HAPPY BIRTHDAY ARINI… Tulisan itu terpampang besar dan indah di pintu masuk area taman pinggiran kota. Sore nampak begitu sejuk di tengah hijaunya daun dan banyak pepohonan di sana. Beberapa tamu undangan sudah datang dengan mengisi buku daftar tamu terlebih dahulu yang di jaga oleh beberapa cewek berpakaian peri, karena konsep ulang tahun Arini di tahun ini mengambil tema fantasi peri yang cantik dan tampan, bahkan beberapa tamu undangan pun khususnya cewek mengenakan kostum pergi beraneka warna lengkap dengan make up dan juga wig cantik penghias kepala. Hiasan pesta ulang tahun berupa puluhan balon, pita warna-warni, dan juga lampu kerlap-kerlip menghiasi setiap batang pepohonan sehingga nampak seperti sebuah hutan peri di negeri dongeng yang penuh warna. Pak Burhan, papanya Arini, nampak gagah dan elegant menyambut beberapa tamu kolega bisnisnya, begitu juga dengan Bu Laras yang sedang menemani ngobrol beberapa ibu-ibu sosialita lainnya. Sebagai orangtua, Pak Burhan dan Bu Laras selalu mempersiapkan sesuatu yang terbaik untuk anak satu-satunya mereka, yaitu Arini, si cewek tajir, pintar, tapi sedikit introvert, namun hari itu di pesta spesialnya Arini dituntut untuk bahagia penuh senyuman menyambut beberapa temannya yang hadir berdatangan bergerombol. Di pinggiran danau area taman, Arini sedang ngobrol bersama beberapa teman cewek. Mereka nampak asyik membahas topik cowok mereka masing-masing, ada Lisa yang mengeluh karena cowoknya selingkuh, ada Yuni yang sedang happy karena baru jadian kemarin, ada Sissy yang baru putus, dan ada juga Betty yang akan menikah di bulan depan. Arini menanggapi curhatan teman-temannya dengan senyuman, dan terkadang ikut sedih dan juga ketawa tergantung mood obrolan. “Marcel mana?” tanya Mia menatap Arini. “Ehmmm mungkin masih di jalan.” jawab Arini singkat. “Marcel pasti datang kan?” tanya Mia lagi. “Iya mungkin.” jawab Arini seakan ragu, sehingga membuat Mia dan teman lainnya heran dengan jawaban Arini. “Kok mungkin?” tanya Mia semakin penasaran. Arini hanya tertunduk sedih, sehingga membuat mereka ikutan sedih juga. “Kamu masih musuhan sama Marcel karena masalah yang satu itu?” tanya Lisa, dan Arini mengangguk kecil. “Masalah apa?” tanya Mia, diikuti oleh Yuni, Betty dan Sissy yang nampak penasaran dengan progress hubungan Arini dan Marcel yang mereka anggap sebagai pasangan termesra di antara geng persahabatan mereka. ‘Biasalah masalah kecil.” jawab Arini kembali singkat. “Cerita dong…” balas Mia, Yuni, Betty dan Sissy yang nampak semakin penasaran. Sejenak Arini terpaku diam menatapi mereka yang udah siap mendengar jawaban Arini, “Marcel mau ngelamar aku, tapi aku jawab aku belum siap.” kata Arini menjelaskan singkat. “Terus Marcel marah sama kamu, gitu?” balas Mia. “Nggak tau.” jawab Arini. Sissy nimpalin, “Kalo aku jadi kamu, aku akan langsung terima lamarannya Marcel. Kadang aku heran sama kamu, Arini… Kamu tuh udah dikasih cowok terbaik dari Tuhan, yang pastinya type cowok kayak Marcel itu idaman semua cewek. Udah mukanya cakep, body-nya keren, tajir anak pengusaha. Apa sih yang bikin kamu ragu sama Marcel?” Arini menggeleng pelan, “Aku juga nggak tau.” Betty menghela nafas, lalu melanjutkan bicaranya, “Kalo kamu nggak mau, biar Marcel buat aku aja, gimana? Mumpung aku udah jomblo nih.” Serentak ucapan Betty barusan mengundang tawa mereka, “Maunyaaa tuh…” balas Yuni, dan kembali mengundang tawa mereka. Arini hanya tersenyum kecil, lalu kembali terpaku diam sehingga membuat mereka semakin penasaran. Tak berapa lama tatapan Arini teralihkan ke pintu masuk utama, sehingga mengundang mereka untuk ikut menatap ke pintu masuk utama juga, dan mereka melihat Marcel yang tampan dan juga gagah dengan setelan jas kerennya berwarna hitam pekat. “Nah itu Marcel.” kata Lisa, “Akhirnya datang juga si ganteng.” balas Betty terlihat senang. “Kok kamu yang girang sih.” kata Sissy yang berdiri tepat disampingnya Betty, “Harusnya yang girang itu Arini, bukan kamu, Bet.” lanjut Sissy nimpalin, diikuti tawa canda mereka sehingga membuat Betty cemberut, “Emang salah aku ikutan happy melihat pacar temen datang? Nggak salah dong.” balas Betty mempertahankan diri, “Kan tadi Arini cerita kalo lagi ada masalah sama Marcel, terus Marcel datang, itu tandanya hubungan mereka akan baik-baik saja. Aku ikut seneng dong. Nggak salah kan…?” lanjut Betty lagi. “Iyaaa dehhh nggak salah…” kata Mia nimpalin diiringi senyuman canda.
Setelah menyapa Papa dan Mamanya Arini, serta sedikit ngobrol dengan teman cowoknya yang kebetulan hadir di sana, Marcel celingukan mencari Arini, dan di satu titik tatapan mereka bertemu, selang beberapa detik Marcel melemparkan senyumannya, dan di balas senyuman kecil oleh Arini. Tanpa pikir panjang Marcel segera beranjak menghampiri Arini yang masih berdiri bersama teman-temannya. “Hai semua…” sapa Marcel pada Mia, Yuni, Lisa, Betty dan Sissy. Mereka balas sapaan Marcel, “Hai jugaaa…” Marcel nampak happy dengan tampang ceria berdiri di dekat mereka, “Lagi seru ya ngobrolnya? Aku ganggu nggak nih…?” tanya Marcel memulai pembicaraan dengan mereka. “Nggaklah…” jawab Mia lebih dulu, diikuti yang lain. “Syukur deh kalo gitu.” balas Marcel lega hatinya, lalu tatapan Marcel berpaling kearah Arini dan kembali Marcel menyapanya lembut, “Hai…” Arini membalasnya dengan anggukan serta senyuman kecil, “Hai juga…” lalu keduanya saling terpaku diam seakan sungkan bercampur grogi karena ada mereka di sana. Mia yang lebih dulu nyadar jika Arini dan Marcel perlu waktu untuk berduaan, “Ehmmm kita kesana aja lanjutin ngobrolnya, yukkk… Biar Arini sama Marcel nggak grogi kita pelototin terus dari tadi.” kata Mia diselingi tawa kecil, setelah itu barulah mereka nyadar kalo keberadaan mereka menganggu Arini dan Marcel yang mungkin aja ingin berduaan, dan akhirnya mereka sepakat pamitan pada Arini dan Marcel, lalu beranjak meninggalkan mereka dan melanjutkan ngobrol di area lain, tapi masih area pinggiran danau tenang. Sesekali meskipun udah saling berjauhan, mereka masih melihati Arini dan Marcel.
Sekarang Arini bisa ngobrol berduaan dengan Marcel di tengah keramaian para tamu undangan yang semakin lama semakin banyak berdatangan. Marcel memfokuskan pandangannya tepat menatap kedua matanya Arini, lalu dengan lembut Marcel mengucapkan sesuatu untuk Arini, “Selamat ulang tahun ya, Arini. I wish you all the best in your life.” Arini tersenyum kecil, “Makasih.” Tatapan matanya Marcel tak berpindah seakan masih betah melihati cantiknya paras Arini, “Kalo aku boleh tau, apa harapan terbesar kamu di tahun ini?” Arini terpaku sejenak, terpikir sesuatu dibenaknya, lalu terucapkan kata-kata itu, “Aku ingin bertemu dengan jodohku.” Marcel masih menatapi Arini, dan kali ini semakin bertambah lebih dalam menatap, “Aku?” tanya Marcel. Arini tak menjawabnya, lalu gerakan refleksnya mengalihkan perhatian Arini pada seseorang yang baru datang memasuki pintu utama gerbang taman, dialah Darwis.





