Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Cinta Tersayat Dendam
Cinta Tersayat Dendam

Cinta Tersayat Dendam

9.5
/ 10
Dalam novel Cinta Tersayat Dendam, Arta bangkit membuktikan diri sebagai wanita tangguh di genre modern ini. Bersama Evan, ia menghadapi konspirasi perusahaan dan ujian kasta. Baca kisah billionaire romance novels ini untuk melihat perjuangan mereka mengungkap dalang kekacauan di web novel ini.

Ringkasan Cinta Tersayat Dendam

Dibuang karena status sosial tak membuat Arta menyerah. Di usia matang, ia memilih fokus pada karier dan kesederhanaan meski kerap dipandang sebelah mata. Namun, hidupnya berubah sejak kehadiran Evan, pengusaha sukses berstatus duda. Hubungan mereka tak berjalan mulus karena berbagai rintangan besar. Selain memperjuangkan cinta, keduanya harus bekerja sama mengungkap dalang sabotase yang mengancam perusahaan mereka di tengah badai konflik dan dendam yang menguji kesetiaan.
Selengkapnya

Cinta Tersayat Dendam Bab 1

"Lu datang sama siapa, Beib?" Mira menyapaku to the point. Pastinya ia bukan tak tahu, bahwa sampai detik ini aku masih sendiri.

"Sama sopir," jawabku singkat.

"Sopir? Sopir taksi maksudnya?"

Aku hanya tersenyum. Malas menanggapi ocehan nyinyir seperti itu.

"Jangan marah, Beib. Makanya jangan jomlo terus. Nunggu apa, sih? Lu 'kan cantik. Pas SMA dulu bahkan jadi rebutan."

Aku masih belum menanggapi. Ini adalah satu dari banyak hal yang membuatku malas datang ke acara reuni. Kalau bukan karena Niar, tentulah aku tak akan datang.

"Pokoknya, kamu harus datang ke acara reuni kali ini!"

Kalimat itu diucapkan Niar berkali-kali dalam sebulan terakhir. Sahabat sejak kelas satu SMA itu sangat gigih mengajakku datang ke acara tahunan, tapi usahanya selalu gagal. Aku tak pernah mau hadir.

Bagiku, reuni adalah buang waktu. Lima belas menit bagi seorang Arta Intan Sari sangatlah berharga. Aku bisa menghasilkan ratusan dolar dalam waktu sesingkat itu. Lalu, untuk apa menyia-nyiakan waktu dengan menghadiri acara yang isinya hanya makan, pamer kekayaan, dan membicarakan aib orang?

"Iya, Ta. Kenapa Lu belum nikah? Bukannya dulu udah pacaran lama sama Dika?" tanya Meta. Play girl paling terkenal di sekolahku dulu.

"Belum jodoh aja, kali," jawabku malas.

"Eh, Dika juga nggak pernah dateng reuni, lho. Ajaibnya, hari ini dia mau ikutan," ujar Mira lagi.

Aku terkesiap. Satu hal lainnya yang kutakutkan ternyata terjadi. Mangkir dari reuni adalah caraku menghindari lelaki itu.

"Oh, ya? Kebetulan aja kayaknya."

Kucoba menampilkan ekspresi biasa, agar mereka tak melanjutkan pembahasan tentang Dika. Nama itu akan membuat semua yang hadir mengingat kami sebagai pasangan paling favorit, di masa putih abu-abu dulu.

"Ngomong-ngomong, lu kerja di mana, Ta?" tanya Meta lagi. "Nggak pernah ada kabar tentang dirimu sama sekali, deh."

"Gue pengacara."

"Pengangguran banyak acara maksudnya?" kali ini Winda yang bertanya.

Aku tak menjawab. Biarlah ia menyangka demikian. Toh, tak ada gunanya menjelaskan ke orang seperti Winda, bahwa statusku memang juga pengacara di salah satu kantor lawyer ternama negeri ini, 'kan?

"Pantesan dandanan lu biasa aja, Ta. Kenapa nggak pakai baju yang kerenan dikit, sih?" Entah suara siapa itu, aku malas memperhatikan.

"Iya, Ta. Kalau nggak ada, gue pinjemin, deh. Emangnya semenyedihkan itu nasib lu? Bahkan cincin sebiji aja lu nggak pakai. Nggak sanggup beli, ya?" Lagi-lagi entah itu suara siapa.

Aku menunduk. Memainkan dua tangan yang satu pun jemarinya tak berhiaskan emas permata. Niar merangkul bahuku. Gadis itu tetap diam, seperti yang aku minta sebagai syarat untuk mau hadir reuni.

"Iya, sih. Gue semiskin itu. Sampai nggak sanggup beli emas." Seutas senyum getir kuperlihatkan pada mereka.

"Arta maunya mas Jawa."

Semua yang duduk di sana tertawa mendengar ucapan Mira.

"Jadi, karena Dika bukan orang Jawa, makanya nggak berhasil bawa Arta ke pelaminan, ya?" kali ini Winda yang bicara. Suaranya terlalu keras hingga beberapa orang yang duduk di sudut lain memandang kami. Salah satu dari mereka kemudian berdiri, berjalan mendekat ke arah tempat dudukku. Dika.

Lelaki itu menatap tajam padaku. Membuat Mira, Winda, Meta, dan Niar bangkit. Mereka pindah ke sudut lainnya dan membiarkanku sendiri, dan memberi ruang untuk Dika.

"Hai, Ta. Apa kabar?"

"Baik."

"Akhirnya aku bisa lihat kamu lagi. Udah berapa tahun kita nggak ketemu, ya?"

"Sepuluh."

"Wah, aku seistimewa itu, ya? Sampai kamu pun ingat kapan terakhir kita ketemu."

Sebenarnya perutku mual mendengar kalimat yang Dika ucapkan.

"Jelas aja aku ingat malam di saat ibumu menghina dan memperlihatkan penolakan, karena aku cuma gadis miskin yang tak sesuai harapannya."

Dika diam sejenak, lalu menghela napas dan mulai bicara kembali.

"Maaf, aku nggak pernah berpikir Ibu akan memperlakukanmu seperti itu."

"Nggak apa. Udah lewat juga."

Hening beberapa menit, hingga terdengar musik mengalun. Beberapa orang di antara teman-teman mulai menari bersama. Tak peduli pria atau wanita, dan sudah menikah atau belum. Ini satu hal lainnya yang kubenci dari acara reuni. Banyak batasan yang rawan dan bahkan sering dilanggar.

"Kamu udah nikah?" Dika tiba-tiba memecah keheningan di antara kami.

Aku menggeleng. Lelaki itu menatap tajam. Membuatku jengah dan ingin segera meninggalkan tempat ini.

"Kenapa?" Dika bertanya lagi.

"Nggak laku kayaknya," jawabku asal yang disambut gelak tawa Dika. Mira dan teman-temannya bahkan sampai menoleh memperhatikan kami di tengah aktivitasnya menari. Ada banyak tanya yang terlihat jelas di raut wajah mereka.

"Bisa aja kamu, Ta. Seorang Arta Intan Sari yang cantiknya diakui sejagat, mana mungkin nggak laku? Kamu aja kali yang pemilih."

Seutas senyum kembali kulempar pada lelaki itu, masih dengan kegetiran yang sama.

"Aku udah takut buat milih, karena sepuluh tahun lalu justru dicampakkan oleh satu-satunya orang yang kupilih."

"Kok, gitu ngomongnya? Kamu nyindir aku?"

"Nggak perlu sindiran untuk sesuatu yang jelas-jelas itu fakta."

Dika masih ingin bicara, tapi urung saat tiba-tiba musik berhenti dan diganti suara pembawa acara. Sosok di panggung itu menyampaikan bahwa sudah tiba saatnya acara beralih pada lelang amal. Hasilnya akan digunakan untuk membangun lapangan basket dan laboratorium sekolah kami yang sudah tak layak pakai.

Aku dan Dika menyimak acara lelang dalam kebisuan. Laki-laki yang duduk di sebelahku ini sudah mengeluarkan uangnya dua juta rupiah untuk satu kaos bertuliskan nama sekolah kami. Benda itu dilelang pertama kali. Setelahnya ada beberapa benda lain yang mencapai nilai lelang masing-masing sepuluh juta rupiah. Dana yang terkumpul sudah seratus lima puluh juta rupiah.

"Teman-teman, kini tiba benda terakhir yang akan dilelang. Sebuah lukisan yang menampakkan sekolah kita dari sudut paling menakjubkan. Dibuka dengan harga lima juta rupiah. Siapa yang akan memberikan tawaran pertama?"

Sebuah lukisan dibawa ke atas panggung. Cukup indah. Sepertinya cocok kalau kuletakkan di perpustakaan kantor. Pemikiran itu membuatku tersenyum lagi, kali ini tanpa rasa getir seperti sebelumnya.

"Kenapa senyum-senyum?" Dika ternyata sedang menatapku dengan pandangan tajam.

"Eh, i-itu ... aku hanya teringat sesuatu yang lucu tentang sebuah lukisan."

Dika tak bereaksi mendengar kalimatku. Ia membuang pandangnya ke arah panggung.

Satu persatu teman-temanku memberikan penawaran. Hingga lima belas menit, angka tertinggi diberikan oleh Angga. Lima puluh juta rupiah. Pembawa acara mulai menghitung. Jika sampai hitungan ke lima tak ada yang memberi nilai lebih, maka lukisan itu akan jatuh ke Angga.

Salahkah jika aku ingin memiliki lukisan itu? Tidak, aku bukan egois atau ingin pamer kekayaan. Ini tidak lebih sebagai kontribusi di acara lelang kali ini, selain memang sudah jatuh cinta pada lukisannya.

Tepat saat pembawa acara menyebutkan hitungan ke empat, aku berdiri dan mengangkat tangan. Dika terkejut menatapku, juga Mira dan hampir seluruh yang hadir.

"Arta Intan Sari. Berapa tawaran yang akan diberikan?"

"Seratus lima puluh juta."

Hening. Semua mata menatapku tak percaya. Termasuk Dika yang kini mulutnya setengah terbuka. Aku ingin lihat, bagaimana sikap mereka setelah ini pada seorang Arta. Gadis yang dianggap miskin karena tak memakai perhiasan di tubuhnya.

***

Bersambung

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
ASI untuk Pak Guru
ASI untuk Pak Guru
Jenara Atmisly harus menghadapi tantangan hormon galaktorea yang mengganggu studinya. Dalam romance novel modern ini, sebuah insiden tak terduga di sekolah membawa sang siswi berprestasi ke dalam hubungan rumit dengan gurunya. Baca selengkapnya dalam ASI untuk Pak Guru di platform web novel.
Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
Di hari ulang tahun pernikahan kedelapan, Jessica mendapati suaminya, Rio Aditya, berselingkuh dengan Nadia. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis kanker ovarium stadium akhir. Menyadari suaminya berniat menceraikannya, Jessica memilih pergi dengan damai. Baca novel romantis modern ini di novel web.
Dinodai keluarga suami
Dinodai keluarga suami
Dalam romance novel Dinodai keluarga suami, Anisa Rahma terjebak di rumah Seno Bagaskara. Di tengah kemewahan billionaire romance books ini, ia harus menghadapi ancaman dari ipar dan adik suaminya sendiri. Akankah Anisa mampu bertahan dari pengkhianatan ini? Baca selengkapnya di webnovel ini.
Direndahkan Oleh Keluarga Suami
Direndahkan Oleh Keluarga Suami
Dalam novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami, Jasmine berjuang di tengah hinaan keluarga elit dan pengkhianatan Ardan. Saat cinta pertama suaminya kembali, Jasmine memilih pergi demi kebahagiaan. Baca kisah romance novel ini di antara deretan billionaire romance books yang penuh konflik.
Jangan bermain-main dengan saya
Jangan bermain-main dengan saya
Dalam novel Jangan bermain-main dengan saya, seorang gadis dijual oleh ayahnya dan terpaksa menghadapi takdir sebagai istri pengedar narkoba. Ikuti kisah mafia penuh risiko ini melalui web novel yang menyajikan pilihan sulit antara kesetiaan dan pelarian dalam dunia romance stories.
Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
Dalam novel misteri Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku, seorang putri disiksa penculik hingga tewas demi melindungi ayahnya yang justru membencinya. Baca novel online gratis ini yang menyajikan kisah tragis penuh ketegangan, rahasia kelam, dan penyelidikan horor yang mematikan.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.