Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Pembalasan Elegan Sang Mantan Istri
Pembalasan Elegan Sang Mantan Istri

Pembalasan Elegan Sang Mantan Istri

8.5
/ 10
Dalam Pembalasan Elegan Sang Mantan Istri, Linar memilih pergi setelah pengkhianatan suaminya yang menghamili wanita lain. Di tengah perjuangan hidup, sebuah janin mengubah segalanya. Baca kisah romance modern ini di web novel yang menyajikan drama rumah tangga dan takdir tak terduga.

Ringkasan Pembalasan Elegan Sang Mantan Istri

Pertikaian pecah saat Dean melabrak Linar yang sedang bersama Ndaru. Di tengah kemarahan, Linar mengusir suaminya itu demi mengakhiri hubungan mereka. Ia muak dengan pengkhianatan Dean yang telah menghamili wanita lain. Meski berniat pergi demi kesehatan jiwanya, Linar justru mendapati dirinya tengah mengandung buah hati yang selama ini mereka perjuangkan. Kini, nasib rumah tangga dan masa depan mereka ada di tangan Linar. Akankah ia bertahan atau memilih jalannya sendiri?
Selengkapnya

Pembalasan Elegan Sang Mantan Istri Bab 1

Linar mematutkan dirinya di depan cermin. Ia tersenyum puas melihat dirinya yang berhasil menurunkan dua kilogram berat badan dalam seminggu ini. Ia merasa tampak pas mengenakan lingerie hitam yang dibelinya dua minggu yang lalu.

Dean benar, mereka punya banyak waktu untuk mengupayakan punya anak, dan kali ini Linar lah yang akan memulainya. Ia menyemprotkan kembali wewangian yang disukai Dean, suaminya. Linar memakai jubah panjang untuk menutupi lingerie hitamnya, lalu keluar dari kamar mandi.

Linar melihat tubuh tinggi Dean di balkon kamar tidur mereka, tampak Dean tengah mengangguk dan berbicara di saluran telepon, ia memutuskan menyusul ke balkon. 

Linar tersenyum pada Dean yang langsung menutup teleponnya karena kedatangan Linar. Namun, ada raut wajah kaget berlebihan yang segera disembunyikan oleh Dean.

Linar mengerutkan dahinya penasaran, "Dari siapa, Mas?" 

Dean balas tersenyum, ia menarik pelan dan merengkuh Linar erat. Dean mencium kening dan menumpu dagunya pada kepala Linar. 

"Dari Roland, dia meminta bertemu di kafe untuk bertemu rekan kerja kami yang baru. Kamu tahu 'kan kami sedang membangun koneksi dan relasi," papar Dean, ia merangkum wajah Linar mendongak untuk bertemu bola matanya.

Dean sempat meragu, ia menatap dalam bola mata Linar yang jernih "Maafin aku, ya. Aku harus pergi sekarang,"

"Tapi ini udah malam, Mas?!"

"Aku tahu, tapi ini sekedar pertemuan kasual,  sambil nongkrong sambil kenalan relasi baru dan sedikit  membicarakan pekerjaan,"

Linar mengerutkan dahi "Nggak perlu minta maaf, tapi bisa 'kan kamu pulang cepat? Aku akan menunggumu," pinta Linar mengalungkan kedua tangannya pada leher Dean.

"Oh, ya Mas. Dari kemarin malam, ponsel kamu berdering terus, aku lihat pemanggilnya Dera. Nama perempuan 'kan? Dia siapa, Mas?" 

Linar melihat pupil Dean sempat membesar barang beberapa detik sebelum mengedipkan mata cepat, "Dera? Ah, iya dia teman lama aku, temannya Roland juga. Mungkin dia mau ngajak reuni atau semacamnya, aku belum sempat mengangkat teleponnya,"

"Reuni? Oh ya, cuma kalian bertiga?"

"Aku... Aku nggak tahu, Lin! Tapi aku dengar dari Roland dia bertemu sama Dera beberapa waktu lalu, itu aja aku ngga tanya lebih jauh,"

"Roland pasti udah di perjalanan, dan aku nggak mau terlambat datang dan melewatkan banyak hal, jadi aku pergi, ya!"

Linar mengerutkan dahi "Nggak perlu minta maaf, tapi bisa, 'kan? Kamu pulang nggak terlalu larut? Aku akan menunggumu." pinta Linar mengalungkan kedua tangannya pada leher Dean.

Dean tersenyum tipis dan mengangkat bokong Linar demi bisa mencumbu dalam kelopak bibir merah muda Linar.

Linar mendorong dada Dean pelan dan menghirup oksigen, degup jantungnya berdetak cepat entah karena gairah atau kurangnya oksigen.

"Hati-hati di jalan, aku akan menunggu kamu di sini." lepas Linar.

           ***

Linar membuka aplikasi pesan pada gawainya, dan merengut saat membaca pesan yang tertulis permintaan maaf suaminya karena menginap di rumah Roland tadi malam. 

Sudah tengah malam Dean membalas pesannya, Linar kecewa, perasaannya hari ini kian buruk.

Linar mengerutkan dahinya karena tak jua mendapat balasan tambahan, kenapa Dean semakin irit membalas pesan? Seperti bukan dia, tapi rasanya tak mungkin ada yang berani mengotak-atik gawai Dean walau tak di kunci.

Linar menggelengkan kepalanya pelan, membuang pikiran negatif yang mulai menghantuinya belakangan ini.

"Sudah sampai. Bu," interupsi supir taxi dan benar saja ia sudah tiba di depan lobi kantor Dean. 

Setelah menyelesaikan transaksi, Linar keluar taxi menegakkan tubuhnya. Karena ia tahu ia setidaknya akan ada beberapa orang yang memperhatikan dirinya. Linar berjalan dengan wibawa yang ia rakit sendiri menenteng dua kantung dengan percaya diri.

Linar melambatkan langkah kakinya dan, "Linar?" panggil Roland menyapa.

"Hai Mas Land, apa kabar?" balas Linar.

"Aku baik, kamu ... terlihat lebih cantik."

Linar terkekeh. "Ya, aku memang lebih kurusan karena diet karbohidrat" ucapnya tersenyum maklum.

"Oh ya Mas, gimana semalam lancar hasilnya?" 

"Semalam?" tanya Roland menggantung.

"Iya, semalam selesai ketemuannya sampai jam berapa, sih?" tanya Linar ingin tahu.

Roland menyatukan alisnya dekat, keheranan "Jam sebelas malam," 

"Oh ya? terus kenapa Mas Dean harus sampai menginap, biasanya jam segitu dia masih memilih pulang ke rumah?" 

"Dean?" gumam Roland bertanya.

"Iya, kenapa? Kalian ketemuan di cafe atau di club' tadi malam 'kan?" tanya Linar curiga.

"Kalian? Semalam aku nggak bersama Dean, tapi sama teman perempuanku dan bukannya Dean semalam ada di rumah kakeknya, bersama kamu, 'kan?"

Tahu ada yang salah dengan berubahnya raut wajah Linar, Roland segera menambahkan. 

"Mungkin kamu salah tangkap omongannya dia, bukan aku teman Dean yang bersama dia semalam, mungkin Dipta yang dimaksud." tebak Roland menenangkan.

Deg.

Ia jelas mendengar jika nama yang di sebut suaminya adalah Roland bukan Dipta, tapi kenapa?' 

"Linar, maaf aku harus lanjut bekerja Sebentar lagi jam makan siang,aku duluan ya."

Linar mengangguk kecil seketika ada beban yang menggelayuti dada dan pikirannya. Linar menggeleng pelan dan menatap depan, terkesiap menyadari ia berdiri sendiri di tempat yang salah. 

Untung saja liftnya terbuka dan ia segera masuk menyelamatkan dirinya dari tatapan bertanya atau kesal karena berdiri di tengah jalan.

****

Linar mengangguk saat dirinya dipersilahkan masuk oleh Nuga asisten kerja Dean.

"Terima kasih Nuga."

Linar menatap dalam Dean yang menyambutnya di depan pintu. "Linar, kamu disini, tumben biasanya kamu nge WA aku kalau mau datang? Ah, soal semalam, aku minta maaf karena semalam aku nggak pulang dan terlambat membalas pesanmu." 

Dean yang tak kunjung dapat jawaban bertanya kembali "Apa yang kamu bawa?"

Deg... deg.. deg.

Linar mendongak menatap kedalaman bola mata Dean, menatap dalam dengan perasaan yang tak menentu.

"Lin?"

Linar menunduk dan menggeleng pelan. 

"Kenapa kamu masih bertanya, bukannya aku sudah memberitahu kamu, Mas?" ucapnya pelan.

Dean melipat bibirnya tahu ada yang salah.

"Dan Mas, kelihatan terkejut melihatku mengunjungi kamu pagi ini  setelah meninggalkanku di rumah kakekmu, kamu tahu? Semalam aku kedinginan menunggu kamu dan paginya aku kebingungan menjawab pertanyaan saudaramu tentang keberadaan kamu yang aku sendiri nggak tahu, dimana Mas semalam?" cecar Linar.

Dean mendatarkan wajahnya tak suka akan situasi yang diciptakan Linar. 

"Aku sudah bilang sama kamu, semalam aku harus menemui relasi kerja yang akan di kenalkan sama Roland. Dan kami lupa waktu, aku terlalu lelah mengemudi, jadi aku putuskan menginap di kontrakan Roland." ucap Dean sembari berbalik menuju set sofa kecil yang ada di tengah ruangan.

Tangan Linar saling bertaut mencari kekuatan, dadanya kian sakit seolah dipukul oleh tangan tak kasat mata. Siapa yang sedang berbohong? Tapi respon Roland terlalu natural tadi.

Linar menarik napas dan menghembuskan pelan, "Ada apa lagi, Linar?" 

Linar mendongak "Aneh," gumam Linar sengaja. 

"Aneh aja, tadi pagi aku mengirimi pesan menanyakan keberadaan kamu dan Mas yang balas sendiri isi pesannya ada di rumah Roland."

"Tapi aku juga menawarkan mengantar baju ganti untuk bekerja dan makan siang ke kantormu dan Mas membalasnya 'iya datang aja' terkesan dingin." ucap Linar parau sembari mengamati respon Dean.

"Ah, iya kamu benar aku yang lupa, maaf ... udahan ya, marahnya," seru Dean tulus.

Linar benci jadi terlalu peka, karena kepekaannya membuat ia berpikir banyak hal dengan menyakitkan. Maka Linar hanya bisa tersenyum masam, 

"Aku masih ngerasa aneh, kamu yakin yang balas pesan tadi pagi itu kamu, Mas?" tanya Linar sangsi.

"Aku cuma lupa Linar, hari ini aku terlambat ke kantor karena telat bangun dan langsung di hadapan banyak pekerjaan, maaf ok!" pinta Dean merengkuh tubuh Linar tak perduli telah berjalan mundur, dipeluknya erat di cium puncak kepala merambah ke kening dan turun ke bibir Linar yang tak membalas.

Bibir Linar tersungging masam mendengar degup jantung Dean berdetak keras, seperti ... Perasaan nggak nyaman? 

Linar membalas pelukan, menyandarkan kepalanya di dada Dean menghirup aroma yang menguar dari tubuh Dean yang selalu ia sukai. Tapi aromanya terlalu kuat tanda Dean menyemprotkan wewangian terlalu banyak. 

Dasar! 

Linar meregangkan pelukannya lebih dulu dan mendongak, ia tersenyum lalu bertanya.

"Jadi gimana pertemuan kamu sama relasi yang dikenalin Mas Roland kemarin, sini ceritain deh, sama aku?" pancing Linar tersenyum tipis.

Dean menatapnya dalam seolah tengah memilah sesuatu, "Lancar, dia seorang kontraktor yang memiliki banyak pengalaman. kami berbicara banyak sampai lupa waktu dan karena terlalu lelah mengemudi jadi Roland mengajak aku menginap di tempatnya jadi, ya aku setuju." 

Linar mengangguk dua kali mendudukkan dirinya tepat di samping Dean tak lama Dean bangkit dan berjalan ke mejanya, Dean menyambungkan telepon di meja kerjanya memesan segelas ice matcha latte secepatnya pada Nuga asisten kerjanya untuk istrinya.

"Nggak apa-apa Mas, aku bisa menunggu. Kamu nggak perlu mendesak Nuga yang juga sedang sibuk." 

Dean menoleh setengah hati lalu menuntaskan panggilannya dengan Nuga.

"Kamu sini dong, Mas!" ajak Linar 

Linar menoleh mengamati wajah asli Dean. Pasalnya sedari tadi Dean bergerak kikuk, bahkan lebih banyak membelakanginya seperti tak nyaman atau ada yang ia tutupi, salahkan saja hatinya yang terlalu peka. 

"Terus sama siapa lagi kalian mengobrol?" 

Dean mengerjap matanya dua kali

"Cuma kami bertiga, memang kemarin itu sekedar pertemuan kasual antar lelaki sambil ngobrolin prospek kerja, proposal client yang sekiranya bisa kerja sama nantinya," papar Dean mengangkat bahunya dan menyugarkan rambutnya yang sudah rapih ke belakang.

Linar menatap dalam pada bola mata Dean, terasa begitu kecewa namun ia lebih memilih diam.

Linar yakin Dean menangkap perubahan dirinya yang tak ditutupi. Linar membiarkan Dean yang sudah duduk di sampingnya mencoba meraih tangannya, namun disaat yang sama Linar sengaja menepis tangannya.

"Kenapa, Lin?!" tanya Dean yang ditepis kasar oleh Linar. Mereka sama-sama terkejut akan reaksi masing-masing.

"Maaf, refleks tadi," cicit Linar tersenyum palsu.

"Aku pulang aja, Mas," ucap Linar bangkit dan berbalik cepat, tapi belum sampai ke depan pintu lengannya ditahan oleh Dean.

"Kamu itu kenapa, sih?!" sentak Dean frustrasi.

"Nggak apa-apa, aku nggak mau mengganggu kamu lebih lama Mas, maksudku. Mas harus lanjut bekerja lagi 'kan?" balas Linar menepiskan tangan Dean pelan namun tegas.

"Dan pastikan nanti malam, Mas pulang ke rumah kita! Bukannya keluyuran, ok!" pungkas Linar keluar, mengabaikan panggilan Dean.

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
Dari Saingan Menjadi Ipar
Dari Saingan Menjadi Ipar
Dalam novel romance Dari Saingan Menjadi Ipar, Josie Watson bertekad menceraikan Laurence Andrews yang terus menghinanya demi Rosalie Harris. Di tengah konflik modern novel ini, Josie tidak menyadari bahwa kakak Rosalie diam-diam mendesaknya pergi. Temukan kisah lengkapnya di web novel ini.
Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
Di hari ulang tahun pernikahan kedelapan, Jessica mendapati suaminya, Rio Aditya, berselingkuh dengan Nadia. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis kanker ovarium stadium akhir. Menyadari suaminya berniat menceraikannya, Jessica memilih pergi dengan damai. Baca novel romantis modern ini di novel web.
Istri yang Dihancurkan Mereka
Istri yang Dihancurkan Mereka
Dalam Istri yang Dihancurkan Mereka, seorang komposer kehilangan segalanya saat suami dan anaknya lebih memilih menyelamatkan wanita lain. Romance novel ini mengisahkan pengkhianatan pahit yang memicu aksi balas dendam. Baca kisah fiksi modern ini untuk melihat bagaimana ia menghancurkan sangkar mereka.
Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
Dalam Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam, Sabrina membalas dendam pada tunangannya dengan mendekati Charles. Kisah billionaire romance novels ini mengungkap identitas asli Sabrina sebagai miliarder di balik topeng gadis desa. Baca web novel penuh intrik dan gairah ini sekarang.
Kurang dari tiga
Kurang dari tiga
Dalam novel Kurang dari tiga, Raka berjuang mempertahankan posisinya sebagai kekasih Cherry yang lebih memprioritaskan Nadia. Hubungan modern ini penuh konflik kecemburuan yang membawa mereka pada situasi tak terduga. Baca romance novel ini untuk melihat pilihan sulit dalam kisah lgbt book ini.
MY LOVELY LITTLE WIFE
MY LOVELY LITTLE WIFE
Dalam MY LOVELY LITTLE WIFE, Yuki menghadapi penolakan dari pria yang dijodohkan dengannya. Kesal disebut orang asing, ia menyusun rencana tak terduga untuk membalas pria tersebut. Simak kisah romance modern ini dalam daftar fiction books yang penuh kejutan dan intrik hubungan.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.