernah ia pilih.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Sephia menegang, dan tanpa bisa menahan diri, ia berbalik untuk melihat siapa yang datang.

Elandro berdiri di ambang pintu ruang makan, mengenakan jas hitam yang membuatnya terlihat lebih tinggi dan lebih menakutkan. Wajahnya yang keras, dengan mata tajam yang seolah menembus setiap lapisan emosi, menatapnya tanpa ekspresi.

"Apakah Anda merasa nyaman?" tanyanya, suaranya datar, tidak ada kehangatan di dalamnya.

Sephia menunduk, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Tidak... belum terbiasa," jawabnya jujur, tanpa berpikir.

Elandro melangkah masuk, mendekat ke meja makan, lalu duduk di ujung yang berlawanan dari tempat Sephia duduk. "Tidak perlu terbiasa. Ini rumah Anda sekarang. Anda tidak punya pilihan selain beradaptasi." Kata-katanya datar, tidak ada nada empati. Semua yang keluar dari mulutnya seperti keputusan yang sudah final, tak dapat diganggu gugat.

Sephia menatapnya dengan tajam, merasa marah dengan sikapnya yang dingin. "Saya hanya... tidak mengerti kenapa saya harus terjebak dalam situasi ini. Ibu saya sudah menderita cukup banyak, dan kini saya dipaksa menjadi bagian dari... semuanya ini." Suaranya hampir pecah, dipenuhi dengan amarah yang tertahan.

Elandro mengangkat alisnya, tidak terpengaruh oleh kemarahan Sephia. "Kamu tidak dipaksa, Sephia. Kamu memilih ini. Keputusanmu yang membuatmu berada di sini. Ingatlah, saya hanya melakukan ini karena ibu Anda membutuhkan perawatan. Jika Anda menginginkan sesuatu lebih baik, maka berikan apa yang saya minta."

Sephia merasa sakit mendengar kata-kata itu, merasa seperti seorang boneka yang hanya diperintah dan dihukum atas kesalahan yang tak seharusnya ia lakukan. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Apakah ia bisa melawan, atau hanya terus menjalani kehidupan yang dipaksakan ini?

Elandro menatapnya sebentar, seolah membaca setiap reaksi di wajahnya. "Kamu harus tahu satu hal, Sephia," ujarnya, suaranya rendah dan penuh kekuasaan. "Di sini, saya yang memegang kendali. Kamu harus belajar cara menahan perasaanmu, atau kamu akan tenggelam dalam permainan yang saya buat."

Setiap kata yang diucapkan Elandro terasa seperti beban baru yang harus dihadapi Sephia. Sebuah ancaman, namun disampaikan dengan cara yang begitu tenang dan pasti. Ia tidak bisa melawan, setidaknya tidak sekarang.

"Apakah Anda... tidak merasa sedikit pun bersalah?" tanya Sephia, masih berusaha mencari sedikit keadilan dalam kata-katanya.

Elandro tertawa pelan, namun tawa itu tidak mengandung sedikit pun kehangatan. "Bersalah? Saya hanya melakukan apa yang diperlukan. Terkadang, dalam hidup, kita harus memilih apa yang terbaik untuk kita, meskipun itu berarti membuat orang lain menderita."

Kata-kata itu seperti memukul Sephia di dada. Ia tidak bisa mengerti bagaimana seseorang bisa begitu tidak peduli terhadap orang lain, terutama seseorang yang sudah memberi begitu banyak pada hidupnya. Elandro adalah pria yang tak mengenal belas kasihan. Bahkan, mungkin ia tak tahu apa itu penyesalan.

Malam itu, Sephia terbaring di tempat tidurnya, mata terpejam namun pikirannya masih berputar-putar, berusaha menerima kenyataan yang kini ia hadapi. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah semuanya. Ia hanya bisa berharap, dengan segala harapan yang tersisa, bahwa suatu hari ia bisa menemukan jalan keluar dari neraka yang baru saja ia masuki.

Namun, entah berapa lama lagi ia akan bertahan. Dalam kurungan ini, ia tak tahu apakah ia bisa tetap utuh.

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.