Derita berujung bahagia

Setelah pulang dari acara wisuda Shaka, aku langsung merebahkan tubuhku di kamar. Sedangkan Shaka sibuk berkutat di layar laptopnya. Memang aku akui dia memang anak yang rajin dan pekerja keras, tak mengenal kata capek dan lelah, meskipun dia baru pulang dari acara wisudanya.

Sambil rebahan, pikiranku terus melayang pada pertemuanku dengan Bang Hakam di acara wisuda Shaka tadi. Awalnya aku kira hari ini adalah hari bahagiaku dimana aku akan menyaksikan anakku lulus menyandang gelar Sarjana. Namun hari bahagiaku ini sedikit terganggu, karena  adanya kehadiran Bang Hakam dan keluarganya yang datang secara tiba-tiba itu, setelah belasan tahun lamanya kami tidak berjumpa dengannya. Hal-hal sedih di masa lalu pun kini mulai bermunculan lagi di benakku. Aku ingat betul dulu di saat sidang perceraian yang terakhir Bang Hakam melemparkan uang 100 ke arah wajahku.

"Arini ini uang jajan untuk Shaka. Dihemat ya! Dan ingat jangan digunakan untuk keperluanmu!" Aku ingat kata-kata yang menyakitkan itu, hingga sampai sekarang pun aku masih mengingatnya, tak mungkin lupa.

Waktu itu Shaka sangat masih kecil belum mengerti tentang masalah kedua orang tuanya. Kira-kira Shaka berusia 5 tahun ketika aku dan Bang Hakam bercerai. Sedih memang sedih harus dibuang dan dicampakkan demi wanita lain dan keluarganya, tapi apalah dayaku saat itu hanya bisa pasrah dan menerimanya.

Sederetan kisah sedih di masa laluku seolah-olah berebutan kembali muncul di benakku. Hingga tak terasa di ujung ekor mataku menggenang air mata. Cepat aku mengusapnya, agar tidak tumpah meleleh di pipiku. 

Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam, membuang semua kisah sedih itu dalam benakku. Sekarang aku sudah bahagia dengan anakku. Aku tak boleh mengingat kenangan pahit itu lagi, tak boleh. 

Di tengah lamunanku yang lumayan menguras emosi dan air mata, tiba-tiba ketukan pintu terdengar dua kali dari luar, dan siapa lagi jika bukan Shaka anakku. Ya, karena di rumah ini memang ada aku dan Shaka saja, tidak ada yang lain.

"Bu, Ibu, Shaka boleh masuk tidak?" tanya Shaka dari luar kamar. Ah, betapa sopannya anakku ini, mau bertemu denganku saja harus minta izin segala. Padahal tanpa meminta izin pun aku pasti mengijinkannya masuk.

"Masuk saja, Nak, sini!" sahutku dari dalam kamar. Aku pun langsung bangkit dari tidurku dan cepat membereskan segala kekacauan yang ada di wajahku. Sisa-sisa genangan air mata buru-buru aku seka dengan ujung bajuku, agar tidak terlihat jika aku sudah habis menangis. Dan sebisa mungkin aku memasang wajah hangat, seperti tak ada tanda-tanda kesedihan sebelumnya.

Pintu pun terbuka, terlihat Shaka menghampiriku. Lalu dia duduk di sampingku. Sejenak dia menatapku, seolah-olah memastikan Ibunya ini tidak kenapa-kenapa.

"Ibu, tidak apa-apa, kan?" katanya sambil mengusap punggung tanganku, yang kulitnya lumayan sudah tidak sekencang dulu di saat Shaka berusia 5 tahunan.

"Ibu, tidak apa-apa, Nak. Jangan terlalu mengkhawatirkan Ibu." Aku mencoba menyembunyikan rasa sedih, ketika ingatan masa lalu kerap datang dalam benakku.

"Syukurlah kalau Ibu tidak apa-apa." Sejenak Shaka terdiam, dan sejurus kemudian dia melanjutkan kembali ucapannya.

"Bu, masalah tadi mengenai kedatangan laki-laki itu, jangan Ibu pikirin, ya! Shaka juga sebenarnya tidak senang bertemu dengan laki-laki itu lagi. Apalagi minta tolong demi Istri barunya itu. Memang laki-laki itu tidak tahu malu," ucap Shaka dengan berapi-api.

"Siapa bilang Ibu memikirkan laki-laki itu. Entahlah seenaknya saja dia mengemis padamu minta uang, padahal dulu mana ingat dia sama kamu, Nak." Aku pun sama kesalnya seperti Shaka, hanya sekedar membicarakannya saja hati dan pikiran ini terasa mendadak panas.

"Syukurlah kalau Ibu tidak memikirkannya. Oh, ya, Bu, jangan pernah ada kata istilah Ibu tergoda dengan laki-laki itu, Shaka tak rela jika Ibu kembali padanya." Tanpa disangka dan di luar dugaanku, tiba-tiba Shaka berkata seperti itu. Ingin rasanya aku tertawa, bisa-bisanya anakku bisa berpikiran ke arah itu. Sudah jelas aku sangat membencinya. Jangankan ada pikiran untuk balikan lagi dengan Bang Hakam, hanya sekedar mendengar namanya saja aku sudah muak dan jijik.

"Shaka, Shaka, Nak, kamu ini ada-ada saja. Lucu Ibu mendengarnya. Tujuh turunan pun Ibu tak sudi berbaik hati lagi dengan laki-laki itu." Aku terkekeh sambil menepuk pelan pundak Shaka.

"Iya, bener ya, Bu, pokoknya Shaka tidak ridho jika Ibu balikan lagi sama laki-laki itu. Dan jika itu terjadi, Shaka akan hidup sendiri tidak mau tinggal lagi dengan Ibu, titik." Terlihat wajah Shaka merenggut, dan aku pun langsung menenangkannya, membawanya dalam pelukanku.

"Dari dulu sampai sekarang Ibu sudah nyaman hidup seperti ini, hidup berdua denganmu, Nak. Enak saja dia mau kembali lagi pada Ibu, setelah belasan tahun lamanya dia mencampakkan kita. Kita berdua sekarang sudah bahagia dan nyaman seperti ini, jangan berpikiran yang aneh-aneh lagi, ya!" Aku mengelus rambut anakku penuh kasih sayang. 

Tubuh Shaka yang dulu jika aku peluk terasa kecil dan mungil, tapi tubuhnya yang sekarang terasa besar dan berisi, tak bisa aku peluk dalam gendonganku lagi. Sekarang Shaka anakku sudah tumbuh besar dan dewasa. Usianya sudah memasuki kepala dua, tepatnya sekarang dia berusia 22 tahun. Sudah besar dan dewasa, kan?

"Sudah sekarang jangan bicarakan laki-laki itu lagi! Lebih baik sekarang kamu makan, ya. Sebentar Ibu mau angetin dulu makanannya, biar enak nggak dingin. Kita makan bareng-bareng, yah. Rasanya Ibu sudah lama tidak makan bareng lagi sama kamu. Ayo, Nak!" Shaka begitu nyaman ada dalam pelukanku, mendengarkan dan mendengarkan ucapanku. Lantas perlahan aku pun merenggangkan pelukanku, dan mengajaknya bangkit untuk keluar dari kamar.

"Iya, Bu." Shaka menyetujui usulku.

Lalu kami berdua pun pergi ke dapur. Aku sengaja menghangatkan dulu makanan agar nanti dimakan tidak terasa dingin. Sedangkan Shaka menunggu duduk di meja makan.

Tak harus memakan waktu lama, sebentar saja aktivitasku sudah selesai. Aku membawa satu persatu makanan yang barusan sudah aku hangatin, dan terlihat Shaka pun bergegas membantuku membawa semua makanan ke meja makan.

Melihat makanan sudah rapi terhidang di meja makan, membuat air liurku menetes, sudah tak tahan lagi menahan lapar. Dan sama halnya dengan Shaka yang terlihat sangat lapar sekali. 

Cepat aku sodorkan piring ke arah Shaka, dan dia pun langsung mengisinya dengan banyak beraneka ragam makanan. Terlihat dia sangat lahap sekali, sampai-sampai dia tersedak, saking cepatnya dia makan. Dan aku pun sejenak memandangnya dengan tatapan bahagia. Sekarang dia bisa makan enak, makanan apapun pasti bisa dibeli. Sedangkan dulu hanya sekedar makan dengan sayur pun rasanya susah sekali. Ah, keadaan kami yang dulu sangat miris sekali, menyedihkan.

"Bu, kenapa bengong saja? Ayo makan!" Suara Shaka membuyarkan lamunanku. Sejenak dia pun menghentikan aktivitas mengunyahnya dan menatapku.

"Eh, i-iya, Nak." Aku sedikit gelagapan, karena malu sudah ketahuan sedang melamun oleh Shaka.

Aku pun langsung menyendok nasi dan makanan yang lainnya di atas piring yang ada di hadapanku. Dan aku pun langsung memulai aktivitas makan. Akhirnya kami makan bersama-sama dengan lahap dan penuh suka cita. Beberapa kali anakku menambah makan lagi, rupanya dia benar-benar sedang lapar. Maklum tadi selepas usai acara wisuda aku dan Shaka tak sempat makan di luar dulu, takut Bang Hakam dan keluarganya menyusul kami. Jadi aku dan Shaka langsung pulang saja ke rumah, tak pergi kemana-mana dulu. 

Ketika kami sedang nikmat-nikmatnya makan, dari arah luar terdengar suara ketukan pintu yang diikuti dengan ucapan Assalamualaikum.

Aku dan Shaka pun menghentikan aktivitas makan kami, dan mempertegas pendengaran kami, memastikan siapa orangnya yang akan bertamu ke rumah kami?

"Bu, itu siapa, ya? Perasaan hari ini aku tidak punya janji dengan teman-temanku." Shaka menatap ke arahku.

"Entahlah, Ibu juga tidak tahu. Apa mungkin Mang Kardi, ya, yang nagih uang kebersihan bulan ini." Aku mengangkat kedua bahuku. Namun sesaat kemudian aku teringat pada Mang Kardi petugas kebersihan, yang sebulan sekali suka berkeliling ke rumah-rumah warga untuk menagih uang iuran kebersihan.

"Oh, iya, mungkin saja itu Mang Kardi," ucapnya mengiyakan perkataanku.

"Ibu, kedepan dulu, ya, takut Mang Kardinya bosan nunggu." Aku pun langsung menghentikan aktivitas makan, dan segera bergegas ke arah depan untuk membuka pintu.

Sesampainya aku langsung membuka pintu, dan oh sungguh di luar dugaanku, ternyata orang yang ada di hadapanku ini bukannya Mang Kardi, melainkan lelaki tak tahu diri alias mantan suamiku yang sudah berdiri di ambang pintu.

"Mau apa lagi lelaki ini datang menampakkan batang hidungnya lagi," batinku kesal dan dongkol.

Aku mendengus kesal dan membuang kasar wajahku, jijik untuk melihatnya.

"Arini," sapa Bang Hakam memulai ucapannya.

"Hmmm." Hanya kata itu yang keluar dari mulutku.

"Boleh aku masuk?" tanyanya sambil larak lirik ke arah dalam seperti ada sesuatu yang dicarinya.

"Bicara saja di sini! Ada kepentingan apa kamu datang menemui kami lagi? Apa tadi kamu tidak cukup bertemu dengan Shaka?" Rasanya aku ingin membanting menutup pintu ini. Mau apa lagi orang ini datang menemui kami.

"Aku ada urusan dengan Shaka. Ini penting banget. Tolong panggilkan Shaka!" Shaka lagi, Shaka lagi, sepertinya orang ini tak bosan-bosannya menguntit anakku. Pasti ada udang di balik batu lagi, nih.

"Shaka sedang tidur, kasihan dia capek." Bohongku pada Bang Hakam. 

"Bangunkan saja!" Terlihat dari raut wajahnya jika dia ingin segera bertemu dengan Shaka.

"Tidak, kamu pergi saja dari sini!" Usirku, yang sudah tidak tahan lagi melihat wajah Bang Hakam.

"Aku ada perlu dengan anakku bukan denganmu, Arini." Lagi dan lagi dia menyertakan kata anakku sebagai pembelaan dirinya.

Ya, Tuhan terbuat dari apa hati orang ini? Hingga tak punya rasa malu sedikitpun. Bayangkan belasan tahun lamanya dia mencampakkan Shaka begitu saja, dan sekarang tiba-tiba dia muncul lagi ingin meminta tolong. Dasar gila!

"Itu siapa, Bu?" Shaka tiba-tiba datang menyusulku. Dan langkahnya terhenti seiring kedua matanya menangkap sosok Bang Hakam yang sedang berdiri di ambang pintu.

"Shaka." Terlihat kedua mata Bang Hakam berbinar-binar manakala melihat Shaka.

Aku menoleh ke arah Shaka, dan tampak dia pun tak suka atas kedatangan orang yang selama ini dia benci.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.