Mila, yang kini berada di bawah guyuran shower, merasakan kehangatan air yang menyelimuti tubuh polosnya. Namun, raut wajahnya tidak lagi mencerminkan kebahagiaan yang seharusnya dirasakan oleh seorang pengantin baru. Air matanya bercampur dengan tetesan air shower, menyelinap di pipinya, tetapi tersembunyi dari pandangan karena tersapu oleh air.
Jika ditanya bagaimana perasaan Mila saat ini? Jelas sangat kecewa dan sakit hati. Bagaimana tidak, ia baru saja menjadi istri Edward Putra Pratama, namun di malam pengantin mereka, ia melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Rasanya seperti pedang yang menusuk langsung ke dalam hatinya. Sebagai seorang istri, siapa yang tidak akan merasa marah dan terluka oleh pengkhianatan semacam itu?
Setelah semua harapan dan impian tentang kehidupan pernikahan yang harmonis, kejadian ini menghancurkan keyakinan Mila. Ia merasa marah dan terpukul, bertanya-tanya mengapa suaminya dapat melakukannya di saat mereka seharusnya saling mendukung dan mencintai satu sama lain.
Tok..
Tok..
Tok..
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar dari luar kamar mandi.
“Mila!” panggil Edward.
Tapi tunggu! Kenapa suaranya terdengar seperti orang marah? Apa Mila salah dengar?
Mila memilih untuk tidak mengindahkan panggilan suaminya yang datang dari luar kamar mandi. Ia ingin menyampaikan rasa kesal dan kekecewaannya kepada Edward atas sikapnya yang telah keterlaluan. Merajuk menjadi pilihannya sebagai bentuk protes terhadap perlakuan Edward yang tidak pantas.
Namun, keheningan dalam kamar mandi terganggu oleh suara keras yang menggema di balik pintu. Edward terus menerus menggedor pintu kamar mandi dengan keras, menunjukkan betapa ia sangat marah.
“Mila! Buka pintunya atau aku dobrak!” ancam Edward membuat Mila segera melihat tubuhnya yang polos dan secepatnya mengambil bathrobe dan memakainya menutupi tubuh moleknya.
Lalu ia berjalan cepat membuka pintu sebelum pria itu semakin marah.
“Mila! Aku enggak main-main ya. Aku hitung sampai tiga kalau belum di buka juga aku dobrak pintu ini.”
“Satu.. Dua.. Ti-“
Ceklek..
Pintu terbuka sebelum Edward selesai berhitung dan sudah mengambil ancang-ancang.
“Ada apa?” tanya Mila, mengerucutkan bibirnya merajuk dan berharap suaminya mau merayunya dengan kata-kata manis. Seperti yang dilakukan abangnya, Nathan, saat ia merajuk.
“Jangan bilang Mami soal kejadian yang tadi,” ucapnya dingin, entah mengapa Mila seperti kehilangan sosok Edward saat awal mendekatinya. Saat masa pedekate, Edward sangat manis melebihi manisnya kembang gula.
“Kejadian apa?” ketus Mila pura-pua tidak ingat.
Ingin rasanya ia amnesia agar tidak mengingat kejadian memalukan tadi.
Edward semakin geram dengan sikap Mila yang seolah menantangnya.
“Kejadian kamu jatuh di kolam tadi, sungguh memalukan.” cetus Edward.
Mila berusaha menelan ludahnya, namu tetap menampilkan wajah biasa saja.
“Enggak, aku enggak malu. Yang malu itu seharusnya kamu dan Clarissa. Mas kan sudah menjadi suamiku harusnya Mas bisa jaga sikap. Aku pikir Mas sudah berubah.”
Edward malah tersenyum bengis.
“Cih, kamu pikir kamu siapa bisa merubah hidupku. Kamu itu sama saja dengan wanita lainnya, murahan dan mudah dirayu.”
“Mas Edward! Sekali lagi kamu bilang begitu, aku gampar yah.”
“Oh ya? Memangnya kamu berani? Dasar murahan!” ulangnya sengaja membuat Mila marah.
Namun yang di lakukan Mila sungguh di luar dugaan, Mila merengkuh wajah tampan suaminya, berjinjit dan menyambar pipi suaminya.
Edward shock dengan tindakan Mila, yang ia pikir akan marah dan memberinya sebuah tamparan sesuai ucapannya.
“Aku gamparnya pakai bibir, rasain!” Edward masih membatu di tempat.
Setelahnya Mila mendorong tubuh Edward yang menghalangi jalannya.
“Dasar gadis sinting! Kenapa malah menciumku? Jijik sekali!” gumamnya dengan suara agak kencang sengaja agar Mila bisa mendengarnya dan sakit hati.
Jelas, Mila sangat jelas mendengar ocehan Edward yang jijik padanya. Dan hal itu mampu membuatnya sakit hati, rasanya seperti tertusuk pisau belati. Tapi sebisa mungkin Mila menahan emosinya.
‘Ingat Mila kamu anak baik, wanita sholehah. Jadi tidak boleh marah-marah dan terpancing emosi.’
Selesai memakai pakaiannya, Mila berjalan ke arah pintu seraya membuka kenop pintu hendak keluar kamar.
“Mila! Mau kemana kamu?”
“Aku mau numpang tidur di kamar mami Jessica, biar Mami tahu kalau kelakuan anaknya yang bikin sakit hati istri.” gertaknya, dengan gerakan cepat Mila langsung menutup pintu kembali dan berlari menuju kamar teh Tini, salah satu ART di rumah Edward yang sudah kenal dekat dengannya.
Dalam tiga bulan belakangan Mila kerap kali dibawa Edward berkunjung ke rumahnya. Jadi ia sudah hafal dengan anggota keluarga suaminya yang tinggal di sana dan ruangan-ruangan yang ada di sana.
Mila sedikit berlari kecil menuju kamar teh Tini yang berada di lantai dasar bagian belakang.
Tok..
Tok..
Tok..
Mila mengetuk pintu kamar teh Tini dengan nafas tersengal-sengal. Karena jarak antara kamar Edward dengan kamar sang ART cukup lumayan.
Ceklek..
“Non Mila, ada perlu apa, Non?”
“Hem, Teh aku boleh masuk dulu enggak. Aku capek nih.”
Teh Tini mengangguk lalu membuka lebar pintu kamarnya dan mempersilakan majiannya masuk ke dalam.
Mila langsung menjatuhkan dirinya di kasur single milik teh Tini.
“Ah, rasa nikmat sekali bisa merebahkan badanku.”
“Lho Non, kenapa malah tiduran di sini?”
“Malam ini, aku mau menginap di kamar teh Tini yah.”
Tini terkekeh, baru kali ini ada pengantin baru kabur di malam pertama.
“Non kabur? Kenapa? Apa mas Edward kasar mainnya? Atau tidak sabaran?”
Mila mengangkat kembali tubuhnya lalu duduk di pinggir tempat tidur.
“Apaan yang ada aku yang nyosor duluan. Hah, aku enggak ada harga dirinya banget sih jadi cewek. Apalagi mas Edward ngatain aku yang enggak-enggak gara-gara aku mergokin dia lagi mesraan sama cewek di belakang.”
“Mas Edward sama Non Clarisaa ya?” tebak Tini.
“Kok Teteh tahu sih? Iya, apa mereka punya hubungan? Kalau mereka punya hubungan kenapa enggak di nikahin aja si mak lampir itu.”
Tini mengernyitkan dahinya, “Clarissa maksudnya, Non?”
“Iya itu dia. Kenapa mas Edward malah menikah denganku kalau dia punya kekasih lain. Dulu bilangnya cinta tapi sekarang aku merasa telah di hianati.”
Tini menghampiri Mila duduk di sampingnya. Gadis berusia 33 tahun itu mengusap lembut punggung Mila.
“Sabar ya, Non. Tadinya Teteh pikir juga mas Edward udah berubah karena sudah mengambil keputusan ingin menikah. Tapi.. ternyata seperti ini. Coba non Mila bicarakan dulu baik-baik dengan mas Edward.”
Tini menatap iba pada Mila, sebab ia tahu betul bagaimana sifat Edward. Jika pria itu tetap tidak berubah maka kasihan Mila harus terjebak dalam pernikahan bersama pria dingin yang tidak menghargainya.
Mila tiba-tiba meneteskan air matanya, hal itu semakin membuat Tini jadi ikut terluka. Sesama wanita pasti bisa merasakannya.
“Aku merasa di tipu, Teh. Padahal aku udah mati-matian membujuk Ibun dan Abang agar mau memberikan restu dan mengizinkan aku menikah dengannya. Ah, ternyata aku salah, aku telah memilih pria brengs—tuutt itu.”
Tini mengernyitkan dahinya mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Mila.
“Eh, apaan itu maksudnya?”
“Sensor, Teh. Aku enggak boleh ngatain orang jadi kalau mau bicara yang tidak baik harus di sensor.”
Tini tertawa hingga terbahak-bahak, awalnya ia sedih melihat Mila yang sedang berduka. Tapi yang benar saja Mila masih bisa menghibur orang lain.
“Si Non teh, bisaan aja. Padahal tadi Teteh mau ikutan nangis tapi enggak jadi gara-gara Non ngelawak.”
“Enggak apa-apa dong Teh, berarti bagus kalau aku bisa bikin Teteh senang. Aku dapat pahala.”
Namun wajah Mila kembali murung.
“Apa aku minta dipulangkan aja yah?”
“Jangan dong, Non. Masa baru nikah sehari udah dipulangin. Belum juga di unboxing, non Mila itu cantik, seksi dan bohai. Masa mas Edward enggak tergiur sama non Mila.”
“Iya sih, Teteh benar, aku itu cantik. Kata teman-temanku juga bilang bodi aku bohai montok.”
Tini kembali tergelak melihat Mila yang bergaya menampilkan tubuhnya yang tergolong pas untuk ukuran tubuh wanita ideal. Katanya mah body goals.
“Iya, Non. Orang non Mila udah perfect gini kok di anggurin. Mas Edward lagi mabok kali, Non.”
“Hm, au ah. Aku jadi bingung, aku harus gimana dong, Teh?”
“Berjuang dulu, Non. Teteh akan selalu mendukung non Mila.”
Entahlah, rasanya Mila sudah hilang semangat untuk memperjuangkan cintanya. Melihat sikap Edward yang tiba-tiba 180 derajat berubah drastis setelah ijab qobul.
Ada rasa sesal yang menghantuinya. Tapi ia juga penasaran, apa yang membuat Edward berubah? Pokoknya masalah ini harus di selesaikan. Mila sudah bertekad jika esok ia akan menanyakan langsung pada Edward perihal perubahan sikapnya. Dan mengambil keputusan tentang pernikahannya.





