Wanita Tak Ternilai

Tanpa disuruh dua kali, supir pribadi Miranda itu pun segera melaksanakan titah majikannya.

Zhafira diseret dan dilempar keluar layaknya anjing jalanan.

Di tengah hujan yang begitu deras. Zhafira melangkah lemah dengan serta merta membawa tangisnya.

Jika tubuh Zhafira basah oleh air hujan, maka hatinya terbenam dalam genangan air mata kesedihan.

Zhafira kembali ke rumah sakit dalam keadaan tak berdaya.

Saat ini dia hanya bisa berdoa, dan berharap Tuhan menunjukkan kuasanya, untuk memberi keselamatan pada sang bunda.

Dengan perasaan sedih bercampur cemas, Zhafira duduk di samping Brankar ibunya yang kini terbaring koma.

Saat ini Zhafira hanya bisa meratapi nasib malangnya. Dia tidak punya tempat untuk mengadu, juga tidak ada lagi tempat memohon bantuan.

Ayahnya yang sebelum ini menjadi harapan terakhir Zhafira, sama sekali tidak sudi mengulurkan tangan.

Zhafira menggenggam erat tangan ibunya, doa demi doa pun ia panjatkan demi keselamatan sang bunda.

"Bunda yang kuat, ya ... Bunda harus bertahan. Bunda harus sembuh. Zha janji akan berjuang untuk bahagiain bunda. Zha nggak akan nyerah, Zha akan berusaha lagi cari uang untuk biaya pengobatan bunda," isak Zhafira penuh tekad, meski ia sendiri tidak tahu lagi harus ke mana mencari uang tersebut.

Hampir dua jam Zhafira berada di sana, dia terus mengajak ibunya bicara. Dari yang ia ketahui, bicara pada seseorang yang sedang dalam kondisi koma, bisa membuat orang tersebut memiliki semangat untuk kembali ke alam sadarnya.

Hingga tanpa terasa hari semakin beranjak malam, dan kini jam di pergelangan tangan Zhafira sudah menunjukkan pukul delapan malam. Lalu ia pun berniat untuk pulang ke rumahnya.

"Bun, Zha tinggal pulang sebentar ya ... besok Zha balik lagi ke sini," pamit Zhafira.

Dia bangkit berdiri, lalu menunduk untuk memberi kecupan hangat di dahi ibunya.

Setelahnya, gadis pemilik nasib malang itu perlahan beranjak meninggalkan ruang rawat, dia berjalan dengan kepala tertunduk, jiwa dan raganya lelah menahan beratnya cobaan hidup.

Namun, seberat apa pun beban yang ia tanggung, Zhafira tidak pernah berpikir untuk menyerah.

Saat ini Zhafira hanya butuh istirahat agar tubuh dan mentalnya kembali pulih. Besok dia akan kembali berjualan di toko kue kecil miliknya.

Zhafira tahu keuntungan dari berjualan kue tidak akan cukup untuk membayar biaya operasi ibunya, tapi setidaknya sedikit uang itu bisa ia gunakan untuk membeli obat-obatan berikut sewa ruang rawat. Sampai nanti dia memiliki uang yang lebih banyak, untuk membayar biaya operasi untuk ibunya.

Dalam keadaan yang serba menyedihkan, Zha terus berusaha memotivasi diri sendiri agar semangat hidupnya tidak padam.

Zhafira memang masih berusia 22-tahun, tapi dia sudah tertempa oleh kerasnya kehidupan. Zhafira tumbuh menjadi wanita dengan hati setegar karang, dan memiliki ketabahan yang seolah tidak terbatas.

Boleh dikatakan, berperang melawan badai kesengsaraan sudah menjadi hal yang lazim bagi gadis ini.

"Apa kau sungguh ingin ibumu selamat?'' Pertanyaan itu terdengar oleh Zhafira tepat saat ia tiba di pintu ruang rawat.

Zhafira menoleh untuk mencari asal suara. Lalu dahinya berkerut saat manik matanya menemukan sosok kakek tua, dengan keseluruhan rambut yang sudah memutih.

"Aku bisa memberimu uang untuk membayar biaya operasi ibumu," ucap kakek tua itu lagi.

Pria ini tampak berwibawa, tubuhnya yang sudah berumur masih terlihat tegap dalam balutan jas mewah.

Sepertinya dia bukan orang sembarangan.

Zhafira menjadi heran, dia sama sekali tidak mengenal siapa kakek tua ini.

Lalu alasan apa yang membuat pria tua ini berkata ingin membantunya? Zhafira tidak mengerti.

Ah, jangan-jangan pria tua ini sengaja ingin menjadikan kesusahannya sebagai candaan?

Namun, logika Zhafira berkata kakek tua ini sedang tidak main-main, itu terlihat dari raut wajahnya yang serius.

"Benarkah Kakek ingin membantuku? Tapi kenapa?'' tanya Zhafira bingung, dia tidak ingin terlalu berharap pada orang lain.

Bagaimana bisa Zha ingin menggantungkan harapan pada orang asing? Sementara ayah kandungnya sendiri saja, tidak mau peduli dengan penderitaannya.

"Ya, aku berniat membantumu, tapi tidak gratis!" jawab pria berambut putih tersebut.

Dahi Zhafira semakin berkerut. "Apa yang harus aku lakukan?"

Kakek tua itu tersenyum, dia suka dengan orang yang cepat tanggap seperti Zhafira. "Sebagai gantinya kau harus menikah dengan cucuku," jawabnya dengan nada lugas.

Apa?

Menikah?

Zhafira merasa ada yang salah dengan pendengarannya.

Konyol sekali bagi Zhafira. Bertemu orang tidak dikenal, lalu secara tiba-tiba meminta untuk menikah dengan cucunya.

Zhafira merasa sedang berhalusinasi.

"Bagaimana? Apa kau bersedia menerima tawaranku?" desak kakek tua tersebut.

"Tapi, Kakek. Kenapa kau ingin aku menikah dengan cucumu?" tanya Zhafira tidak habis pikir.

Pria berambut putih itu tersenyum sedikit. "Ada alasan tersendiri untuk masalah itu, dan kau tidak perlu tahu. Sekarang tentukan pilihanmu!"

Zhafira tampak berpikir sejenak, lalu bibir mungilnya terbuka sesaat kemudian. "Kakek tidak bercanda, kan?"

"Jika kau bersedia menerima tawaranku, maka aku akan melunasi biaya pengobatan ibumu sekarang juga."

Tidak banyak waktu yang Zhafira miliki untuk berpikir, ini adalah kesempatan terbaik untuk menyelamatkan ibunya.

Menikah dengan pria yang tidak dikenal sepertinya tidak terlalu buruk, apalagi hal ini bisa membuat ibunya mendapatkan pengobatan.

Zhafira tidak peduli bagaimana nasibnya nanti, dia rela berkorban apa saja demi ibunya.

Dengan spontan Zhafira menjawab, "Jika memang seperti itu, aku bersedia."

"Bagus, ikuti aku ke bagian administrasi," ajak pria tua tersebut.

Zhafira mengangguk patuh, dia mengekor dari belakang.

Pria ini benar-benar menepati perkataannya, bahkan ibunya Zhafira diberikan fasilitas kelas satu, agar mendapat pelayanan terbaik dari tim medis berpengalaman.

Saat ini Zhafira benar-benar lega, akhirnya sang bunda mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan.

Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri yang telah dikorbankan? Zhafira tidak tahu, dan ia sama sekali tidak menyesal dengan keputusannya.

Apa yang menanti di depan sana? Hidup yang bahagia? Atau hidup yang penuh penderitaan? Zhafira tidak ingin memikirkan hal itu sekarang.

Setelah urusan administrasi selesai, Zhafira pun dibawa pergi oleh kakek tua itu.

Zhafira tidak bertanya, meski ia tidak tahu ke mana kakek tua itu akan membawanya. Lagi pula dia sudah menukar dirinya dengan uang untuk membiayai pengobatan sang bunda.

"Apa kau tidak ingin bertanya seperti apa cucuku, calon suamimu nanti?" tanya si Kakek, dan Zhafira menggelengkan kepala.

"Tidak perlu, Kek. Dalam hal ini aku seperti telah menjual diriku, jadi aku tidak memiliki hak untuk menolak. Apa mungkin yang akan menikahiku adalah kakek sendiri?" jawab Zhafira yang diakhiri pertanyaan.

"Hahaha ...." Kakek tersebut malah tertawa keras, karena pertanyaan Zhafira yang terdengar konyol.

"Gadis polos, sepertinya kau terlalu banyak menonton drama. Aku memang sudah lama menjadi seorang duda, tapi aku bukan pria tua-tua keladi," tambahnya.

Zhafira menarik napas panjang, "Siapa pun yang akan menjadi suamiku nanti, aku sudah pasrah, Kek. Aku melakukan semua ini demi ibuku. Demi dirinya aku rela berkorban apa saja."

Kakek tersebut menganggukkan kepala, ia merasa kagum melihat kebaikan hati Zhafira.

Jarang-jarang ada gadis muda yang mau berbakti begitu besar pada orang tua, bahkan sampai mengorbankan diri sendiri.

Setelah hening untuk sepersekian detik, Zhafira kembali berkata, "Kakek, maaf. Sebelumnya aku bahkan belum mengucapkan terimakasih, aku juga belum tahu siapa namamu."

"Namaku Chandra Martinez. Kau tidak perlu berterimakasih, kita saling membantu."

"Namaku Zhafira, Kek."

"Aku sudah tahu," sahut Kakek Chandra.

Zhafira bingung, dari mana kakek ini mengetahui namanya?

Apa kedatangan pria tua ini untuk memeberi bantuan bukan sebuah kebetulan? Melainkan sesuatu yang sudah direncanakan?

Kini mobil yang mereka tumpangi berbelok memasuki sebuah gerbang besar berukiran rumit. Kemudian terus melewati taman yang sangat luas, sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah mansion besar nan megah, yang dari luar saja sudah terlihat sangat mewah.

Zhafira menurut saja saat Kakek Chandra memintanya untuk turun, lalu mengajaknya masuk ke dalam mansion tersebut.

Zhafira sampai ternganga saat langkah pertamanya melewati pintu. Dia menemukan sebuah ruangan super besar dengan langit-langit yang menjulang tinggi.

Tirainya yang terbuat dari kain sutra menjuntai indah dari langit-langit, menutupi setiap jendela kaca.

Semua perabotan yang mengisi ruangan adalah furniture kelas satu, langkap dengan lukisan clasik bernilai tinggi yang menghiasi dinding-dindingnya.

Pada ruang tamu terdapat dua set sofa mewah model eropa klasik, ditambah guci-guci raksasa yang menghiasi sudut ruangan.

Zhafira masih mengedarkan pandangan penuh kagum pada interior mansion, ketika mendengar suara bariton Kakek Chandra.

"Antar Nona Zhafira ke kamarnya, biarkan dia beristirahat," perintah Kakek Chandra pada seorang pelayan.

"Baik, Tuan."

"Zha, pergilah beristirahat, karena besok adalah hari pernikahanmu," ujar Kakek Chandra.

Zhafira sedikit terbelalak.

Besok? Mengapa cepat sekali?

Namun, semua pertanyaan itu tetap Zhafira simpan. Dia mengangguk, lalu mohon diri pada Kakek Chandra, dan mengikuti langkah pelayan tersebut menuju lantai atas.

Zhafira tidak tahu bagaimana hari esok, tapi yang jelas dirinya akan menjadi istri dari seorang pria, yang bahkan tidak ia ketahui siapa namanya, dan seperti apa orangnya.

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.