Mike memberi kesempatan pada istrinya, Lisa, untuk menghabiskan waktu berdua dengan menantu mereka, Sweet, di dapur. Setelah berpamitan, Mike melangkah cepat menuju ruang kerja pribadinya. Ia meninggalkan keduanya dalam suasana yang lebih akrab.
"Kamu gimana kabarnya? Apakah baik-baik saja?" tanya Lisa sambil menatap Sweet dengan penuh perhatian.
"Aku baik-baik saja, kok, Tan," jawab Sweet jujur, meskipun ada sedikit rasa gugup di dalam hatinya. Ia melirik ke sekeliling, berharap tidak ada yang mengganggu mereka. 'Mungkin Rania masih di kampus,' pikirnya.
Suasana menjadi hening sejenak. Hanya terdengar suara kulkas yang terbuka. Tante Lisa mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan.
"Kamu suka pasta?" tanya Lisa sambil memeriksa bahan di tangannya.
Sweet tersenyum dan membalas tatapan Lisa. "Nggak terlalu suka, sih, tapi aku makan pastanya."
"Oh, ya? Jadi, kamu biasanya masak apa untuk makan malam?" tanya Lisa dengan antusias.
"Aku masak nasi, Tan," jawab Sweet cepat. Ia merasa aneh, tapi juga senang bisa berbincang lebih dekat dengan Tante Lisa. Biasanya, kehadiran Rania dan Tante Silvi selalu membuatnya merasa terpinggirkan.
"Sama, dong, kita! Berarti Tante harus masak lebih banyak untuk malam ini," ujar Tante Lisa dengan senyum lebar.
Sweet menggoyangkan kedua telapak tangannya. "Gak usah, Tan. Aku cuma mampir sebentar, kok, nggak lama."
"Lo, kok, gitu? Bukannya kamu mau pindah ke sini?" tanya wanita paruh baya itu dengan wajah bingung.
"Oh, eng-enggak ... aku ...." Sweet terdiam, tidak tahu harus berkata apa.
"Apanya yang enggak? Semua pakaian kamu di apartemen sudah aku pindahkan. Sebentar lagi ada truk yang mengantarkan semuanya ke sini!" Suara Ethan tiba-tiba muncul, membuat Sweet terkejut. Ia ingat suara itu karena tadi mereka sempat bertemu di tempat audisi.
Sweet segera menggeser kursinya dan menoleh ke arah Ethan, suaminya. Wajahnya menunjukkan keheranan. "Kamu tidak bercanda, kan?" tanya Sweet dengan mata yang melebar.
"Aku tidak bercanda," jawab Ethan tegas. Ia melepaskan jas hitamnya dan menggulung kemeja putihnya hingga ke sikut.
Tanpa berpikir panjang, Sweet meraih tas tangannya dan berlari keluar. Ia tampak panik. Ethan segera mengejar dan menghalangi langkahnya.
"Hey! Mau ke mana kamu?" tanya Ethan, berhasil menangkap pergelangan tangan Sweet.
"Aku mau pulang!" Sweet protes. Suaranya agak meninggi.
"Mau pulang ke mana? Rumah kamu di sini!" bentak Ethan. Genggamannya kuat, menambah ketegangan di antara mereka.
Sweet menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Ia mengembuskan napas pelan, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Dalam hatinya, ia berjuang antara ingin pergi dan merasa terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya.
Beberapa menit kemudian, truk yang dimaksud oleh Ethan tiba di depan rumah. Pria itu tampak bersemangat, mengarahkan orang-orang untuk mengangkat dan memindahkan barang-barang Sweet ke dalam kamar mereka.
Sweet berdiri di tempat. Wajahnya mencerminkan kekecewaan. "Kenapa, sih? Kenapa kamu nggak diskusi dulu sama aku?" tanyanya. Suaranya mulai meninggi, menandakan ketidakpuasan hatinya.
Ethan menatapnya dengan tatapan tegas sambil berkacak pinggang. "Kalau aku diskusikan dulu sama kamu, apa kamu mau pindah tanpa aku paksa?" balasnya. Nadanya penuh dengan penekanan.
Sweet menggeleng sambil tertawa sinis. "Kamu lupa, Ethan? Dulu kamu pernah bilang kalau rumah ini nggak punya tempat buat orang kayak aku," ucapnya. Ia mengembalikan kata-kata yang pernah dulu Ethan ucapkan.
Wajah Ethan seketika memerah. Tentu saja kata-kata Sweet mengenai sasaran. "Kenapa sekarang kamu maksa-maksa begini?" tambah Sweet lagi. Matanya menembus tajam ke arah Ethan.
"Jangan lupa, kamu itu istriku, Sweet Felicia!" sahut Ethan dengan suara sedikit meninggi. Ia tak ingin kalah.
Sweet tersenyum sinis, padahal hatinya sedang bergetar. "Tenang saja, aku pasti akan urus perceraian kita secepatnya," desisnya. Tatapan matanya penuh keberanian, meski ada kesedihan di baliknya.
Tak menggubris ucapan Sweet barusan, Ethan berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia meninggalkan Sweet yang masih berdiri terpaku. Bingung dan frustasi terlihat jelas di wajahnya.
"Aku sudah berusaha menghindar dari mereka, sudah bikin rencana untuk bercerai dari Ethan, tapi kenapa semuanya jadi kayak gini, sih?" gerutu nya pelan. Kepalanya tertunduk seolah langit cerah di atasnya terlalu berat untuk ditanggung.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sport meluncur masuk ke pekarangan. Rania muncul dari jok pengemudi. Tatapannya langsung tertuju pada Sweet seolah baru saja melihat hantu. "Menambah daftar pening!" gumam Sweet. Ia menengadahkan wajah ke langit biru dengan kedua mata terpejam, mencoba menenangkan diri.
"Oh, kita ketemu lagi!" sapa Rania. Dagunya terangkat tinggi dan satu tangan sedang memasukkan kunci mobil ke dalam tas tangan. Tangan lainnya bersedekap dengan angkuh.
Sweet memperhatikan Rania dari atas ke bawah. Perubahannya jelas, Rania kini lebih bergaya metropolitan seolah enam bulan terakhir mengubahnya menjadi sosok yang jauh dari kesan lugu.
"Long time no see! Semoga kamu gak capek lihat wajah aku yang mulai detik ini akan tinggal satu atap sama kalian," ucap Sweet. Nada suaranya mencerminkan keputusasaan.
"What?! Jadi, kamu pindah ke sini? Kenapa?" tanya Rania. Nada suaranya menunjukkan ketidakpuasan.
"Yeah! Semua barang-barangku sudah di dalam. Kalau kamu mau tahu alasannya, tanyakan saja sama Om Mike dan Ethan," jelas Sweet panjang kali lebar sambil menunjukkan ke dalam rumah. Harapannya, Rania bisa merayu orang-orang di sekitarnya agar mengusirnya dari rumah itu.
Rania tersenyum sinis. Sebuah senyum yang penuh dengan sindiran. "Kayak kamu dipaksa aja buat pindah ke sini," ujarnya. Nada suaranya pelan, tetap tajam.
"Emang gitu kenyataannya," jawab Sweet cepat. Ia tidak terpengaruh oleh kata-kata tajam Rania yang berusaha memprovokasinya.
"Kenapa Ethan harus paksa kamu pindah? Bukannya kalian mau bercerai?" Rania menantang. Matanya menyorot tajam.
Sweet menggeleng pelan. "Tanyakan sendiri sama dia, jangan tanya sama aku karena aku juga gak punya jawaban," balasnya. Ia menahan napas sejenak, merasa terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya.
"Fine! Jangan senang dulu. Dulu kamu bisa nge-bully aku, tapi tidak sekarang. Jangan mimpi!" tegas Rania dengan suara yang penuh tantangan. Sweet hanya bisa menggelengkan kepala, merasakan kemarahan mulai membara dalam dirinya.
"Dasar, Manusia Aneh! Kamu merasa di-bully terus, padahal kapan aku bully kamu? Hello, jangan sembarangan bicara, deh. Aku bisa tambah kesal, lo!" Emosi Sweet sudah mulai bergetar. Tanduknya seolah siap keluar.
"Rania ... Sweet! Kenapa mengobrol di luar? Ayo, masuk, Sayang!" Suara Tante Lisa tiba-tiba menginterupsi, menghangatkan suasana yang mulai memanas.
Tanpa menunggu Sweet, Rania melesat masuk ke dalam rumah. Ia langsung melingkarkan tangannya di tubuh Tante Lisa. Ia mencium pipi kiri dan kanan Tante Lisa dengan penuh kasih sayang. Rania jelas-jelas sedang memancing emosi Sweet, seolah menunjukkan bahwa wanita paruh baya itu adalah pelindung terkuatnya di rumah ini.
"Ran, kamu baik-baik saja, kan? Kenapa kamu begini?" tanya Tante Lisa. Wajahnya cemas memperhatikan Rania. Merasa ada yang aneh dari sikap yang ditunjukkan oleh gadis itu saat ini.
Sweet menahan tawa saat mendengar pertanyaan mertua, alias tantenya itu. "Wah, ini, sih, bukti kalau Rania berlebihan," batin Sweet. Mau ngakak tapi terkesan tidak sopan di depan wanita paruh baya itu.
"Aku cuma kangen sama Tante," jawab Rania dengan nada manja, menampakkan wajahnya yang penuh kepolosan.
'Ck! Semakin ke sini, dia makin mirip ibunya,' Lagi dan lagi, Sweet bicara dalam diam sambil tetap berdiri di belakang, 'Ya ampun, pantas saja! Kan, anaknya,' tambahnya dalam hati.
Tante Lisa melepaskan pelukan Rania dan menarik tangan Sweet sambil berkata, "Ayo, masuk!"
Sweet hanya mengangguk, sementara Rania dengan diam-diam melemparkan tatapan sinis ke arah Sweet. 'Awas saja kamu, Sweet. Nanti aku akan bikin kamu tidak betah berlama-lama di sini,' batin Rania sambil menyunggingkan senyum iblis di bibirnya.





