Minggu-minggu berikutnya berlalu dalam kabut persiapan yang sibuk. Maya Indah Lestari mendapati dirinya terlempar ke dalam pusaran kehidupan yang sama sekali asing. Apartemennya yang nyaman, penuh dengan buku-buku dan naskah-naskah yang belum selesai, kini terasa seperti kenangan jauh. Ia telah pindah ke salah satu sayap rumah Arga Satria Wicaksana, sebuah mansion megah yang lebih menyerupai istana modern di kawasan elit Jakarta Selatan. Rumah itu adalah perpaduan kemewahan minimalis dan teknologi canggih, dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke taman tropis yang terawat sempurna dan kolam renang yang berkilauan.
Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di sana, Maya tahu bahwa ia harus beradaptasi dengan cepat. Para staf rumah tangga, mulai dari kepala pelayan hingga tukang kebun, semuanya tampaknya tahu siapa dirinya dan apa perannya-atau setidaknya, apa peran yang mereka kira ia mainkan. Arga telah memastikan bahwa kabar tentang pertunangan mereka telah menyebar di kalangan internal, disusul dengan pengumuman resmi yang singkat namun padat di media massa nasional, yang langsung menjadi sorotan utama di kolom gosip dan berita bisnis. "Pewaris Wijaya Group, Arga Satria Wicaksana, Akan Menikah dengan Penulis Muda Berbakat, Maya Indah Lestari." Begitu bunyi salah satu tajuk berita, disertai foto mereka berdua yang diambil saat pertemuan terakhir di kantor pengacara. Dalam foto itu, Maya terlihat tenang, sedangkan Arga tampak... entah, lelah sekaligus penuh perhitungan.
Pengumuman itu memicu kehebohan. Banyak yang bertanya-tanya siapa Maya, mengapa Arga yang tertutup itu tiba-tiba memutuskan menikah, dan yang paling sering disebut-sebut, "Apakah ini pernikahan karena cinta atau hanya perjodohan bisnis?" Maya harus menghadapi gelombang pertanyaan dari kerabat jauh dan teman-teman lama yang ingin tahu. Ia berlatih menjawab, mengulang frasa yang Adrian berikan kepadanya: "Kami bertemu secara tidak sengaja, kami menemukan banyak kesamaan, dan kami memutuskan untuk membangun masa depan bersama." Senyumnya harus terlihat alami, matanya harus memancarkan kebahagiaan palsu. Ini adalah akting terbesar dalam hidupnya, dan panggungnya adalah seluruh dunia Arga.
Sejak awal, Arga dan Maya menyepakati sebuah rutinitas. Mereka akan makan malam bersama setidaknya empat kali seminggu, berlatih interaksi publik, dan Arga akan memberikan pengarahan singkat tentang hal-hal yang perlu Maya ketahui tentang Wijaya Group, keluarga Wicaksana, dan lingkaran sosial mereka. Arga, meskipun sakit, masih memegang kendali penuh atas perusahaannya. Ia memiliki kantor pribadi di lantai atas mansion, lengkap dengan layar-layar besar yang menampilkan data keuangan dan grafik kompleks. Maya sering melihatnya di sana, duduk di kursi roda, wajahnya pucat namun matanya tetap tajam dan penuh perhitungan.
Penyakit Arga adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Ada hari-hari di mana ia terlihat relatif bugar, mampu berjalan dengan bantuan tongkat, bahkan sesekali tersenyum tipis. Namun, ada lebih banyak hari di mana ia terpuruk dalam rasa sakit. Demam tinggi akan datang tiba-tiba, nyeri di persendiannya akan membuatnya tidak bisa bergerak, dan ia akan menghabiskan waktu berjam-jam terbaring di tempat tidur, terhubung dengan monitor dan selang infus. Pada saat-saat seperti itu, Maya akan berada di sisinya, membaca buku atau artikel untuknya, menyiapkan makanan lembut yang bisa ia telan, atau sekadar duduk diam, memberikan kehadiran yang menenangkan.
"Kau tidak harus melakukan ini," Arga pernah berbisik suatu malam, ketika Maya dengan sabar mengompres dahinya yang panas. Suaranya serak karena demam.
Maya hanya menatapnya. "Ini bagian dari kesepakatan, Tuan Arga. Saya seorang profesional."
Arga menutup matanya. "Aku tahu. Tapi... terima kasih."
Kata-kata "terima kasih" itu terasa aneh di telinga Maya. Sejak awal, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melibatkan emosi. Ia adalah seorang pekerja kontrak, dibayar mahal untuk sebuah peran. Simpati adalah kemewahan yang tidak bisa ia bayar. Namun, melihat Arga dalam kondisi terlemahnya, begitu rentan, begitu berbeda dari citra 'Pangeran Es' yang terkenal, memunculkan sedikit rasa iba yang sulit ia tepis.
Profesor Wijaya sering datang berkunjung, memantau kondisi Arga dan memberikan instruksi kepada Maya. Ia meminta Maya untuk mencatat setiap perubahan kecil pada kondisi Arga, mulai dari pola tidur hingga nafsu makan. "Interaksi positif, kehadiran yang menenangkan, dan lingkungan yang stabil adalah faktor penting, Maya," Profesor Wijaya pernah menekankan. "Otak dan tubuh saling terkait erat. Stress bisa memperparah kondisinya."
Maya berusaha memenuhi instruksi itu. Ia menjaga suasana di rumah tetap tenang, berbicara dengan nada lembut, dan memastikan Arga merasa nyaman. Ia mempelajari kebiasaan Arga, kebutuhannya, dan bahkan hal-hal kecil yang bisa membuatnya merasa sedikit lebih baik. Ia menemukan bahwa Arga menyukai musik klasik yang dimainkan dengan volume rendah, bahwa ia lebih suka teh herbal daripada kopi di pagi hari, dan bahwa ia memiliki kecenderungan untuk tersenyum kecil ketika ia membaca cerita-cerita humor dari koran.
Satu hal yang paling menantang adalah berinteraksi dengan keluarga Arga. Nyonya Arini Wicaksana, ibu Arga, adalah seorang wanita elegan dan berkuasa yang tidak menyembunyikan rasa tidak percayanya pada Maya. Ia adalah sosok yang dingin dan sulit didekati, selalu mengamati Maya dengan tatapan curiga. Ia tahu bahwa Arga menikah bukan karena cinta, dan ia tidak menyetujui "ide gila" putranya itu.
"Jadi, Anda yang bertanggung jawab atas kesehatan putra saya sekarang?" Nyonya Arini pernah bertanya dengan nada tajam saat makan malam keluarga, hari di mana Arga kebetulan sedang demam dan tidak bisa bergabung.
Maya membalas tatapan itu dengan tenang. "Saya akan melakukan yang terbaik untuk mendukung Tuan Arga, Nyonya."
"Saya harap begitu," sahut Nyonya Arini, mencicipi supnya. "Karena jika terjadi sesuatu padanya, Anda adalah orang pertama yang akan saya salahkan."
Kakak perempuan Arga, Dian Wicaksana, adalah kebalikan dari ibunya. Dian adalah wanita muda yang ceria dan ramah, seringkali menjadi jembatan antara Maya dan keluarganya yang lain. Dian tampaknya tulus menyukai Maya, dan seringkali mengundang Maya untuk sekadar mengobrol atau menemaninya berbelanja. Maya tahu bahwa ia harus memanfaatkan Dian untuk menciptakan kesan positif di mata keluarga, meskipun ia tahu bahwa pernikahan ini adalah sandiwara.
"Arga terlihat lebih baik sejak kau datang, Maya," kata Dian suatu hari, saat mereka sedang memilih gaun pengantin untuk Maya. "Maksudku, dia masih sakit, tapi ada sesuatu yang berbeda. Dia tidak lagi sekesepian dulu."
Kata-kata itu membuat Maya terdiam. Benarkah? Ia tidak pernah memikirkan hal itu. Ia hanya menjalankan perannya. Ia tidak pernah berpikir bahwa kehadirannya, meskipun palsu, bisa membawa perubahan nyata pada Arga.
Pernikahan itu akhirnya tiba, sebulan setelah Maya pindah ke mansion. Sebuah upacara privat yang mewah namun sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan kolega bisnis penting. Media hanya diizinkan mengambil beberapa foto dari jauh. Maya mengenakan gaun pengantin putih yang dirancang khusus, elegan dan bersahaja. Arga, yang kebetulan sedang dalam kondisi yang cukup baik hari itu, mengenakan setelan jas hitam yang pas, dan berdiri di samping Maya di altar. Ia terlihat pucat, namun tatapannya tegas.
Ketika pendeta mengucapkan janji pernikahan, Maya mengucapkan kata-kata itu tanpa emosi. Ia berjanji akan mencintai Arga, menghormatinya, dan bersamanya dalam suka maupun duka. Kata-kata itu terasa kosong, hampa. Ia adalah seorang aktris yang memainkan perannya dengan sempurna. Arga juga mengucapkan janji yang sama, suaranya mantap, seolah-olah ia tidak merasakan kepalsuan di balik setiap kata.
Cincin emas putih melingkar di jari manis Maya, cincin dengan ukiran yang halus. Cincin itu terasa dingin, berat, seperti belenggu emas. Mereka bertukar ciuman, ciuman singkat dan formal di depan para tamu. Bibir Arga dingin, dan Maya bisa merasakan sedikit getaran di tangannya saat Arga menggenggamnya. Ini adalah permulaan dari kehidupan barunya, kehidupan sebagai istri bayaran.
Malam pertama mereka sebagai suami istri, Maya tidak mengharapkan apa pun. Ia tahu bahwa Arga tidak akan pernah memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan. Mereka tidur di kamar yang terpisah di sayap yang sama. Maya memiliki kamarnya sendiri yang luas, dengan kamar mandi pribadi dan ruang kerja kecil yang bisa ia gunakan untuk menulis. Arga memiliki kamarnya sendiri yang dirancang khusus untuk kenyamanannya, dengan peralatan medis yang terintegrasi.
Malam itu, setelah semua tamu pergi dan rumah kembali sunyi, Maya pergi ke kamar Arga. Ia membawa segelas air dan obat-obatan yang harus Arga minum. Arga sudah berada di tempat tidur, membaca sebuah buku.
"Ini obat Anda, Tuan Arga," kata Maya, menyerahkan gelas dan obat-obatan.
Arga mengambilnya, menelannya, lalu menatap Maya. "Kau terlihat... cantik hari ini, Maya. Gaun itu cocok sekali untukmu."
Pujian itu mengejutkan Maya. Arga tidak pernah memujinya sebelumnya. Ia selalu bersikap lugas dan bisnis. "Terima kasih," jawab Maya, sedikit canggung.
"Apakah kau... baik-baik saja?" tanya Arga, matanya menatap Maya dengan intens. "Maksudku, dengan semua ini?"
Maya mengangguk. "Saya baik-baik saja. Ini adalah bagian dari kesepakatan."
Arga menghela napas. "Aku tahu. Tapi... aku tidak ingin kau merasa terjebak."
"Saya tidak merasa terjebak," Maya membalas, sedikit terlalu cepat. "Saya membuat keputusan ini dengan mata terbuka. Saya tahu apa yang saya lakukan."
Ada keheningan di antara mereka. Arga memejamkan mata sejenak, lalu membukanya lagi. "Aku harap kau bisa... menemukan kenyamanan di sini. Ini sekarang juga rumahmu."
Maya hanya mengangguk. Hatinya sedikit berdenyut. Ia tahu bahwa ia harus menjaga dinding yang tinggi di antara mereka. Ia tidak bisa membiarkan dirinya merasa terlalu nyaman, atau terlalu terlibat. Ini adalah pekerjaan. Tidak lebih dari itu.
Minggu-minggu berubah menjadi bulan. Maya menemukan rutinitasnya. Pagi hari, setelah memastikan Arga sarapan dan minum obat, ia akan menghabiskan waktu di ruang kerjanya, mencoba menulis, meskipun inspirasi seringkali enggan datang. Siang hari, ia akan membaca atau melakukan pekerjaan rumah tangga ringan, berbicara dengan para staf, atau kadang-kadang pergi ke perpustakaan atau galeri seni sendirian. Sore hari, ia akan menemani Arga, entah itu membaca untuknya, menemaninya menonton film, atau sekadar duduk di sampingnya saat Arga bekerja.
Malam hari adalah waktu paling krusial. Mereka seringkali makan malam bersama, dan Maya harus berperan sebagai nyonya rumah yang sempurna, terutama jika ada tamu. Ia belajar nama-nama penting di dunia bisnis, etiket makan yang rumit, dan bagaimana bersikap luwes dalam percakapan yang dangkal. Arga selalu ada di sampingnya, membimbingnya dengan tatapan atau isyarat halus jika Maya melakukan kesalahan.
Arga sendiri adalah sosok yang kompleks. Ia bisa menjadi sangat dingin dan jauh, terutama saat ia sedang merasa tidak enak badan. Namun, di saat-saat tertentu, ia akan menunjukkan sisi dirinya yang berbeda-sebuah humor gelap, sebuah senyuman tipis yang hanya terlihat oleh Maya, atau sebuah percakapan yang surprisingly insightful tentang sastra atau filosofi. Maya menemukan bahwa Arga adalah pembaca yang sangat luas, dengan pengetahuan yang mendalam tentang berbagai topik.
Suatu malam, saat Arga sedang merasa sedikit lebih baik, mereka duduk di perpustakaan besar Arga, dikelilingi oleh ribuan buku. Maya sedang membaca sebuah novel, dan Arga sedang membaca buku sejarah.
"Apa yang kau baca?" tanya Arga, tanpa mengangkat pandangannya dari bukunya.
"Sebuah novel roman," jawab Maya. "Klise, tapi kadang menyenangkan untuk melarikan diri."
Arga tertawa kecil. "Aku lebih suka sejarah. Realitas, betapapun brutalnya, selalu lebih menarik daripada fiksi yang direkayasa."
"Tapi fiksi bisa memberikan harapan, Tuan Arga," kata Maya. "Bisa menunjukkan bahwa dunia bisa jadi tempat yang lebih baik, atau bahwa kebahagiaan itu mungkin, bahkan di tengah kesulitan."
Arga menutup bukunya dan menatap Maya. "Dan apakah kau percaya pada harapan seperti itu, Maya?"
Maya merasakan tatapan Arga yang menembus, seolah mencoba membaca pikirannya. "Saya percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkannya," jawab Maya hati-hati. "Termasuk Anda."
Ada keheningan lagi. Arga hanya menatapnya, ekspresinya tidak terbaca. Maya merasa sedikit tidak nyaman. Ia telah melanggar batas, memberikan sedikit terlalu banyak dari dirinya.
Namun, perlahan tapi pasti, batas-batas itu mulai kabur. Tanpa disadari, Maya mulai melihat Arga bukan hanya sebagai "pasiennya" atau "majikannya", tetapi sebagai seorang pria. Seorang pria yang menderita, yang kesepian, dan yang diasingkan oleh penyakitnya. Ia melihat perjuangan di matanya, kekuatan di balik ketenangan palsunya.
Suatu hari, Arga mengalami serangan yang sangat parah. Demamnya mencapai puncaknya, tubuhnya gemetar tak terkendali, dan ia muntah-muntah. Profesor Wijaya datang dengan cepat, dan Maya membantu staf medis. Ia memegangi tangan Arga, merasakan tubuh Arga yang terbakar demam. Ia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak merasakan kepedihan melihat Arga kesakitan.
"Tahan, Tuan Arga," bisik Maya, mencoba memberikan kekuatan yang ia sendiri tidak yakin miliki.
Arga meremas tangan Maya dengan kekuatan yang mengejutkan, matanya memerah karena rasa sakit. "Maya..." desahnya, suaranya begitu lemah.
Malam itu, Maya tidak bisa tidur. Ia duduk di samping tempat tidur Arga, memegang tangannya, mengawasinya. Ia tahu bahwa ini adalah bagian dari kesepakatan, ya. Tapi ini juga lebih dari itu. Ini adalah ikatan yang terbentuk dari kerapuhan dan keputusasaan.
Keesokan harinya, Arga sedikit pulih. Ia terlihat sangat lelah, namun demamnya sudah turun. Ia membuka matanya dan melihat Maya duduk di sampingnya.
"Kau... tidak tidur?" tanya Arga, suaranya masih serak.
"Saya mengawasi Anda," jawab Maya.
Arga tersenyum tipis. Senyuman itu tulus, dan itu membuat hati Maya berdesir aneh. "Terima kasih, Maya."
Kali ini, Maya tidak hanya mengatakan "sama-sama." Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih dari sekadar akting.
Hubungan mereka mulai bergeser. Percakapan mereka menjadi lebih pribadi, lebih terbuka. Arga mulai menceritakan sedikit tentang masa kecilnya, tentang mimpinya yang hancur karena penyakitnya, tentang rasa takutnya akan masa depan. Maya, pada gilirannya, mulai menceritakan tentang keluarganya, tentang mimpinya menjadi seorang penulis, dan tentang perjuangannya setelah ayahnya meninggal.
Mereka masih menjaga batasan, tentu saja. Tidak ada sentuhan yang tidak perlu, tidak ada kata-kata romantis. Ini masih sebuah transaksi, sebuah kesepakatan bisnis. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang tumbuh. Sebuah rasa hormat, sebuah pengertian, dan mungkin, sebuah ikatan yang lebih dalam dari yang mereka bayangkan.
Suatu malam, Arga meminta Maya untuk membacakan salah satu tulisan pendeknya. Maya ragu pada awalnya, tetapi Arga bersikeras. Ia membaca sebuah cerpen tentang seorang wanita muda yang berjuang melawan takdir, menemukan kekuatan di dalam dirinya sendiri. Ketika Maya selesai, Arga terdiam sejenak.
"Kau punya bakat, Maya," kata Arga akhirnya, suaranya tulus. "Kenapa kau tidak melanjutkan menulis?"
"Terlalu banyak yang harus saya pikirkan, Tuan Arga," jawab Maya, menghindari tatapannya. "Uang, keluarga, dan... ini." Ia mengisyaratkan keberadaannya di mansion itu.
Arga mengangguk. "Aku mengerti. Tapi jangan pernah berhenti pada mimpimu. Hidup ini terlalu singkat untuk tidak melakukan apa yang kita cintai."
Kata-kata itu menghantam Maya. Dari seorang pria yang hidupnya sendiri telah dirampas oleh penyakit, kata-kata itu terasa sangat kuat.
Ada saat-saat di mana Maya merasa ia telah melewati batas yang ia tetapkan untuk dirinya sendiri. Ia mulai memikirkan Arga lebih dari sekadar "klien". Ia mulai khawatir tentang Arga, tidak hanya karena itu adalah bagian dari pekerjaannya, tetapi karena ia benar-benar peduli. Rasa iba telah berubah menjadi sesuatu yang lebih kompleks, sesuatu yang mengkhawatirkan.
Profesor Wijaya mulai mencatat perubahan pada Arga. Kondisinya masih fluktuatif, namun frekuensi serangan parahnya berkurang. Arga tampak lebih bersemangat, lebih tenang.
"Ada peningkatan yang signifikan dalam suasana hati dan stabilitas emosionalnya, Arga," kata Profesor Wijaya suatu pagi. "Apakah ada yang berubah?"
Arga menatap Maya, yang sedang menuangkan teh untuknya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. "Mungkin saja, Profesor. Mungkin saja."
Maya merasakan tatapan Arga. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tahu bahwa ia tidak boleh jatuh. Ia tidak boleh melupakan mengapa ia ada di sana. Ini adalah pekerjaan, kesepakatan, transaksi. Bukan cinta. Bukan kebahagiaan yang sejati.
Namun, setiap hari, Arga dan Maya semakin dekat. Mereka mulai berbagi tawa, berbagi cerita, berbagi keheningan yang nyaman. Mereka mulai melihat satu sama lain bukan hanya sebagai peran yang mereka mainkan, tetapi sebagai individu yang kompleks dengan sejarah, impian, dan rasa sakit mereka sendiri.
Suatu malam, mereka sedang duduk di teras belakang, memandang bintang-bintang. Arga, yang kebetulan sedang tidak menggunakan kursi roda dan duduk di kursi santai, memandang ke atas.
"Aku selalu ingin melihat aurora borealis," kata Arga, suaranya pelan. "Melihat langit menari dengan warna-warni yang luar biasa."
"Saya juga," jawab Maya. "Saya selalu ingin pergi ke Islandia atau Norwegia untuk melihatnya."
"Jika aku sembuh," kata Arga, menoleh ke arah Maya, matanya berkilauan oleh pantulan cahaya bintang, "aku akan membawamu ke sana, Maya. Aku akan membayarmu, sebagai bagian dari kontrak kita, untuk pergi melihat aurora borealis."
Maya menatap Arga. Kata-kata itu, meskipun terdengar seperti kelanjutan dari "kesepakatan", memiliki makna yang lebih dalam. Ada janji di dalamnya. Ada harapan.
"Kita lihat saja nanti, Tuan Arga," kata Maya, mencoba menjaga suaranya tetap netral. Namun, di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang asing, sesuatu yang hangat dan menakutkan. Ia tahu bahwa ia berada di ambang sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang bisa menghancurkan dinding yang telah ia bangun dengan begitu hati-hati.





