Keisha membawa Hellena ke sebuah bangunan berlantai tujuh, Keisha menunjukkan sebuah apartemen untuk Hellena. Tanpa sepengetahuan Hellena ternyata Keisha sudah membayar uang sewa selama satu tahun.
Sesampainya di sana Keisha dan Hellena melihat isi apartemen, menyusuri seluruh ruangan yang sudah terisi dengan beberapa perabotan rumah.
“Kau mau pindah ke sini?” tanya Hellena yang tengah membuka pintu kaca balkon apartemen.
Keisha terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Ini rumah baru untukmu. Aku sudah membayar uang sewanya selama satu tahun. Kau bisa mengembalikan ketika kau punya uang.”
Hellena terperanga mendengar pernyataan yang keluar dari bibir sahabatnya itu. “Kau sudah gila?” menatap Keisha penuh tanya.
Keisha terbahak, ia memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa, setelahnya ia mengusap air mata yang terselip di ujung mata coklatnya.
“Aku tahu selama ini kau menyembunyikan sakit hatimu di balik senyumanmu. Aku juga tahu bahwa kau ingin pergi dari rumah.” Keisha duduk di sofa yang memang sudah ada di dalam apartemen itu.
Hellena menghela nafas berat. “Aku ingin menceritakan semua kepadamu, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana.” Ia menatap Keisha dengan mata sendu, menyiratkan kesedihan.
“Kau boleh menceritakan kepadaku kapan saja kalau kau sudah siap. Jangan dipaksa.” Ia bangkit dari sofa dan menepuk lembut pundak Hellena.
Hellena hanya bisa bergeming, suaranya tercekat. Ia menahan air matanya hingga merasakan lehernya tercekik, terlihat sangat jelas di mata Keisha bahwa sahabatnya itu menahan diri agar air matanya tidak jatuh.
Setelah Hellena melihat tempat tinggal barunya, ia bergegas pulang dan mengemasi pakaian serta barang-barangnya.
Sayup-sayup terdengar suara Amee yang sedang menerima telepon di dalam kamar. Hellena berniat untuk pergi secara diam-diam, ia tidak ingin berpamitan kepada ibunya.
Tentu saja niat Hellena gagal karena Amee masuk ke kamar Hellena tanpa mengetuk pintu.
“Mau kemana kau?” tanya Amee sambil berkacak pinggang.
Hellena tidak menoleh ke sumber suara, ia terus menata pakaiannya dengan tergesa. “Pergi dari rumah ini.”
Amee membulatkan matanya, menatap Hellena dengan sorotan amarah. “Jadi kau ingin pergi dan meninggalkan ibu serta adikmu? Hidup tanpa memikirkan kami di sini?” bentak Amee.
“Bukan kah ibu yang memintaku pergi dari rumah? Apa ibu lupa dengan ucapan ibu tadi pagi?” Hellena menjawab dengan tenang, tanpa melihat ke arah ibunya.
“Beraninya kamu bersikap seenaknya saja!” Kali ini emosi Amee tidak bisa terbendung lagi. Ia menarik rambut Hellena dengan kasar sehingga kepala Hellena sedikit mendongak.
Dengan kasar Hellena menepis tangan Amee sehingga Amee melepaskan rambut panjangnya. Kepala Hellena berdenyut kesakitan karena rambutnya telah ditarik oleh ibunya sendiri.
“Cukup! Sekarang aku mau tanya. Apakah aku bukan anak kandungmu?!” Hellena sedikit meninggikan suaranya, matanya mulai memanas.
“Bicaramu semakin tidak karuan, aku perlu memeriksamu ke dokter.” Amee pergi meninggalkan Hellena tanpa jawaban pasti.
Tanpa membuang watu lebih lama lagi, Hellena segera mengemas dan membawa dua buah koper keluar dari kamarnya.
Ia tidak melihat Amee di ruang tamu maupun di ruang keluarga. Hellena keluar dari rumah itu membawa sakit hati yang selama ini ia rasakan atas perlakuan ibu dan adiknya itu. Derai air mata jatuh begitu saja, menemani perjalanannya menuju tempat tinggal baru Hellena.
Tidak butuh waktu lama ia sampai di apartemen dan membuka pintu. Hening dan sepi, seperti hati Hellena saat ini. Ia meletakkan koper di samping sofa, menatap ke seluruh ruangan.
Ada perasaan lega yang masuk di hati Hellena. Pergi dari rumah yang penuh kenangan indah bersama mendiang ayahnya, namun setelah itu suasana rumah menjadi neraka untuk Hellena.
Hellena duduk di sofa, matanya masih meneteskan air mata kepedihan. “Ibu, kenapa kau melakukan ini kepadaku? Apa salahku? Kenapa kau menyiksaku seperti ini? Bisakah kau mengerti aku sedikit saja?” Ia mengusap kepalanya dengan lembut, sakit bekas tarikan ibunya masih terasa nyata.
Pertanyaan itu yang ingin Hellena tanyakan kepada ibunya sejak lama, namun disaat ia ingin menanyakan semua itu ia tahu pasti Amee akan marah dan memukulnya, sehingga Hellena hanya menyimpannya dalam hati.
Hellena mengusap air matanya dengan kasar, ia mengeluarkan sebungkus rokok dari mantel yang ia kenakan. Menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
Hanya ini yang bisa Hellena lakukan sebagai penghibur hatinya.
Ia berjalan menuju dapur, melihat dapur yang masih kosong tidak ada perabotan apapun. Hellena menghela nafas sebelum ia menyambar kunci mobil dan pergi untuk mencari makan malam dan secangkir kopi.
Suasana malam di Istanbul tentu saja sangat ramai, mereka pergi bersama teman, keluarga, atau kekasih. Sedangkan Hellena hanya pergi seorang diri menuju sebuah cafe yang tidak jauh dari tepi laut Marmara.
Ia memasuki sebuah cafe dengan bangunan kecil berdinding batu bata tanpa pelapis, ornamen khas Turki menghiasi bangunan itu. Hellena memesan dua buah kebab daging domba dan secangkir kopi.
Karena larangan merokok di dalam café, Hellena memilih untuk duduk di luar yang sudah disediakan beberapa meja serta kursi.
Tidak lama kemudian pesanannya datang dan ia melahap makan malamnya dengan tenang. Tidak jauh dari tempat Hellena duduk, terlihat sepasang mata pria yang sedang menatap dirinya tanpa berkedip.
Seulas senyum terbit di bibir pria itu. Mencuri pandang setiap ada kesempatan, entah mengapa pria itu merasakan ketertarikan dengan wanita yang bahkan ia tidak tahu siapa namanya.
Hellena tidak menyadari bahwa ia sedang diperhatikan oleh seorang pria tampan dari kejauhan, tentu saja Hellena terlalu sibuk memikirkan kejadian yang baru saja ia alami dan tidak memperhatikan sekelilingnya.
Setelah perasaan Hellena membaik, ia kembali ke apartemen.
“Untung saja besok libur. Aku bisa mulai membereskan semua.” Hellena melihat dua koper di hadapannya.
Malam hari di kota Istanbul, Turki. Angin dingin masuk melalui celah jendela. Hellena yang sudah berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya. Rasa rindu akan senyuman dan kasih sayang ibunya yang dulu hadir di hatinya.
Tanpa terasa air matanya jatuh dan membasahi bantal yang ia gunakan untuk menopang kepalanya. Berulang kali Hellena menghela nafas untuk menenangkan perasaannya.
Ia melihat ponselnya dan membuka galeri foto. Foto kebersamaan mereka yang dulu begitu sangat indah sebelum ayahnya pergi meninggalkan mereka.
“Ayah, aku harus bagaimana menghadapi semua ini? Aku rindu ayah dan rindu kita yang dulu,” ucap Hellena sambil melihat foto sang ayah di ponselnya.
Malam semakin larut, entah berapa banyak air mata Hellena jatuh malam ini. Ia kelelahan dan tertidur masih dengan sisa isakan tangis.
Ia berjanji kepada dirinya sendiri hanya malam ini Hellena menangis dan esok tidak akan ada lagi air mata yang jatuh.





