Suara ayam jantan berkokok memecah keheningan pagi. Cahaya matahari menembus tirai kamar, mengenai wajah Nadira yang masih terpejam. Ia mengerjap pelan, lalu bangkit dari tempat tidur yang terasa terlalu besar untuk ditiduri sendirian. Beberapa hari terakhir, ia terbiasa bangun lebih awal, tapi pagi ini tubuhnya terasa berat, pikirannya lelah.
Ketika melangkah ke dapur, aroma kopi hitam langsung menyapa hidungnya. Rafli sudah di sana-seperti biasa-dengan kemeja rapi meski belum berangkat ke kantor. Ia sedang membaca sesuatu di ponselnya sambil menyeruput kopi.
"Pagi," sapanya tanpa menoleh.
"Pagi," jawab Nadira pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara ketel air mendidih.
Ia membuka kulkas, berniat menyiapkan sarapan sederhana. Tapi bahkan sebelum ia mengambil telur, Rafli sudah berkata tanpa mengalihkan pandangan, "Aku sudah pesan sarapan dari warung Bu Wati. Nanti sebentar lagi diantar."
Nadira berhenti, menatap punggung Rafli yang tegap itu dengan campuran rasa kesal dan tak berdaya. "Aku bisa masak sendiri. Kau tidak perlu repot-repot pesan."
Rafli meletakkan ponselnya, akhirnya menatapnya. "Aku tahu. Tapi pagi-pagi begini, lebih praktis begini. Lagipula, aku tidak ingin kau kelelahan."
Nada suaranya terdengar lembut, tapi entah kenapa Nadira merasa seperti sedang diatur. "Aku tidak lelah. Aku hanya ingin melakukan sesuatu. Ini rumahku juga, kan?" ucapnya tanpa sadar meninggikan suara.
Rafli menatapnya beberapa detik sebelum menjawab tenang, "Tentu. Aku tidak pernah bilang tidak." Lalu ia kembali menatap ponselnya. Seolah percakapan mereka tak berarti apa-apa.
Nadira menggigit bibir bawahnya. Ia tahu Rafli tidak bermaksud buruk, tapi sikapnya yang selalu tenang justru membuatnya frustrasi. Seolah tak ada emosi yang bisa menembus tembok itu.
Sarapan datang lima belas menit kemudian. Dua porsi nasi uduk lengkap dengan telur dadar dan tempe orek. Rafli menata piring di meja makan tanpa banyak bicara. Nadira duduk berseberangan dengannya, mencoba menyesap teh hangat.
"Bagaimana tidurmu?" tanya Rafli.
"Baik," jawab Nadira singkat.
Keheningan kembali. Hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring. Nadira ingin berbicara, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Ia ingin tahu banyak tentang Rafli-tentang pekerjaannya, tentang masa lalunya-tapi setiap kali ia mencoba, pria itu selalu menjawab dengan kalimat pendek yang membuat percakapan cepat berakhir.
Hidup bersama orang yang nyaris tak bicara ternyata lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan.
Siang harinya, Nadira duduk di ruang tamu sambil melipat pakaian. Televisi menyala tapi tidak benar-benar ditonton. Pandangannya kosong, pikirannya melayang entah ke mana.
Ia masih merasa terjebak di antara dua dunia: satu dunia masa lalunya, tempat ia bebas menulis, bercanda dengan teman, tertawa tanpa beban-dan dunia barunya, yang hening, teratur, tapi juga penuh batas yang tidak ia pahami.
Suara mobil berhenti di depan rumah membuatnya menoleh. Tak lama kemudian, Rafli masuk membawa beberapa berkas dan sebuah kantong plastik besar. "Aku pulang lebih awal," katanya sambil menutup pintu.
Nadira berdiri, mendekatinya. "Kau tidak biasa pulang jam segini. Ada apa?"
Rafli menatapnya sebentar lalu tersenyum tipis. "Tidak ada. Hanya ingin makan siang di rumah."
Ia mengeluarkan beberapa kotak makanan dari kantong-sushi, salad, dan ayam panggang. "Aku pikir kau bosan makan nasi terus."
Nadira menatap makanan itu dengan ragu. "Kau ingat aku bilang tidak terlalu suka makanan mentah?"
Rafli diam sejenak, lalu menatapnya lagi. "Oh, iya. Maaf, aku lupa."
Nada suaranya ringan, tapi bagi Nadira, itu seperti bentuk ketidakpedulian. Ia menarik napas dalam, mencoba menahan kekesalannya. "Tak apa," katanya akhirnya, meski di dalam hatinya mulai tumbuh rasa kecewa yang sulit dijelaskan.
Sore itu, hujan turun deras. Rafli berada di ruang kerja kecil di lantai atas, sementara Nadira memilih membaca buku di ruang tamu. Sesekali ia mendengar langkah kaki Rafli berpindah dari satu sisi ruangan ke sisi lain. Ia tampak sibuk, seperti biasa.
Namun entah mengapa, sore itu Nadira merasa sangat kesepian. Ia menutup bukunya, menatap jendela yang dipenuhi butiran air. Lalu tanpa berpikir panjang, ia naik ke atas, berdiri di depan pintu ruang kerja Rafli.
"Boleh aku masuk?" tanyanya pelan.
Rafli menoleh dari meja, lalu mengangguk. "Masuk saja."
Ruangan itu sederhana tapi rapi-penuh tumpukan dokumen, beberapa foto pemandangan, dan aroma kopi hitam yang tajam. Nadira berjalan perlahan, matanya berhenti pada bingkai foto di meja: foto Rafli bersama seorang perempuan dan anak kecil.
"Dia..." Nadira berhenti, tak berani melanjutkan kalimatnya.
Rafli menghela napas pelan. "Itu istriku. Dan anakku."
Keheningan mengisi ruangan. Hanya suara hujan yang terdengar. Nadira menatap foto itu lebih lama, lalu berbisik, "Mereka terlihat bahagia."
Rafli tidak menjawab segera. Matanya memandang kosong ke arah jendela. "Mereka meninggal lima tahun lalu. Kecelakaan."
Nadira menahan napas. Ia menatap Rafli, mencari emosi di wajahnya, tapi pria itu tetap datar. Hanya ada sedikit kerutan di antara alisnya yang menunjukkan rasa sakit yang masih tertahan.
"Aku... aku tidak tahu," ucap Nadira pelan. "Maaf sudah-"
"Tidak apa-apa," potong Rafli. "Aku sudah terbiasa."
Nadira menunduk. Kata-kata itu terasa berat. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu bagaimana. Ia ingin menghiburnya, tapi takut menyinggung.
"Aku hanya ingin tahu sedikit tentangmu," akhirnya Nadira berkata. "Kita sudah menikah hampir dua minggu, tapi aku merasa belum mengenalmu sama sekali."
Rafli menatapnya, lama. "Mungkin memang begitu seharusnya untuk sekarang. Aku tidak ingin kau merasa terikat pada masa laluku. Aku tidak ingin membebanimu dengan luka yang belum selesai."
"Tapi aku sudah menjadi bagian hidupmu, Rafli," ujar Nadira dengan nada lembut tapi tegas. "Kau juga bagian dari hidupku sekarang. Aku tidak ingin hidup di rumah yang penuh rahasia."
Kalimat itu membuat Rafli terdiam lama. Ia menatap Nadira, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya-campuran rasa kagum, bingung, dan mungkin... takut.
"Aku akan berusaha," katanya akhirnya. "Tapi jangan paksa semuanya keluar sekaligus. Aku punya cara sendiri menghadapi masa lalu."
Beberapa hari setelah percakapan itu, suasana rumah mulai berubah. Rafli mulai lebih sering mengajak Nadira berbicara. Ia menanyakan hal-hal kecil-tentang makanan yang disukai, tentang buku yang sedang dibaca, bahkan menanyakan pendapatnya soal tata letak taman di belakang rumah.
Meski pembicaraan itu sederhana, bagi Nadira itu seperti langkah kecil menuju sesuatu yang lebih hangat. Ia mulai merasa dihargai.
Suatu pagi, Rafli memintanya menemaninya ke toko bahan bangunan. "Aku ingin memperbaiki ruang tamu. Kau bisa bantu pilih warna cat?" katanya.
Di perjalanan, suasana antara mereka tidak lagi kaku seperti dulu. Nadira sesekali tertawa kecil saat Rafli mengeluh tentang betapa buruknya pegawai toko sebelumnya mengecat rumahnya. Ia terkejut mendapati Rafli ternyata bisa juga bersikap lucu dengan cara yang tidak disengaja.
"Aku baru tahu kau bisa bercanda," ujar Nadira sambil tersenyum.
Rafli meliriknya sebentar. "Aku bukan robot."
Nadira tertawa kecil, dan untuk pertama kalinya, Rafli tersenyum tanpa menahan diri.
Namun sore itu, saat mereka kembali ke rumah, sesuatu yang tak terduga terjadi. Di depan gerbang rumah sudah berdiri seorang wanita muda dengan pakaian rapi dan ekspresi tajam. Nadira sempat mengira wanita itu salah alamat, tapi ketika melihat reaksi Rafli-wajahnya menegang seketika-ia tahu sesuatu tidak beres.
"Rafli," sapa wanita itu dengan nada dingin. "Kau tidak menjawab pesanku. Jadi aku datang langsung."
Rafli turun dari mobil, langkahnya pelan tapi tegas. "Kenapa kau datang ke sini, Citra?"
Citra. Nadira mengulang nama itu dalam hati.
Wanita itu menatap Nadira dari atas sampai bawah, lalu tersenyum miring. "Jadi ini istrimu yang baru? Cepat sekali, ya."
Nadira menegang. "Kau siapa?"
"Aku mantan adik iparnya," jawab Citra dengan nada menyengat. "Atau... mungkin lebih tepatnya, seseorang yang tahu betul masa lalu suamimu."
Suasana menjadi tegang. Rafli menatap Citra tajam. "Kau tidak perlu campur tangan dalam urusanku lagi. Semua sudah selesai."
Citra mendengus pelan. "Selesai? Tidak ada yang benar-benar selesai, Rafli. Apalagi kalau menyangkut... kematian itu."
Nadira menatap keduanya bergantian, bingung dan cemas. "Kematian apa?" tanyanya spontan.
Namun Rafli langsung menggenggam tangannya, suaranya rendah tapi tegas. "Masuk ke dalam, Nadira."
"Tapi-"
"Aku bilang masuk."
Nada itu tidak marah, tapi cukup kuat untuk membuat Nadira mematuhinya. Ia melangkah masuk ke rumah, meski hatinya bergemuruh. Dari jendela, ia masih bisa melihat Rafli berbicara keras dengan Citra di luar.
Sore itu menjadi titik awal perubahan besar. Untuk pertama kalinya, Nadira menyadari bahwa pria yang kini menjadi suaminya bukan hanya menyimpan kesedihan, tapi juga rahasia yang lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Dan ketika malam tiba, Rafli tidak banyak bicara. Ia hanya duduk lama di ruang tamu, menatap kosong ke arah pintu yang sudah tertutup rapat. Nadira berdiri di tangga, memperhatikannya dari jauh.
Ia tahu, apapun yang baru saja terjadi, itu bukan hal sepele. Dan entah kenapa, hatinya mulai diliputi rasa takut-takut bahwa pernikahan ini mungkin bukan hanya tentang menyembuhkan luka masa lalu, tapi juga tentang menyingkap sesuatu yang gelap.
Suara alarm ponsel berbunyi nyaring, memecah keheningan pagi di rumah yang masih terasa asing bagi Nadira. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang bukan miliknya, lalu menarik napas panjang. Aroma kopi yang samar-samar tercium dari dapur membuatnya sadar bahwa Rafli sudah bangun lebih dulu.
Pagi itu, Nadira memutuskan untuk memberanikan diri keluar kamar. Selama seminggu pernikahan mereka, ia lebih banyak menghabiskan waktu di balik pintu, hanya keluar ketika benar-benar perlu. Tapi hari ini, entah kenapa, ada dorongan kecil di dalam hatinya untuk mencoba bersikap normal.
Langkahnya pelan, sedikit ragu. Begitu sampai di ruang makan, ia mendapati Rafli sedang membaca koran sambil menyeruput kopi. Rambutnya masih sedikit basah, wangi sabun maskulin memenuhi udara. Ia tampak tenang seperti biasa, seolah semua hal dalam hidupnya berjalan sesuai rencana.
“Pagi,” ucap Nadira, suaranya hampir tak terdengar.
Rafli menurunkan koran, menatapnya singkat, lalu tersenyum tipis. “Pagi. Tidurmu nyenyak?”
Nadira hanya mengangguk. Ia menunduk, berusaha menghindari tatapan mata pria itu. Tangannya sibuk merapikan meja yang sebenarnya sudah rapi.
“Aku buatkan kopi?” tawarnya, tanpa menatap Rafli.
“Sudah, aku buat dua,” jawab Rafli sambil mendorong satu cangkir ke arahnya. “Coba saja. Mungkin seleraku nggak jauh beda denganmu.”
Nadira ragu sejenak sebelum duduk. Ia mencicipi kopi itu—tidak terlalu manis, sedikit pahit, tapi anehnya pas di lidahnya. “Kau nggak tahu seleraku, tapi pas,” gumamnya.
Rafli menatapnya dengan senyum samar. “Aku perhatikan, waktu di rumah ibumu dulu, kamu selalu pakai gula setengah sendok. Aku ingat.”
Nadira tertegun. Ia tidak menyangka, di antara semua tatapan dingin dan diamnya Rafli dulu, ternyata pria itu memperhatikan hal-hal kecil tentangnya.
“Aku pikir kamu nggak pernah peduli,” ucap Nadira lirih.
Rafli tersenyum kecil, kali ini tanpa sindiran. “Aku bukan orang yang banyak bicara, tapi bukan berarti aku nggak memperhatikan.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Tapi kali ini, tidak seaneh biasanya. Ada sesuatu yang berubah—entah karena kopi pagi itu, atau karena kata-kata sederhana yang meninggalkan bekas di hati Nadira.
Beberapa jam kemudian, Nadira memutuskan untuk membersihkan rumah. Rumah Rafli tidak besar, tapi setiap sudutnya tertata rapi dan steril seperti kamar hotel. Ia memegang kain lap dan mulai mengelap lemari kaca di ruang tamu. Di dalamnya, banyak sekali buku dan bingkai foto yang sudah berdebu.
Salah satu foto menarik perhatiannya—foto seorang perempuan muda yang memeluk anak kecil laki-laki, keduanya tersenyum bahagia di pantai. Nadira menatapnya lama. Ada sesuatu dalam foto itu yang terasa... kosong.
Rafli muncul di ambang pintu tanpa suara, membuat Nadira sedikit terlonjak. “Kamu nggak perlu bersihin itu,” katanya datar.
Nadira buru-buru menurunkan foto itu. “Maaf, aku cuma... penasaran.”
Rafli mengambil foto itu, menatapnya sebentar, lalu meletakkannya kembali di tempat semula. “Itu dulu. Mereka sudah nggak di sini.”
Nadira menunduk, merasa bersalah. “Aku nggak bermaksud mengorek masa lalu.”
“Tidak apa,” ucap Rafli, suaranya pelan namun mengandung nada kehilangan. “Kamu akan tahu nanti, tapi bukan sekarang.”
Nadira mengangguk pelan. Ia tak berani bertanya lebih jauh.
Sore harinya, langit mendung. Angin dingin berembus lewat jendela yang terbuka separuh. Nadira duduk di teras, menatap halaman yang dipenuhi tanaman hijau milik Rafli. Meski sederhana, halaman itu tampak terawat.
Rafli keluar sambil membawa dua cangkir teh hangat. Ia duduk di kursi sebelahnya tanpa bicara. Keduanya hanya menatap ke arah pohon mangga di ujung halaman.
“Aku mau cari kerja,” ujar Nadira tiba-tiba, memecah keheningan.
Rafli menoleh pelan. “Kerja?”
“Iya. Aku nggak mau cuma diam di rumah. Aku terbiasa sibuk, dan aku butuh sesuatu untuk kulakukan.”
Rafli menghela napas sebentar. “Aku nggak melarang. Tapi... kamu tahu orang-orang di sekitar sini suka bicara. Apalagi, kita baru menikah.”
“Aku tahu, tapi aku juga punya hak untuk menentukan apa yang mau kulakukan,” jawab Nadira dengan suara tegas. “Aku nggak mau jadi istri yang hanya menunggu.”
Rafli menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Nadira yang membuatnya sulit menolak. Kekuatan, tapi juga luka. Ia mengangguk pelan. “Baik. Tapi aku ingin kamu hati-hati. Dunia kerja nggak selalu ramah.”
Nadira tersenyum kecil. “Aku sudah terbiasa dengan ketidakramahan, Rafli.”
Beberapa hari kemudian, Nadira benar-benar mulai bekerja. Ia diterima sebagai staf administrasi di sebuah toko alat tulis di pusat kota. Rafli mengantar di hari pertama tanpa banyak bicara, hanya mengucapkan, “Kalau ada apa-apa, kabari.”
Hari-hari Nadira mulai sibuk. Ia bangun pagi, berangkat kerja, dan pulang menjelang sore. Rafli jarang bertanya, tapi selalu memastikan ada makanan di meja makan setiap malam. Hubungan mereka berjalan datar, tapi penuh perhatian-perhatian kecil yang tak pernah diucapkan.
Sampai suatu hari, Nadira pulang lebih cepat karena toko tempatnya bekerja tutup mendadak. Saat memasuki rumah, ia mendengar suara seseorang dari ruang tamu. Suara perempuan.
“Kamu nggak bisa terus begini, Raf. Dia bukan Lina,” suara itu terdengar tegas.
Nadira berhenti di ambang pintu, tubuhnya menegang. Ia melihat seorang perempuan elegan berdiri di depan Rafli, tatapannya menusuk.
“Dira?” Rafli segera menoleh, terkejut melihat Nadira berdiri di sana.
Perempuan itu menoleh, menatap Nadira dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan menilai. “Jadi ini istrimu yang baru?” tanyanya sinis.
Nadira berusaha tersenyum sopan meski dadanya sesak. “Saya Nadira.”
Perempuan itu mengulurkan tangan dengan gerakan angkuh. “Rania. Adik Lina.”
Nadira menatapnya bingung. Lina? Nama yang tadi disebut—apakah perempuan di foto tadi?
Rafli menatap Rania dengan wajah tak senang. “Cukup, Rania. Aku nggak mau membahas masa lalu di depan Dira.”
Rania tertawa dingin. “Kau pikir bisa melupakan begitu saja? Kakakku meninggal, anaknya dibawa pergi, dan sekarang kau hidup tenang dengan perempuan baru?”
Kata-kata itu menampar Nadira keras. Ia menatap Rafli dengan mata membulat. “Anakmu… masih hidup?”
Rafli terdiam, matanya redup. Rania memeluk tasnya erat, lalu berbisik sinis, “Kalau kau tahu siapa sebenarnya suamimu, kau nggak akan mau duduk serumah dengannya.”
Rafli menarik napas berat. “Rania, keluar. Sekarang.”
Rania menatap keduanya bergantian, lalu berbalik pergi tanpa berkata lagi. Pintu tertutup keras, meninggalkan keheningan yang menusuk.
Nadira menatap Rafli dengan mata berair. “Kau bohong padaku?”
“Aku tidak bermaksud menyembunyikan. Aku cuma belum siap menceritakannya,” ucap Rafli pelan. “Aku memang punya anak. Tapi dia... sekarang tidak bersamaku.”
“Kenapa?” tanya Nadira dengan suara parau.
Rafli menatap lantai lama sekali sebelum menjawab, “Karena aku kehilangan hak asuhnya setelah Lina meninggal. Keluarga istriku menyalahkanku atas kecelakaan itu.”
Air mata Nadira jatuh tanpa ia sadari. Ia tidak tahu harus marah atau iba. Di depan matanya, pria yang selalu terlihat kuat itu kini tampak rapuh.
Malam itu, Nadira duduk di tempat tidur, memandangi foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding. Hatinya penuh tanya—tentang masa lalu Rafli, tentang anak yang tak pernah disebutkan, tentang perempuan bernama Lina.
Ketika Rafli masuk ke kamar, Nadira berpura-pura tertidur. Ia mendengar langkah kaki mendekat, lalu selimutnya ditarik pelan agar menutupi bahunya. Suara napas Rafli terdengar dekat, disusul bisikan lirih yang hampir tak terdengar.
“Maaf, Dira… aku hanya takut kehilangan lagi.”
Air mata Nadira menetes diam-diam. Ia menutup mata rapat-rapat, menyadari satu hal—pernikahan ini bukan hanya tentang menutupi malu, tapi juga tentang dua hati yang sama-sama terluka, mencoba bertahan di antara masa lalu yang belum benar-benar berakhir.





