Masih di waktu yang sama.
Siang itu jam 12;22. Beberapa menit selepas Gabriel dan Nadya sholat di mesjid besar, mampir sebentar. Nadya menunggu Gabriel di depan mesjid, sedang mengenakan sepatu pantofelnya. Sekali Nadya memerhatikan prianya itu. Dia sangat menawan dan adem saat dilihat kala selesai sholat.
Benar kata Gabriel tadi, sholat membuat pikiran mereka tenang. Itulah kenapa Gabriel selalu membawa Nadya ke mesjid, jika gadis itu gundah gulana memikirkan nasib acara pernikahan mereka kedepannya. Hanya menyoal waktu, terhitung dua Minggu lagi acara itu akan tiba. Dan menyoal waktu pula, orang tua Gabriel pasti pelan-pelan akan menerima kehadiran Nadya dan pernikahan ini.
Namun masalahnya selalu ada-ada saja hal yang dipikirkan menyoal bagian ini. Tak ada habisnya. Seperti Nadya yang berubah pikiran untuk menikah atau sebagainya. Tetapi beruntung, Gabriel sosok yang sangat pengertian. Jadi dia akan terus meyakinkan Nadya supaya terus maju kedepan, menghadapi hari esok mereka yang kian dekat.
“Tadi pihak WO telepon, mereka minta ketemuan, bahas tentang konsep pernikahan. Sama kita belum nyari katering buat acara nanti.” Gabriel berkata pas setelah keduanya masuk ke dalam mobil.
“Kalau katering, aku tanya sama Mas Angga deh. Kita pakai aja yang dulu pernah dipakai sama beliau.” Nadya menjawab pelan.
Gabriel mengangguk. Mobil itu kemudian melaju keluar meninggalkan pekarangan mesjid. Tujuan mereka saat ini makan siang di restoran. Cuaca saat itu terik sekali. Selain itu, panas juga tak tertahan. Kota kami tidak hujan selama sepekan terakhir, itulah kenapa rasanya suhu di ibukota jauh lebih panas daripada sebelum-sebelumnya.
Sepuluh menit, sampailah Gabriel dan Nadya di restoran Perancis, milik seorang koki terkenal asal Turki. Ini pertama kalinya mereka ke sini. Ketika masuk, di depan pintu pelayan dua-tiga datang, menyambut dengan ramah, menunjuk jalan, ke tempat di mana meja yang sudah di-reservasi sebelumnya.
Pelayan wanita menarik kursi untuk Nadya, lalu Gabriel setelahnya. Mempersilakan melihat buku menu makan. Di sana tertera banyak pilihan. Nadya mengamati satu-persatu. Sembari mencari apa yang akan dipesan, dua pelayan lain datang membawa dua gelas jus jeruk segar. Diletakkan di atas meja, tepat di depan Gabriel dan Nadya.
“Main course-nya beef burguignon sama ratatouille. Terus hidangan penutupnya ..., minta mousse.” Nadya menyebutkan pesanannya usai melihat isi daftar menu makanan. Pelayan wanita yang berpakaian rapi itu segera mencatat pesanan pelanggan terhormatnya siang ini.
“Aku pesan main course yang sama. Untuk dessert, aku mau mille-Feuille sama croissant.” Giliran Gabriel yang menyebutkan pesanannya.
Pelayan itu mengangguk. Pesanan kedua orang tamu yang telah me-reservasi tempat ini sudah dicatat sempurna. Tinggal dibawa ke meja dapur para koki yang ahli dalam membuat hidangan nikmat.
Pelayan itu meninggalkan meja Nadya dan Gabriel untuk sesaat. Sembari menunggu pesanan datang, Gabriel mengajak Nadya bicara beberapa hal. Di antaranya adalah tentang rencana pernikahan mereka atau membahas hal-hal random. Sekali Nadya meraih gelas jus, menyedot minuman itu sampai setengah.
Beberapa saat kemudian, pesanan datang. Pelayan menghidangkan makanan ke atas meja dengan ramah dan sopan. Setelah itu, mereka pergi. Nadya segera menyantap makanan itu. Makan siang kali ini bukan yang pertama bagi Nadya dan Gabriel. Sepanjang tiga tahun, ketika keduanya memilih untuk serius terhadap hubungan ini, sudah banyak sekali waktu makan siang yang mereka lewati bersama.
Nadya yang bekerja di rumah sakit sebagai dokter, dua tahun ini memang sering dijemput Gabriel buat diajak makan siang. Sedangkan Gabriel yang bekerja di perusahaan keluarga, lima belas menit lebih awal meninggalkan ruangannya buat menjemput Nadya di tempat kerja. Sejenis simbiosis mungkin?
Gabriel dan Nadya sebenarnya adalah adik dan kakak kelas saat sekolah di SMA Internasional. Abi awalnya tidak mengizinkan, katanya tidak sesuai dengan sekolah yang abi ketahui. Tetapi karena ini kesempatan bagus buat Nadya, maka abi akhirnya menyetujui hal itu. Meski biaya masuk sekolah internasional itu besar, tetapi abi bisa memenuhi kebutuhan Nadya.
Dari perkenalan singkat, Nadya dan Gabriel akhirnya saling tahu. Tetapi tidak sedekat sekarang. Cukup tahu masing-masing saja. Namun dulu Gabriel adalah kakak kelas paling populer. Tanyakan saja kepada koki masak di kantin sekolah. Bah! Dia paling paham seluk beluk soal Gabriel. Atau Nadya akan berpapasan dengannya sekali pada hari Senin. Saat Gabriel sedang olahraga di ruang gym sekolah. Atau ketika telanjang dada, berenang di kolam pribadi milik yayasan yang setara kolam renang olympic.
“Nad, kok melamun? Makanannya nggak dihabisin? Kenapa?” Gabriel menegur. Nadya yang sedang mengenang sesuatu tersadar. Oke, saat ini Nadya sedang tidak bisa fokus pada satu masalah. Otaknya terbayang banyak beban pikiran. Makanya Nadya tidak bisa konsentrasi.
“Nggak apa-apa, Ko.”
“Yakin?”
Nadya mengangguk. Gabriel merespon singkat. Bilang ‘oh’, terus melanjutkan makannya. Satu sendok masuk ke dalam mulut. Tetapi sesekali Gabriel akan melirik Nadya yang tidak menyentuh makanannya, justeru mengacak-acak hidangan itu sampai tidak berbentuk. Diantaranya tumpah ke atas meja, tanpa Nadya sadari.
“Nad ..., kenapa lagi?”
“Eh ..., nggak, Ko.” Cepat-cepat perempuan itu menyahut. Gestur badannya gelagapan.
“Kamu masih kepikiran soal pernikahan kita, kan?”
“Nggak, Ko. Bukan itu.”
“Ngaku saja, Nad. Bilang sama aku apa yang kamu pikirin. Jangan dipendam sendiri. Siapa tahu aku bisa bantu cari solusinya.” Gabriel menatap lekat-lekat wajah merah Nadya. Gadis itu masih menggeleng, tapi kali ini agak tipis. Gabriel memegang kedua tangan Nadya kemudian, mengusapnya pelan. “Nad, ayo cerita. Apa ini karena rencana pernikahan kita?”
Nadya tidak bisa bohong. Gabriel benar. Dia tidak salah menebak. Maka Nadya mengangguk kali ini.
“Masih terngiang, Ko.”
“Tentang?” tanya Gabriel dengan dahi mengerut. Ada banyak hal yang membuat Nadya seperti ini. Jadi Gabriel tidak bisa menebak yang mana yang membuat calon istrinya itu terbawa beban pikiran.
“Tentang restu Mama sama Papanya Koko.”
Gabriel menghela napas sengal. “Itu lagi,” katanya sembari mendorong kursi ke belakang. Dia melepaskan pegangan tangan, menatap Nadya lagi-lagi dengan raut wajah tak seperti sebelumnya.
“Ko ..., maaf. Aku benar-benar nggak bisa begini. Ucapan abi benar tempo bulan. Aku nggak bisa egois dengan membuat calon suamiku harus pindah agama. Apalagi harus dimusuhi keluarga sampai kedua orang tuanya marah besar. Aku juga nggak bisa egois dengan menyeret Koko pergi menjauh dari Tuhan Koko.”
“Nad ....” Gabriel menelan ludah kesalnya, “Tolong jangan bahas itu lagi, Nad. Kita kan sepakat buat melupakannya. Lagian apa yang aku pilih itu sudah jalanku sendiri. Bukan jalan hidupnya kedua orang tuaku atau Tuhanku. Jika seandainya aku ternyata berdosa kepada Tuhanku yang terdahulu, aku akan menanggungnya nanti di akhirat. Yang terpenting saat ini aku bisa bersama kamu. Kita seiman dan seamin. Kebersamaan kita bukan karena kata orang.”
“Tapi apa ini jalan satu-satunya buat kita bersama?” Nadya menatap nyalang Gabriel. Wajahnya sudah sendu, hampir menangis. Tapi tertahan. Nadya kuat, tetapi dia rapuh kalau dihadapkan pada situasi ini.
“Iya, ini jalan satu-satunya untuk kita bersama. Jika kamu menyesal, kita tidak akan pernah melangkah sejauh ini, Nad. Lima tahun kita bersama. Dekat bagai kekasih, tapi kita tidak pacaran karena aku tahu, abi tidak suka hal ini. Dia hanya mau sama orang yang benar-benar serius sama putrinya. Terus mendapatkan hati abi sama Mas Angga itu susah. Sampai aku menukar semuanya dengan sesuatu yang mahal. Kalau kamu kepikiran begitu terus, apakah kita layak dapat hidup bahagia setelah menikah nanti?”
Gabriel menelan ludahnya sekali lagi. Wajah itu benar-benar amat tegang. Pembicaraan mereka sekarang benar-benar sesuatu yang menguras emosi.
“Nad, aku sudah bilang sebelumnya. Urusan Mama sama Papa itu belakangan. Ini hanya menyoal waktu. Kapan hari mereka bosan dengan sikap egois mereka, maka mereka akan menerima kamu. Kita hanya perlu bersabar dan menunjukkan keseriusan kita kepada mereka bahwa kita benar-benar bisa meruntuhkan dinding ego itu. Yakinlah sama aku, Nad.”
Nadya meraih tisu yang ada di depan mukanya. Selembar tisu itu digunakan untuk menghapus air mata yang meleleh, turun di pipi. Mendengar penuturan Gabriel membuat Nadya memang terus merasa bersalah. Ingatannya pasti akan tertuju kepada keluarga besar Gabriel.
Keluarga itu bukanlah keluarga sembarangan. Keluarga terkaya di negara kita. Punya bisnis menggurita. Konsorsium yang dibangun membentuk koloni perusahaan raksasa yang menembus pasar global. Nama Bapak dan kakeknya Gabriel beberapa kali masuk ke dalam majalah bisnis Indonesia.
Nama Cici Gina dan Gamaliel juga tak kalah dengan pesohor bisnis muda lainnya, dimuat dalam majalah mingguan pebisnis muda yang berpengaruh. Apalagi Gabriel? Dia pun sama. Orang yang memiliki nama besar dan berperan penting dalam bisnis keluarga besarnya. Sekali biodata pria ini pernah dimuat dalam majalah Leisure time sebagai generasi muda Asia paling tajir.
Anak perusahaan Indofarma grup tersebar di mana-mana. Ada yang bergerak di bidang tekstil, startup, pertambangan, perbankan, bio gas, minyak bumi, fashion, teknologi dan digital atau bahkan dalam bidang keuangan, kecantikan dan maskapai penerbangan serta pembiayaan keuangan lainnya. Jadi keluarga besar Gabriel punya nama yang sangat tersohor dan mentereng.
Kalau dibandingkan dengan keluarga Nadya, jauh beda statusnya. Keluarga Nadya hanya terpandang dikalangan tetangga komplek saja dan teman-teman bisnis Mas Angga. Tak ada yang bisa dokter muda ini banggakan sebagai kepercayaan diri untuk bersanding dengan Gabriel.
Nadya pamit pergi ke kamar mandi sebentar. Dia ingin merapikan mukanya yang kacau karena hampir menangis dan butuh waktu sendiri sesaat. Gabriel mengerti situasi ini, maka dibiarkannya Nadya meninggalkan meja makan mereka. Tepat sesaat kemudian, satu pesan masuk di telepon genggam Gabriel.
“Sekarang elo menang, memang. Elo bisa dapetin Nadya dengan mudah. Tapi ingat, Briel, gue masih ada di dunia ini. Siapa saja yang berani mengambil orang yang gue suka, gue pastiin dia nggak bakal lama memilikinya.”
Gabriel menelan ludah tercekat. Orang itu lagi. Dia tahu, persaingan mendapatkan Nadya memang tidak mudah. Namun bukan berarti Gabriel akan gentar dengan isi pesan ini. Karena dia telah menang soal percintaan.





