BAHAGIA SETELAH DUKA

“Gabriel langsung pulang?”

“Eh, Abi.” Nadya menatap ayahnya agak terkejut. Sebab pria tua itu menyapa di depan pintu, pas ketika Nadya menutup bingkai itu rapat-rapat seusai Gabriel berpamitan pulang.

“Dia nggak mampir dulu, Nak? Nggak ngobrol sama Abi?” Pak tua melanjutkan pertanyaannya.

Nadya menggeleng tipis, “Nggak, Bi. Katanya ada urusan, jadi nggak bisa mampir.”

“Oh, pantas saja.” Giliran abi yang menggeleng tipis. Nadya mengulum senyum samar, kemudian permisi sama abi, hendak masuk ke dalam kamar.

Ketika mobil Gabriel masuk ke dalam halaman selasar rumah abi, dia tidak ingin mampir dulu. Gabriel masih ada tugas lain yang harus dikerjakannya malam ini. Seperti tugas kantor yang mangkrak. Soalnya Gabriel ambil cuti seharian buat mempersiapkan diri bertemu dengan Mama dan Papanya di rumah. Kalau bertemu di kantor, rasanya takkan etis sama sekali. Ini kan perbincangan masalah keluarga dan pribadi. Bukan masalah pekerjaan.

Gabriel yang sekarang berusia dua puluh delapan tahun adalah seorang wakil direktur Indofarma grup. Kepala grup yang menjabat saat ini adalah kakeknya, sedangkan posisi wakil kepala grup diisi oleh sang Papa. Kalau dalam struktural organisasi perusahaan, posisi Gabriel empat atau lima langkah lebih rendah dari sang Papa. Sebab nyatanya, di atas Gabriel masih ada CFO dan Co-CEO yang lebih memiliki status tertinggi dalam hirarki kepemimpinan.

Mereka yang membantu pekerjaan ayah dan kakeknya. Sedangkan Gabriel hanya bagian inti dari jajaran direksi. Bukan orang yang terlalu berwenang terhadap organisasi konsorsium ini. Konsorsium yang dibangun menggurita di mana-mana. Di pelosok penjuru negeri hingga di sub kawasan Asia tenggara, mereka punya. Keluarga Liem adalah pembesar di negeri ini yang menguasai setengah perdagangan nasional dan lima belas persen perdagangan Asean.

“Aku sudah sampai di apartemen.” Gabriel mengirim pesan, sesaat setelah Nadya masuk ke dalam kamarnya—seusai mengganti pakaian dan sebagainya yang berurusan dengan dunia wanita.

Pesan itu segera terbaca. Ada tanda bahwa si penerima pesan sudah membuka pesan. Centang dua itu sudah berwarna biru. Detik berikutnya, panggilan masuk dari orang yang sama di gawai Nadya. Perempuan itu lekas menjawab. Sebab dia terlihat sedang online di jejaring aplikasi pesan instan.

“Assalamuallaikum ....”

“Iya, Ko. Waallaikum salam.”

“ ..., lagi ngapain?”

“Baru masuk kamar.”

“Abi nggak nanya aku?”

“Tadi nanya.” Nadya menjawab singkat. Dia duduk di depan meja rias. Melepas anting-anting di telinga, meletakkan perhiasan itu di dalam kotak khusus. Lalu menghapus make-up di wajah. Menatap pantulan mukanya yang pias nan menawan.

“Maaf bilang sama abi nggak bisa mampir.”

Nadya mengangguk, “Nggak apa-apa, Ko. Abi ngerti, kok. Cuma ditanya kenapa nggak mampir. Aku bilang Ko Iyel lagi ada urusan penting, makanya nggak bisa mampir.”

“Lain kali deh, mampir. Pas dekat-dekat acara.”

Nadya mendeham. Responnya malam itu tidak terlalu semangat, tidak seperti malam-malam sebelumnya saat Koko Gabriel menelpon. Biasanya Nadya akan antusias mendengar suara Gabriel saat bercerita atau mengeluh kesah. Namun malam ini tidak.

Sejujurnya yang membuat Nadya tidak terlalu semangat merespon ucapan lawan bicara adalah kepikiran bagaimana cara mengakhiri hubungan ini. Jika tahu pada akhirnya akan begini, Nadya mungkin tidak akan mau menerima pernyataan cinta Gabriel. Pernyataan yang mengajaknya untuk saling mengenal lebih dekat satu sama lainnya. Bahkan menjalin hubungan ini. Apalagi mendekati jelang pernikahan. Itu tidak masuk ke dalam to do list Nadya dalam buku catatan hariannya.

Lima atau tiga tahun lalu mereka bertemu dalam sebuah acara reunian. Dari sana kedekatan kembali terjalin. Gabriel yang merupakan kakak kelas Nadya, mencoba mengajaknya berkomunikasi lagi. Sekian lama tidak bertemu, malam itu mengubah segalanya menjadi seperti saat ini. Sungguh, demi Allah! Nadya merasa dilema. Sebab dia telah mengambil Gabriel dari Tuhan dan keluarganya.

Panggilan telepon yang terhubung itu terputus. Gabriel yang pertama mengakhirinya. Pria itu lantas menutup layar telepon. Sepuluh menit dia berada di dalam mobil sembari menelpon Nadya, calon istrinya, Gabriel lalu melangkah keluar dari kendaraan. Mobilnya diparkir di halaman depan apartemen. Tepat di depan lobi pintu masuk yang ....

“Hai, Iyel. Apa kabar?”

Muka Gabriel langsung masam ketika perempuan itu menyapa. Nada suaranya memang lembut dan enak didengar. Wajahnya yang cantik membuat pria mana saja di belahan bumi ini tidak akan menolak pesonanya. Cuma, Gabriel tidak suka melihat dia di sini. Theresia adalah sumber masalah.

“Kenapa kamu ada di sini?” Gabriel bertanya, bukan menjawab pertanyaan Theresia barusan.

“Mau ketemu kamu.”

Gabriel menatap tak senang wajah perempuan jangkung di depannya. “Sorry, aku sedang tidak mau bertemu siapapun saat ini. Apalagi kamu.”

Gabriel melangkah masuk ke dalam lobi apartemen, menuju ke lift yang mengantarnya naik ke atas. Ke lantai unit miliknya, nomor 44, lantai enam. Apartemen St. Arandelle, di seberang super blok flat Batavia tower nine. Salah satu bangunan apartemen paling elit di kawasan padat bangunan tinggi, perkantoran, pusat perbelanjaan dan sebagainya. Di belakang unit apartemen berdiri mall paling besar dan megah di ibukota. Diapit oleh hotel St. Regina IV.

“Iyel bisakah kita seperti dulu!” Theresia berseru, sedikit agak meninggikan suaranya. Sontak saat itu Gabriel berhenti melangkah. Menoleh sekilas ekor matanya ke arah Theresia yang memelas iba. Air mukanya telah berubah sendu dan teduh.

“Tidak akan pernah bisa lagi. Aku tidak mau menjalin hubungan apapun dengan kamu setelah apa yang kamu lakukan kepadaku dulu!”

“Tapi itu cuma sebuah kesalahan, Iyel. Aku khilaf. Aku tidak bermaksud ....”

“Sudahlah, Theresia!” Gabriel memotong kalimatnya. “Nggak usah banyak bersilat lidah. Sekali kamu membuatku kecewa, maka aku akan terus mengingatnya. Satu lagi, soal perjodohan Mama, jangan harap kamu bisa mendapatkan jawaban iya dariku. Karena sekali aku menegaskan akan menikahi Nadya, maka itu keputusan mutlakku. Kamu tak perlu susah payah untuk mendekatiku lagi!”

Gabriel kemudian melangkah menjauh, kali ini benar-benar lenyap dari pandangan mata Theresia. Perempuan itu menghapus air mata yang gugur di pipi. Sialan. Soal dirinya yang pernah membuat Gabriel kecewa masih saja diingat. Padahal itu sudah berlalu.

••••

“Dokter Nadya dijemput sama calon suaminya lagi?”

“Iya, dokter Jimmy. Bentar lagi dia sampai.” Nadya mengulum senyum. Sekali tangannya melihat ke arloji yang melingkar di tangan. Saat itu sudah masuk jam makan siang.

Setengah jam lalu Gabriel mengirim pesan pada gadis ini, memintanya menunggu sebentar, dia akan sampai di rumah sakit. Mereka akan makan siang bersama, seperti yang sudah-sudah. Nadya bekerja di rumah sakit swasta sebagai dokter bedah spesialis.

Nadya meraih tasnya, bersiap hendak pergi meninggalkan ruangan kerja. Memang ada Jimmy di sana, niatnya mengajak Nadya makan siang bersama di kantin rumah sakit. Sayangnya, Jimmy kalah cepat. Gabriel lebih dahulu mengajak perempuan itu pergi.

Pas sekali di depan lobi rumah sakit, kendaraan Gabriel telah markir. Pria itu menunggu di luar kendaraan. Ketika Nadya sudah hadir di depan muka, segera Gabriel membuka pintu mobil. Nadya masuk ke dalam dan Gabriel menyusul. Siang ini mereka akan makan di tempat yang berbeda. Di restoran terkenal, yang berdiri persis di depan pintu masuk CBD*.

*Central Business District

“Nad ....”

“Ko ....”

“Kamu duluan, Nad!”

Nadya mengangguk, bibirnya mengulum senyum samar. Kendaraan Gabriel telah melaju di jalan protokol negara, tumpah di jalan bersama kendaraan lain. Waktu itu mobil menyesakkan jalan, sehingga macet beberapa meter di depan.

“Ko ..., tentang pernikahan kita. Apa bisa ditunda saja dulu. Kita nggak bisa menikah kalau nggak dapat restu dari Mama sama Papanya Koko!”

“Nad ....” Gabriel menatap sinis perempuan yang duduk di sebelahnya. “Kenapa bahas itu lagi, sih? Kan aku sudah bilang, nggak usah dipikirin tentang Mama sama Papa. Toh kalau sampai tiba waktunya mereka bosan, kedepannya mereka bakal menerima kehadiran kita apa adanya. Kita nggak bisa mikirin ego mereka terus, Nad. Kita perlu mikirin masa depan kita sendiri. Kita punya rencana yang harus kita penuhi. Kita sudah serius buat membangun rumah tangga kita. Jadi buat apa mikirin orang lain.”

Gabriel menatap ke depan sekali. Mobilnya melaju pelan, mereka berada di barisan belakang kendaraan yang sedang menunggu lampu merah berubah menjadi hijau.

“Nad ..., aku sampai dititik ini karena keseriusanku. Karena aku yakin sama pilihan aku. Karena aku yakin, kamu adalah yang terbaik untukku. Selama abi memberikan restunya untuk mendapatkan kamu, maka aku nggak perlu mikirin hal lain.”

Nadya menggigit bibir bawahnya. Lantas mengembuskan napas panjang. Tangan memegang tali sabuk pengaman. Jantungnya berdegup kencang karena ucapan Gabriel barusan itu ada benarnya. Mereka sampai di titik ini karena mereka telah berkomitmen. Apalagi Gabriel punya keseriusan yang tidak dimiliki pria lain manapun. Itu yang membuat Nadya memantapkan hati memilih dia sebagai calon suami.

Ingat juga kalau usia Nadya itu tidak muda lagi. Usianya sudah dua puluh tujuh tahun. Di usia begitu dia harus menikah. Meskipun abi tidak menuntut untuk segera memiliki tambatan hidup, tetapi setidaknya Nadya memiliki pikiran untuk membangun rumah tangga. Di saat yang sama, Gabriel menjadi pria yang mengisi hati Nadya saat ini. Jadi buat apa menunda-nunda kalau ada yang mengajak serius untuk menikah.

“Ko ..., maaf.” Nadya mencicit.

Gabriel mengulas senyum tipis. Tangannya mengusap puncak kepala calon istrinya itu. “Jangan sedih begitu. Aku nggak marah dan kamu nggak salah. Kamu cuma khawatir sama pernikahan kita nanti.”

Gabriel menelan ludahnya sesaat, sembari melanjutkan perjalanan kendaraan menuju ke restoran yang telah di-reservasi beberapa jam lalu.

“Kita sholat dulu ya, sebelum makan. Biar kita sama-sama tenang pikirannya.”

Nadya mengangguk. Sejak Gabriel memilih masuk ke Islam, pria itu memang benar-benar mendalami ilmu agamanya. Abi akan menuntun jalan Gabriel supaya dia menjadi seorang mualaf yang sempurna. Bahkan Gabriel tidak pernah meninggalkan sholat lima waktunya. Gabriel benar-benar serius dengan apa yang dipilihnya. Nadya menjadi merasa bersalah kalau ingat bahwa dirinya egois dengan meminta mengakhiri hubungan mereka seperti yang diucapkannya semalam.

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.