Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Mencintai Gadis Amnesia
Mencintai Gadis Amnesia

Mencintai Gadis Amnesia

8.5
/ 10
Dalam novel Mencintai Gadis Amnesia, Adib mengabaikan teman masa kecilnya demi Adiba, gadis tanpa ingatan. Romance novel ini mengisahkan perjuangan Adib mencari keluarga asli Adiba demi restu orang tua. Baca kisah modern novel ini tentang konsekuensi cinta dan pilihan hidup yang berat.

Ringkasan Mencintai Gadis Amnesia

Kebersamaan selama lima belas tahun dengan Amelia tak lantas menumbuhkan benih cinta di hati Adib. Ia justru terpikat pada Adiba, gadis amnesia korban tabrak lari yang baru dikenalnya selama enam bulan. Niat Adib untuk menikahi Adiba terbentur restu orang tua dan tuntutan keluarga Amelia. Sang ibu, Aisyah, baru akan memberi izin jika Adib berhasil menemukan keluarga kandung Adiba. Kini, Adib harus berjuang demi cintanya sambil bersiap menghadapi badai besar yang mengancam komitmennya.
Selengkapnya

Mencintai Gadis Amnesia Bab 1

“Menikah sama Amel, atau kamu enggak usah balik ke rumah Mama.” Satu kalimat to the point yang diucapkan Aisyah saat pertama kali teleponnya diangkat, membuat sang putra menggeram di tempatnya. Dia langsung mengeratkan pegangan pada benda elektronik yang masih menempel di telinga kanannya.

Lelaki beralis tebal itu mengembuskan napas panjang. “Mama, masa kalimat pembukanya seperti itu? Tidak ada niat menanyakan kabar anaknya, gitu?” keluhnya seraya memijit pelipis. “Aku juga sudah lama tinggal terpisah sama Mama, ya kali tidak rindu?”

Karena sejak tahun pertama menjadi dosen, dia pindah ke salah satu rumah kontrak di dekat kampus. Selain mempertimbangkan lokasinya yang lebih dekat dengan kampus, daripada jarak dari rumahnya, sedikit banyak tuntutan Aisyah yang menginginkannya segera menikah juga ikut menjadi pertimbangan. Secara tidak langsung, dia menghindari tuntutan sang mama dengan kabur.

“Apakah pantas kamu bertanya seperti itu sama mamamu sendiri? Harusnya Mama yang tanya! Mau sampai kapan kamu mengelak dari Mama, Adib? Mama pusing mikirin kamu. Makin tua kok makin enggak bisa diatur? Disuruh nikah aja susah. Sudah begitu, jarang pulang ke rumah mamanya. Sudah merasa tidak punya mama kali, ya?”

Embusan napas lelaki itu kian gusar. Posisi duduk yang semula tegak, berubah sedikit condong ke depan. Dia menumpu kepala di meja kerjanya. Ekor matanya menatap ke sekeliling, memastikan tidak banyak orang di sana. Beruntung sekali suasana kantor cukup lengang. Karena memang saat itu masih waktunya para dosen mengisi materi di kelas masing-masing. Para staf yang biasanya siaga di kantor, entah sedang ke mana.

Cukup lama waktu berlalu dengan keheningan, akhirnya Adib buka suara karena sang mama yang terus menuntutnya. “Mama, aku lagi di kampus. Aku minta tolong sama Mama, kalau mau bicara soal itu, nanti, ya. Aku akan pulang ke rumah Mama, kita bahas di sana.” Meskipun sudah kesal saat kalimat pembuka telepon sang adalah kalimat menyebalkan itu lagi, Adib memang harus bisa menahan diri untuk tidak lepas kendali. Karena selain kondisi yang tidak tepat—sebab masih berada di tempat kerja—Adib tidak ingin pembicaraan dengan mamanya itu kembali berakhir dengan perdebatan seperti yang sudah-sudah.

“Enggak ada bantahan. Mama sudah kepalang kesal sama kamu. Mumpung anak durhaka yang super sibuk ini sedang kedatangan setan putih untuk mengangkat telepon mamanya sendiri, Mama enggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, atau kamu akan kabur lagi dan susah dihubungi.”

Sekali lagi Adib memijat pelipis. Ekspresi yang tampak di wajahnya yang terbilang rupawan meski dengan warna kulit sawo matang, adalah kusut. Kentara sekali bahwa dia enggan dengan pembahasan yang digiring oleh sang mama. Meskipun pada satu sisi ada rasa bersalah karena memang dia sering mengabaikan pesan dan telepon wanita itu. Ya, demi tidak mendengar tuntutan untuk segera memiliki pendamping hidup, Adib bahkan sampai seperti itu.

“Kenapa diam? Kamu sudah sadar kalau apa yang Mama bilang adalah benar, kan?”

Adib menegakkan tubuh tetapi tidak menjawab pertanyaan sang mama. Dia malah menatap laptop yang masih menyala karena pekerjaannya belum selesai. Yakin bahwa pembicaraan dengan Aisyah ini akan memakan banyak waktu, lelaki yang bekerja sebagai tenaga pendidik di salah satu kampus swasta itu perlahan menutup operasi benda itu. Yang lebih penting saat ini adalah meredakan emosi sang mama. Jadi, dia memang harus mengesampingkan sebentar pekerjaannya. Lagi pula dia memang sudah tidak mempunyai jadwal mengajar setelah ini. Pekerjaan tadi bisa dikerjakan di rumah.

“Ahmad Adib Al-Faroby, kamu dengar Mama bicara, kan? Kenapa malah diam saja?”

Adib menghela napas. “Iya, mamaku sayang. Aku dengar. Ini aku lagi siap-siap untuk pulang ke rumah Mama. Kita akan bahas permintaan Mama yang satu itu.” Adib memasukkan laptop hitam itu ke dalam ransel berwarna hitam pula. Dia rapikan beberapa buku dan jurnal yang berserakan, menumpuknya di satu tempat khusus yang ada di sudut meja. Terakhir, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia melangkah untuk keluar dari kantor Fakultas Tarbiyah itu.

“Awas saja kalau enggak datang. Nanti Mama penggal lehermu biar tahu rasa.”

Adib meringis tanpa suara. Mamanya ini kalau sudah marah, sadis juga. Sangat bisa membuat bulu kuduk merinding. “Kalau aku dipenggal, Mama enggak bakal punya mantu, lo. Alih-alih punya mantu, anaknya pun mungkin bakal tidak ada.”

Aisyah mendengkus keras. “Sembarangan kalau ngomong. Kalau ada di depan Mama, sudah Mama pentokkan ke pintu tuh kepala kamu.”

Lagi, Adib meringis tanpa suara. Dengan spontan dia menggigit bibir mendengar kata-kata mamanya yang kian sarkasme. “Mama, tenang, Ma. Tidak usah emosi begitu, ya. Ini aku kan sudah mau pulang ke rumah Mama.”

“Mama begini juga karena kamu! Mama kesal sama kamu yang hobi berkelit terus kalau Mama ngomong.” Adib beristigfar dalam hati. Jika saja tidak ingat akan siapa dan jasa apa yang telah wanita itu lakukan untuknya, sudah pasti Adib memarahinya habis-habisan. Mood-nya sedang buruk, tetapi dipaksa untuk berdebat. Apalagi kata-kata yang selalu Aisyah ucapkan penuh penekanan dan tidak mau dibantah.

“Berkelit bagaimana, sih, Ma? Perasaan aku tidak ada benarnya di mata Mama.”

“Ya karena kamu selalu membantah Mama. Coba enggak membantah, pasti Mama enggak akan sebegininya sama kamu.”

Mama, oh, Mama. Kenapa makin menjadi-jadi, sih?

“Pak Adib masih ada kelas?” sapa Pak Alka ketika berpapasan dengan Adib di depan pintu. Dosen yang juga mengajar di Fakultas Tarbiyah itu baru saja datang dari kelas—usai mengisi materi. Adib yang tampak sedikit melamun meski kakinya terus melangkah itu lantas mengalihkan pandang ke arah dosen tersebut. Dia kemudian menggeleng sambil tersenyum, memberi isyarat kalau sedang menerima telepon.

“Pamit, ya, Pak,” pelan Adib seraya menjauhkan ponselnya dari telinga. Pak Alka mengangguk maklum, kemudian berlalu menuju dalam kantor. Sedangkan Adib, terus melangkah menuju parkiran dengan panggilan yang masih terhubung dengan Aisyah. Tentunya dengan omelan-omelan yang wanita itu ucapkan sepanjang perjalanan.

Begitu sampai di tempat mobilnya terparkir, Adib membuka pintu kemudian duduk di belakang kemudi. Dia pejamkan matanya untuk menetralisir kekesalan. Membiarkan sambungan teleponnya terhubung dengan Aisyah tanpa pembicaraan apa pun. Tentu saja Adib lelah. Saat memilih untuk fokus dengan dunia karier terlebih dahulu yang baru menginjak tahun ketiga, Aisyah selalu memaksanya untuk segera menikah. Apalagi dengan perempuan yang sama sekali tidak diinginkannya.

“Adib! Kamu ke mana? Kenapa diam saja?”

Anak semata wayang Aisyah itu membuka mata, kemudian menghela napas. “Mama Aisyah, Mama sudah tahu dengan apa yang aku inginkan sekarang, ‘kan? Aku mohon sama Mama, berhenti menuntut aku. Bisa, kan, Ma? Aku lelah dipaksa-paksa terus seperti ini, Ma. Apalagi Mama memaksakan Amelia untuk jadi istriku. Aku lebih kenal Amel daripada Mama. Dari zaman SMP aku dan dia sudah berteman malah.”

“Harusnya itu malah bagus. Kalau kamu tahu bagaimana Amelia, lebih nyaman buat kamu dan dia menjalani pernikahan kalian.”

Adib menutup pintu mobilnya yang ternyata masih terbuka. Beruntung belum ada kendaraan yang akan keluar. Kalau saja ada, sudah pasti dia ditegur oleh pengendara lain. Menyamankan posisi duduknya sebentar, dia lantas menjawab sang mama, “Justru itu yang buat aku menolak, Ma. Tolong, ya, Ma. Jangan paksa aku menikah dengan Amel. Aku sama sekali tidak ada rasa apa-apa sama dia.”

“Urusan cinta itu belakangan, Dib. Yang penting itu kenyamanan. Cinta bisa datang kapan aja.”

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
CHRONOPHILE
CHRONOPHILE
Dalam novel modern CHRONOPHILE, sebuah perjodohan memaksa pertemuan kembali dengan pria dari masa lalu. Di tengah misi mempertahankan pernikahan, muncul ancaman balas dendam dan rahasia lama. Baca kisah romance novel ini tentang perjuangan menghargai waktu dan pilihan hidup yang sulit.
Desain Cinta Kedua
Desain Cinta Kedua
Pasca cerai dari Aaron, Jessica membuktikan kemandiriannya dalam Desain Cinta Kedua. Sebagai pengusaha sukses di genre romance modern, ia menolak tunduk pada masa lalu. Temukan kisah perjuangannya dalam billionaire romance novels ini saat sang mantan suami memohon kesempatan kedua.
Dosa Berbalut Cinta
Dosa Berbalut Cinta
Dalam novel Dosa Berbalut Cinta, Saschya terjebak dalam pernikahan penuh kekerasan oleh Adnan. Di tengah siksaan fisik dan trauma, masa lalunya kembali muncul membawa harapan. Ikuti kisah romance modern ini di platform webnovel kami dan baca romance stories terbaik lainnya secara gratis.
Istri Untuk Suamiku
Istri Untuk Suamiku
Dalam romance novel Istri Untuk Suamiku, Fatma menghadapi kanker stadium 4 dan kemandulan. Ia mendesak Satria menikah lagi demi keturunan, meski harus menghadapi kenyataan pahit tentang perasaan suaminya. Temukan kisah pengorbanan ini saat Anda read books online free di platform kami.
Jadi Wanita
Jadi Wanita
Dalam novel fantasy modern Jadi Wanita, Artisa nekat mengubah tubuh putranya, Sota, demi membuang sifat malasnya. Sota harus menghadapi transformasi drastis ini untuk bertahan hidup. Baca kisah unik ini di webnovel kami, pilihan tepat bagi pencinta fiction fantasy novels terbaik.
Mafia In The Night
Mafia In The Night
Dalam Mafia In The Night, William memburu pelaku pengkhianatan yang menewaskan ayahnya. Di tengah aksi balas dendam dan misteri fitnah keluarga, ia harus menghadapi polisi wanita yang menghalangi misinya. Baca mafia novel penuh petualangan ini di webnovel untuk mengungkap kebenaran.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.