“Pagi yang cukup cerah untuk jiwa yang sepi. Mereka bilang setiap hari kita harus minum susu, untuk menghadapi dunia tipu tipu yang terkadang mirip asu (anjing)”
Hari ini 17 Februari, Carson sudah dipusingkan dengan Noa, assisten John yang akan mengantar dia menuju bandara. Ini masih pagi namun keributan sudah datang menghampiri. Merepotkan!
Bel apartemennya berbunyi berulang - ulang. Ini baru jam 6 pagi dan siapa brengsek yang berani menganggunya jam segini? Ingin sekali Carson mematahkan dan meremukkan tangannya. Sungguh menggangu sekali! Ini terlalu pagi untuk membuka mata. Kepala masih nyut nyutan tidak karuan. Tidak bisakah ia menikmati paginya dengan tenang?
Ah berengsek sekali!! Carson mengumpat! Dengan susah payah dia bangun dari tidurnya. Membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Saat dia membuka pintu dia melihat Noa yang sudah menunggu. Noa kemudian menyapanya dengan ramah. Bukan tambah senang, Carson malah menatapnya dengan raut penuh kemarahan.
"Tidakkah kau tau ini jam berapa, brengsek!" Umpat Carson dan menatap Noa dengan aura permusuhan seolah – olah ingin menelannya hidup – hidup.
"Tuan John menyuruh saya datang untuk menjemput" jawab Noa dengan sopan tanpa terpengaruh dengan wajah Carson yang tidak bersahabat. Ia sudah sering menghadapi manusia macam ini. Ia adalah assisten dari John Abraham! Duplikat dari manusia yang sedang berada dihadapannya saat ini. Gentar? Tidak mungkin! Ia terlalu terlatih menghadapi manusia menyebalkan seperti Carson.
"Astaga, pria tua itu..tidakkah dia bisa sedikit saja tidak mengangguku dipagi hari!!" Carson memegangi kepalanya. Ia kesal sekali dengan Daddynya yang suka sekali mengganggu tidurnya. Kenapa Orang tuanya satu itu tidak bisa membiarkannya hidup dengan tenang. Tidak biasakah Daddy kesayangannya itu memaklumi bahwa anaknya ini sangat benci dengan hal yang dinamakan bangun pagi?
Carson kemudian menyuruh Noa masuk dan mengambil koper yang sudah dia siapkan tadi malam untuk dibawa ke mobil. Dengan patuh Noa menjalankan tugasnya.
Meskipun Carson sangat muak dan ingin menghancurkan Noa karena merusak mood paginya, tapi ia masih sadar untuk tidak melakukannya. Noa hanya melakukan tugas dari pria tua yang ia ingat adalah ayahnya. Noa tidak pernah bersalah! Yang paling bersalah dari kekesalannya hari ini adalah Daddynya!
Carson kemudian masuk kekamarnya dengan langkah lebar penuh amarah dan mengambil handphone untuk menelpon ayahnya. Ia ingin mengeluh seperti biasanya!
"Pria tua, kau memiliki jam dirumah bukan?" Carson mengatakannnya dengan keras hingga John harus menjauhkan telponnya dari telinganya. Tidak ada basa – basi Carson langsung saja menyerangnya. Ah, anaknya sedang marah sekarang.
"Apa kau sedang meragukan kekayaan John Abraham?" John menanggapinya dengan santai dengan kemarahan anaknya. Ia malah sedang senang sekarang menggodanya.
"Apa jam dirumah mungkin hanya untuk pajangan dan kau tak tahu cara melihatnya?" Carson tidak tahan untuk mengomel kepada Daddynya yang senang sekali menganggunya.
"Kau pikir Daddy mu ini sudah buta?" John malah semakin tersenyum sekarang mendapati kekesalan anaknya.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam enam pagi" Pertanyaan konyol namun terdengar sangat merdu bagi telinga John.
"Apakah pantas seseorang menganggu di jam enam pagi?" Carson terus saja mengomel menunjukkan kekesalannya yang masih terus menguasainya.
"Siapa yang mengganggumu?" Semangat John makin menggebu untuk menyulut kemarahan anaknya. Memang terlihat seperti anak kecil, namun hal – hal seperti inilah yang membuat hidupnya lebih terasa. Kesenangannya memang terlampau sederhana.
"Pria tua yang bernama John Abraham anak dari William Abraham" Carson mengatakannya dengan lantang dan tegas.
"Aku? aku sekarang sedang dirumah menunggu masakan dari ibumu" John tidak berbohong karena ia memang sedang menunggu istri kesayanganya sedang memasak rendang kesukaannnya.
"Thats not the point daddy!!" Carson berteriak
John menjauhkan handphone nya dan tertawa. Sungguh menyenangkan sekali mengganggu Carson. Melihat kembali ekspresinya yang berubah ubah. Sudah cukup lama, hampir empat tahun. John rindu sekali melihat Carson yang dulu.
Kejadian itu telah membuat Carson berubah menjadi pribadi yang dingin. Padahal sebelumnya Carson adalah seseorang yang ceria dan ekspresif. Kejadian yang meluluh lantakkan kebanggaan seorang pria. Hingga hidup pun seperti mati rasa! Tidak ada yang bisa melupakan kejadian mengenaskan itu! Sampai sekarang John masih sering menatap anaknya dengan raut kasihan. Sungguh malang sekali!
"Cepatlah berangkat, boy!" John mengingatkan mengenai tugas yang harus Carson sebagai bagian dari keluarga Abraham.
"Berhenti menggangguku saat aku sudah di indonesia!" Carson berkata serius. Ia sungguh memohon sekarang. Ia ingin segera bebas dari Daddynya yang merepotkan. Carson sebenarnya tahu Daddynya hanya sedang kesepian sehingga terus mengusik hidupnya. Tapi, Carson terlalu lelah menghadapinnya. Ia sudah terlampau sibuk dengan urusan pekerjaan. Selain itu, dia juga masih sering berupaya untuk menyembuhkan penyakitnya. John masih belum menjadi urusan terpenting dalam hidupnya. Jadi, Abaikan saja! Ia tidak sekuat itu untuk membagi waktu!
"Ya ya ya" John langsung mematikan sambungannya. Istrinya sudah selesai memasak rendang. Ia menyudahi menggoda Carson. Jika terus menyulut amarah putra tercintanya itu maka sudah bisa dipastikan Carson akan terlambat menuju bandara.
Diseberang sana, Carson mengumpat ingin menghancurkan handphone miliknya! Ia kemudian melemparnya keatas kasur. Jika menghancurkannya terlalu merepotkan untuk membeli handphone baru.
Carson kemudian membuka bajunya. Oh shit!!! Bentuk badannya sungguh luar biasa. Siapa yang tidak meneteskan air liur saat melihatnya. Tinggi 180 cm, kulit putih dan wow! Delapan roti sobek diperutnya! Perut yang liat dan kotak kotak itu, begitu menggairahkan untuk dijamah. Wajahnya yang tegas, hidung yang mancung. Carson adalah salah satu mahakarya yang luar biasa. Seperti titisan Dewa Yunani, Menggiurkan sekali!!.
***
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Carson sudah sampai di bandara. Dia kemudian menuju jet pribadi milik keluarganya. Ya, kalian tidak salah membaca, siapa yang mau naik pesawat komersil jika dia adalah anak dari orang nomer 6 terkaya di Asia. Keluarga Abraham adalah jajaran konglomerat yang sangat kaya. Perusahaannya sangat banyak sekali. Bukan perkara besar jika hanya menyediakan jet pribadi. Tidak usah sok merendah dengan bergaya sepertu manusia biasa. Karena kenyataannya dia memang duduk ditempat tinggi. Sombong!
Selang beberapa lama penerbangan, akhirnya dia tiba di bandara Juanda Surabaya. Beberapa orang sudah menunggu dan menyambutnya. Yah mau bagaimana lagi, Carson adalah salah satu petinggi di Perusahaan Wind Group. Raksasa bisnis milik keluarga Abraham. Tidak ada penyambutan? Itu tidak mungkin! Ia adalah orang penting yang kehadirannya sangat dinanti. Penyambutan adalah protokol yang tidak bisa begitu saja dilewatkan. Memangnya hanya pejabat saja yang bisa menerima penyambutan? Tidak! Semua yang berkuasa berhak atas sebuah penyambutan.
Kali ini yang datang menyambutnya adalah Direktur Unit Gresik dan beberapa staf. Carson kemudian menyapanya dan mereka akhirnya melanjutkan perjalanan ke Gresik. Perjalanan cukup makan waktu, sekitar satu setengah jam. Carson berpikir kenapa dia tidak menaiki helikopter saja? Ia bosan melihat jalanan!
***
“Tak sebesar Surabaya, tapi tidak buruk juga” Batinnya
Sejak menginjakkan kaki di kota Gresik, Carson Abraham merasakan sedikit aneh pada dirinya. Ada rasa nyaman yang tiba tiba datang. Ada rasa yang seperti hilang namun seperti sudah ditemukan.
Perasaan apa ini? gumannya. Ada rasa yang hangat, seperti kembali pulang ke rumah. Apa karena ini di Jawa timur? Tempat Bara Pradipta pernah tumbuh dewasa? Orang yang sangat berarti dalam hidupnya! Ia terus bertanya-tanya dalam hatinya mengenai keanehan yang terjadi dalam hatinya.
Kukira aku akan muak dengan tempat ini. Tapi kenapa saat menginjakkan kaki disini terasa berbeda? Dan dengan suara asing ini, kenapa begitu bahagia mendengarnya? Dirumah ini ia sendiri, tapi kenapa ia mendengar suara wanita? Apakah mungkin hantu? Tapi tidak ada rasa ketakutan saat mendengarnya! Nyanyian nada sumbang, tidak! lebih tepatnya cempreng dan buta nada. Suara siapa itu? Kadang hilang kadang muncul. Ah, semesta ini, apa sedang bercanda? Sungguh ini tidak lucu!.
Carson kemudian merebahkan dirinya menatap langit – langit kamar.
Hari ini dia tidak ingin langsung berangkat ke pabrik. Dia mau santai sejenak dirumah untuk bermalas – malasan. John juga tidak akan menganggunya, ia sudah berjanji. Membolos sehari saja tentu tidak akan menjadi masalah besar. Mereka sudah mencapai kesepakatan bahwa John dilarang keras untuk menganggunya saat ia sudah di Indonesia. Ah, betapa damainya!
Ia kemudian mengingat kembali percakapan masa lalu dengan Bara, sahabatnya sekaligus adik iparnya yang sudah dahulu pergi ke surga. Seseorang yang telah memberikan hati untuknya dan membuatnya sehat seperti saat ini.
"Kau percaya jika aku bisa mendengar suara hati seseorang?" Bara tiba – tiba mengatakan hal aneh yang Carson tidak mengerti. Tentu saja tidak akan ada yang bisa mendengar suara hati seseorang. Itu diluar nalar yang bisa diterima dengan akal sehat.
"Dan coba sekarang tebak apa yang sedang aku bicarakan di hatiku!" Carson terkekeh dan menggoda Bara dengan menyuruhnya untuk mendengar apa yang ia bicarakan dihatinya. Ia bahkan sudah bertaruh akan memberikan ferrari miliknya jika Bara bisa menebak pertanyaannya itu.
"Aku hanya bisa mendengar suara hati satu orang! Bukan semua Orang" Bara menjelaskannya dengan tenang. Tidak ada kebohongan dalam nada bicaranya. Carson tidak pernah meragukan Bara. Ia tahu betul Bara tidak pernah berbohong.
"Menarik" Carson menaikkan satu alisnya. Ia penasaran siapa yang bisa dengar suara hatinya oleh Bara. Pasti seorang yang sangat spesial bagi sahabatnya ini.
"Tentu" Bara tersenyum lembut padanya.
"Mau bercerita?" Sudah kepalang tanggung, Carson sangat penasaran dan ini butuh dituntaskan.
"Kau ingat aku pernah di besarkan di panti asuhan di Lumajang, Indonesia kan?" Bara mulai bercerita dan Carson dengan tenang mendengarkannya.
"Tentu! keluarga kami donatur tetap disana. Dan kami juga menemukanmu juga disana." Carson tahu tentang Panti Asuhan itu.
"Aku mendengarnya disana! Suara itu" Jadi bukan disini Bara memiliki keanehan itu. Ternyata sudah sejak kecil ia mendengarnya.
"Tidak kah itu berisik?" Pertanyaan itu wajar bukan? Mendengar suara yang bisa didengar saja sudah sangat menganggu apalagi ditambah dengan mendengar suara hati seseorang. Itu merepotkan sekali!
"Berisik tapi cukup menyenangkan" Bara tidak menunjukkan kekesalannya malah tersenyum senang. Sahabatnya ini mungkin sudah tidak waras. Kenapa malah bahagia? Aneh sekali!
"Lalu?" Carson ingin mendengar kembali kisah tentang suara hati ini.
"Aku merindukannya! Suara itu" ucap Bara sambil menunduk sedih.
"Hei, kau mau Sherly adikku mengamuk?" Carson mengingatkan Bara tentang adiknya yang pencemburu. Ia bisa marah jika adiknya itu mendengar bahwa Bara merindukan sesuatu selain dirinya.
"Hahahaha...cukup mengerikan melihatnya cemburu" Bara malah terkekeh geli mendengar kekhawatiran Carson.
"Kau tahu itu, tidakkah adikku bisa memenuhi hatimu?" Carson serius menanyakannya. Mereka sudah berhubungan lama. Namun, Carson tahu bahwa tatapan Bara tidak pernah menunjukkan dia menginginkan adiknya. Carson tahu pasti Bara memiliki seseorang yang sudah penuh mengisi semua tempat dihatinya.
"Tidak" Bara menjawabnya tanpa ragu. Carson merasa hatinya sedikit tercubit merasa kasihan dengan adiknya yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan.
"Kau tidak takut aku menghajarmu?" Carson mencoba mengancam Bara. Namun yang terjadi malah Bara tidak takut sama sekali.
"Apakah hati perlu dipaksa? Aku sudah menyerahkan ragaku dan waktuku untuknya" Bara menjelaskaannya tanpa ragu sedikitpun. Ia memang sudah melakukannya sepanjang waktu. Terus bersama dengan Sherly meski ia tidak menyukainya. Ia terus berpura – pura tersenyum dan berbahagia. Itu sungguh melelahkan namun ia tidak pernah mengeluh. Kenapa ia tidak bisa mencintai Sherly? Bara tidak pernah bisa menjawabnya dengan pasti. Semua orang tahu bahwa Sherly wanita yang sangat cantik dan pintar. Selain itu dia juga sangat baik. Lalu kenapa sudah sekali untuk memberikan hatinya padanya? Apa karena sejak awal sepenuh hatinya sudah diberikan kepada orang lain?
"Benar-benar brengsek!" Carson memukul kepala Bara
"Aku tahu" Bara tidak mengelak dan menerima pukulan itu.
"Kau...benar benar bajingan!" Carson tidak habis pikir dengan Bara.
"Jika kau bertemu dengannya, bisakah kau menjaganya?" Tiba – tiba Bara mengatakan apa yang tidak pernah terpikir oleh Carson. Menjaga? Konyol sekali!
"Siapa?"
"Wanita itu"
"Apa kau gila? bagaimana aku bertemu dengannya? aku di Singapore bro! Dan kenapa tidak kau sendiri yang melakukannya?" Menjaga wanita yang Bara cintai? Terdengar sangat lucu!
"Kau tahu itu tidak mungkin kan? Semesta punya caranya sendiri untuk mempertemukanmu dengannya." Bara mengatakannya dengan pasti seolah – olah ia sudah bisa melihat masa depan.
"Kau sedang kerasukan? kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" Permintaan itu terdengar aneh seperti sebuah wasiat perrpisahan.
"Hanya ingin mengatakannya saja"
"Berhentilah berpikir konyol!itu hanya masa lalu saat kau kecil!" Carson selalu ingat Bara punya cinta pertama saat umurnya sepuluh tahun.
"Dan sekarang mungkin dia sudah jadi wanita usia 26 tahun yang lucu dan menggemaskan" Bara membicarakannya dengan wajah berbinar membuat Carson kesal melihatnya.
"Weird!!"
Percakapan itu terlintas kembali di pikiran Carson. Ia segera bangun dan terduduk. Jadi, ini yang dimaksut Bara? Suara ini? Apa karena sekarang Hati Bara ada ditubuhku? sehingga aku bisa mendengarnya? Tapi bukankah dia bilang wanita itu ada di Lumajang? Apa wanita itu pindah kesini? Tidak mungkin suara ini mampu ia dengar jika tempatnya sangat jauh bukan?
Dan apakah wanita itu adalah alasan kenapa aku nyaman ditempat ini? Apalagi yang sedang semesta siapkan untuk hidupku ini? ini sungguh menarik, sangat menarik!
Aku akan menunggunya, tentang takdir yang menghampiri. Tentang hal baru yang mungkin akan terjadi. Sebuah misteri yang mungkin akan segera terungkap dengan pasti...sangat menarik...batin Carson. Ia tersenyum! Dunianya mungkin tidak akan sama lagi. Mungkin hidupnya akan segera berisik!





