Ketika pintu depan terbuka, sesosok perempuan yang tak asing bagi Nindi berdiri di depannya dengan penampilan yang berantakan. Di gendongannya ada seorang bayi berusia sekitar lima bulan yang tertidur dengan nyenyak.
Dahi Nindi mengernyit melihat pemandangan itu. Ada apa dengan perempuan di depannya ini?
"Erin, kamu kenapa?" Nindi menatap heran pada wanita di hadapannya.
Nindi baru kali ini melihat wanita yang menjadi tetangganya itu begitu memprihatinkan. Wajah dan rambut yang biasanya enak dipandang, sekarang begitu kusut dan kacau. Ada sisa air mata yang meninggalkan jejak di pipi wanita itu.
"Nindi, boleh aku masuk?" tanya Erin serak.
Meskipun bingung, Nindi mengangguk dan mempersilahkan tamunya itu untuk memasuki rumah.
Setelah menidurkan anak Erin di kamar tamu, kedua wanita itu duduk bersisian di sofa ruang tengah.
"Minum dulu, Rin!" Nindi menawarkan minuman yang tadi dibawanya dari dapur.
Erin hanya bungkam, membuat Nindi bingung harus melakukan apa.
Keadaan Erin jelas sedang tidak baik-baik saja, tapi bertanya soal kenapa wanita itu bisa sekacau ini jelas bukan pilihan yang bijak. Jadi, Nindi memilih meletakan tangannya di bahu Erin dan mengusapnya pelan, berharap wanita itu bisa lebih nyaman karena sentuhan kecilnya.
Namun, siapa sangka, tanggapan Erin justru membuat Nindi terkejut. Wanita dengan rambut sebahu itu menangis sesenggukan dengan kedua tangan menangkup wajah.
"Nindi, aku harus bagaimana?" Erin meracau di tengah-tengah tangisnya.
Nindi yang tidak terbiasa menghadapi orang menangis hanya bisa terdiam dan mengusap-usap punggung wanita di sebelahnya agar tenang.
Ada banyak tanya yang sebenarnya ingin Nindi ajukan. Namun, melihat Erin yang kacau seperti ini, rasanya percuma jika ia ajak bicara. Jadi Nindi menyimpan semua rasa penasarannya dan membiarkan Erin menangis sepuasnya terlebih dulu.
"Sudah lebih baik?" Nindi memberikan tisu yang diambilnya dari meja, ketika Erin membuka wajahnya dan tangisnya telah berhenti.
Erin mengangguk dan menerima uluran tisu yang Nindi berikan untuk menghapus air matanya. Wanita itu memukul dadanya pelan, berharap dengan begitu sesak yang ia rasa bisa berkurang.
"Mau cerita?" Nindi bertanya hati-hati. Ia tak ingin membuat Erin tak nyaman dan menganggapnya terlalu penasaran.
"Ifan selingkuh."
Suara lirih Erin terdengar bagai guntur di telinga Nindi.
Suami Erin selingkuh? Bagaimana mungkin? Setahu Nindi rumah tangga Erin dan Irfan baik-baik saja. Bahkan akhir-akhir ini Erin kerap kali menceritakan perhatian Ifan yang bertambah setelah dirinya melahirkan.
"Siapa yang bilang? Bisa saja itu sekedar rumor, 'kan?"
"Aku melihatnya sendiri, Nin." Air mata Erin kembali jatuh saat mengingat kejadian yang ia lalui beberapa jam ke belakang. "Tadi malam aku tidak sengaja melihat chat mesra di ponsel Ifan. Awalnya aku kira itu hanya candaan karena nomor itu diberi nama laki-laki," lanjut Erin terbata-bata. Terlihat betul wanita itu tengah menahan tangisnya.
Sementara Nindi hanya diam seraya mengusap-usap lengan Erin. Ia hanya menunggu wanita di sampingnya melanjutkan cerita.
"Aku sebenarnya tidak mau menaruh curiga pada suami sendiri. Namun, chat itu benar-benar membuatku tidak tenang. Akhirnya, tadi pagi aku nekat mengikuti Ifan. Siapa sangka, bukannya ke studio, Ifan justru ke restoran. Dia menemui perempuan cantik seusiaku di sana," cerita Erin sedih. Matanya buram karena air yang mulai menggenang.
"Kamu sudah memastikan perempuan itu siapa? Bisa saja perempuan itu model yang sedang ditangani Ifan, 'kan?" Nindi mencoba berpikir positif.
Irfan adalah seorang fotografer yang sering memotret model-model papan atas. Jadi, tak menutup kemungkinan jika perempuan yang Ifan temui adalah model yang tengah laki-laki itu tangani, 'kan?
"Aku juga akan berpikir seperti itu jika tidak melihat mereka berpelukan dan suap-suapan."
Nindi kehilangan kata. Ia hanya bisa memberikan pandangan simpati pada Erin.
"Aku benar-benar kecewa pada Ifan. Dia bahkan membela perempuan itu ketika aku melabrak mereka."
"Kamu melabrak mereka?" pekik Nindi dengan raut terkejut yang tak dapat ditutupi.
Erin mengangguk lemah. "Aku emosi. Aku hanya ingin Ifan tahu kalau perbuatannya sangat menyakiti aku. Tapi bukannya menenangkan, dia justru membentaknya. Dia bilang aku membuatnya malu. Padahal aku hanya sedang mengungkapkan kekecewaanku. Apa aku salah?"
Nindi menghela nafas atas ucapan Erin. Dia tak bisa menyalahkan perempuan itu karena memang kebanyakan orang tak dapat berpikir jernih ketika marah. Namun ia juga agak menyayangkan tindakan gegabah Erin yang melabrak Ifan dan selingkuhannya.
"Jika kamu bertanya apa kamu salah atau tidak karena melabrak mereka, maka aku akan menjawab salah. Kamu salah, Erin," ujar Nindi dengan tatapan lurus pada lawan bicaranya.
"Dengar!" potong Nindi ketika melihat Erin hendak protes. "Laki-laki adalah makhluk egois. Itu sudah jadi rahasia umum. Mereka akan mencari alibi, bahkan bisa memutar balikan fakta ketika tertangkap basah melakukan kesalahan," ujar Nindi seraya menatap Erin " Mereka juga manusia dengan harga diri tinggi. Perbuatanmu yang melabrak mereka jelas melukai harga diri Ifan sebagai lelaki. Bukannya mendapat simpati seperti yang kamu harapkan, Ifan justru akan semakin terpancing amarahnya. Dia akan menganggapmu tidak bisa menjaga martabatnya sebagai suami dan semakin yakin bahwa kamu memang pantas untuk diselingkuhi."
Erin ingin menyanggah, tapi akhirnya hanya diam karena yang diucapkan Nindi memang benar.
Sikap Ifan tadi padi menjelaskan betapa benarnya hipotesis Nindi. Laki-laki itu, meski telah tertangkap basah tengah selingkuh, tetap tidak mau disalahkan. Ifan justru menyuruh Erin berkaca kenapa dirinya bisa selingkuh. Dia juga mengatakan bahwa Erin membuatnya malu dan menurut Ifan, perempuan tidak punya adab sepertinya pantas untuk diselingkuhi.
"Kamu sudah tanya kenapa Ifan selingkuh?" Nindi bertanya ketika Erin terus diam.
Erin menatap Nindi tidak mengerti. "Apa itu penting?"
Bagi Erin sudah jelas, orang yang selingkuh adalah orang yang tidak bisa setia, titik. Tidak ada alasan lain. Jika mereka menjabarkan semua kekurangan pasangannya, itu hanya alasan untuk menutupi kecurangan mereka.
"Semua akibat pasti ada karena sebab, 'kan?"
Erin menghela nafas lelah. Dijatuhkan punggungnya pada sandaran sofa di belakangnya.
"Aku tidak tahu," jawab Erin dengan pandangan menerawang. " Beberapa bulan ini sikap Ifan memang berubah. Bukan ke arah negatif, dia justru berubah menjadi lebih manis. Dia yang biasanya cuek, berubah menjadi sangat perhatian. Dia bahkan dengan suka rela membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Bodohnya aku menganggap itu salah satu bentuk terima kasihnya karena aku telah melahirkan Rafif. Siapa sangka itu hanya trik untuk menutupi perselingkuhannya."
"Dia pernah mengeluhkan sesuatu tentang dirimu atau pelayananmu sebagai seorang istri?" tanya Nindi lagi.
Erin tampak berpikir, sebelum menjawab, "Em ... sepertinya pernah. Ia pernah mengeluh kalau aku kurang perhatian padanya. Aku terlalu sibuk mengurus Rafif sampai lupa kalau ada suami yang juga harus aku urus."
"Dan tuduhan Ifan benar?" selidik Nindi.
"Ya, memang sekarang aku lebih sibuk dengan Rafif. Apa dia tidak bisa mengerti keadaan? Aku sudah lelah mengurus rumah, Rafif, dan bisnis online-ku. Jangankan untuk memperhatikan Ifan, memperhatikan diri sendiri saja aku tidak punya waktu!" Erin berucap emosi. Ia merasa Nindi juga tengah menyudutkannya dengan bertanya seperti tadi.
Nindi tak tersinggung sama sekali melihat Erin marah padanya. Dia sungguh paham betapa kacaunya perempuan di hadapannya sekarang.
"Lalu sekarang kau mau bagaimana?" tanya Nindi setelah Erin tenang. "Mau melanjutkan pernikahan kalian atau menyerah sampai di sini?"
Erin menunduk, dadanya bergemuruh karena ucapan Nindi. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang saat ini tengah berputar-putar di kepalanya.
"Aku tidak tahu," lirih Erin putus asa. "Jujur, aku masih sangat mencintai Ifan, tapi aku juga tidak bisa menahan rasa sakit atas pengkhianatan yang dia lakukan. Aku harus bagaimana, Nin?" isaknya dengan kepala masih tertunduk.
"Mau dengar pendapatku?" tawar Nindi sehalus mungkin. Ia tak ingin Erin tidak nyaman karena menganggapnya terlalu menggurui.
Erin mendongak ke arah Nindi.
"Jangan cerai," ucap Nindi mantap. "Kamu ingat ada Rafif di antara kalian, 'kan?"
Erin mengangguk lemah.
"Jika kalian bercerai, maka Rafif akan menjadi yang paling dirugikan. Lukamu mungkin bisa hilang seiring berjalannya waktu. Kamu dan Ifan juga suatu saat bisa menikah lagi. Sedangkan Rafif? Sudah pasti dia akan kehilangan kesempatan untuk merasakan kasih sayang dari orang tua yang lengkap. Jadi, aku harap kamu lebih memikirkan nasib Rafif ke depannya dari pada hanya mengedepankan emosi."
"Aku pasti bisa mengasuh Rafif sendiri. Banyak anak yang sukses meski hidup dengan orang tua tunggal."
"Benar," jawab Nindi mantap. "Kamu bisa memberinya limpahan materi, bisa memberikannya pendidikan yang terbaik, kemudian menuntunnya menuju kesuksesan. Tapi apa kamu pernah bertanya bagaimana perasaan seorang anak yang orang tuanya bercerai? Bahkan setelah dewasa pun, seorang anak menginginkan orang tuanya tetap utuh."
Erin menatap Nindi lekat, hingga ia teringat satu hal. Ia pernah mendengar jika orang tua Nindi bercerai ketika perempuan itu masih kecil. Nindi dan ibunya harus hidup berdua dengan keadaan serba kekurangan, sementara ayahnya pergi dengan membawa kakak laki-laki Nindi. Hingga ketika Nindi masuk SMA dan kedua orang tuanya meninggal, Nindi kembali bertemu dengan kakaknya dan mereka hidup berdua.
Jadi, nasihat yang Nindi berikan adalah pengalaman hidup wanita itu sendiri? Dia pasti tidak ingin Rafif hidup sepertinya.
"Apa hidup dengan orang tua yang bercerai sangat buruk?" tanya Erin hati-hati. Jujur, ia takut pertanyaannya akan membuat Nindi tersinggung.
"Lebih buruk dari ketika kita kehilangan satu kaki," jawab Nindi dan tersenyum masam. Wanita itu meminum jus di depannya, kemudian kembali menatap Erin.
"Semua keputusan ada di tanganmu dan Ifan. Aku harap apa pun keputusan kalian nantinya adalah yang terbaik untuk kamu, Ifan, dan Rafif."
Erin kembali menangis, kali ini suaranya semakin keras. Nindi yang tak tega merengkuh perempuan itu dalam pelukan.
"Aku harus bagaimana, Nin? Aku bingung. Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?" Erin terus meracau frustrasi.
Nindi mengusap-usap punggung Erin, terus memberinya dukungan.
Nindi tahu sekali rasanya dikhianati. Dulu, ia pernah dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percayai. Rasanya benar-benar sakit dan semakin sakit karena ia tak punya satu orang pun yang mendukungnya untuk melewati masa-masa itu. Maka dari itu ia ingin menjadi orang yang memberikan dukungan pada Erin dan mendengarkan segala keluh kesah perempuan itu.
"Kamu harus kuat, Rin. Kamu harus kuat!"
Erin semakin mengencangkan tangisnya di pelukan Nindi, tak peduli sama sekali dengan baju Nindi yang basah karena air matanya. Baru setelah tangisnya reda, Erin merenggangkan pelukan mereka.
"Apa yang harus aku lakukan agar pernikahanku dan Ifan tidak hancur, Nin?" Erin bersuara serak.
"Saran aku, kamu harus minta maaf pada Ifan."
Erin hendak menyela. Ia jelas tidak terima. Kenapa dia yang harus meminta maaf, padahal jelas-jelas Ifan yang berkhianat? Namun, melihat Nindi yang meletakan jari di depan bibir, Erin mengurungkan niat.
"Tundukkan egomu, Rin. Minta maaf pada Ifan karena sekarang kamu kurang memperhatikannya. Tanya apa maunya dan kamu katakan juga apa keluhanmu, beri pengertian pada Ifan kenapa sekarang kamu tidak bisa memperhatikannya lagi, kemudian kalian cari solusi sama-sama."
"Bagaimana kalau Ifan masih berhubungan dengan perempuan itu?"
"Soal perempuan itu, tidak usah kamu pikirkan apalagi sampai kamu mendatanginya untuk membalas dendam. Cukup kamu dan Ifan mau berubah, aku yakin pernikahan kalian tidak akan hancur. Terdengar tidak adil sekali, ya? Tapi memang begitu sih menurutku solusi terbaiknya."
Erin terdiam mendengar ucapan Nindi. Apa iya saran Nindi akan berhasil?
"Jangan lemah kalau kamu mau mempertahankan Ifan," ujar Nindi. "Perempuan cantik dan baik sepertimu tentu banyak yang menyukai, termasuk suamimu sendiri. Tentang perselingkuhan Ifan, kamu sudah tahu sendiri alasannya. Sekarang tinggal bagaimana kalian saja. Yang paling penting, jangan sampai kalian melupakan Rafif."
Erin menatap Nindi dengan haru. Ia beruntung sekali memiliki tetangga sekaligus teman yang pengertian seperti perempuan ini.
"Nindi!" panggil Erin, membuat Nindi menatapnya. "Terima kasih. Katakan, harus dengan apa aku membalas kebaikanmu?"
Nindi tampak berpikir, kemudian melirik baju bagian bahunya yang basah "Kamu bisa membelikanku baju baru."
Erin tertawa mendengar candaan Nindi.
"Nanti aku belikan tiga."
"Aku tunggu," jawab Nindi dengan senyum di bibir. Ia senang bisa melihat Erin tertawa lagi.
"Kamu dan Dika memang pasangan serasi ya. Baik, ramah, dan pengertian. Kalian serasi."
Nindi terdiam mendengar pujian Erin. Apa selama ini Erin memperhatikan Dika? Kenapa Erin bisa tahu seperti apa kepribadian Dika? Padahal setahu Nindi, Dika tak pernah mengobrol dengan Erin, apalagi akrab.
"Kamu lapar? Mau aku siapkan makanan?" Nindi segera mengalihkan pembicaraan. Ia tidak suka wanita lain memuji-muji suaminya, meskipun itu teman dekatnya sekalipun.
"Kalau boleh, aku mau menumpang tidur di sini sebentar saja."
"Boleh. Asal kamu sudah harus bangun sebelum suamiku pulang."
"Tentu."
***
Setelah Erin menyusul anaknya tidur, Nindi termenung di ruang tengah. Televisi di hadapannya menyala, tapi pikirannya berkelana entah ke mana.
Niatnya setelah sesi curhat Erin selesai, Nindi ingin melanjutkan pekerjaan rumahnya yang sempat tertunda. Namun, pengakuan Erin tentang perselingkuhan Ifan sungguh mengganggu pikirannya. Wanita itu menjadi takut kalau Dika tertarik dengan perempuan lain di luar sana.
Tak ingin terus-terusan dihinggapi pikiran buruk, wanita itu bergegas mencari ponselnya dan menelepon Gany, kakak kandungnya yang tinggal di Pulau Kalimantan. Ia akan meminta saran pada kakak laki-lakinya itu.
'Halo, Dek. Ada apa?' Suara di seberang sana terdengar, begitu panggilan Nindi diangkat.
"Bang Gany, ada tetanggaku yang main ke rumah."
'Hm, lalu?'
"Dia bilang suaminya selingkuh," cerita Nindi. “Aku jadi takut Dika melakukan hal yang sama. Menurut Bang Gany aku harus bagaimana?"
Terdengar helaan nafas sebelum laki-laki di ujung telepon sana menjawab, 'Jangan banyak berprasangka buruk, Dek. Dari pada kamu berpikir yang tidak-tidak, lebih baik kamu berikan suamimu perhatian yang banyak. Abang yakin, semua laki-laki suka diperhatikan, apalagi oleh istrinya sendiri.'
"Begitu ya, Bang? Ya sudah, aku mau menghubungi Dika dulu."
‘Oke.'
Panggilan itu Nindi putus.
Tanpa berpikir lama, Nindi mengirim pesan pada Dika.
[Sayang, sudah makan siang?] Nindi mengawalinya dengan basa-basi ringan.
[Jangan makan dekat perempuan lain ya, Sayang.] Nindi membaca ulang pesan keduanya sebelum ia kirim. Apa ia terkesan terlalu cemburuan dan protektif?
Buru-buru Nindi hapus pesan itu dan mengetik kembali.
[Jangan lupa makan siang ya, Sayang. Aku tidak mau kamu sakit karena terlambat makan.] Nindi akhirnya mengirim pesan itu.
Benar kata Gany, ia harus memberikan limpahan perhatian pada Dika. Ia juga tak perlu membuat Dika risi dengan pikiran-pikiran buruknya yang tak berdasar.
Nindi hanya berharap Dika dapat menjaga hati di luar sana.
***
Ruangan besar dengan banyak alat masak yang berjejer rapi itu lengang. Tinggal Dika yang masih berkutat dengan beberapa jenis bahan makanan dan segala tetek bengek alat masaknya.
"Belum pulang, Dik?"
Dika menoleh dan mendapati Bimo—kakak ipar sekaligus pemilik restoran tempatnya bekerja—berdiri di ambang pintu dapur
"Sebentar lagi pulang, Kak," jawabnya. "Ini baru selesai mencoba resep baru."
"Oh ya?" Bimo berjalan ke arah Dika. "Sudah selesai? Boleh aku coba?"
Dika mengangguk dan Bimo mencomot potongan kecil daging bebek yang Dika masak.
"Sebenarnya ini masih butuh saran Nindi. Dia punya selera bagus dalam menilai makanan. Rencananya besok pagi baru mau aku serahkan pada Kak Bimo untuk uji kelayakan."
"Ini sudah enak," kata Bimo memberi komentar. "Tapi kalau kau masih perlu saran Nindi, tidak masalah. Aku justru senang kau selalu melibatkan istrimu dalam pekerjaan."
Dika tersenyum tipis mendengar komentar Bimo.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya, Chef Dika." Bimo tersenyum jahil, menggoda adik iparnya.
Dika mengangguk seraya terkekeh pelan. "Hati-hati, Kak."
Setelah meletakan makanan uji cobanya ke dalam kotak makan, Dika segera mengganti bajunya di ruang ganti.
Ini sudah jam sembilan lebih. Restoran sudah tutup sejak setengah jam lalu. Hampir semua pegawai telah pulang ke rumah masing-masing. Tinggal ia, OB, dan satpam yang berjaga di luar yang tersisa.
Dika memasuki mobilnya dan meletakan punggung di sandaran kursi. Hari ini restoran begitu ramai, membuat ia dan rekan-rekannya harus bekerja ekstra untuk melayani pelanggan. Bahkan mereka yang biasanya memiliki waktu istirahat panjang, harus rela makan siang dengan tergesa agar dapat segera kembali bekerja.
Dika baru ingat, seharian ini ia tak memegang ponsel. Padahal biasanya ia selalu makan siang di temani chat dari istrinya.
Dirogohnya ponsel pada saku jaket dan langsung membuka aplikasi WhatsApp.
Senyum laki-laki itu terbit ketika membaca pesan Nindi tadi siang. Istrinya itu memang selalu perhatian, membuat rasa cinta pada wanita itu kian bertambah setiap harinya.
[Aku akan segera pulang.] Dika mengirim chat pada Nindi.
Seolah tengah menunggu pesan Dika, balasan Nindi datang dengan cepat.
[Hati-hati di jalan.]
[Siap, Sayang. Mau aku bawakan sesuatu?]
[Kamu membawa badan dalam keadaan sehat pun aku sudah senang]
Dika tak dapat menahan senyumnya membaca pesan Nindi. Meskipun wanita itu memiliki sifat pemalu, tapi jika sudah berbalas pesan kata-katanya tak kalah manis dari pujangga.
[Badan yang sehat ditambah hati yang selalu memujamu, bagaimana? Apa aku bisa dapat hadiah?]
Dika tersenyum sendiri membaca tulisannya. Dia selalu merasa menjadi remaja kasmaran ketika dihadapkan dengan Nindi.
[Hadiah bisa diambil ketika kamu sampai rumah. Makanya cepat pulang. Hadiahnya hangus kalau kamu terlambat.]
Dika membalas pesan Nindi untuk yang terakhir. [Siap Ratuku, aku akan segera pulang.]
Dika mengembalikan ponselnya ke saku jaket dan hampir memutar kunci mobil sebelum ponselnya berdering.
Dahinya mengernyit melihat nomor tanpa nama membuat panggilan. Nomor itu adalah nomor yang tadi pagi mengiriminya pesan berisi ucapan terima kasih. Untuk apa perempuan itu menelepon?
"Ada apa?" tanya Dika tanpa basa-basi setelah mengangkat panggilan
'Dika, kamu di mana? Kamu lupa ada janji bertemu denganku?'
Astaga! Dika baru ingat jika kemarin mamanya menyuruh ia menemui wanita yang tengah bicara padanya ini.
"Kamu di mana?" tanya Dika.
'Mona Resto and Caffe, meja nomor 34.'
"Tunggu di sana. Aku segera datang." Dika langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu tanggapan lawan bicaranya.
Dika menyalakan mobil dan melajukan benda itu dengan kecepatan tinggi. Ia harus segera sampai di sana, membahas yang perlu dibahas, kemudian pulang ke rumah dan bertemu Nindi. Ia tak ingin Nindi curiga dan berpikir macam-macam karena ia terlambat sampai di rumah.
***
"Astaga Sayang, kenapa kamu baru sampai? Aku benar-benar khawatir. Kenapa teleponku juga tidak diangkat?"
Dika tersenyum mendapat sambutan dari wanita yang baru saja membukakannya pintu rumah.
"Kamu tidak apa-apa, 'kan? Tidak ada hal buruk yang terjadi, 'kan?" cecar Nindi, memeriksa setiap jengkal badan suaminya.
"Ada," jawab Dika, pura-pura sedih.
"Benarkah? Apa yang terjadi?" Nindi bertanya khawatir.
"Aku merindukanmu."
Nindi memukul dada suaminya dengan geram. Padahal ia sudah sangat khawatir, tapi jawaban Dika justru begitu menyebalkan. Terlebih, ketika melihat wajah laki-laki itu yang seperti menahan tawa, rasa jengkel Nindi semakin menjadi-jadi.
Nindi berbalik badan, hendak meninggalkan Dika. Namun, tangan Dika terlebih dahulu melingkari perut Nindi dari belakang.
"Apa merindukanmu bukan masalah? Padahal aku sangat tersiksa," bisik Dika di sela leher Nindi.
Nindi mencubit lengan Dika, membuat suaminya itu meringis kesakitan, tapi enggan melepaskan pelukannya.
"Sayang, tanganku sakit," rengek Dika, seolah tengah mengadu.
Nindi melepaskan pelukan mereka dan berbalik menatap Dika.
"Kenapa baru pulang?" tanya Nindi ketus.
"Tadi aku bertemu teman lama. Kami mengobrol banyak hal sampai lupa kalau waktu banyak terlewat. Maaf ya, Sayang, aku membuatmu khawatir."
"Teman lama? Siapa? Perempuan?" Nindi mencecar Dika dengan banyak tanya.
Mata Dika memicing dengan senyum menggoda.
"Kamu cemburu?" godanya dengan nada jahil.
"Apa? Tidak, aku tidak cemburu," sangkal Nindi dengan salah tingkah. Wajahnya bahkan memerah karena malu.
"Kamu lucu sekali sih, Sayang. Aku jadi ingin menggigit pipimu." Dika mencubit pipi istrinya yang tembam dengan gemas.
Nindi berusaha keras menyingkirkan jari-jari Dika dari pipinya.
"Aku tidak cemburu!" tegas Nindi setelah berhasil menghempas tangan suaminya. "Dasar menyebalkan! Aku tidak mau membuatkanmu teh hangat, tidak mau menyiapkan keperluan mandimu, apalagi menemanimu makan malam. Siapkan saja semuanya sendiri!" rajuk Nindi dan meninggalkan suaminya dengan langkah yang dientakkan.
Dika tersenyum geli melihat tingkah istrinya. Wanita itu memang tipe yang selalu serius. Ia bisa marah seperti itu ketika dirinya bercanda di waktu yang tidak tepat.
Setelah menutup pintu utama di belakangnya, Dika bergas menyusul Nindi.
"Sayang, kenapa kamu marah? Aku suka kok kalau kamu cemburu. Lucu."
"Andika Mahendra, diam! Aku mau tidur!” jerit Nindi jengkel.
"Jangan tidur dulu, Sayang. Aku lapar. Memangnya kamu tega membiarkan suamimu ini kelaparan? Nanti kalau kadar ketampananku berkurang karena jadi kurus, kamu sendiri yang rugi. Aku juga membawakanmu resep baru. Kau coba ya, setelah itu berikan pendapatmu." Dika mencecar istrinya seraya mengekori langkah panjang wanita itu.
Nindi menghentikan langkahnya dan mendelik ke arah Dika. "Aku tidak mau menjadi tikus percobaanmu lagi!” sentaknya dan kembali meninggalkan Dika.
Dika tersenyum atas apa yang ia lalui detik ini. Dalam hati berharap kebahagiaannya ini akan berlangsung lama. Tak akan goyah meski masa lalu dan orang-orang sekitar menyuruhnya menyerah.
"Sayang, tunggu aku!" Dika mengejar langkah Nindi. Ia yakin, meski tengah jengkel, Nindi tak akan tega membiarkannya menyiapkan keperluannya seorang diri.
Bersambung..





