Jangan Jatuh Cinta, Ini Hanya Kontrak

Waktu terus bergulir, membawa Arga dan Maya lebih dalam ke dalam pusaran kehidupan pernikahan kontrak mereka. Bulan-bulan berlalu, diwarnai oleh naik turunnya kondisi Arga, rapat-rapat penting perusahaan yang harus mereka hadiri bersama, dan interaksi yang semakin intensif di antara mereka. Arga, yang dulu begitu dingin dan acuh tak acuh, kini mulai menunjukkan sisi dirinya yang lebih rentan dan manusiawi di hadapan Maya. Sementara itu, Maya, yang awalnya hanya berniat menjalankan perannya secara profesional, mendapati dirinya semakin sulit mempertahankan dinding emosional yang telah ia bangun.

Penyakit Arga adalah pengingat konstan akan kerapuhan kehidupan mereka berdua. Ada hari-hari di mana Arga hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur, demam tinggi membakar tubuhnya, dan nyeri tak tertahankan menggerogoti setiap sendinya. Pada saat-saat seperti itu, Maya menjadi perawat pribadinya yang paling setia. Ia duduk di sisi ranjang Arga, menyeka keringat dingin di dahi pria itu, memberikan obat-obatan sesuai jadwal, dan membisikkan kata-kata penenang yang entah mengapa terasa begitu alami keluar dari bibirnya. Ia bahkan belajar cara memasang infus dan memantau detak jantung Arga dengan alat-alat portabel yang disediakan Profesor Wijaya.

Suatu malam yang dingin, Arga mengalami serangan yang sangat parah. Tubuhnya gemetar tak terkendali, dan ia terus-menerus muntah. Maya segera memanggil Profesor Wijaya dan Adrian, yang datang dalam waktu singkat. Profesor Wijaya terlihat cemas.

"Tubuhnya tidak merespons obat dengan baik," ujar Profesor Wijaya, alisnya berkerut. "Kita harus membawanya ke rumah sakit."

Maya membantu para perawat memindahkan Arga ke brankar. Ia memegang erat tangan Arga, yang terasa dingin namun gemetar hebat. Arga menatap Maya, matanya memancarkan rasa takut dan putus asa.

"Ma-Maya..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.

"Saya di sini, Tuan Arga," jawab Maya, mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. "Saya akan selalu di sini."

Di rumah sakit, Arga segera mendapatkan perawatan intensif. Maya menunggu di luar ruang ICU, ditemani Adrian dan Nyonya Arini yang tampak sangat khawatir. Nyonya Arini masih dingin kepadanya, namun ada sedikit retakan dalam sikapnya yang beku. "Bagaimana dia bisa tiba-tiba seburuk ini?" tanyanya dengan suara serak, lebih kepada dirinya sendiri.

Maya hanya bisa menggeleng. Ia juga tidak tahu. Ia hanya bisa berdoa dalam hati agar Arga bisa melewati masa kritis ini.

Dua hari kemudian, Arga mulai stabil. Ia masih lemah, namun bahaya terbesar telah berlalu. Ketika Maya masuk ke ruang rawat inapnya, Arga tersenyum tipis. Senyum itu, meskipun lemah, terasa sangat nyata.

"Terima kasih, Maya," kata Arga, suaranya masih parau. "Kau... tidak pergi."

Maya duduk di sampingnya, memegang tangannya. "Saya tidak akan pernah pergi, Tuan Arga. Saya sudah berjanji."

Kata-kata "saya sudah berjanji" itu diucapkan dengan ketulusan yang mengejutkan Maya sendiri. Itu bukan lagi sekadar klausul kontrak. Itu adalah janji dari hati ke hati.

Selama Arga di rumah sakit, Maya menjadi bayangannya. Ia tidak meninggalkan sisi Arga, kecuali untuk mandi atau berganti pakaian. Ia membaca buku untuk Arga, menceritakan berita-berita ringan, dan sekadar menemaninya dalam keheningan yang nyaman. Adrian dan Profesor Wijaya sering melihat interaksi mereka, dan ada tatapan penuh arti yang saling mereka tukarkan.

"Maya punya efek positif padamu, Arga," kata Adrian suatu hari, saat Maya sedang mengambil minum. "Kau terlihat lebih tenang saat ada dia."

Arga hanya tersenyum samar. "Dia memang profesional yang sangat baik."

Namun, di dalam hatinya, Arga tahu bahwa itu lebih dari sekadar profesionalisme. Ada kehangatan dalam kehadiran Maya, sebuah ketenangan yang tak bisa ia temukan di tempat lain. Maya tidak menunjukkan rasa iba yang berlebihan, tidak pula ketakutan. Ia hanya ada, mendukung, tanpa menghakimi. Itu adalah sesuatu yang Arga rindukan seumur hidupnya.

Setelah Arga keluar dari rumah sakit, ia menjadi sedikit lebih terbuka. Ia mulai berbagi pemikiran yang lebih dalam dengan Maya, tentang impiannya untuk membangun yayasan amal bagi anak-anak dengan penyakit langka, tentang penyesalannya karena tidak bisa menjalani hidup seperti orang normal. Maya mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali memberikan masukan atau sekadar mengangguk.

Mereka mulai sering menghabiskan malam di perpustakaan besar, Arga di kursi rodanya dan Maya di sofa empuk. Mereka akan berbicara berjam-jam, dari topik sastra hingga politik, dari kisah masa kecil hingga ketakutan akan masa depan. Maya menemukan bahwa Arga memiliki pikiran yang brilian dan humor yang cerdas, yang seringkali tersembunyi di balik fasadnya yang dingin.

Suatu malam, Arga memegang sebuah buku tua, sampulnya lusuh dan halamannya menguning. "Ini adalah buku favorit ibuku," katanya, suaranya lembut. "Dia selalu membacakannya untukku saat aku masih kecil."

"Buku apa?" tanya Maya, mendekat.

"Kumpulan dongeng lama," jawab Arga, tersenyum kecil. "Dongeng tentang pahlawan yang melawan naga, putri yang diselamatkan dari menara tinggi. Klise, tapi aku menyukainya."

Maya mengambil buku itu dari tangan Arga. "Apakah Anda ingin saya membacakan salah satunya?"

Arga menatapnya, matanya sedikit ragu. "Kau tidak perlu melakukan itu, Maya."

"Saya ingin," jawab Maya tulus. Ia membuka halaman secara acak dan mulai membaca, suaranya lembut dan menenangkan. Ia membaca sebuah dongeng tentang seorang ksatria yang mencari bunga langka untuk menyembuhkan ratunya. Saat ia membaca, ia bisa merasakan Arga bersandar, matanya terpejam, menikmati suaranya.

Ketika ia selesai, Arga membuka matanya. "Suaramu menenangkan," katanya, ada senyum tulus di wajahnya. "Terima kasih."

Malam-malam seperti itu menjadi semakin sering. Maya akan membaca untuk Arga, bukan hanya dongeng, tetapi juga novel, puisi, atau artikel yang Arga minati. Ada keintiman yang tumbuh di antara mereka, keintiman yang bukan fisik, tetapi emosional. Sebuah ikatan yang terbentuk dari rasa percaya dan saling pengertian.

Namun, di balik semua itu, Maya tetap sadar akan kenyataan. Ia adalah istri bayaran. Ia adalah solusi untuk masalah Arga. Ia tidak boleh melupakan hal itu. Ia harus menjaga jarak, melindungi hatinya dari perasaan yang mungkin akan muncul. Terkadang, ia akan kembali ke kamarnya sendiri setelah malam yang dihabiskan bersama Arga, dan ia akan duduk diam di kegelapan, merenungkan perasaannya sendiri yang semakin rumit.

Ia merindukan kehidupannya yang dulu, kehidupan yang sederhana, kehidupan di mana ia bisa menulis tanpa batasan, kehidupan di mana ia tidak harus berpura-pura. Namun, uang dari Arga telah menyelesaikan semua masalah keluarganya. Hutang-hutang lunas, adik-adiknya bisa melanjutkan sekolah, dan ibunya mulai pulih dari depresinya. Maya telah menyelamatkan keluarganya. Tapi dengan harga apa? Dengan mengorbankan hatinya sendiri?

Suatu hari, ketika Arga merasa cukup kuat, mereka pergi ke sebuah acara amal penting yang diselenggarakan oleh Wijaya Group. Arga mengenakan setelan jas mewah, dan Maya mengenakan gaun malam yang elegan. Mereka berjalan beriringan, tangan Arga menggenggam tangan Maya. Arga memperkenalkan Maya sebagai istrinya, dan Maya tersenyum, menyapa para tamu dengan sopan.

Di mata publik, mereka adalah pasangan yang sempurna. Pasangan muda yang kaya, berkuasa, dan tampak saling mencintai. Tidak ada yang tahu kebenaran di balik senyuman mereka, di balik genggaman tangan mereka.

Di tengah acara, Arga mulai merasakan tubuhnya melemah. Ia menarik Maya ke sudut ruangan yang lebih sepi. "Aku... tidak enak badan," bisiknya, wajahnya memucat.

Maya segera merespons. "Kita kembali saja, Tuan Arga."

"Tidak," kata Arga, menahan rasa sakit. "Ini penting. Aku harus tetap di sini."

Maya melihat betapa kerasnya Arga berusaha. Ia melihat perjuangan di matanya. Ia tidak bisa membiarkan Arga runtuh di acara penting seperti ini. Ia memegang tangan Arga lebih erat.

"Kita bisa melakukan ini, Tuan Arga," kata Maya, menatapnya lurus. "Kita adalah sebuah tim, ingat?"

Arga membalas tatapannya. Ada sedikit senyum di wajahnya. "Ya, kita adalah tim."

Mereka bertahan selama sisa acara, meskipun Arga harus bersandar pada Maya sesekali, dan Maya harus membantunya berjalan perlahan. Di mata orang lain, itu adalah tanda keintiman dan kasih sayang. Hanya mereka berdua yang tahu itu adalah perjuangan keras.

Ketika mereka akhirnya kembali ke mansion, Arga langsung kolaps. Demamnya tinggi, dan ia langsung dilarikan ke kamarnya. Maya kembali merawatnya sepanjang malam, memberikan kompres dingin, memberikan obat-obatan.

Pagi harinya, Arga terbangun dan melihat Maya tidur pulas di kursi samping tempat tidurnya, kepalanya terkulai ke samping. Ia tampak begitu lelah, namun ada ketenangan di wajahnya. Arga merentangkan tangannya perlahan, menyentuh pipi Maya. Sentuhan itu sangat lembut, seolah ia takut akan memecahkan sesuatu yang rapuh. Maya menggeliat, membuka matanya perlahan.

"Tuan Arga?" tanyanya, suaranya mengantuk.

Arga tersenyum. "Maaf, aku membangunkanmu."

Maya duduk tegak, mengusap matanya. "Bagaimana perasaan Anda?"

"Lebih baik," jawab Arga. Ia masih memegang tangan Maya. "Terima kasih, Maya. Kau selalu ada untukku."

Maya menatap tangannya yang digenggam Arga. Ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tidak bisa lagi menyangkalnya. Ia mulai memiliki perasaan untuk Arga. Perasaan yang berbahaya, yang tidak seharusnya ada.

"Ini tugasku," bisik Maya, mencoba kembali ke zona aman.

"Tidak, Maya," kata Arga, suaranya tegas. "Ini lebih dari itu. Kau tidak harus melakukan semua ini. Kau bisa saja hanya melakukan yang minimal dan tetap mendapatkan uangmu. Tapi kau tidak melakukannya. Kau... kau sangat peduli."

Maya mengangkat kepalanya, menatap mata Arga. Mata itu, yang biasanya tertutup oleh lapisan es, kini terlihat begitu dalam dan tulus. Ia melihat refleksi dirinya di mata Arga, refleksi seorang wanita yang telah kehilangan kendali atas perasaannya sendiri.

"Saya..." Maya mencoba menemukan kata-kata, namun tidak ada yang keluar. Hatinya berdebar kencang.

"Aku tidak tahu apa ini," Arga melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tapi... aku merasakan sesuatu saat bersamamu, Maya. Sesuatu yang belum pernah kurasakan dengan siapapun. Aku merasa... nyaman. Aku merasa... tidak sendiri."

Pengakuan itu menghantam Maya seperti gelombang. Ia tidak menyangka Arga akan mengakui perasaannya, atau setidaknya, perasaannya yang rumit. Dinding yang telah ia bangun dengan susah payah selama berbulan-bulan, kini retak.

"Tuan Arga," Maya memulai, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Ini... kita harus ingat, ini adalah kesepakatan."

Arga menghela napas. "Aku tahu itu. Aku tahu semuanya tertulis dalam kontrak. Tapi bagaimana jika... bagaimana jika ada lebih dari itu?" Ia menatap Maya dengan tatapan memohon. "Bagaimana jika perasaanku... nyata?"

Maya terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak boleh mengakui perasaannya sendiri. Ia tidak boleh merusak kesepakatan ini. Ini adalah tentang kesembuhan Arga, bukan tentang romansa yang rumit.

"Ini berbahaya, Tuan Arga," kata Maya, suaranya rendah. "Kita tidak boleh melampaui batas."

"Kenapa tidak?" tanya Arga, nada suaranya sedikit menantang. "Karena kita tidak seharusnya merasa seperti ini? Karena ini adalah pernikahan kontrak? Tapi... hatiku tidak membaca kontrak, Maya."

Kata-kata itu membuat Maya terkejut. Hatinya juga tidak membaca kontrak. Ia telah jatuh cinta pada Arga. Ia jatuh cinta pada pria yang sakit-sakitan ini, pria yang kesepian ini, pria yang memiliki jiwa yang begitu dalam di balik penampilannya yang dingin.

Namun, ia juga tahu risikonya. Jika ia mengakui perasaannya, semuanya bisa menjadi sangat rumit. Bagaimana jika Arga tidak sembuh? Bagaimana jika ia harus menyaksikan Arga pergi? Ia tidak bisa membayangkan rasa sakit itu.

Maya melepaskan tangannya dari genggaman Arga. Ia berdiri, menjauhi tempat tidur. "Saya harus... saya harus memeriksa jadwal Anda, Tuan Arga."

Arga menghela napas panjang, ekspresi kecewa terlihat jelas di wajahnya. "Maya, kumohon. Jangan lari."

"Saya tidak lari," jawab Maya, suaranya bergetar. "Saya hanya... saya perlu waktu."

Ia bergegas keluar dari kamar Arga, meninggalkan pria itu sendirian dengan pikirannya. Di kamarnya sendiri, Maya bersandar di pintu, dadanya naik turun dengan cepat. Ia telah jatuh cinta. Dan itu adalah hal yang paling menakutkan yang pernah terjadi padanya.

Ia tahu bahwa ia harus kembali ke Arga, ia harus menghadapi perasaannya. Tapi ia tidak tahu bagaimana. Ia telah mengkhianati dirinya sendiri, janji yang ia buat untuk tidak pernah melibatkan emosi. Sekarang, ia harus menghadapi konsekuensinya.

Malam itu, mereka makan malam dalam keheningan yang tegang. Arga sesekali melirik Maya, mencoba membaca ekspresinya. Maya hanya fokus pada makanannya, menghindari tatapan Arga. Dinding yang telah retak kini terasa lebih rapuh dari sebelumnya.

Keesokan harinya, Adrian datang berkunjung, membawa kabar baik. "Arga, Profesor Wijaya menelepon. Hasil tes darahmu menunjukkan peningkatan yang signifikan! Kekebalan tubuhmu menunjukkan tanda-tanda positif. Ada kemungkinan... ada kemungkinan kau akan pulih!"

Kabar itu seperti petir di siang bolong. Arga dan Maya saling pandang. Ada kegembiraan, ada harapan, tetapi juga ketakutan.

"Benarkah, Adrian?" tanya Arga, suaranya penuh harap.

"Benar!" Adrian tersenyum lebar. "Profesor Wijaya bilang ini adalah keajaiban. Dia bilang perubahan hormon dan stabilitas emosional yang kau dapatkan dari pernikahan ini mungkin benar-benar memicu 'reset' pada sistem imunmu!"

Maya merasakan jantungnya berdetak kencang. Mungkinkah? Mungkinkah semua ini benar-benar berhasil? Penyakit Arga bisa sembuh?

Tapi jika Arga sembuh... artinya, pernikahan kontrak ini akan berakhir.

Arga menatap Maya, matanya berkaca-kaca. Ada kelegaan dan kebahagiaan yang luar biasa di sana. "Kita... kita berhasil, Maya," bisiknya. "Kau berhasil."

Maya hanya bisa mengangguk, menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Ia merasakan kebahagiaan yang tulus untuk Arga, kelegaan yang mendalam karena pria itu akan sembuh. Namun, di saat yang sama, ia merasakan sebuah rasa sakit yang tajam di hatinya.

Jika Arga sembuh, ia akan kehilangan dia. Kontrak itu akan berakhir. Dan ia akan kembali ke kehidupannya yang dulu, tanpa Arga. Ini adalah harga dari kesembuhan Arga, dan Maya tidak yakin apakah ia siap membayarnya.

Dinding di hatinya kini bukan hanya retak, tapi hancur berkeping-keping. Ia telah jatuh cinta pada seorang pria yang ia bayar untuk dinikahi, dan sekarang, ia harus bersiap untuk kehilangannya.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.