"Nah, itu. Aku juga tahu kalau cinta itu tidak terduga. Tapi, Ma. Seperti kata Mama barusan soal kenyamanan, kalau boleh jujur, aku sudah nyaman dengan status teman antara aku dan Amel, Ma. Paling mentok status kakak dan adik. Aku hanya tidak mau membuat salah satu dari kami malah terluka, terkhusus Amel, Ma. Karena tidak adanya penerimaan dari laki-laki yang menjadi suaminya itu pasti sangat menyakitkan. Mama mau melihat aku menyakiti Amel karena tidak bisa memperlakukan dia selayaknya istri nantinya? Mama mau melihat aku menciptakan pernikahan yang tidak bahagia karena salah satu dari yang menjalaninya berdasar keterpaksaan? Menikah itu enggak mudah buat aku, Ma. Butuh persiapan matang. Iya, kalau Amel bisa sabar menghadapi aku, kalau tidak bagaimana? Terus bagaimana dengan keluarganya? Mereka pasti tidak akan terima kalau aku memperlakukan putri kesayangan mereka seperti itu.”
Aisyah berdecak di seberang sana. “Kamu ini anaknya siapa, sih, Dib? Pinter banget cari alasan. Sepanjang itu juga kalimatnya.”
“Ya anaknya Mama dan Papa dong. Anaknya siapa lagi?”
Aisyah terdiam dalam beberapa saat. “Lalu, kalau bukan Amel siapa, Nak? Mama milih Amel karena Mama yakin dia bisa jadi pendamping yang baik untuk kamu. Lagi pula selama ini kamu enggak pernah dekat dengan cewek selain dia. Bahkan banyak mahasiswimu yang terang-terangan ingin dekat denganmu, tapi kamu membentangkan jarak di antara mereka,” protes Aisyah.
Adib bukan tipe lelaki yang sangat tampan. Rupanya bisa dibilang biasa-biasa saja. Namun, lesung di pipinya yang muncul ketika tersenyum menjadi daya pikat tersendiri. Kulitnya tidak begitu terang, tetapi cukup memberi kesan manis. Meski begitu, banyak dari mahasiswinya yang mengaku suka, bahkan ada yang mengatakan kagum terhadap sosok Adib Al Faroby, yang menjadi dosen tetap Fakultas Tarbiyah, di universitas tempatnya mengajar tersebut.
Adib bukan tidak tahu jika banyak di antara mereka ada yang memang sengaja mendekatinya, tetapi sesuai yang dikatakan Aisyah, lelaki itu memang membentangkan jarak. Dalam artian, di dalam kelas dan dunia perkuliahan Adib akan menjadi sosok peramah dan sangat terbuka. Namun, tidak untuk hal-hal yang menyangkut privasinya.
“Perempuan di dunia ini bukan hanya Amel, Ma. Lagian Mama tidak bosan apa memaksakan sesuatu yang tidak aku inginkan? Aku saja bosan ditekan terus sama Mama,” aku Adib pada akhirnya.
Terdengar embusan napas kasar dari balik ponsel Adib. Aisyah bukan tidak memiliki alasan mengapa dia selalu mendesak putra semata wayangnya itu untuk segera menikah. Usianya sudah makin tua. Sedangkan penerus keluarganya hanya Adib seorang. Aisyah juga takut jika anaknya malah memilih melajang seumur hidup. Oh, tidak. Aisyah tidak bisa tinggal diam jika putranya benar-benar berpikir demikian.
Bagi Aisyah, sudah cukup dia membiarkan Adib bebas dari tuntutannya untuk segera menikah sejak lulus kuliah sarjana. Bahkan wanita itu tetap mengizinkan putranya untuk mengontrak rumah itu, padahal dia tahu tujuan Adib keluar dari rumah. Adib harus menikah secepatnya, begitu pikiran Aisyah. Belum lagi, desas-desus yang mulai terdengar tidak mengenakkan telinga karena Adib belum saja menikah. Memang, seharusnya kita tidak selalu mendengarkan ocehan orang lain tentang apa yang kita perbuat. Namun, jika terus-terusan dibiarkan begitu, yang ada mereka makin melunjak. Aisyah tidak mau lagi anaknya menjadi buah bibir para tetangganya.
Sementara itu, Adib tahu semuanya. Dia tahu dengan apa yang menjadi kekhawatiran sang mama hingga mendesaknya untuk segera berkeluarga. Karena memilih menghindari Aisyah dengan mengontrak rumah di dekat kampus, bukan berarti dia mengabaikan sang mama dan yang bersangkutan dengannya. Dia hanya meminta waktu untuk sukses terlebih dahulu di dunia karier, baru setelah itu akan menikah.
“Mama enggak akan bosan untuk yang satu itu, Adib. Kamu harus menikah, Nak.” Suara Aisyah kembali terdengar setelah beberapa waktu berlalu tanpa percakapan. “Mama hanya takut kalau kamu memilih sendirian selamanya, Nak.” Akhirnya alasan paling utama itu terucap dari bibir Aisyah. Suaranya sudah memelan. Hanya kekhawatiran yang tertangkap dari nada bicara wanita itu.
“Yang bilang aku tidak mau menikah itu siapa, mamaku sayang? Aku pasti menikah.” Tanggapan Adib itu membuat Aisyah menghela napas lega. Setidaknya, masih ada keinginan untuk menikah dalam diri putranya itu. “Tapi tidak dalam waktu dekat ini, ya, Ma. Lagi pula Adib baru dua puluh sembilan tahun, ‘kan, Ma.”
Aisyah yang semula berpikir bahwa putranya akan luluh setelah mengucapkan kalimat menenangkan seperti tadi, kembali dibuat kesal oleh kalimat lanjutan yang selalu mengarah pada pengelakan. Wanita itu kembali naik darah. “Baru dua puluh sembilan kamu bilang? Kamu mau nikah di umur berapa, Adib? Di usia empat puluh tahun? Yang benar saja? Kamu enggak lihat, adik-adik sepupu dan teman-teman kamu yang usianya jauh di bawah kamu aja udah punya anak. Bahkan udah ada yang punya dua dan tiga anak, Dib,” omel Aisyah lagi. Dia benar-benar tidak habis pikir mengapa putranya itu sangat keras kepala untuk urusan ini.
“Ada Alfa, kok, Ma. Orang tua dia malah santai banget, tidak seperti Mama.” Adib membekap mulut saat menyadari kalimat apa yang baru saja diucapkan kepada sang mama.
“Kamu ini, ya. Alfa, ya, Alfa. Itu bukan urusan Mama. Sekarang ini urusan kamu. Ayo, apa lagi yang kamu tunggu? Pekerjaan? Kamu sudah mempunyai pekerjaan tetap sebagai dosen, belum lagi kerjaan online kamu itu. Usia kamu juga sudah cukup matang untuk berkeluarga, Nak. Calon? Kan Mama sudah menawarkan Amel ke kamu? Tapi kamu malah menolak. Ayolah, Nak.”
Adib menghela napasnya perlahan. Berbicara dengan Aisyah dan menyangkut pernikahan, pasti akan selalu menguras tenaga. Adib yang bersikeras mengelak, sedangkan Aisyah yang bersikukuh menuntut, membuat pembicaraan di antara keduanya tidak akan pernah absen dari yang namanya perdebatan. Leaki bertubuh kurus tetapi cukup jangkung itu, memijat kening perlahan. Pusing mulai menyergap.
“Iya, Ma. Oke, oke. Terserah Mama saja, deh. Aku akan segera bawa gadis yang akan kujadikan istri, tapi bukan Amel orangnya, dan bukan dalam waktu dekat ini,” putus Adib pada akhirnya. Dia langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak dari Aisyah. Tidak sopan, memang. Namun, jika Adib tidak melakukannya, Aisyah tidak akan berhenti mengomel dan membuat waktunya terulur untuk menemui Amelia. Padahal hari sudah makin sore. Adib baru ingat jika telah menyetujui janji temu dengan Amelia tadi, sehabis keluar dari kelas.
Mengabaikan pikiran yang kacau karena perdebatan dengan mamanya tadi, Adib menghidupkan mesin mobil dan mulai mengemudi dengan kecepatan standar. Dia memilih untuk tidak terburu-buru karena kepalanya masih pusing. Lebih tepatnya menghindari bahaya, jika dia memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata pada saat pikirannya kalut.
Hampir sepuluh menit dari perjalanan, ponselnya yang berada di kursi samping kemudi berbunyi. Adib melirik sekilas layar benda elektronik yang masih menyala itu. Tertera nama Amelia di sana. Meski sebenarnya lelah melihat nama pemanggil yang tertera, Adib memutuskan memelankan laju mobilnya dan mengangkat panggilan dari perempuan itu.
“Iya, kenapa, Mel?” tanya Adib dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Dia tidak mau terus-terusan berada dalam fase emosi. Bisa-bisa dia stroke mendadak.
“Kamu masih lama enggak, Dib? Aku udah nunggu kamu dari setengah jam yang lalu, lo. Kalau kamu emang enggak niat ketemu sama aku, enggak usah iya-in aja sekalian ajakanku, ‘kan bisa, Dib? Daripada molor kayak gini, bosen tahu sendirian di sini.”
Niat hati untuk bersikap tenang meski suasana hati memang tidak baik-baik saja, sepertinya tidak akan terealisasi. Bagaimana tidak? Baru pembukaan saja, perempuan yang akan Adib temui itu sudah marah-marah. Makin menambah kekesalan hatinya saja. Adib mengeratkan pegangan pada setir mobil. Giginya sudah bergemeretak, menahan gejolak emosi yang makin membuncah dalam hati. Ini salah satu alasan Adib tidak bisa menerima gadis ini masuk ke dalam hidupnya, melebihi batas teman. Amelia sering mengambil kesimpulan sepihak tanpa menanyakan alasan Adib terlebih dahulu. Ditambah kurang sabar, maunya marah terus kalau apa yang diinginkan tidak segera dikabulkan. Bisa dibilang childish, tidak, sih?





