Gairah Pelarian Cinta

Aku ingin membuktikan pada papa bahwa aku bisa mandiri dan bisa bangkit kembali seperti dulu, dengan tekad kuat aku mesti bisa mengembalikan kejayaan suamiku.

Aku tidak pernah malu, dari dulunya seorang istri yang selalu bergelimang harta dan hidup mewah, kini harus rela hidup prihatin dan irit.

Dari hasil penjualan perhiasan itulah, aku mulai berdagang pakaian. Aku mengambil dari penyalur pakaian retail yang di impor dari luar negeri.

Pakaian itu kemudian aku jajakan kepada orang-orang yang kukenal, tetangga, keluarga, dan teman-teman. Bahkan, kepada para relasi yang dulu menjadi rekanan bisnis suamiku pun tak luput menjadi incaran untuk pemasaran barang-barang daganganku.

Aku tidak mengindahkan omongan dan pandangan iba orang-orang yang membeli barang daganganku. Aku tidak mau dikasihani.

Aku berjuang gigih, tanpa merasa malu. Bahkan sambil berdagang aku menggendong Jelita yang saat itu masih balita ke sana ke mari. Sementara Prima sudah cukup besar untuk ditinggal di rumah bersama pembantu.

Tekad dan keinginanku kuat, aku harus menyelamatkan keluarga dan pernikahanku. Anak-anak membutuhkan biaya untuk sekolah dan tidak mungkin mengharapkan suamiku yang setiap hari hanya duduk termenung di teras.

Aku sadar suami dan anak-anak bertumpu dan menggantungkan nasib serta hidup mereka padaku.

Aku bertekad, suatu saat nanti jika uangku sudah cukup, aku akan memberikannya pada suamiku sebagai modal untuk membangun perusahaan baru agar kepercayaan dirinya bisa pulih kembali.

Semula orang-orang hanya membeli karena ingin menolong, lama-lama justru menjadi pelanggan tetap.

Pakaian yang kujual berkualitas bagus dan mengikuti trend paling mutakhir yang sedang in di luar negeri.

Produknya bahkan belum dijual di pertokoan elite di Jakarta. Harganya pun bersaing dan lebih murah daripada di pertokoan elite ataupun butik-butik.

Bahkan aku juga memberi kemudahan dalam pembayaran.

Pelangganku tidak perlu membayar kontan, tetapi bisa mengangsur dengan cicilan yang ringan.

Strategi itu ternyata berhasil.

Pelangganku menjadi seperti orang kalap, memborong semua pakaian yang kutawarkan.

Pelanggan tidak perlu repot ke luar rumah, aku yang mendatangi mereka dan mengantarkan pesanannya dan juga menawarkan koleksi terbaru.

Tentu saja pelayanan seperti ini membuat pelangganku merasa dimanjakan.

Kalau pada awalnya, aku mengambil barang daganganku dari pemasok. Kini sedikit demi sedikit, aku belajar mengimpor sendiri pakaian itu.

Aku mencoba berhubungan langsung dengan para penyalur di Hongkong dan China. Bahkan, aku juga mulai pergi ke negara itu untuk memilih langsung model pakaian dan negosiasi harga.

Selera serta instingku memang cukup baik bisa menangkap keinginan pelangganku, ditambah dengan kepiawaianku mengatur cash flow membuat bisnisku makin lama semakin berkembang pesat. Hingga akhirnya, aku bisa membuka kios untuk menjual pakaian dengan harga murah.

Aku juga membuka butik ekslusif untuk koleksi yang lebih mewah.

Meskipun begitu, layanan antar ke rumah tetap aku pertahankan untuk para pelanggan setiaku yang kelebihan uang, seperti ibu-ibu pejabat, artis atau istri pengusaha.

Semangat suamiku juga mulai bangkit, setelah melihat tekad dan kesungguhanku.

Ia pun tergugah untuk mencari peluang bisnis baru.

Meniru jejakku, ia mengenyahkan harga diri dan gengsinya.

Ia menemui rekan-rekan bisnisnya yang dulu untuk menjajaki kemungkinan memulai usaha baru.

Pekerjaan apapun ia ambil. Ia menjadi penyalur alat tulis kantor, mebel dan elektronik.

Dua tahun lamanya aku menyisihkan keuntungan yang kuperoleh. Setelah terkumpul cukup banyak, aku menyerahkan pada suamiku.

Dengan terharu suamiku memelukku, saat itu aku sangat bahagia sekali, perjuanganku berhasil mengangkat dan mengembalikan harga dirinya.

"Jika aku tidak memilikimu, aku tidak tahu hidupku akan seperti apa," bisik suamiku dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih untuk tetap setia mendampingiku melewati masa-masa sulit ini, Ma."

Suamiku menggunakan uang itu untuk membangun perusahaan baru. Ia tidak mau lagi menanam modal untuk bisnis yang rumit dan terlalu tinggi tingkat persaingan dan resiko kerugian tinggi. Kali ini, ia lebih hati-hati dalam menentukan jenis usaha. Ia memilih bentuk bisnis dengan spekulasi kecil tapi mendatangkan keuntungan yang banyak.

Suamiku mendirikan perusahaan ekspor pangan dan kebutuhan pokok ke negara-negara maju. Negara-negara yang tidak memiliki cukup lahan untuk menanam sumber alam, padahal mereka tetap membutuhkan sayur-mayur dan buah-buahan segar untuk makanan mereka.

Tentu saja, suamiku tidak perlu merogoh kocek yang besar untuk membeli kekayaan alam di negeri yang subur dan permai ini, bukan? Dengan mengekspornya, ia memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat. Modalnya bisa berputar cepat.

Meski begitu, suamiku tetap tidak meninggalkan bisnis penyaluran alat tulis kantor, mebel dan elektronik. Dari bisnis ini, ia juga memperoleh tambahan modal segar.

Suamiku menyadari kesuksesannya itu diperoleh berkat bantuanku. Ia merasa berhutang budi, karena itu ia tidak pernah berani melawanku.

Di kantor, suamiku menjadi pemimpin dan orang nomor satu, tetapi bila di rumah ia menjadi suami yang patuh dan penurut.

Ia tahu diri, jika tidak ada aku istrinya, ia tidak akan bisa sesukses ini lagi dan tidak mungkin dipandang sebagai pengusaha terhormat.

Karena itu, suamiku merasa seluruh hidupnya telah dibeli olehku, harga dirinya, gengsinya, semuanya. Tidak ada lagi yang tersisa.

Aku memugar rumah lama kami, dan membeli kebun kosong di sebelah, sehingga kami memiliki lahan untuk memperbesar rumah kami.

Aku membangun rumah ini seperti layaknya sebuah istana. Megah dan luas. Seolah dengan begitu aku ingin mengatakan kepada semua orang bahwa keluarga kami telah bangkit kembali.

Hanya perlu waktu tiga tahun untuk meraih lagi semua kehormatan dan kedudukan yang sempat hilang terenggut dari mereka.

Cinta lahir setahun kemudian, melengkapi kebahagiaan kami.

//

"Jangan nangis terus, Mbak," hibur pemuda itu serba salah. "Jangan bikin saya jadi tambah bingung."

Cinta langsung menghapus air matanya dengan jengkel.

Ia memajukan tubuhnya merapat ke kursi pengemudi, lalu menatap ke spion menantang mata si supir, tepat di saat pemuda itu tengah mengawasinya dari kaca spion .

Terpaksa pemuda itu menunduk rikuh.

"Kalau kau dipisahkan dari orang yang kau cintai, lalu dipaksa kawin dengan orang lain, apa yang akan kau lakukan?" bentak Cinta geram. "Tertawa-tawa? Berteriak-teriak senang?"

"Setidaknya beritahu ke mana tujuan kita," kata pemuda itu sambil menelan ludah keluh. "Yang paling menyiksa bagi seorang supir adalah ketika tidak tahu arah yang dituju."

Cinta menghempaskan punggungnya dengan lemah ke sandaran kursi. Ia membuang pandangannya ke luar jendela dan menarik nafas dengan perasaan tersiksa.

"Bawa saya pergi jauh...." bisiknya sambil menangis lagi.

"Jauh dari rumah itu....! Itu saja yang saya inginkan."

"Apakah mbak punya alamatnya...? Rumah keluarga, atau teman," sergah pemuda itu kebingungan.

"Semua orang yang saya kenal kini menjadi musuh saya," bisik Cinta getir. "Mereka mendukung mama saya untuk menjebloskan saya ke dalam pernikahan keparat ini..."

"Lalu ke mana saya harus mengantarkan mbak?" tanya pemuda itu sambil menyeka dahinya yang berkeringat.

Meskipun AC di mobil ini dingin luar biasa, ia merasa tegang dan kepanasan.

Sejak tadi gadis yang disupirinya ini tidak memberikan jawaban yang memuaskan ke mana sebetulnya ia harus menyetir mobil. Bikin pusing dan jadi ruwet.

"Antarkan saya ke penginapan yang bisa saya tempati untuk waktu yang cukup lama," ucap Cinta akhirnya. "Supaya saya bisa menyembunyikan diri, mengasingkan diri, sampai keributan di rumah reda, dan mereka melupakan pernikahan itu."

Pemuda itu mengambil inisiatif sendiri. Ia tidak mau bertanya apa-apa lagi, daripada malah tambah rumit. Belum tentu gadis itu tahu penginapan mana yang diinginkannya.

"Lebih baik langsung saja aku yang memutuskan," pikir pemuda itu kesal. "Kalau tidak salah, diujung jalan tol Cikampek, ada penginapan yang lumayan bersih, kubawa saja gadis ini ke sana supaya persoalan ini cepat beres. Kepala'ku sudah mau pecah!"

Pemuda itu langsung membawa limousin itu melaju di jalan tol. Selama perjalanan keduanya membisu. Sesekali pemuda itu melirik ke kaca spion dan diam-diam mengagumi kecantikan gadis itu. Ia menyusuri setiap senti yang terpatri di wajah gadis itu.

Matanya yang indah dengan bulu mata yang lentik, dinaungi sepasang alis yang tebal dan hitam. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis memerah.

Cantik sekali, dan gadis itu semakin memukau dengan riasan pengantinnya yang sempurna.

"Sayang," pikirnya. "Cantik-cantik tapi bermasalah."

Pemuda itu mengawasi Cinta yang terpekur memandangi jalan di luar sana.

Entah berapa lama Cinta termenung, matanya memang tertuju ke luar jendela, tapi pikirannya menerawang ke mana-mana. Sampai-sampai ia tidak sadar ketika mobil berhenti di depan lobi kawasan bungalo yang asri dan teduh.

"Apa mbak tidak keberatan menginap di sini?" tegur si pemuda sopan.

Bersambung

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.