You Are My Destiny

Adelia menatap Alvaro yang baru saja datang dengan tatapan yang datar. Tatapan hangat yang selalu diterima Alvaro dari mertuanya, kini seolah hilang, membuat Alvaro merasa malu atas apa yang sudah ia lakukan pada Olivia.

“Ma, di mana Olivia? Aku ingin bertemu dengannya.” Alvaro bertanya dengan merendahkan suaranya.

“Olivia sedang beristirahat di kamarnya. Temuilah, selesaikan masalah kalian berdua. Tapi ingat, jangan memaksa Olivia!” tegas Adelia.

Alvaro mengangguk, “Aku permisi menemui Olivia.” Dengan kepala yang tertunduk, Alvaro melewati mertuanya. Adelia hanya melirik tajam pada menantunya itu.

Alvaro langsung masuk ke kamar Olivia tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pria itu membawa kaki telanjangnya mencari keberadaan sang istri.

Olivia tampak sedang duduk melamun di ayunan macrame di beranda kamarnya. Alvaro menghampirinya, ia duduk bersimpuh di hadapan Olivia. “Oliv,” panggilnya, lembut, seraya menatap sendu wajah itu. Alvaro semakin merasa bersalah melihat air mata yang terus menetes dari netra yang selalu membuatnya jatuh cinta itu.

“Untuk apa kau datang ke sini?” Olivia bertanya dengan raut wajahnya yang datar, tanpa mau menatap wajah suaminya yang selalu ia damba. Namun sepertinya, kini wajah itu seolah menjadi racun, yang akan membuat dia kesakitan jika menatapnya.

Alvaro mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Olivia, namun dengan segera, Olivia menepisnya dengan kasar, “Jangan menyentuhku!” gertaknya, penuh emosi.

Alvaro pun, kembali menarik tangannya. Pria itu menunduk sejenak, seraya menghela napasnya, berat. Lalu kembali menatap wajah Olivia yang sejak tadi enggan menatapnya, “Olivia, aku datang ke sini untuk minta maaf padamu. Ya, aku akui, aku memang salah. Tapi kejadian itu … aku juga tidak tau, kenapa aku bisa melakukan itu? Andai saja waktu itu aku tidak minum, mungkin hal bodoh itu tidak akan terjadi. Aku sungguh tidak berniat untuk mengkhianatimu Oliv. Aku mencintaimu, mana mungkin aku tega menyakitimu. Kumohon, maafkan aku ….” Alvaro yang tak pernah memohon pada siapapun, namun di hadapan Olivia, ia akan melakukan apa saja asalkan cintanya itu mau kembali. Jika Olivia meminta ia mencium kakinya sekalipun, maka Alvaro akan melakukannya.

“Aku bisa memaafkan apapun kesalahanmu, tapi tidak dengan perselingkuhan!” Olivia membalas, tegas.

“Oliv, kejadian itu sungguh diluar kendaliku, aku tidak berniat berseling—”

“Apapun alasannya, kau telah menghamili Prisa! Kau telah menyakitiku, Al. Sakit!” isak tangis kembali lolos dari mulut Olivia, yang membuat dada Alvaro sesak dipenuhi dengan penyesalan.

Alvaro langsung menarik tubuh Olivia ke dalam pelukannya, ia tak peduli meskipun Olivia memberontak. “Lepaskan aku! Aku tidak sudi kau sentuh, Al! Lepaskan aku!” teriaknya, dengan tangisan yang tersedu-sedu.

“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mau memaafkanku, Oliv. Kau boleh menghukumku, asal tidak menjauh dariku. Kau adalah hidupku, bagaimana mungkin aku bisa jauh dari sumber kehidupanku? Pulanglah, kembali bersamaku, Oliv.”

“Sudah cukup kau membohongiku, Al! Kau sudah menodai kepercayaan dan kesetiaanku! tidak ada toleransi untuk itu. Akhiri hubungan ini, aku ingin kita bercerai!” Kalimat terakhir Olivia, membuat dada Alvaro tersentak. Perlahan ia melonggarkan pelukannya, diiringin buliran air mata yang mulai terjatuh.

‘Cerai’ tidak pernah terlintas dalam mimpinya sekalipun bercerai dengan Olivia. Tapi kini, Olivia dengan terang-terangan meminta berpisah, mengakhiri kisah cinta mereka. Ini sungguh mimpi buruk baginya. “Oliv, apa yang kau katakan? Aku tidak mungkin bisa melakukan itu, aku tidak ingin kita bercerai. Tolong maafkan aku, Oliv. Kumohon ….” Alvaro mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya, memohon untuk yang kesekian kalinya.

Kesalahannya memang fatal, tapi Alvaro tidak pernah menyangka, kalau kalimat itu akan keluar dari mulut Olivia yang mampu menyayat hatinya. Bagaimana bisa ia berpisah dengan wanita yang telah membuatnya jatuh cinta? Bagaimana mungkin, ia bisa berpisah dengan pujaan hatinya? Olivia lebih dari segalanya bagi Alvaro, ia tak akan bisa melepas Olivia begitu saja meskipun ia menyadari kesalahannya.

“Pulanglah Alvaro, dan berhentilah memohon. Seribu permohonanmu hanya akan sia-sia, aku tidak akan merubah keputusanku. Pulanglah, dan sampai berjumpa di pengadilan, aku akan segera mengurus semuanya.” Seperti yang dikatakannya, Olivia akan memaafkan kesalahan Alvaro, tapi tidak dengan perselingkuhan. Olivia sudah memantapkan hatinya untuk berpisah dengan pria yang selama ini dikaguminya dengan penuh cinta. Tidak ada penyesalan sedikitpun di matanya untuk keputusannya itu. Hatinya sudah tercabik sakit, Olivia tidak akan sanggup untuk tetap bertahan dengan Alvaro. Berpisah adalah jalan terbaik.

“Tidak Oliv ….” Alvaro menggeleng, “Aku tidak mau bercerai denganmu, aku tidak mau! Kumohon maafkan aku, kembalilah pulang bersamaku.” Alvaro tak menyerah, ia terus memohon kepada Olivia. Namun sepertinya, semuanya itu sia-sia.

“Jikapun aku bisa memaafkanmu, tapi aku tidak akan pernah bisa melupakan kesalahnmu dan rasa sakit yang sungguh menyiksa ini Alvaro. Biarkan aku mengasihani hatiku yang sudah kau hancurkan ini, biarkan aku memilih jalanku sendiri!” Olivia menegaskan, dengan menarik napasnya dalam-dalam.

Alvaro tertunduk dalam penyesalannya. Dengan berderai air mata, ia mengatakan, “Oliv, bagaimana aku bisa hidup tanpamu? Itu sangat mustahil bagiku. Bagaimana aku bisa melewati hari-hariku tanpa kau di sisiku? Dan … bagaimana mungkin aku bisa tenang tanpa mendengar kecerewetanmu?” Alvaro lalu terkekeh ketika mengingat kecerewetan Olivia yang terkadang membuat kepalanya pusing. Tapi meskipun begitu, Alvaro selalu rindu dengan kecerewetan Olivia yang mampu meluluhkan hatinya yang sedingin es.

Tidak dipungkiri, mendengar kalimat yang diucapkan Alvaro, membuat Olivia mengingat semua kenangan indahnya bersama Alvaro, yang membuat air matanya semakin mengalir deras. Tapi rasa sakit yang dibuat Alvaro, sungguh tidak bisa ia maafkan, Olivia merasa telah dibodohinya. Jika memang benar Alvaro begitu mencintainya, dan menganggap Olivia adalah hidupnya, apapun keadaannya, Alvaro tidak akan pernah melakukan hal laknat itu dengan Prisa atau wanita manapun. Tapi apa yang sudah Alvaro lakukan? Pria itu telah berkhianat dan merusak kepercayaannya.

“Kau masih ingat pertemuan pertama kita? Waktu itu kau terlihat sangat marah sampai kau melempar botol minumanmu ke kepalaku.” Alvaro tertawa.

Bagaimana mungkin Olivia bisa lupa, begitu arogannya Alvaro saat pria itu komplain kepada pelayan restoran. Olivia yang tak tahan dengan sikap Alvaro, tanpa pertimbangan, langsung melayangkang botol air mineral miliknya yang sudah kosong ke kepala Alvaro. Dan tanpa rasa takut, Olivia memarahi pria itu di hadapan banyak orang yang membuat semua pengunjung menelan ludah atas aksinya itu, meskipun ia tau, siapa yang sedang dihadapinya saat itu.

“Sejak saat itu, bayanganmu selalu menari-nari di kepalaku, makianmu selalu terngiang di telingaku, Olivia. Aku marah dengan kejadian itu, aku ingin meringkus dan mengurungmu karena kau telah lancang padaku.” Alvaro menunduk seraya tersenyum, “Tapi seiring berjalannya waktu, wajahmu menjadi candu yang selalu membuatku tersenyum setiap kali aku memikirkanmu.” Alvaro kembali mengangkat wajahnya, menatap netra yang berkilat itu. “Lalu cinta datang dan membuatku gila, sampai aku rela melakukan apapun supaya aku bisa memilikimu ….” Dadanya semakin sesak seiring kalimat yang terucap dari mulutnya. “Kau tau, betapa sulitnya aku meminta restu kedua orang tuamu dan juga kakakmu, waktu itu? Tapi aku tidak pernah menyesalinya meski aku harus berdarah-darah, karena semua usahaku tidak sia-sia, yang pada akhirnya, aku bisa memilikimu. Aku bahagia waktu itu.” Alvaro menghela napasnya sedikit berat, sebelum ia melanjutkan ucapannya, “Tapi … aku sendiri yang sekarang malah menghancurkan semuanya,” tutupnya, seraya mengusap air matanya.

Sementara Olivia, hanya terdiam dengan menahan gemuruh di dadanya yang semakin bergetar hebat. Semua kalimat yang terlontar dari mulut Alvaro, berhasil membuka sedikit celah keraguan di dasar hatinya untuk berpisah. Namun Olivia terus melawannya, meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan pernah menarik kembali keputusannya.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.