Wanita yang tidak diinginkan

Pagi itu terasa lebih suram dari biasanya. Nadine mengangkat tubuhnya dengan pelan, matanya yang lelah menatap bayang-bayang di dinding kamar. Pikirannya masih terbawa oleh kejadian malam itu-kenangan yang selalu menghantui setiap detiknya. Meskipun Arman sudah pergi ke kantor, ia tetap merasa seolah terkurung di dalam rumah itu, tanpa jalan keluar.

Dengan hati-hati, Nadine bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ia merasakan mual yang semakin menjadi setiap kali ia memikirkan kenyataan yang harus dihadapinya. Perutnya yang mulai membuncit mengingatkannya akan segala keputusan yang telah diambil, meski banyak yang salah.

Di depan cermin, ia menatap wajahnya sendiri. Mata yang semula cerah kini terlihat lelah, dengan lingkaran hitam di bawahnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Kau harus kuat," bisiknya pelan, meskipun suaranya tak lebih dari sekadar penghiburan diri sendiri.

Saat ia keluar dari kamar mandi, Clara sudah ada di ruang makan, duduk dengan santai sembari memeriksa ponselnya. Wajah Clara terlihat dingin, seolah tak ada perasaan sedikit pun terhadap kondisi Nadine.

"Bagaimana, Nadine? Masih bisa bertahan?" tanya Clara, memecah kesunyian dengan nada yang menyindir.

Nadine menundukkan kepala. "Saya baik-baik saja," jawabnya pelan, meskipun hatinya terasa tertekan. Clara tertawa sinis, tak percaya dengan kata-kata Nadine.

"Kau? Baik-baik saja? Jangan bohong, Nadine. Kau hanya numpang hidup di sini. Arman... dia sudah muak denganmu," ujar Clara dengan suara tinggi, hampir berteriak. "Kau hanya beban, yang ada hanya menambah masalah dalam hidup kami!"

Tersentak dengan kata-kata itu, Nadine hanya bisa menahan air mata yang hampir menetes. Ia berusaha untuk tetap tenang, meski perasaannya sudah terkoyak. "Saya hanya... ingin menjalani hidup ini dengan tenang," jawabnya dengan suara gemetar.

Clara berdiri dan mendekati Nadine. Ia memegang dagu Nadine dengan kasar, memaksanya untuk menatap matanya. "Tenang? Kau pikir Arman akan memberimu ketenangan?" ucap Clara dengan nada menggertak. "Jangan bodoh, Nadine. Semua ini hanya ilusi."

Nadine mencoba menghindar, tetapi Clara menahan wajahnya. "Kau tahu kenapa aku datang ke sini? Untuk memastikan kau tahu posisi kamu di sini. Kau hanya sekadar wanita yang tak berguna. Tak ada yang peduli denganmu." Clara menatapnya dengan penuh kebencian.

Nadine menutup matanya, menahan dirinya agar tidak menangis. "Tapi saya masih punya harapan," katanya dengan lirih, meskipun hatinya dipenuhi rasa sakit.

Clara hanya tertawa terbahak-bahak. "Harapan? Kau bahkan tak bisa bertahan hidup tanpa aku! Aku yang memberi makanmu, aku yang memberimu tempat untuk tinggal. Jangan bermimpi terlalu tinggi, Nadine. Arman sudah memilihku."

---

Di Ruang Tamu, Tak Ada Tempat untuk Bersembunyi

Setelah berhadapan dengan Clara, Nadine merasa semakin terhimpit. Setiap langkahnya terasa berat, seperti ada batu besar yang mengganjal di dada. Ia tak tahu bagaimana lagi cara untuk keluar dari semua ini. Meskipun ia merasa hancur, ia berusaha tetap berjalan dengan kepala tegak, mencoba untuk menutupi rasa sakitnya.

Saat memasuki ruang tamu, ia menemukan Arman yang baru saja kembali dari kantor. Wajahnya tampak lebih gelap daripada sebelumnya, seolah membawa beban berat. Ia duduk di sofa, memandangi layar ponselnya dengan penuh konsentrasi. Nadine tahu, saat-saat seperti ini, Arman tak ingin diganggu.

Namun, tak ada cara lain. Nadine harus berbicara dengannya. "Pak Arman," Nadine memulai dengan hati-hati. "Bolehkah kita berbicara sebentar?"

Arman menatapnya sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke ponsel. "Apa lagi?" Suaranya terdengar seperti sebuah perintah, bukan pertanyaan.

"Aku hanya ingin... mengerti," Nadine berkata pelan, mencoba menyusun kata-kata yang tepat. "Mengapa ini semua terjadi? Aku hanya ingin hidup dengan tenang, bersama kamu, seperti yang dulu kita rencanakan."

Arman menatapnya, matanya penuh kebingungan. "Apa yang kau bicarakan, Nadine?" katanya dengan nada datar. "Dulu? Kita sudah lama tidak ada yang sama sejak malam itu. Tidak ada yang sama lagi."

Setiap kata itu seperti pisau yang mengiris hatinya. Nadine berusaha menahan tangisnya, meskipun semakin sulit untuk tetap bertahan. "Aku masih mencintaimu, Arman. Bahkan meski kau tidak peduli padaku, aku masih berharap semuanya bisa kembali seperti dulu."

Arman tertawa sinis. "Kau masih bicara tentang cinta? Kau kira itu yang aku butuhkan sekarang? Lupakanlah, Nadine. Aku sudah tidak peduli lagi."

---

Keputusasaan yang Tak Terelakkan

Malam semakin larut, dan Nadine merasa semakin terperangkap dalam rumah itu. Perasaannya semakin kacau, hatinya terus berontak, tetapi ia tak tahu lagi bagaimana cara untuk melawan. Ketika ia berbaring di ranjang, pikirannya terus berputar, berusaha menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang tak pernah terjawab.

Tangannya kembali menyentuh perutnya yang mulai membuncit, mengingatkan dirinya pada bayi yang kini tumbuh di dalam rahimnya. Bayi itu adalah satu-satunya alasan yang membuatnya bertahan. Meskipun begitu, ia merasa terjebak dalam lingkaran kebencian dan penderitaan yang tak ada ujungnya.

Nadine menatap langit malam yang gelap, berharap ada cahaya yang bisa menuntunnya keluar dari kegelapan ini. Namun, semakin lama, harapan itu semakin memudar, seiring dengan kesunyian yang semakin mencekam.

---

Di Pagi Hari, Mencari Jalan Keluar

Pagi harinya, Nadine bangkit dengan tubuh yang lelah, tetapi semangatnya masih tersisa. Ia tahu, ini bukan hidup yang ia impikan, namun ia tak bisa menyerah begitu saja. Bagaimanapun, bayi itu membutuhkan dia, dan Nadine akan berjuang untuk memberinya kehidupan yang lebih baik-meski harus melawan segalanya.

Ketika ia menyiapkan sarapan, Clara datang lagi, menatapnya dengan ekspresi yang semakin tak sabar. "Jangan hanya berdiri di sini. Aku sudah muak melihat wajahmu. Cepat selesaikan tugasmu."

Nadine hanya mengangguk, berusaha menahan amarah yang mulai membara. Ia tahu, tak ada gunanya melawan Clara. Yang bisa dilakukannya hanya tetap bertahan, sedikit demi sedikit.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.