Sudut Pandang Jasmine:
Naluriku yang pertama adalah memohon. Keinginan untuk bertahan hidup, mentah dan putus asa, mencakar melewati rasa sakit.
"Tolong," bisikku, suaraku serak. "Tidak ada gunanya. Bara tidak akan membayar tebusan untukku. Dia mengusirku. Dia... dia pikir aku mandul."
Kata itu terasa seperti racun di lidahku.
Reno Mahesa tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengamatiku, wajahnya topeng bayangan yang tak terbaca. Keheningannya lebih menakutkan daripada ancaman apa pun.
Tiba-tiba, getaran terasa di kakiku. Ponselku, masih di saku jinsku. Benda itu bergetar lagi dan lagi.
Reno mengangkat alis, sebuah pertanyaan tanpa suara. Tanganku terikat, jadi dia membungkuk, jari-jarinya menyentuh pahaku saat dia menarik ponsel dari sakuku. Itu adalah kontak singkat yang tidak disengaja, tetapi kehangatan aneh menjalari tubuhku, kontras dengan rasa dingin yang memenuhi pembuluh darahku.
Dia membuka kuncinya dengan satu usapan dan matanya memindai layar. Getaran itu berhenti. Dia memegang ponsel itu agar aku bisa melihatnya.
Layar itu dipenuhi notifikasi dari Dina.
Pesan demi pesan, rentetan kekejaman.
Dina: "Sudah pindah ke rumah Alpha. Jauh lebih besar dari kamarku yang lama."
Dina: "Baju-baju lamamu ada di kantong sampah di teras. Perlu kubakar untukmu?"
Lalu datanglah foto itu.
Itu adalah foto dirinya dan Bara, berpelukan di kamar tidur utama. Kamarku. Ruangan yang telah kuhabiskan bertahun-tahun untuk mendekorasinya, mengisinya dengan selimut lembut dan lilin beraroma. Bara menatapnya dengan tatapan yang ku dambakan selama satu dekade—tatapan kelembutan yang posesif dan tanpa penjagaan.
Perutku mual. Gelombang mual menyapuku.
Di bawah foto itu ada satu pesan terakhir.
Dina: "Sebentar lagi, aku akan memiliki gelar Luna, Dewi Bulan akan memberkati anak kami, dan kau tidak akan punya apa-apa."
Tidak punya apa-apa. Kata itu bergema di ruang hampa tempat jantungku dulu berada.
Saat aku menatap gambar pria yang kucintai bersama wanita lain, di tempat tidur kami, panas aneh menyala jauh di dalam diriku. Itu bukan kemarahan, tidak sepenuhnya. Itu adalah gelombang energi liar yang tak terkendali, penderitaan fisik yang lahir dari pengkhianatan emosional terdalam. Darahku terasa seperti mendidih, kulitku meremang karena demam. Itu adalah rasa sakit karena penolakan, racun perak, dan sesuatu yang lain... sesuatu yang kuno dan purba yang terbangun oleh kehadiran Alpha yang berdiri di hadapanku.
Aku meronta-ronta melawan tali, isak tangis tertahan keluar dari tenggorokanku. "Hentikan! Tolong, hentikan saja!"
Tali itu, yang melemah karena gerakanku yang panik, tiba-tiba putus. Tubuhku terhuyung ke depan, melewati tepi tebing.
Untuk sepersekian detik, hanya ada desiran udara dan pemandangan bebatuan bergerigi di bawah. Aku jatuh.
Kemudian, gerakan kabur.
Reno bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Dia melintasi jarak di antara kami dalam sekejap, lengannya yang kuat melingkari pinggangku, menarikku kembali dari tepi jurang. Dia menarikku keras ke dadanya, punggungku membentur otot yang kokoh.
Lengan telanjangnya menekan secuil kulit yang terbuka di mana bajuku tersingkap. Saat kulitnya menyentuh kulitku, itu terjadi.
Sebuah sengatan, dahsyat dan terang seperti sambaran petir, menjalari seluruh tubuhku. Itu tidak menyakitkan. Itu... segalanya. Arus energi murni yang membuat setiap ujung saraf bernyanyi. Serigala batinku, yang tertidur dan berduka, tiba-tiba bergerak, mengangkat kepalanya dan mengeluarkan lolongan pengakuan tanpa suara.
Reno membeku. Aku bisa merasakan ketegangan tiba-tiba di tubuhnya, bagaimana otot-ototnya menjadi kaku. Napasnya tercekat.
Tatapannya, yang tadinya dingin dan penuh perhitungan, kini menjadi lautan kebingungan yang bergejolak dan sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang sangat posesif.
"Kau mau mati?" geramnya, suaranya getaran rendah di punggungku. Tapi kemudian, kemarahan itu sepertinya terkuras darinya, digantikan oleh kelembutan yang enggan. "Aku meremehkan kekejamannya."
Dia perlahan melonggarkan cengkeramannya, tetapi tidak melepaskannya sepenuhnya. Dia membungkuk, wajahnya dekat dengan leherku. Aku merasakan napas hangatnya di kulitku saat dia menarik napas, panjang dan dalam.
Aroma tubuhnya memenuhi inderaku—aroma pinus yang liar dan bersih setelah badai, bercampur dengan udara dingin yang tajam dari badai salju yang akan datang. Itu kuat, memabukkan, dan jiwaku seolah mengendur, mengenali aroma yang telah dicarinya seumur hidup.
Serigalanya puas. Aku bisa merasakannya. Gemuruh rendah yang senang bergema di dadanya.
Dia dengan lembut menggunakan ibu jarinya untuk menyeka noda darah dari sudut mulutku. Sentuhannya bukan lagi sentuhan seorang penculik. Itu adalah sesuatu yang lain sama sekali.
Matanya terkunci pada mataku, gelap dan intens.
"Aku akan membuat kesepakatan denganmu," katanya, suaranya gumaman rendah yang membuatku merinding. "Kembalilah padanya. Ambil cincin peninggalan orang tuamu. Yang dia pakai."
Dia berhenti, tatapannya tak tergoyahkan. "Bawa itu padaku, dan aku akan membiarkanmu pergi bebas."
---





