Bab 2 Virgin
Yang Pertama
Rayana menarik nafasnya dalam-dalam, lalu dengan perlahan ia membuangnya. Berdiri dan berjalan mendekati cermin kecil di atas lemari plastik miliknya. Ia mengusap lembut wajahnya, lalu merias tipis dengan sedikit polesan bedak miliknya yang masih tersisa.
Setelah itu ia meraih tas selempangnya dan mengambil ponselnya, setelah mengganti pakaiannya dengan yang lebih feminim, dan terlihat menarik menurutnya, ia kembali menghela nafasnya panjang. Lalu melirik sisa uang yang ia punya. Sekali lagi, ia menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian membuangnya secara perlahan.
"Semoga Tuhan melindungiku, dan memberiku kemudahan dalam segala hal," gumamnya lirih.
Ia kembali membalik badan, dan menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Tak ingin sedikitpun ia menarik garis bibirnya untuk tersenyum. Menampakkan betapa manis dan cantik wajah polosnya itu.
"Sabar Raya, ini sementara, percayalah, pasti sebentar lagi akan ada panggilan kerja untukmu," bisik hatinya.
Berkali-kali ia mencoba menguatkan juga meyakinkan dirinya, bahwa semua yang ia lakukan adalah yang terbaik.
"Tuhan bersamamu Raya," sekali lagi ia berbisik. Memejamkan matanya kuat, sambil menarik nafasnya berat dan panjang. Menahannya sebentar, untuk kemudian ia buang secara perlahan.
"Raya, kamu bisa, kamu kuat, kamu hebat. Demi Ayah Bunda, juga Rasinta dan Bondan. Semangat Raya, semangat, kamu pasti bisa," bisiknya lirih, sambil menatap wajahnya di dalam cermin.
Ujung netranya membasah, ujung bibir bawahnya ia gigit dengan sangat lembut. Kelopak matanya menutup perlahan, bersamaan dengan buliran bening yang ikut turun perlahan membasahi pipinya.
Ia mengangkat telapak tangannya, dan menyeka dengan lembut pipinya. Terisak dan tertunduk sangat dalam.
"Tuhan, aku serahkan segala hidupku padaMu. Tolong jaga Ayah Bunda dan adik-adikku. Aku menyayanginya mereka," gumamnya lirih.
Ia mengangkat wajahnya perlahan, mengusap wajahnya perlahan dengan kedua telapak tangannya. Sejenak, ia memeta wajahnya, menarik nafasnya perlahan, dan mengembuskannya cepat.
Ia kembali menatap uang miliknya, lalu menggenggamnya erat. Ada perih yang teramat snagat di dalam dadanya. Hidup sebatang kara, tak ada sanak saudara. Dan ia harus siap dengan resiko dan kendala yang akan datang menyapa. Ia menghela nafasnya
Setelah memasukkan sisa uangnya yang tinggal satu lembar berwarna hijau, ia lalu keluar perlahan dari kamar kosnya, dan memilih berdiri di tepi jalan raya untuk menunggu jemputan dari pria yang menghubunginya lima belas menit yang lalu. Baru saja ia berhenti, ponselnya berdering. Ia segera meraihnya, tapi sambungan panggilan tersebut langsung berhenti.
Rayana mencebik, ia hanya membuang muka sambil menghela nafasnya kasar. Ia tak mungkin bisa menelepon balik, karena ponselnya hanya terisi paket internet saja. Ia kembali memasukkan ponselnya, dan tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berhenti di hadapannya.
"Waw, kamu lebih cantik dari foto yang kamu pasang," ucap seorang pria muda dengan tampang sangat tampan turun dari mobil tersebut.
Pemuda tersebut meraih tangan Rayana dan mencium punggung tangannya lembut. Ada desir hangat menjalar aneh di dalam tubuh Rayana. Karena ini kali pertama tangannya disentuh oleh seorang pria. Tapi ia berusaha mengabaikannya.
"Kita pergi sekarang, Dara Manis, kenalkan, aku Roberto," ucapnya lagi, lalu ia menarik tangan Rayana dengan sangat sopan, dan menuntunnya untuk masuk ke dalam mobilnya. Dengan tubuh yang panas dingin, Rayana mengikuti langkah pemuda tersebut. Sebisa mungkin ia menghilangkan rasa gugup yang melandanya.
Rayana duduk dengan sangat gugup. Tampak dari keringat yang membasahi keningnya. Ia menarik nafasnya perlahan dan mengeluarkannya pelan-pelan. Sesekali ia melirik pria yang ada di sampingnya.
Pria muda itu terus mengembangkan senyuman, tapi Rayana masih tak bisa menyembunyikan rasa cemas dari wajahnya. Gadis itu tersentak saat sentuhan lembut di paha miliknya ia rasakan. Lalu tangan kekar itu mulai meraih jari tangannya, menariknya dan kembali menciumnya.
"Kenapa tidak fokus saja ke jalanan, lakukan saja nanti jika sudah berada di hotel. Dan aku minta, semuanya aman," ucap Rayana dengan bibir yang terlihat gemetar.
"Iya sayang, hanya pemanasan saja. Emb, boleh saya tahu, kenapa kamu tidak mau sampai Keperawananmu hilang. Toh sama saja bukan, kamu sudah terjamah laki-laki," sahut Roberto, setelah melepaskan tangan Rayana yang ditarik paksa oleh si pemilik tangan.
"Bukan urusanmu," jawab Rayana singkat. Lalu ia membuang tatapannya keluar jendela dan menarik nafasnya dalam-dalam. Perlahan ia membuangnya dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Bagaimana jika aku bayar kamu tiga kali lipat, untuk darah perawanmu," cetus Roberto dengan senyum menyeringai, dan tangannya meremas lembut paha mulus Rayana yang terbuka. Membuat sang gadis tersentak kaget dan menatap tajam kedua bola mata Roberto.
"Seribu kali lipat pun, tak akan aku berikan," jawab tegas Rayana. Membuat Roberto semakin penasaran dibuatnya. Ia menautkan alisnya dengan senyum menyeringai.
"Why? What makes you not want to give it away?", Tanya Roberto penasaran.
"Sudah ku katakan bukan urusanmu," jawab tegas Rayana, dan tiba-tiba mobil tersebut berhenti mendadak, tangan Roberto melepaskan pengait sabuk pengamannya , juga yang melindungi Rayana. Ia dengan cepat meraih punggung gadis itu dan meraup wajahnya.
9ang dilakukan Roberto kepadanya. Membalas lumatan lembut dengan perlahan dan hangat. Seperti yang dilakukan Roberto kepadanya.
"Kenapa rasanya begitu nikmat, ya Tuhan, jangan buat aku terlena Tuhan, ini hanya tuntutan pekerjaan ku. Ampuni aku Tuhan." Hatinya kembali berbisik lirih.
Matanya membelalak saat tangan Roberto mulai menyingkap gaunnya yang menutupi sebagian paha putih mulusnya.
"Hah, apa lagi ini, kenapa tubuhku seperti tersengat listrik. Astaga, kenapa semakin nikmat. Tidak Tuhan, jangan biarkan aku terlena."
Hatinya terus bermonolog, rasa tegang dan takut dalam dirinya mulai berganti rasa hangat dan nikmat. Ia mendesah lirih saat tangan Roberto berhasil menyusup ke dalam gaunnya. Melepaskan pengait bra miliknya, dan perlahan menggerayangi tubuhnya yang kian meremang.
Rayana menggigit bibirnya saat pria tersebut mulai mengeluarkan benda kenyal di bagian dadanya dan menghisapnya lembut. Tak berlangsung lama, lalu Roberto menyudahinya. Membuat Rayana membuka matanya cepat saat tangan Roberto menjauh dari tubuhnya yang sudah berantakan.
"Hmm, aku suka kamu, original, berapa kamu butuh uang," ucap Roberto, yang kembali membawa kendaraannya melaju. Rayana membetulkan letak pakaiannya dengan cepat. Ia malu, karena setengah tubuhnya terbuka sampai ke dada, lalu tertunduk.
"Berapa kamu akan membayarku, jika itu pantas, aku akan terima. Dengan catatan, aku tetap perawan," jawabnya lirih, namun pasti dan penuh penekanan.
"Hahahaha, lugu banget sih kamu. Oke, aku suka yang original, karena aku yang mendapatkan ciuman pertamamu, aku akan kasih kamu lima juta, untuk malam ini saja. Besok malam, aku masih ingin tubuhmu. Dan akan aku berikan lebih, jika kamu sudah lebih lihai memuaskanku," ujar pemuda itu dengan wajah puasnya.
Rayana menoleh cepat dan menatapnya lekat. Ia menelan salivanya berat, dengan wajah yang memerah.
"Bagaimana kamu tahu, kalau barusan adalah ciuman pertamaku," tanyanya.
Roberto menyeringai, lalu mengangkat tangannya dan mengusap lembut bibir Rayana. Gadis itu menepisnya, dan membuat Roberto memelototkan matanya.
"Aku bilang turuti semua keinginanku, jangan berani menghindar. Atau aku akan merusakmu, tanpa upah sepeserpun!" bentak Roberto.
Yang membuat Rayana tersentak kaget dengan tubuh gemetaran. Ia terdiam, netranya menghangat, namun Rayana coba menahannya.
"Maaf, aku hanya takut," jawab Rayana lirih, dengan wajah yang menunduk. Roberto menghela nafasnya panjang.
"Yang harus kamu tahu adalah, aku menyukaimu. Mengerti," tegas Roberto, Rayana mengangguk pelan. Meski ia tak mengerti makna dari kata menyukai itu apa. Yang ia tahu, dia akan dibayar atas semua yang ia berikan dan lakukan terhadap pemuda itu.
Kendaraan berhenti di sebuah hotel bintang lima, membuat Rayana berdecak kagum. Bagaimana tidak, ini kali pertama ia memasuki gedung bertingkat dan terlihat sangat mewah.
"Ikuti aku," tegas Roberto.
Rayana menurut, dan mengekor langkah pemuda itu kemanapun ia melangkah. Sampai tiba mereka di sebuah kamar mewah di dalam hotel tersebut. Dada Rayana mulai berdegup kencang tak beraturan.
Nafasnya naik turun, kala ia menatap Roberto yang mulai melepaskan pakaiannya satu persatu dihadapannya. Terpampang di hadapannya, tubuh kekar berotot milik pemuda itu. Perutnya yang memperlihatkan otot sispeknya, membuat Rayana menelan salivanya berat.
"Apa kamu tidak memiliki pakaian yang lebih menarik Manis?", ucap Roberto menatap tubuh Rayana dari ujung kepala hingga ujung kaki Rayana. Gadis itu memperhatikan penampilannya sendiri. Ia memejamkan matanya kuat, lalu menghela nafasnya berat.
"Kamu butuh penampilan, atau tubuhku?", balas Rayana tegas. Karena ia tak punya jawaban atas pertanyaan pemuda tersebut. Yang ia kenakan adalah pakaian terbaik yang ia punya. Tidak ada yang lain lagi.
"Hahahaha, katakan saja, kalau kamu tak punya yang lainnya," balas Roberto, membuat Rayana memerah pipinya.
"Ish, bukan urusanmu lah," sahut Rayana kesal, sambil membuang pandangannya. Lalu menyilangkan kedua tangannya ke dada. Dan tiba-tiba Roberto sudah berada di belakangnya dan mendekap tubuhnya dari belakang. Rayana tersentak, namun tak berani menolaknya.
Tangan besar itu sudah menguasai tubuh Rayana. Dan gadis itu pasrah dengan yang ia terima.
"Seperti namamu, Dara Manis, kamu memang sangat manis. Berapa harus ku bayar untuk selaput daramu Manis?", bisik Roberto yang sudah menggerayangi tubuh mulus Rayana.
Rayana menahan nafasnya, ia mencengkram kuat gaun bagian bawahnya. Menggigit bibirnya kuat, gejolak yang baru pertama kali ia rasakan membuatnya meremang hebat. Gelenyar nikmat menjalar perlahan mengaliri setiap desir darahnya. Membuatnya seakan melayang dan terlena karenanya.
"Aku akan membayar berapapun yang kamu minta Manis. Katakan, berapa yang kamu mau."
Roberto semakin liar menggerayangi tubuh Rayana. Membuat gadis itu terpejam dan mendesah karenanya.
🍁 BERSAMBUNG 🍁
Akankah Rayana terlena dengan buaian Roberto?





