🏵️🏵️🏵️
Setelah tiba, Ratu segera turun dari mobil lalu memasuki kantor Revan dengan menenteng rantang di tangan kanannya.
Banyak mata tertuju ke arah wanita yang sekarang berstatus sebagai nyonya Revan tersebut. Mereka bahkan memberikan ucapan selamat pagi.
Ratu memberikan senyuman kepada karyawan yang berpapasan dengannya saat menuju ruangan Revan. Ia ingin tetap menunjukkan sikap keramahan di depan orang-orang yang mengenal suaminya.
Setelah tiba di depan ruangan Revan, Ratu segera mengetuk pintu lalu memasuki tempat kerja suaminya itu. Revan sangat terkejut melihat sang istri yang tiba-tiba muncul di depannya.
“Kamu ngapain ke sini?” Revan langsung melontarkan pertanyaan kepada Ratu.
“Aku mau ngantar ini, Mas. Tadi kamu nggak sempat sarapan. Aku nggak mau kalau kamu nggak konsentrasi kerja karena belum sarapan.” Ratu menunjukkan rasa peduli terhadap suaminya.
“Aku nggak butuh perhatianmu, jangan coba-coba merayuku.” Ratu justru mendapat balasan yang tidak terduga dari Revan.
“Untuk apa aku merayu kamu, Mas? Ini kulakukan karena kamu suamiku. Aku hanya ingin berusaha menjadi istri terbaik untukmu.”
“Tapi aku nggak pernah memintamu untuk bersikap layaknya seorang istri. Kamu harus ingat bahwa pernikahan kita hanya sebuah perjodohan dan aku tidak pernah menginginkannya.”
“Maaf jika aku membuatmu kecewa. Aku akan segera pergi.” Ratu segera beranjak meninggalkan ruangan Revan. Ia tidak lupa meletakkan rantang yang ia bawa di meja kerja laki-laki itu.
Walaupun Revan tidak menerima kehadiran Ratu, tetapi wanita itu merasa bangga karena telah berusaha menjadi istri yang ingin memberikan perhatian kepada suaminya. Ia merasakan kebahagiaan tersendiri karena hari ini dapat berkunjung ke kantor laki-laki yang ia cintai itu. Namun, sampai kapan ia akan tetap bertahan dan bersabar?
🏵️🏵️🏵️
Ratu membelah jalanan menuju kampus. Pagi ini, matahari sangat cerah, secerah hatinya. Ia merasakan kebahagiaan karena telah berusaha melakukan yang terbaik untuk suaminya.
Tidak henti-hentinya ia melebarkan senyuman mengingat reaksi Revan. Ia sadar kalau laki-laki itu menunjukkan sikap tidak ingin menerima kenyataan bahwa dirinya telah memiliki istri.
Ia kembali mengingat kejadian saat mereka melangsungkan acara perjodohan dan pertunangan lima tahun yang lalu. Ia sangat bahagia karena memiliki ikatan yang nyata bersama laki-laki yang ia cintai.
Akan tetapi, tidak dengan Revan. Pria itu sangat kesal setelah menyematkan cincin di jari manis Ratu. Wajahnya tidak dapat berbohong kalau ia sangat tidak mengharapkan pertunangan dan perjodohan dengan wanita yang kini telah resmi mendampingi hidupnya.
“Kamu kenapa, Mas?” tanya Ratu setelah acara pertunangan selesai.
“Kamu pasti udah tahu jawabannya!” jawab Revan dengan nada ketus.
“Maksudnya apa, sih, Mas?”
“Aku benci menghadapi sikap kepura-puraanmu!”
“Kenapa kamu begitu membenciku? Apa salahku?”
“Salahmu karena harus bertunangan denganku!”
“Ini keputusan orang tua kita. Lagi pun, aku juga mencintaimu.”
“Aku muak mendengar penjelasanmu!”
Revan tidak pernah bersikap baik di depan Ratu. Namun, jika sedang bersama orang tua mereka, ia tetap menunjukkan sikap seolah-olah dirinya tidak menolak perjodohan.
Ratu saat ini berpikir keras agar dapat meluluhkan hati Revan. Ia tidak rela jika pernikahan yang dijalani sekarang, akan berakhir dengan perceraian. Ia tidak ingin mempermainkan janji suci yang telah mereka ucapkan.
Baginya yang terpenting saat ini adalah terus berusaha melakukan kewajibannya sebagai seorang istri walaupun ia tidak dianggap. Ia berjanji pada diri sendiri agar menjadi seseorang yang berguna untuk suaminya.
Lima belas menit menempuh perjalanan, akhirnya Ratu tiba di kampus tempat ia menuntut ilmu. Dari kejauhan, berdiri dua sosok yang selalu memberikan dukungan kepadanya. Mereka adalah Bimo dan Cinta, sahabat terbaiknya semenjak duduk di bangku SMA.
Ratu segera memarkirkan Toyota Yaris putih miliknya lalu turun, kemudian menghampiri kedua sahabatnya. Bimo sudah lama memendam rasa terhadap Ratu. Namun, perasaan itu ia simpan rapat-rapat karena dirinya bukan pilihan sang pujaan hati.
“Pagi.” Ratu langsung menyapa sahabat-sahabat terbaiknya itu.
“Pagi, Neng,” balas Bimo dengan panggilan khusus yang telah lama ia berikan kepada Ratu.
“Tumben datangnya agak siangan.” Cinta sangat hafal kebiasaan sahabatnya yang selalu lebih awal tiba di kampus.
“Tadi mampir sebentar ke kantor Mas Revan,” ucap Ratu.
“Cie, yang udah jadi istri, perhatian banget sama suami.” Cinta menggodanya.
Wajah Bimo langsung mengalami perubahan saat Ratu menyebut nama Revan di depannya. Ia belum mampu sepenuhnya menerima kenyataan kalau wanita yang ia dambakan itu, kini telah resmi menjadi istri orang lain.
==============





