Istri Tomboy

Gea menutup dan memastikan pintu terkunci.

"Eh lo ya, Bang. Gue udah berusaha menghargai lo sebagai suami pakai acara panggil aku kamu segala kan, tapi lo malah buat masalah mulu. Untung nggak jadi tuh ibu lihat adegan oles mengoles punggung lo yang kagak gatel sama sekali. Malah gue curiga daki semua yang nempel," ujar Gea sembari menuju kasur dan memakai selimut kesayangan.

"Belajar dong lo ngomong aku kamu, nanti pada bingung kan keluarga kita. Oh ya, ngomong-ngomong, nggak ada sedikit pun daki di punggung gue. Jangan asal ngomong! Gue buka juga ya ini baju!" Roy mencoba membuka bajunya.

"Wey nggak usah. Udah lah, gue percaya."

Gea segera menutup mata dengan kedua tangannya.

"Udah ya, malam ini pokoknya Abang harus tidur di sofa. Gue nggak mau lo tidur di kasur gue," kata Gea menegaskan.

"Oh ya sudah, berarti kalau di rumah kita nanti, lo harus tidur bareng gue di kasur K I T A." Roy berusaha mengeja. "Kita!"

Keluarga Roy berasal dari keluarga yang kaya raya. Roy merupakan pewaris tunggal keluarganya. Orangtua Roy sudah meninggal tiga tahun yang lalu saat mereka pergi dinas ke luar negeri. Pesawat yang ditumpangi jatuh dan mengakibatkan beberapa penumpang tewas termasuk orangtua Roy. Kini ia menjadi tanggung jawab Om Boy, adik dari ayahnya yang bekerja menggantikan kedua orang tua Roy di perusahaan milik keluarga. Rencananya, setelah lulus Roy akan meneruskan dan mendampingi pamannya.

Sebenarnya Roy ingin mandiri tidak tergantung pada perusahaan keluarga. Maka dari itu, ia sempat tertarik tawaran Bram saat memenangkan perjanjian kemarin. Namun kenyataannya ia kalah dan harus meneruskan perusahaan bersama pamannya.

Kemarin Om Boy menjadi wali nikah di acara pernikahan Gea dan Roy. Om Boy berpesan untuk membeli rumah lagi untuk Gea dan Roy. Sedangkan rumah orang tuanya dijadikan panti asuhan saja. Hal itu merupakan salah satu amanah dari orang tua Roy.

"Jadi kita beneran bakal tinggal di rumah baru nantinya?" tanya Gea.

"Iyalah." Roy berusaha tidur dengan menghadap ke sofa. "Awas aja nanti gue kudu di kasur. Nggak ada sofa dalam kamar di rumah baru."

Gea bergidik lalu tidur dengan perasaan cemas.

***

Keesokan paginya, ibu sudah menghidangkan masakan sisa acara pernikahan. Masakannya telah selesai dipanaskan.

"Pengantin baru ... Ayo dong kita sarapan. Keluar dulu ya dari kamar," teriak ibu.

Gea dan Roy pun membuka pintu kamar sambil sempoyongan masih mengantuk. Gea dan Roy duduk bersebelahan. Sedangkan ibu duduk bersebelahan dengan adik Gea bernama Salsa.

"Beda ya, Bu. Gea dengan Salsa," ucap Roy.

"Beda kenapa Nak Roy?"

"Salsa itu anggun ya, Bu."

"Maksud Abang apa?" timpal Gea.

"Salsa itu memang anggun nak Roy. Waktu bapak masih tinggal bersama kita, Salsa kecil menjadi anak kesayangan bapak. Selalu diajarkan bertata krama yang baik sebagai perempuan," jelas ibu.

"Cih! Terus pergi gitu aja ninggalin kita. Kalau menghargai perempuan harusnya nggak begitu," kata Gea.

"Nggak boleh gitu Nduk. Ayo suaminya disiapin makanannya," pinta ibu sambil memberi kode kepada Gea untuk mengambilkan nasi.

Dari tadi Roy berusaha tidak menimpali. Karena ia sudah tau bahwa hal ini lah yang membuat Gea memutuskan untuk berpenampilan tomboy agar tidak dilirik pria. Padahal Gea adalah wanita cantik jika mau berdandan seperti kebanyakan para wanita.

Piring berisi makanan sudah tersedia di depan mereka. Diawali dengan berdoa yang dipimpin Salsa.

"Amiiiiiin..."

Mendadak Gea mengangkat satu kakinya ke kursi. Lalu menyuapi nasi dengan tangan ke mulutnya.

"Gimana semalem? Ibu nggak sabar lho ingin segera gendong cucu," tanya ibu sambil mengambil lauk di piring.

Gea dan Roy tersedak berbarengan lalu bertatapan.

"Minum, minum!" Roy meminta diambilkan minum. Gea yang juga tersedak segera mengambil minum dari teko untuk Roy dan dia.

"Lho kenapa sih? Kan kalian udah halal. Kok kaget. Kemarin habis olesin punggung Nak Roy kalian ga langsung tidur kan?"

"Bu.. Ada Salsa," kata Gea berusaha mengalihkan topik.

"Aku udah gede kali kak. Setau Salsa, orang yang sudah menikah pasti ingin memiliki anak," ucap Salsa sambil menggoyangkan kakinya. Kursi yang diduduki membuat kaki Salsa belum menyentuh lantai.

"Gea nggak mau, Bu!" jawab Roy.

Tatapan sinis segera ditujukan pada Roy oleh Gea. Satu cubitan kecil telah mendarat di pinggang Roy. "Adoooooh!"

"Sama suami jangan begitu. Kalau malah makin cinta nanti bahaya loh Gea," kata ibu.

Gea melengos. Makanannya terus ia santap dengan kecepatan tinggi. Ia nampak ingin segera berlalu meninggalkan meja makan.

Gea dan Roy mengambil jatah absen libur per semester untuk pernikahan ini. Itu artinya tersisa tiga hari lagi termasuk hari ini. Karena baru memasuki semester, Gea merasa tak ingin ketinggalan mata kuliah. Ia berniat membatalkan pengajuan rencananya satu hari saja perihal jatah absen tersebut.

"Bang, hari rabu gue masuk aja ya. Lagian nggak ngapa-ngapain juga kan habis ini?" tanya Gea setelah selesai makan.

"Siapa bilang nggak ngapa-ngapain? Orang gue mau ajak lo pindah rumah terus kita pergi honeymoon semalem keluar kota."

"Salsa ikut dong!" kata Salsa.

"Ibu juga ya? Plis!" Ibu pun tak mau kalah.

Sementara Roy berpikir, Gea pun langsung mengiyakan. "Eh apa-apaan kamu?" tanya Roy.

"Ya nggak apa-apa dong Bang. Ibu dan Salsa kan nggak pernah jalan-jalan. Palingan ke waduk tuh deket kelurahan," jawab Gea cuek.

"Ng. I-iya deh."

"Hore!" Ibu dan Salsa saling berpegang tangan kegirangan.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.