"Pokoknya hari ini kita kemasin barang di rumah. Masukin ke koper besar yang ini. Kemarin Om Boy udah bawain koper ini sekalian pas acara," perintah Roy.
Di kamar, Gea menempelkan bokongnya di ujung meja belajar. Sambil mengunyah permen karet pemberian Salsa ia mengangguk-angguk mendengar penjelasan Roy.
"Habis itu, kita ke rumah orang tua gue dulu. Bantuin beresin barang gue. Barang yang gede kayak lemari gitu nggak usah dibawa. Apalagi kasur. Udah full furniture rumah baru kita nanti. Malamnya kita langsung ke rumah baru. Barulah besok kita keluar kota," jelas Roy panjang lebar. "And by the way, gue bakal transfer lo tiap bulan sepuluh juta. Terserah lo mau gunain apa. Kalau kurang bilang aja."
"Eh buset. Itu duit tuh?"
"Ya duitlah. Lo pikir apa? Daun?"
"Tapi ya nih sampai sekarang gue masih bingung. Kenapa tiba-tiba nih ya. Tiba-tiba pokoknya mah. Abang bayarin tuh hutang-hutang orang tua gue. Bukan cuman hutang biaya kuliah gue ternyata, gue baru diceritain ibu, hutang SPP Salsa yang nunggak dua bulan juga lo bayarin."
"Elo ya, bukannya bersyukur gue bayarin. Anggap aja ini tuh pertolongan Allah. Lewat gue."
"Tapi Abang nggak cinta kan aslinya sama gue?" tanya Gea yang beralih duduk di sofa.
"Ng.. Hmm. Ya.. Ya.. cintalah sama lo. Gue tahu lo tuh baik sebenarnya. Cuman tampang lo aja yang buat pada takut."
"Terus satu lagi, Abang kan banyak penggemar rahasia. Kenapa milih gue ya? Apalagi pada beda banget penampilannya sama gue."
"Lo banyak omong banget sih! Udah cepetan sana beresin barang lo. Gue bantuin. Nih kopernya gue tarik ke deket lemari lo."
Roy segera menarik koper besar itu. Dibukanya pintu lemari Gea.
"Astagfirullah, ini kok banyakan kaos sih. Rata-rata hitam lagi warnanya. Kayak nggak ganti baju. Tapi daleman lo warna pink ya. Ih lucu banget!" Underware milik Gea diambil oleh Roy dan diangkatnya.
"Balikin nggak?"
Tiba-tiba Roy jatuh dan punggungnya menyentuh lantai kamar. Mereka tersungkur berdua dan saling bertatap mata, lagi-lagi ala sinetron.
"Aelah, pake jatuh segala. Buruan ah!" gerutu Gea.
Mereka segera berdiri. Takut kalau ibu melihat adegan ini. Bisa-bisa disuruh gaspol bikin cucu.
Satu per satu baju milik Gea pun mulai dimasukkan ke dalam koper. Ada satu dress berwarna hijau tosca dengan gambar bunga mawar merah di area dada. Dress ini pemberian ayahnya ketika dia ulang tahun saat dua tahun lalu.
"Wah harta karun nih. Punya juga lo dress beginian. Nggak kesambet kan lo?"
Gea hanya terdiam tak menjawab. Mungkin baiknya dress ini diberikan kepada Salsa. Ia pun berdiri membawa dress keluar kamar.
"Salsa." Gea menyisir pandangannya ke setiap sudut rumah. Sayangnya, Gea tak juga menemukan Salsa. Lalu, ia pun menghampiri ibu yang di dapur mengiris bawang.
"Salsa mana, Bu?"
"Apa sih Kak? Aku habis luluran." Tiba-tiba Salsa sudah berada dibelakang Gea sambil meringis.
"Ya ampun... Diajarin siapa sih? Baru juga masuk sekolah, udah centil aja," kata Gea.
"Justru karena baru masuk sekolah. Salsa kan harus cantik. Nanti apa kata bu guru dan temen-temen kalau Salsa dekil."
Gea geleng-geleng tak habis pikir kelakukan adik satu-satunya itu.
"Ini kakak mau kasih dress ini. Buat kamu nanti pas udah muat," kata Gea sembari menyodorkan dressnya.
"Itu kan pemberian ayah. Udah nggak muat, Kak?"
"Iya perut kakakmu kan buncit," timpal Roy yang mendengarnya dari kamar. Ia tau bahwa Gea hanya tak ingin saja membawa barang pemberian ayahnya.
Dress itu langsung diberikan kepada Salsa. Lalu, Gea berlari kecil ke arah kamar dan memukul Roy dengan bantal.
"Heh! Kayak tau aja perut gue!"
"Ampuuun!"
Seketika celana Roy robek terkena ujung meja belajar yang lumayan tajam. Gea yang sempat melihat celana dalam Roy segera menutup wajahnya.
"Lo tuh sangar bener sih. Sampe robek kan ini celana. Tuh tuh merah tuh. Lihat dong!" Roy menjulurkan lidahnya.
Roy berlenggak lenggok di depan Gea.
"Bawa celana lagi nggak, Bang? Pake celana gue tuh di lemari pilih aja."
Kemudian Roy melihat seluruh celana yang digunakan Gea sehari-hari di rumah. "Nggak ada yang gedean dikit? Kenapa kecil semua begini."
"Abang pake celana gue, atau mau telanjang biar Salsa sama ibu tau?" gertak Gea.
Diambilnya salah satu celana berukuran paling besar oleh Gea sambil memejamkan mata sesekali.
"Lumayan daripada nggak ada. Ini lagi gambar mickey mouse," gerutu Roy.
"Bawel amat. Buruan bantuin gue lagi." Gea membuka matanya dan tertawa keras. "Ya ampuuuuun. Itu bokong kemana-mana!"
"Seksi kali gue. Belum juga lo rasain kan."
"Diiiiih."
Selang dua jam mereka pun akhirnya selesai membereskan baju Gea ke dalam koper. Mobil milik Roy yang paling besar sudah terparkir cantik di teras.
Roy langsung menganga melihat Gea mampu menggendongnya diatas pundak dan berjalan menuju mobil.
"Bukain pintunya!" teriak Gea. Sementara Roy yang masih berada di depan pintu rumah segera berlari kecil membukakan pintu mobil.
"Abang kaget ya! Ga pernah lihat cewe angkat koper gede begini? Norak!" ledek Gea.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Roy. Mereka memasukkan lagi barang-barang lain milik Gea yang sekiranya perlu untuk dibawa ke rumah baru.
"Makan siang dulu yuk!" kata ibu sembari menghidangkan makanan di atas meja.
Taklama Gea dan Roy yang berkeringat langsung duduk di kursi makan.
"Capek ya.. Jangan kaget ya Nak Roy. Kita bertiga kan nggak ada cowo di rumah. Jadi Gea terbiasa angkat yang berat-berat di rumah," jelas ibu meringis.
"Hehe, iya Bu," jawab Roy.
Gea segera mengambilkan makanan untuk Roy. Kali ini ada menu semur jengkol andalan.
"Abang kalau udah nikah sama aku, wajib hukumnya makan nih jengkol. Buruan!" kata Gea sambil menyuapi jengkol beserta nasi ke mulut Roy.
Awalnya Roy menolak dan susah sekali membuka mulut. Namun karena mata Gea yang terus melotot, Roy terpaksa membuka mulutnya.
"Hehe, enak!" kata Roy.





