Ketika Pernikahan Palsu Menjadi Nyata

Aveline berdiri di tengah lingkaran penduduk desa, napasnya memburu saat rasa panik menjalar di seluruh tubuhnya. Dadanya naik turun dengan cepat, mencoba memahami absurditas situasi ini.

"Aku tidak akan menikah dengannya!" suaranya melengking, mencoba membela diri. "Aku bahkan tidak mengenalnya!"

Leon, yang berdiri di sisinya, masih diam dengan ekspresi tegang. Mata birunya menatap lurus ke pemimpin desa, seolah mencari celah untuk keluar dari situasi ini.

"Kami tidak punya pilihan, Nona," kata pria tua berjanggut putih yang tampaknya pemimpin desa. "Di desa ini, seorang pria dan wanita yang tertangkap bersama di tempat sepi harus menikah untuk menjaga kehormatan."

Aveline menggigit bibir bawahnya, menahan gemetar di tubuhnya. "Ini konyol... Ini hanya kesalahpahaman! Aku tidak melakukan kesalahan apa pun!"

"Kami tidak melihatnya seperti itu."

"Aku punya tunangan!" Aveline berteriak, putus asa. "Aku akan menikah dengannya dalam dua minggu! Kalian tidak bisa memaksaku!"

Seseorang dari kerumunan menyahut, "Kalau begitu, di mana tunanganmu sekarang? Kenapa dia tidak di sini?"

Aveline membuka mulut, tapi tak ada kata-kata yang keluar. Dia tahu jawabannya tidak akan cukup untuk menyelamatkannya dari situasi ini. Tunangannya, Alistair, berada jauh di kota, sibuk dengan urusan bisnis keluarganya. Tidak mungkin dia datang untuk menyelamatkannya tepat waktu.

Leon, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. "Aku menghormati tradisi kalian," katanya, suaranya dalam dan tenang, "Tapi memaksa dua orang yang tidak saling mencintai untuk menikah tidak akan membawa kehormatan bagi siapa pun."

Pemimpin desa menggeleng pelan. "Jika kau menolak, kau harus pergi. Kami tidak bisa membiarkan seseorang yang mencemari aturan tinggal di sini."

Aveline merasakan darahnya berdesir cepat. Pergi dari desa ini berarti menempuh hutan sendirian di tengah malam. Dia bahkan nyaris tidak bisa berjalan tanpa bantuan tadi. Sementara itu, menunggu Alistair datang juga tidak mungkin-berita ini tidak akan sampai kepadanya dalam waktu dekat.

Leon tampak berpikir, rahangnya mengeras seolah menimbang semua kemungkinan. "Jika aku setuju," katanya akhirnya, "berapa lama pernikahan ini harus bertahan?"

Aveline menatapnya dengan kaget. "Kau tidak serius, kan?" bisiknya tajam.

Leon hanya menatap lurus ke depan, tidak menjawab.

Pemimpin desa menghela napas. "Minimal satu tahun, agar tidak ada gunjingan. Setelah itu, jika kalian ingin bercerai, itu urusan kalian."

Satu tahun.

Dunia Aveline terasa runtuh.

Dia menoleh ke arah Leon, berharap pria itu akan menolak. Namun, ekspresi di wajahnya sudah berubah. Bukan lagi pria yang tadi berusaha melawan, melainkan seorang tentara yang menerima kenyataan di medan perang.

Aveline menggeleng, matanya memanas. "Aku tidak bisa..." suaranya nyaris bergetar.

Leon mengembuskan napas panjang, lalu berbalik menatapnya. "Ini satu-satunya cara agar kita bisa keluar dari sini dengan selamat."

"Tidak! Ini hidupku!" Aveline melangkah mundur, hampir menangis. "Aku tidak bisa menikahi pria asing!"

"Aku juga tidak ingin menikah denganmu," Leon menjawab datar, lalu mendekat dan berbisik, "Tapi kita tidak punya pilihan."

Aveline ingin terus melawan, tapi tubuhnya sudah lelah. Kepalanya berdenyut hebat. Jika dia menolak, dia akan diusir dari desa ini, tanpa makanan, tanpa perlindungan.

Dengan tangan gemetar, Aveline menutup matanya, menarik napas panjang.

"Kita akan bercerai setelah satu tahun?" suaranya nyaris tak terdengar.

Leon mengangguk. "Aku janji."

Kerumunan bersorak saat keputusan itu dibuat.

Namun, di dalam hati Aveline, ada sesuatu yang terasa hancur.

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.