15 Menit kemudian.....Di rumah orangtua Cinta....
"Cinta.... Cinta...." Mula-mula Sekar masih memanggil dengan suara lembut.
Dibukanya kamar Cinta, ternyata kosong melompong, lalu ia beralih membuka pintu kamar mandi.
Di dalam kamar mandi itu, Cinta tetap tidak ada.
Sekar beringsut mencari ke ruang tengah dan membuka semua pintu kamar di rumah itu, Cinta tetap tidak terlihat.
Di dapur, lalu di teras belakang, sudah ia cari. Tetapi, Cinta tak berhasil ditemukan.
"Cinta.....! Cinta....!" Makin lama panggilan Sekar makin keras.
Bergegas ia menapaki tangga naik ke lantai atas, ia sudah tak peduli lagi dengan kain yang melilit kedua kakinya. Diangkatnya kain itu dengan sedikit panik, agar ia bisa melangkah dengan cepat.
Tapi sudah seluruh kamar dan ruangan di lantai dua itu ia periksa, dibuka dan ditutup kembali, namun Cinta tetap tidak berhasil ditemukan.
"Cinta! Cinta!" kini Sekar menjerit-jerit ketakutan.
Terhuyung-huyung ia menuruni tangga dengan panik seakan ingin melompat saja, lupa kalau ia sedang mengenakan kain.
Pramudya muncul mengenakan jas lengkap, terlihat tampak gagah dan berwibawa.
"Ada apa teriak-teriak begitu, Ma?" tanya pramudya dengan dahi berkerut.
"Cinta, Pa!" pekik Sekar kalang kabut. "Cinta hilang! Cinta kabur!"
"Hilang? Kabur?" ulang Pramudya kaget. "Bagaimana bisa hilang....? Bagaimana bisa kabur? Bukankah semua pintu dan jendela ini sudah kamu pasangi terali? Lalat saja tidak bisa kabur!"
"Penjara saja sering kebobolan, para tahanan sering lolos, apalagi rumah kita!",
sahut Sekar sewot.
"Percuma dong selama ini mama selalu mengamankan harta kekayaan dengan alarm dan kode rahasia, supaya maling tidak bisa menggasak habis barang-barang berharga!" sindir Pramudya sinis. "Buktinya, menyelamatkan permata hati mama saja mama tidak sanggup!"
"Pasti ada yang berkomplot, Pa." hardik Sekar kalap. "Ternyata di dalam rumah sendiri tidak menjamin bebas dari penghianat!"
Sekar melotot geram, tangannya berkacak pinggang. Ia mengawasi satu persatu orang-orang yang mulai berkerumun di ruangan ini.
"Siapa yang membantu Cinta melarikan diri?" bentak Sekar. "Cepat katakan!"
"Kalau ada penghianat yang mengaku, dunia ini aman, Ma." ejek Pramudya mencibir. "Tidak akan pernah ada penggulingan kekuasaan dan perebutan kedudukan!"
Semua orang di rumah itu berkerumun di depan Sekar. Mereka ikut terkejut dengan kekacauan yang terjadi, lalu saling menengok di antara mereka.
Saling mencurigai, saling menuduh, saling menyalahkan.
Bukankah memang seperti itu setiap kali terjadi kericuhan? Semua orang langsung lepas tangan.
Suara mereka berdengung seperti lebah, berisik sekali saat itu.
"Sudah! Sudah! Diam!" teriak Sekar. Ia berteriak sambil menutupi kedua telinganya dengan tangan. "Cukup saya saja yang bekerja pakai mulut di rumah ini! Tapi kalian.... Pakai tangan kalian, mata, kaki.... Apa saja yang kalian punya! Mengawasi satu orang saja tidak sanggup!"
.
.
.
"Mobil Limousin sudah pergi dari tadi, Bu." lapor satpam dengan kepala menunduk, didera perasaan bersalah.
Sekar menginterogasinya seolah ia baru saja ketahuan membobol brangkas uang dan perhiasan Sekar, padahal seharusnya ia yang bertanggung jawab terhadap keamanan di rumah ini.
"Kenapa tidak kau tahan?!" pekik Sekar jengkel bukan kepalang.
"Saya pikir tadi sudah bersama ibu dan bapak." sahut si satpam memberi alasan.
"Kau kerja pakai mata atau tidak sih?!" sembur Sekar kesal. "Kau lihat tidak berapa orang di dalam mobil itu! Jangan-jangan kau malah tidak pernah bisa membedakan orang yang masuk ke rumah ini, yang mana tampang orang baik dan yang mana perampok!"
Pramudya tergopoh-gopoh datang menengahi.
"Sudahlah, Ma," kata Pramudya melerai. "Berhentilah menyalahkan orang lain."
Sekar serentak berbalik menghadap Pramudya suaminya, seperti mendapat tempat untuk melampiaskan kemarahannya yang memuncak.
Matanya mendelik siap untuk mengajak perang.
"Lalu siapa yang harus kusalahkan?" semprot Sekar berang. "Diriku sendiri? Selalu aku yang menjadi biang kerok di rumah ini? Begitu maksudmu?"
Pramudya hanya diam dan tidak ingin membantah supaya emosi Sekar istrinya tidak semakin meledak-ledak.
//
Pov Sekar
Namaku Sekar Rahayu Sukmawati saat ini usiaku 47 tahun, istri dari Pramudya Adi Pratama, berusia 49 tahun.
Dari pernikahan kami yang sudah melewati usia penikahan perak. Kami berdua dikaruniai 3 orang anak, satu anak laki-laki dan dua anak perempuan.
Anak sulungku bernama Prima Sukmawan Pramudya, anak perempuan kedua kami beri nama Jelita Sukmawati Pramudya, dan yang paling bungsu kami beri nama Cinta Rahayu Sukmawati.
Anak sulungku sudah menikah dengan putri sahabatku, Dewi Safitri nama menantu perempuanku dan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Akbar Maulana Putra berusia 3 tahun saat ini.
Begitu pun dengan Jelita anak perempuan keduaku yang juga sudah menikah dengan Hartono Ruslan teman satu kampusnya dulu dan juga anak dari kolega bisnis suamiku, sekarang Jelita sudah mempunyai seorang putra bernama Dirly Syahputra Hartono berusia 1 tahun.
Cinta Rahayu Pramudya putri bungsuku yang sangat kukasihi, kini sudah berusia 21 tahun.
Jujur aku sangat kecewa dan terpukul sekali mendengar pengakuan Cinta bahwa ia hamil, padahal selama ini aku sangat ketat mengawasinya.
Ya, semua ini gara-gara lelaki itu. Sejak awal aku memang tidak menyukai pacarnya Cinta, pria muda yang bernama Robi Hermawan terlihat masih manja dan kolokan, hanya bisa mengandalkan kekayaan orangtuanya.
Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi. Aku mesti menikahkan anakku Cinta supaya janin dalam kandungannya jelas statusnya. Tetapi, aku tidak serta merta menikahkan Cinta anakku dengan Robi melainkan aku ingin menikahkan Cinta dengan anak rekanan bisnisku yang sudah mapan. Aku tidak mau nanti Cinta anakku hidupnya menderita, walau mungkin ia tidak mempunyai perasaan cinta dengan lelaki yang akan menjadi suaminya itu.
Fredy Mulyadi nama pemuda yang akan menikahi Cinta anakku, dia sudah lama jatuh hati pada Cinta sejak anakku masih SMA. Bahkan, ia tidak mempermasalahkan kehamilan Cinta, dan tetap akan menyayanginya beserta janin yang dikandungnya.
Tapi ternyata keinginanku tidaklah sesuai dengan kenyataan, Cinta nekat kabur dari rumah, lari menghindari pernikahannya.
Aku hanya bisa menahan rasa maluku pada pihak calon besan atas kelakuan Cinta, mau bilang apalagi kalau kejadiannya seperti ini, tetapi aku juga tidak bisa menyalahkan keputusan yang ia buat, "Apakah mungkin karena sikapku yang keras selama ini kepadanya?" tanyaku dalam hati.
Tadi saja aku sempat sewot dan marah sama mas Pramudya suamiku.
"Kalau tidak ada mama, keluarga ini sudah kacau balau sejak lama, Pa! Rumah ini sudah runtuh sejak dulu!"
Kalimat itu meluncur, karena rasa kesalku atas sikap nyinyir suamiku. Padahal aku melakukan ini semua, untuk kebahagiaan mereka. Tapi, kenapa malah seperti ini?
"Apakah benar yang dikatakan suamiku, bahwa aku ini wanita bertangan besi, perfeksionis dan tidak mau dibantah atau dilawan oleh siapa pun?" kataku membatin.
Aku jadi terkenang kembali masa-masa sulit dalam kehidupan rumah tangga kami, hingga saat ini kami bisa dikatakan sukses.
Kami menikah dalam usia muda, saat itu usiaku baru 19 tahun sedangkan mas Pramudya dua tahun lebih tua dari usiaku saat itu.
Aku dan mas Pramudya memang saling mencintai dan sudah berpacaran selama 3 tahun, saat usiaku berusia 16 tahun.
Hubungan kami sama-sama direstui oleh kedua orangtua kami yang memang bersahabat sejak lama dan sudah berniat menjodohkan kami berdua, dan mungkin karena kami sama-sama saling menyukai membuat mereka semakin senang. Bahkan, mereka tidak sabar untuk segera menikahkan kami berdua, setelah aku lulus dari SMA.
Akhirnya aku resmi menjadi istri Pramudya Adi Pratama, putra tunggal Notonegoro dan Rasmi Wulandari, setelah aku lulus dari SMA.
Mas Pramudya, dipercaya oleh papa mertuaku untuk meneruskan usaha papanya. Perusahaan yang bergerak dibidang ekspor kayu yang saat itu terbesar di pulau Jawa.
Entah karena faktor pengalaman yang masih hijau dalam mengelola perusahaan, ditambah lagi perubahan peraturan pemerintah dalam hal ekspor kayu dan penebangan hutan yang mesti memerlukan banyak biaya dan proses yang panjang sehingga membuat perusahaan yang dikelola oleh mas Pramudya jadi bangkrut dan meninggalkan banyak hutang di mana-mana.
Aset perusahaan semua dijual dan hanya menyisakan rumah yang saat ini kami tempati, rumah pemberian papaku saat kami menikah 5 tahun lalu yang masih bisa kami pertahankan.
Pada saat itu kami sudah dikaruniai dua orang anak. Putra sulungku Prima sudah berusia 4 tahun dan putriku Jelita berusia 2 tahun.
Berbulan-bulan lamanya suamiku terpukul meratapi bencana yang menimpanya, seperti kehilangan semangat dan kepercayaan dirinya.
Suamiku seakan trauma untuk kembali memulai usaha baru karena takut gagal lagi, padahal papaku mau membantunya memberikan modal demi membiayaiku dan anak kami yang harus dicukupi kebutuhannya.
Aku terpaksa mengambil alih kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Aku banting tulang mencari penghasilan dan menjual semua perhiasan yang kumiliki.
Hadiah-hadiah yang telah diberikan suamiku saat masih berjaya sebagai pemilik perusahaan, yang selalu kukenakan dengan penuh kebanggaan pada pesta dan perjamuan.
Perhiasan yang menjadi simbol dan status sosialku sebagai istri pengusaha kaya raya.
Sebenarnya aku bisa saja meminta bantuan modal sama papaku, tetapi aku tidak mau melakukannya.
Bersambung





