Wanita Kedua Tuan Alex

"Iya, Om. Maaf saya mau ke dalam dulu," ucapnya salah tingkah dengan tatapan pria yang sangat tampan itu.

"Oiya, tunggu di mejanya aja, Om. Nanti aku ke sana setelah selesai," pintanya merasa kurang nyaman dengan kehangatan tiba-tiba dari pria yang baru saja dikenalnya itu.

Bianca memiliki dua kepribadian, di atas panggung dia merupakan gadis yang nakal dan menggoda namun dibalik panggung dia seorang wanita yang baik hati, pemalu dan sopan.

Ia menangkap ekspresi wajah pria itu yang menunjukkan kebingungannya. Mungkin melihat sikap Bianca yang sangat berbeda. Namun, pria tersebut sangat tertarik dengan dirinya.

"Iya, aku menunggu di sini saja," sahut pria itu membiarkan Bianca kembali masuk ke ruangan.

Sosok Bianca yang begitu menggoda itu, membuat hati pria tersebut langsung jatuh hati padanya dipandangan pertama tadi. Awalnya tertarik dengan kenakalan gadis itu yang meliuk-liuk indah di atas panggung, tetapi setelah berhadapan langsung dengan Bianca, dia semakin tertarik dengan sifat malu-malunya.

Bianca membuka pintu dan melihat pria tadi masih berdiri menunggu di sana.

"Bianca!"panggilnya seakan tidak percaya melihat gadis yang berdiri di depannya adalah gadis yang sama di panggung tadi.

Wajahnya yang natural itu semakin memikat hatinya saja.

"Iya, kenapa Om?" tanya Bianca bingung melihat pria di depannya tidak berkedip memandangnya sejak tadi.

"Kamu sangat berbeda dengan yang tadi di panggung," sanjung nya tanpa bisa menutupi rasa kagumnya pada gadis belia di hadapannya.

"Iya, tadi terlihat cantik karena riasan bedak Om, sekarang ini wajah aslinya aku," ucapnya sedikit minder.

"Bukan begitu, saya lebih menyukai kamu yang seperti ini."

"Iya, terimakasih," ucapnya tersipu malu-malu.

Pria itu tidak berhenti menatap wajah Bianca yang merona merah tersipu malu dengan pujiannya tadi.

"Ayo, ikut aku," katanya menarik tangan Bianca keluar.

Bianca yang tidak memiliki persiapan, tidak sempat mengelak. Ia menurut saja mengikuti pria itu membawanya masuk ke mobil mewahnya.

"Kita kemana, Om?" tanyanya bingung.

Karena baru kali ini ia meladeni tamu kafe yang mengajaknya berkencan di luar.

"Temani saya istirahat, ya," ucap pria itu melajukan mobilnya menuju sebuah hotel.

Bianca kelabakan ketika pria itu menarik tangannya memasuki hotel mewar. "Om, aku menunggu di sini saja," ujarnya sangat ketakutan, ia tidak berhenti mengutuki dirinya karena mau saja diajak pria yang baru dikenalnya barusan.

"Aku lelah, jadi kamu cukup menemaniku istirahat saja, kok," kata pria itu seolah ingin meyakinkannya. Kemudian

menggandeng tangan Bianca memasuki hotel.

Anehnya, ia tidak ada perlawanan, seperti kerbau di cucuk hidung saja mengikuti pria itu masuk ke dalam kamar hotel.

Pria itu menuntunnya duduk di sofa, dan kemudian duduk merapat padanya.

"Maaf, Om, aku harus pulang. Kebetulan siang nanti aku ada pekerjaan. Nanti malam juga aku ada jadwal manggung lagi," katanya merasa risih ketika pria itu merangkul mesra pundaknya.

"Apa kamu tidak capek, Bianca?" Disahuti gelengan kepala dari Bianca.

"Saya Alex Rudiart, panggil saja Alex." tambah pria itu mengenalkan diri.

Bianca mengangguk dan membalas dengan senyum kecilnya. Iapun tidak tertarik sebenarnya mengetahui siapa nama pria itu.

"Kamu sampai jam berapa nanti malam manggung?"

"Sampai pagi, Om."

"Hahh !!" pekik Alex kaget mendengarnya.

"Bukannya sudah cukup uang yang kamu dapat semalaman di kafe tadi?" Lagi-lagi disahuti gelengan kepala dari Bianca.

"Emang ada kontrak kerjamu di sana?"

" Gak, Om. Aku cuma dapat gaji 1 juta sebulan per kafe di tambah bonus saweran itu. Lain halnya kalau double malam ke siangnya, biasanya aku dapat bonus."

Tampak Alex mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa kamu tidak niat berhenti menjadi biduan panggung itu?"

"Aku tidak tahu nyari uang dimana lagi, Om."

"Apa ayah dan ibumu mengetahui pekerjaan mu seperti ini?" tanyanya tiba-tiba merasa kasihan kepadanya.

"Ayah udah lama meninggal, dan Ibuku sendiri yang memaksaku seorang biduan dari kafe ke kafe." Bianca menelan liurnya berkali-kali sebelum melanjutkan ucapannya.

"Bahkan Ibu pernah menjual aku ke pria paruh baya, saat itu Ibu mengajakku menghadiri undangan makan malam bersama geng sosialitanya," tuturnya, tiba-tiba airmatanya luruh begitu saja di pipinya.

Alex tersentuh dengan nasibnya. Pria itu tidak canggung menyeka air matanya, dan memeluknya erat. Bianca bisa merasakan kehangatan dari pelukan Alex. Entah ia nyaman sebagai pelukan seorang ayah atau seorang pria yang siap mengisi hatinya.

"Apa pria itu menodai mu, Bianca?" tanyanya tidak yakin Bianca gadis suci lagi.

"Gak, Om itu tidak jadi menyentuhku."

Alex menarik nafas lega. Sepertinya dia telah jatuh cinta pada Bianca. Dia bisa merasa sangat cemburu membayangkan Bianca bercumbu dengan pria hidung belang.

"Om, antar aku pulang, ya. Sebentar lagi aku harus persiapan nyanyi di kafe Welly."

Namun, Alex malah menatapnya dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.

"Berapa usiamu?"

"17 tahun, Om."

"Apa ibumu begitu jahat padamu?" tanyanya menyelidiki.

"Maaf, Om. Antarin aku pulang takut keburu sore, entar aku kena omel lagi," mohonnya setengah memelas.

"Mmm." Hanya itu. Lalu, Alex membuka dompetnya dan mengambil kartu ATM dan kartu kredit menyerahkannya pada Bianca.

"Gak, usah Om," ucap Bianca meletakkannya kembali di atas meja.

"Kalau kamu tidak ambil, jangan harap malam ini kamu lepas dari pelukanku," ancamnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca yang tiba-tiba memerah.

"I- iya aku ambil, Om," katanya mengambil kembali kartu di atas meja dan bergegas menuju pintu hotel.

Alex tersenyum manis melihat tingkah Bianca yang polos dan sedikit lugu, tidak seperti yang dia lihat tadi di panggung.

"Kok pintunya terkunci, Om?"

Alex menghampirinya, dan menarik tangan Bianca dengan menyentak kasar. Ia sempat sempoyongan namun tidak sampai terjatuh. Tangannya berpegangan kuat di tangan Alex.

Bianca belum sempat menguasai dirinya, ketika

akhirnya tubuhnya harus terjatuh di dada bidang Alex. Aroma tubuh pria itu seolah menghipnotisnya ingin berlama-lama berada di sana.

'Mmm, begini rasanya di peluk?' batinnya pertama ini di peluk pria.

Tanpa sadar matanya menatap dalam raut wajah Alex. Bahkan ketika pria itu merapatkan bibirnya di bibir Bianca, ia hanya terpaku.

Sementara dalam hati Alex, dia begitu mengagumi daya tarik Bianca. Tidak bisa membohongi hati jika dia sangat mencintainya.

Semakin dalam dia memandang bola mata Bianca di pelukannya itu, semakin terasa getaran cinta bergejolak di hatinya.

"Aku mencintaimu, Bianca," bisiknya tanpa mengingat statusnya lagi.

Dengan lembut melumat bibir merah muda milik Bianca, semakin larut dan terbawa suasana hati yang seolah keduanya memiliki perasaan yang sama.

"Lepaskan, Om," pekik Bianca seperti tersadar, mendorong dada Alex.

Bianca segera menyambar kunci di atas nakas, dan berlari keluar kamar. Ia gegas menuju lift dan menutup pintu liftnya.

Entah perasaan apa yang membawanya bisa sedekat itu dengan pria yang baru dikenalnya.

Saat pintu lift terbuka Alex sudah berdiri di depan menunggu Bianca. Senyuman seringai di wajah pria itu menyambutnya di lantai dasar.

***

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.