Istri Tetanggaku Kuntilanak

Sudah lama Alif tidak merasakan perasaan gugup saat sesi wawancara. Maklum. Belakangan ini dia dapat pekerjaan serabutan tidak menentu. Babe bahkan sering ngomel karena title sarjana tekniknya tidak digunakan dengan baik. Malah dapat pekerjaan melenceng yang tidak ada hubungannya dengan teknik.

Namun kali ini nasib Alif sedang baik. HRD yang mewawancarainya tampak tertarik. Pria itu membaca surat lamaran Alif yang ada di tangannya dengan senyuman mengembang. Dalam hari Alif berterima kasih karena Babe Rojali segitu perhatiannya dengannya sampai diam-diam mengurus surat lamaran Alif. Jelas Babe pingin Alif cepat kerja bukan karena uang, karena Babe Rojali mempunyai kebon bambu yang hasilnya dijadikan usaha kerejinan bambu. Omzetnya lumayan dan cukup membantu Mang Dayat, Kang Ibik, dan beberapa pemuda tuna netra dan nasibnya kurang beruntung dengan bekerja di sana. Babe Rojali cuma semak lihat anak bujangnya jadi pengangguran. Walaupun Alif sering ditimpukin, dijorokin, disetrap segala macam sudah mirip guru BK menghukum murid paling tengil di dunia persilatan.

Di akhir sesi wawancara HRD menyalami Alif dan mengatakan Alif bisa memulai pekerjaannya mulai hari itu juga sebagai staff di departemen humas. Jobdesk Alif tentu saja lebih banyak di lapangan. Nantinya dia akan mensurvey calon pembeli/penyewa rumah atau apartemen. Bersyukur tidak ditetapkan target tertentu. Namun tetap ada bonus A dan bonus B. Ya, selebihnya Alif sudah mengerti.

Perusahaan itu bonafit dan bergengsi. Bodoh sekali jika Alif menolak. Tentu saja dia mau. Sebenarnya agak terkejut karena disuruh langsung mulai kerja hari itu juga, tapi pemisa tampan itu berusaha profesional.

"Hari ini kamu akan survey ke calon pembeli satu blok perumahan di jalan Dasapati. Doni akan nemenin kamu. Atau lebih tepatnya, kamu bakal jadi partner Doni. Dia manajer Humas di sini," jelas HRD sambil membawa Alif ke sebuah ruangan di mana Doni sudah menunggu Alif.

Tidak sempat touring sekitar kantor, Alif sudah berhadapan dengan laki-laki tampan berkulit putih cenderung pucat, berbadan beberapa sentimeter lebih tinggi dari Alif. Rupanya dia yang bernama Doni. Tidak lain tetangga baru di depan rumah Alif.

"Hai, Lif! Udah siap belum? Kita langsung gerak nih? Apa mau ngopi dulu?" Doni tersenyum ramah seraya merangkul Alif. Penyambutan sangat baik bagi Alif.

"Langsung ke sana juga boleh," jawab Alif.

"Santai aja. Jangan sungkan-sungkan di sini. Kalau diem aja, malah nanti lu kena sikat," pesan Doni. Bibirnya tersenyum, tapi tatapan matanya serius.

Alif tersenyum. Tahu benar apa maksud Doni.

"Kerjanya nggak ribet. Asal lu punya omongan bagus. Bisa dibilang kita ini penjual omongan. Jangan artiin jelek. Sebut aja kita ini entertain. Diplomasi ngaruh banget dalam bisnis, you know lah." Doni menawarkan sekotak rokok ke Alif.

Alif menerima rokok tersebut. "Makasih."

HRD memperhatikan keduanya sebentar lalu beranjak. "Okelah. Gue cabut dulu, Don. Ntar lu kirim aja laporannya. Jam 2 gue mau rapat sama direksi, jadi sorry kalau hp gue nggak aktif."

"Ya udah, lanjut sana. Kita udah oke di sini." Doni gerakin tangan seolah mengusir pria HRD pergi.

Alif agak heran melihat sikap Doni. Begitu pria HRD pergi, Doni yang sedang asyik merokok tertawa kecil ke Alif. "Biasa. Di mana aja pasti ada aja yang model begitu. Nggak jalan kalau nggak jilat. Di sini kalau lurus-lurus amat juga lu bakal kelibas. Tapi tetap percaya potensi dirilah. Lu punya skill, nggak perlu takut."

"Gue tahu, Bro," sahut Alif balas tersenyum. Jujur, dia merasa cocok dan nyaman dengan Doni. Feeling-nya tentang seseorang jarang meleset.

"Ada yang mau gue tanya," kata Alif. Namun kemudian dia tampak ragu.

Doni merangkul Alif lagi. "Gue tahu kok apa yang lu pikirin. Dan itu nggak usah lu pusingin. Lu diterima di sini bukan karena gue. Nggak semudah itu masuk di perusahaan ini. Lu kerja ya karena memang udah jalannya. Kerja aja yang bener biar Babe senang."

Alif pun mengangguk. Mereka mengobrol sebentar sebelum Doni mengajak Alif berangkat untuk survey ke klien sekalian kunjungan prospek beberapa calon pembeli apartemen mewah.

***

Pekerjaan baru ini terasa cocok dengan Alif. Baru sebentar saja Alif sudah paham cara kerja dan sudah akrab dengan karyawan di kantor terutama Doni.

Setelah selesai makan siang dengan klien di sebuah kafe, Doni mengajak Alif mampir dulu ke rumahnya.

"Kita ke rumah gue dulu yuk. Makan siang," ajak Doni seraya menunjukkan bungkusan makanan yang tadi dia beli di kafe.

Alif tertawa. "Bukannya gue mau nolak, tapi gue udah kenyang banget makan tadi."

"Bukan. Maksudnya gue mau nganterin makanan ini buat istri gue," jelas Doni. "Nggak tahu kenapa kalau udah jam segini, ingat bini, bawaannya nge-blank."

Alif tertawa lagi. Mana gue tahu. Kagak punya bini, batin Alif. Namun menurutnya Doni itu so sweet sebagai suami sampai ingat mengantarkan makanan buat istrinya.

Karena rumah Alif berdekatan dengan rumah Alif, dia mau ikut Doni mampir dulu ke rumah. Alif juga sudah tidah sabar mau mengabari orang tuanya bahwa dia diterima bekerja.

Sewaktu mau belok ke arah rumahnya, Alif malah ditarik Doni.

"Main-main dulu ke rumah gue, Lif. Biar sekalian gue kenalin sama istri gue."

Demi kesopanan, Alif pun mau. Ia mengikuti langkah Doni menjajaki teras rumah menuju pintu utama rumah besar itu. Sekilas Alif melirik ke arah taman. Tiba-tiba saja perasaannya jadi tidak enak. Memori tempo lalu berkelebat di mana dia melihat sosok wanita cantik berdiri mematung di teras.

"Assalamualaikum," ujar Doni mengetuk pintu.

Tiba-tiba pintu bergerak terbuka dengan sendirinya. Alif langsung gelagapan. Namun, Doni tersenyum dan menarik Alif agar mengikutinya masuk.

"Engsel pintu ini rusak, kadang suka terbuka sendiri pintunya. Kelupaan Mulu gue mau perbaiki. Ya udah, yuk masuk. Mungkin istri gue lagi di dapur jadi nggak kedengeran orang datang."

Doni mengajak Alif masuk. Tampak ramah dan bersahabat. Sementara Alif mulai canggung dan ragu menatap sekeliling rumah yang entah kenapa beraura gelap itu.

"Hmm, oke." Alif terpaksa mengikuti langkah Doni masuk ke dalam rumah. Alif diajak duduk di ruang tamu. Seketika itu juga Alif merasakan ada seseorang mengintipnya dari balik tembok pemisah ruangan tamu dengan teras. Namun, begitu Alif menoleh sekali lagi, tidak terlihat siapa pun.

"Ada apa, Lif?" tanya Doni.

Alif menggeleng. "Nggak apa-apa, kok."

"Ya udah, santai aja, Bro. Anggap rumah sendiri."

Doni kemudian melihat ke arah belakang rumahnya. "Kumara! Sayang! Kamu di mana, Sayang? Sini, Sayang!" panggil Doni.

Selang beberapa detik, sosok wanita cantik berkulit super pucat yang waktu itu dilihat Alif muncul. Ia mengenakan gaun putih selutut dengan rambut digelung dan ditusuk konde. Ada bunga mawar merah terselip di rambutnya. Selaras dengan warna lipstik merah yang tersapu di bibir ranumnya. Sangat cantik. Seperti sedang melihat bintang film keluar dari layar televisi.

Selama beberapa saat Alif terbelongo. Terkesima melihat wanita bernama Kumara itu.

"Aa udah pulang?" ujar Kumara lembut. Suaranya seakan bergetar mengguncang hati Alif.

Alif segera menggelengkan kepala dan menunduk. Aduh! Apaan sih? Lihatin bini orang sampe segitunya? Apa ini tanda-tanda predikat jomblo akut harus segera dilepas?

Doni bangkit berdiri dan memeluk Kumara. Mereka berdua tampak mesra seperti pengantin baru.

"As kangen sama Neng. Nih, Aa bawain ayam goreng kesukaan Neng." Doni menyerahkan bingkisan makanan. Tidak lupa mendaratkan ciuman di kening istrinya.

Sang istri tersenyum, menatap suami penuh kebahagiaan. "Makasih, A."

Alif ngedumel sendiri dalam hati. Yaelah, gini amat nasib jomblo. Malah dipamerin adegan mesra lagi!

Alif mendadak kebelet mau buang air kecil. "Mas Doni, saya numpang toilet ya."

"Oh ya, Lif. Silakan. Jalan terus aja. Toiletnya ada di sebelah kanan setelah dapur. Mau dianterin?" Doni mempersilakan.

"Nggak usah, Mas. Bisa kok." Alif buru-buru ngacir.

Dasar Alif aja lagi apes. Hasil tidak sesuai ekspektasi. Yang ada, Alif malah muter-muter tidak karuan kembali lagi ke koridor. Yang mana dapur, yang mana toilet, tidak ada yang ketemu. Alif malah lihat koridor di depannya mendadak meremang dan ada asap tipis di sepanjang jalannya.

"Astaghfirullah hal 'adzim. Nape jadi horor begini? Mana udah di ujung lagi! Ini rumah apa rumah hantu di pasar malam!" Alif gumam sendiri.

Rupanya kata-katanya barusan termasuk sopral. Begitu kata "hantu" ia ucapkan, sontak vas bunga di sisi koridor jatuh sendiri. Praaang! Pecah jadi dua bagian. Lampu di koridor yang tadinya remang malah kedap kedip.

"Ya Allah, begini amat nasib Alif. Cuma mau pipis doang, harus lewatin halangan rintangan kayak begini." Alif semaput jalan miring-miring karena udah kebelet.

Wuuuz! Tiba-tiba bayangan hitam berkelebat di depan Alif.

"Eh, bajing! Eh, Maemunah ape siape tuh?" Pemuda itu kaget bukan main. Langsung gemetaran.

Bayangan hitam sudah lenyap. Namun pandangan Alif terfokus pada sosok di sebuah kamar yang pintunya terbuka.

Dari belakang, tampak sosok wanita berambut sepanjang pinggang. Dia sedang menyisiri rambutnya tersebut sambil bersenandung. Alif menandai gaun yang dipakainya sama dengan gaun yang dipakai Kumara tadi.

Wanita itu masih sibuk bersenandung. Alif jadi lega akhirnya ada orang terlihat di sekitarnya dan bisa menolongnya.

"Maaf, Mpok. Bukannya aye lancang. Tadi aye udeh coba mau ke toilet, tapi nyasar." Alif berjalan semakin mendekat ke pintu kamar itu.

Sang wanita berhenti menyisir rambutnya. Dia lalu menoleh ke arah Alif. Benar. Dia adalah Kumara, istri Doni. Beberapa detik kemudian, hal aneh terjadi. Kumara mengangkat tangannya yang memegang sisir lalu mengunyah sisir itu. Sisir berontokan lepas dikunyah gigi Kumara yang jadi runcing-runcing mengerikan dengan bunyi "kraaaak ... kraaaak ..." layaknya kerupuk yang sedang dicemilin.

Alif mendelik ketakutan. Tubuhnya gemetar dari ujung kepala sampai kaki demi menyaksikan pemandangan di depannya. Tepat saat itu juga, wajah Kumara berubah semakin pucat dan matanya menghitam.

"Huuuuuaaaa!" Alif jejeritan dan langsung lari, kabur menjauh dari kamar tersebut.

Alif yang ketakutan terus berlari sampai tubuhnya ditarik seseorang.

"Lif! Lu kenapa teriak-teriak, Lif?" Doni memandang Alif bingung.

Alif menarik napas lega melihat Doni ada di depannya. Segera saja dia menunjuk-nunjuk ke arah kamar di mana dia melihat sosok mengerikan tadi.

"Di ... di sana ada setan, Mas! Beneran! Rambutnya panjang, mukanya mirip istri lu, Mas!" celetuk Alif masih gemetaran.

Doni langsung kelihatan tidak senang. "Jangan sembarangan ngomong, Lif. Nggak ada setan di sini."

"Sumpah! Demi Allah, gue kagak bohong. Tadi waktu gue kebelet mau pipis, nggak nemu toiletnya, malah ngelihat bini lu nyisir rambut. La, terus sisirnya malah dimakan! Mukanya jadi serem banget! Matanya item semua! Hiiii!"

Kumara dengan penampilan cantik sama saat dilihat Alif di ruang tamu tadi muncul di belakang Doni. Dia tampak sedih lalu menunduk. Perlahan ada air mata menitik dari matanya. Dalam kebisuan, wanita anggun itu menyeka pipinya.

Doni simpati melihat Kumara. Mau membujuk Kumara, tapi sang istri langsung pergi. Doni lalu kembali menatap Alif.

"Mungkin tadi lu salah lihat. Beberapa tetangga juga suka ngomong aneh kayak lu. Apa pun itu gue mohon jangan omongin di depan istri gue. Kasihan dia udah stress dikatain macam-macam sama warga sini." Doni menatap Alif serius.

"Ya Allah, gue jadi nggak enak sama lu. Tapi beneran gue kagak bohong, kagak rumpi kayak warga yang lu bilang tadi." Alif jadi bingung sendiri.

"Ya udah. Lupain aja. Sekarang gue anterin lu ke toilet. Habis tuh kita balik kantor," ujar Doni.

Lupain? Lah, lu mah enak ngomongnya, Bro! Gue udeh lemes kayak dodol dua hari dianggurin! Alif ngebawel sendiri dalam hati. Namun dia memilih diam dan mengapit Doni sepanjang ke toilet mirip anak TK dipandu gurunya. Biarin! Daripada diganggu demit lagi! Alif kesel.

***

Malam itu Alif tidak bisa tidur. Sosok mengerikan yang ia lihat di rumah Doni terus saja terbayang. Alif merinding setiap kali teringat dan jadi meriang. Di balik sarung, Alif menggigil.

Mpok Indun masuk ke kamarnya sambil membawa nampan berisi teh hangat. Ia melihat Alif yang sedang berbaring menggigil di ranjangnya dengan cemas.

"Ya Allah, Lif! Baru aja sehari kerja udah kejadian aneh aje lu! Bangun dulu. Minum tehnya biar enakan badan lu!"

Babe Rojali datang, kacak pinggang, kesal melihat Alif.

"Lu ngapain tidur di mari kayak anak kecil! Sana pindah kamar lu! Bocah emang lu ya tidur bareng Nyak Babe lu?" Babe Rojali menarik tubuh Alif dari ranjang.

Alif malah meringis sambil tangannya memegangi kepala ranjang. "Jangan, Be! Aye tidur di sini aje ame Nyak ame Babe biar digangguin hantu. Aye takut!"

"Hantu, hantu aje omongan lu! Alesan! Bilang aje males kerje lu kan! Bikin malu aje ame si Doni!" celetuk Babe Rojali kesal. Dia lalu menarik Mpok Indun. "Ya udeh, Ndun. Tinggalin aje die sendiri di sini. Kite tidur di kamar sebelah."

Alif malah teriak dan langsung memeluk Mpok Indun dan Babe Rojali. "Jangan tinggalin aye! Pokoknya aye ikut ame Nyak ame Babe!"

Babe Rojali kesal berusaha melepaskan Alif, tapi percuma. Alif memeluk mereka kencang banget. Jadilah kehebohan malam itu. Alif mengekori Nyak Babe ke mana aje.

"Ngapain lu ngintilin gue terus uun!" omel Babe Rojali ke Alif.

"Sana lu, Lif! Nyak mau pipis!" teriak Mpok Indun.

Alif tidak peduli dan terus merengek. Pokoknya dia masih ketakutan setiap teringat sosok Kumara yang menyeramkan. Dia bahkan menjerit ketakutan melihat Mpok Indun menyisir rambut, terus ngibrit tidak karuan sampai menabrak toples ikan cupang Babe Rojali.

"Ya Allah, Bang. Ape kite bawa ruqyah aje nih anak?"

Mpok Indun dan Babe Rojali pusing tujuh keliling. Sementara Alif terus kekepin mereka.

***

Bersambung

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Chapters
Customize

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.