KAMU SINI DONG DEKETAN

“Pokoknya lu harus tanggungjawab! Lihat nih helm gue lecet gara-gara elu!” seru Marlenna dengan lantang. “Lho kok gue yang mesti tanggungjawab? Yang ngerusakin helm lu kan bukan gue.” bantah Darwis dengan tegas dan lantang juga, tak mau kalah dengan lantangnya Marlenna, “Lu salah minta tanggungjawab sama gue. Yang ngelempar batu sampe nimpuk helm lu kan salah seorang dari mereka ntuh.” kata Darwis lagi sambil nunjuk kearah siswa yang berhenti tawuran di sana, “Lagian siapa juga yang nyuruh lu nolongin gue.” lanjut Darwis dengan pembelaan dirinya. Marlenna yang udah bete berat langsung nimpalin, “Dasar orang nggak tahu terima kasih. Udah ditolongin malah ngomong gitu! Kalo gue nggak nolongin elu, udah bocor kepala lu kena batu.” balas Marlenna mencurahkan kekesalannya pada Darwis,“Nyesel gue nolongin lu.” lanjut Marlenna lagi, sehingga membuat Darwis semakin emosi, “Kalo nggak ada niat nolongin orang, jangan nolongin! Paham lu.” balas Darwis dengan nada tinggi bicara pada Marlenna. “Kok malah elu yang ngegas.” balas Marlenna, “Harusnya gue yang marah. Helm mahal gue jadi lecet gini. Lagian kalo gue nggak nolongin lu, dari tadi lu udah mampus kena batu.” Darwis semakin resah menghadapi Marlenna, “Lu ntuh aneh jadi orang. Gue nggak minta ditolongin, tapi elu sendiri yang mau nolongin gue. Sekarang helm lu lecet kena batu, elu malah minta ganti rugi sama gue. Mikir! Harusnya kalo nolongin orang ntuh harus ikhlas. Kalo nggak bisa ikhlas, nggak usah nolongin orang.” sentak Darwis lagi. Beberapa orang disana malah ikutan mendukung ucapan Darwis barusan. “Bener kata si abang ini, Neng. Kalo nolongin orang tuh harus ikhlas.” Marlenna semakin bete, “Berisik!” Oma mendengar semuanya, “Kamu lagi sama siapa di sana?” tanya Oma dengan resah hatinya. “Speaker hp lu masih nyala.” sela Darwis dengan niat tulus mengingatkan Marlenna, tapi Marlenna malah cemberut, “Gue tau. Nggak usah elu kasih tahu. Gue udah tau.” sentak Marlenna, lalu segera mematikan speaker hp-nya dan kembali bicara di telefon dengan Oma, “Ada orang nyebelin di depan aku, Oma.” jawab Marlenna, sehingga membuat Oma semakin penasaran bercampur marah, “Siapa orangnya yang berani bikin sebel cucu kesayangan Oma?” tanya Oma. “Nama lu siapa?” tanya Marlenna mengalihkan perhatian matanya sekilas memandang Darwis. “Kepo.” balas Darwis singkat, dan langsung bikin Marlenna semakin bete. “Dia malah ngeledek aku, Oma.” kata Marlenna ngasih laporan pada Oma, sehingga membuat Oma ikutan kesal, “Kasih hp kamu ke orang itu, biar Oma yang ngelabrak dia.” kata Oma pada Marlenna. “Nggak usah, Oma. Biar masalah ini aku yang selesaiin.” balas Marlenna, “Gampang kok ngurus orang beginian.” Darwis membalas Marlenna dengan senyuman nyinyir, “Nyenyenye…” Marlenna nampak tak perduli dengan nyinyiran Darwis, “Aku tutup telefonnya ya, Oma. Aku mau bikin perhitungan dulu sama orang ini.” Oma semakin penasaran, “Perhitungan gimana maksud kamu? Kamu dimana? Biar Oma kesana sekarang.” Marlenna menolak, “Nggak usah, Oma. Masalah kecil begini nggak usah Oma turun tangan.” kata Marlenna dengan nada terkesan menyepelekan. “Oma nggak bisa tenang. Kamu sharelok sekarang juga, biar Oma samperin kamu.” balas Oma terkesan sedikit memaksa, sehingga Marlenna langsung keluarin trik menghadapi Oma di saat sedang keras kepala, “Halo… Halo, Oma… Haloooo… Oma, signalnya lagi nggak bener. Adeuhh gimana ini. Oma maaf… Udah dulu ya, Oma… Daghhh Oma… Muachhh…” kata Marlenna langsung menutup pembicaraan di hp-nya, dan tanpa pikir panjang mematikan hp-nya. Darwis dan beberapa orang disana tercengang dengan aksinya Marlenna terhadap Oma-nya sendiri. “Kualat bohongin Oma lu sendiri.” kata Darwis menatap tegas kearah Marlenna, dan di balas dengan ekspresi betenya Marlenna, “Mau ganti rugi nggak?” Darwis menggelengkan kepalanya dengan tegas, “Nggak.”

Selang beberapa detik keduanya terpaku diam dan saling menatap seakan tak ada yang akan saling mengalah. “Oke kalo gitu elu ikut gue ke kantor polisi. Biar kita selesaikan masalah ini secara hukum.” kata Marlenna dengan tegasnya menakuti Darwis, tapi Darwis dengan lantang balas menantang Marlenna seakan tak ingin nampak lembek di depan cewek itu, “Oke. Siapa takut. Mau urusan hukum kek… Urusan adat kek… Urusan surga neraka kek. Gue nggak mundur! Nggak ada cerita di kamus gue harus kalah dari orang kayak elu.” Darwis semakin menegakkan posisi berdirinya di depan Marlenna, sehingga membuat Marlenna merasa tertantang balik berhadapan dengan Darwis sambil membusungkan dadanya, “Ikut gue. Sekarang juga kita ke kantor polisi.” kata Marlenna dengan tegas dan lugas, lalu tanpa basa-basi lagi Marlenna beranjak menuju motornya, begitu juga dengan Darwis beranjak menuju si bongki yang masih terparkir tidak jauh dari sana.

Dari kejauhan terdengar jelas bunyi sirine mobil polisi. “Polisi…!” seru beberapa siswa disana, dan langsung membuat mereka kabur berhamburan. Selang beberapa menit kemudian, dua mobil polisi baru saja sampai di lokasi, mereka para polisi langsung mengejar mereka yang larinya belum terlalu jauh. “Kebetulan ada polisi datang.” kata Marlenna sambil turun lagi dari motornya, “Kita selesaikan disini saja.” Darwis turun juga dari motornya, “Oke. Siapa takut.” lanjut Darwis lagi. Marlenna dan Darwis sempat berdiri saling berhadapan dan saling menunjukkan ekspresi bete, lalu Marlenna mengalihkan perhatiannya pada seorang petinggi polisi yang datang dengan mobil sedan milik kepolisian. Marlenna dan Darwis menghampiri petinggi polisi itu. “Selamat siang, Pak.” sapa Marlenna, dan Darwis masih berdiri dekat Marlenna. “Selamat siang juga, Mbak.” balas sapa dari polisi itu, namanya Pak Bambang, ada id namanya di seragam kepolisian yang dipakai beliau. “Saya mau ngaduin masalah sama bapak.” kata Marlenna memulai pembicaraannya, “Orang ini nggak mau ganti rugi helm saya yang lecet, pak. Padahal saya udah nolongin dia. Kalo nggak ada saya, mungkin kepala dia udah bocor kena lemparan batu.” kata Marlenna dengan semangat menjelaskan. “Mana helm-nya? Boleh saya lihat?” tanya Pak Bambang, karena sebagai polisi beliau diajarkan untuk selalu melihat barang bukti lebih dulu jika dihadapkan para pernyelesaian masalah masyarakat. Tanpa pikir panjang Marlenna memperlihatkan helm-nya yang lecet di bagian belakang, “Ini helm saya, Pak. Ntuh kan lecet, jadi nggak bagus helm saya.” Pak Bambang mengalihkan perhatiannya pada Darwis, “Kenapa anda nggak mau ganti rugi helm-nya mbak ini?” tanya Pak Bambang, dan langsung di jawab Darwis dengan lugas, “Masalahnya bukan saya yang ngelempar batunya, Pak.” Pak Bambang mengernyit, “Lantas siapa yang ngelempar batu?” Darwis nimpalin lagi, “Mereka yang tawuran itu, pak.” Pak Bambang kembali mengernyit kedua kalinya menatap Marlenna, “Kalo bukan dia yang ngelempar batu, kenapa mbak malah minta ganti rugi sama dia?” Marlenna tak mau kalah dari Darwis dan menjawab pertanyan Pak Bambang dengan lugas juga, “Saya nggak tau siapa orang yang ngelempar batu itu, tapi yang jelas batu itu melayang persis mau menghantam kepalanya dia, lalu saya refleks tolongin dia, saya lindungin dia, sehingga batu itu malah menghantam helm saya sampai lecet gini. Sekarang apa saya salah minta ganti rugi helm saya ke dia, pak?” Darwis langsung nimpalin, “Salah lah.” Marlenna balas nimpalin juga, “Diem lu. Gue nggak nanya ke elu.” Sejenak Pak Bambang terpaku diam sambil mikirin masalah Darwis dan Marlenna, lalu dengan berat hati Pak Bambang bilang, “Mbak harusnya jangan minta ganti rugi helm mbak yang lecet ke dia.” Darwis girang karena merasa menang, tapi Marlenna malah makin bete, “Kok bapak malah belain dia?” Pak Bambang berusaha menjelaskan, “Saya nggak belain siapa-siapa. Saya hanya berusaha menjadi penengah yang baik. Kalo mbak mau minta ganti rugi, harusnya mbak cari siapa orang yang sudah melempar batu.” Marlenna semakin bete, “Mana saya tau siapa orangnya yang ngelempar batu.” Darwis nimpalin lagi, “Kalo elu nggak tau, ya udah jangan nimpalin kesalahan orang lain ke gue.” Marlenna tak mau kalah, “Nggak bisa! Pokoknya elu yang harus ganti rugi!” Darwis balas dengan senyuman nyinyir lagi pada Marlenna, “Dihhh bisa gitu…” Marlenna menggeram kesal pada Darwis, tapi malah di balas geraman nyinyir oleh Darwis, sehingga membuat Marlenna semakin marah membara pada diri Darwis. Sebagai polisi yang baik Pak Bambang berusaha mendamaikan mereka, “Udah begini saja, daripada mbak sama mas-nya ribut terus, masalahnya juga nggak akan selesai, lebih baik saling memaafkan saja, gimana? Toh helm mbak kan nggak hancur, masih bisa diperbaiki. Lagipula mas ini nggak salah juga, toh bukan dia yang ngelempar batu.” Marlenna menolak tegas, “Nggak bisa! Masalah ini nggak akan bisa damai sebelum orang ini ganti rugi helm saya yang lecet. Titik. Nggak pake koma.” Darwis menatap Marlenna, “Gileee ini cewek keras kepala banget. Ngebetein sih, tapi kok malah bikin gue happy punya masalah sama dia.” kata hatinya Darwis masih terpaku menatap Marlenna. “Elu sini deh deketan.” kata Marlenna pelan, dan tanpa pikir panjang Darwis sedikit mendekati Marlenna, “Apaan…?” tanya Darwis penasaran. “Dasar elu nyebelin kayak kampret.” balas Marlenna, sehingga membuat Darwis mendadak bete.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.