Tuan Muda Menginginkanku

Bella menangis, ia mendapat kabar buruk berikutnya, sebut saja vonis mutlak yang tak bisa Bella tolak.

Bella resmi dikeluarkan dari universitas pagi ini, perwakilan universitas hanya mengatakan jika mereka tak bisa membantu Bella lebih banyak, tapi siapa pun pasti tahu jika keluarga Parthatap menjadi pemasok dana terbesar bagi universitas.

Mikky memeluknya, ia membiarkan Bella menangis tanpa bertanya lebih banyak, hanya Mikky yang bisa memahami Bella sejak mereka menjadi teman dekat dua tahun lalu.

Ujian universitas segera tiba, tapi Bella harus menerima keputusan buruk seperti ini secara sepihak, ia tak bisa mengubur mimpi kecilnya begitu saja.

"Mereka melakukannya, Mikky. Mereka melepaskanku tanpa alasan yang jelas, kenapa banyak hal buruk mendatangiku setiap hari?" Bella mengangkat wajah, terlihat basah, ia menggeleng dan terus berbicara, memprotes di depan Mikky yang hanya mendengarkan tanpa berniat memotong ucapannya. "Apa yang harus aku lakukan setelah ini, bagaimana cara menjelaskan pada ibu jika putrinya dikeluarkan dari universitas?"

"Ini di luar prediksi, aku tak menyangka jika memang keluarga bibimu ada di balik semuanya. Aku turut bersedih untukmu, Bella. Bagaimana aku harus membantumu?"

Bella terdiam, ia menghapus air matanya, mahasiswi lain menjadikan gadis itu seperti tontonan gratis.

Balila berada di sana, berdiri dari jauh memperhatikan interaksi Bella dan Mikky, gadis itu seolah tahu jika hal buruk menimpa sepupu perempuannya hari ini. Balila menunduk, ia seperti menyesal.

"Apa yang harus aku lakukan, Bella? Semuanya terjadi sangat cepat, aku tak bisa menentang keputusan ayah dan ibu, tapi bagaimana mungkin aku melihatmu menangis sebanyak itu?" Balila memutuskan mendekat saat Bella dan Mikky duduk di sebuah kursi besi panjang di sisi koridor kampus.

"Aku terlalu terkejut sehingga tak bisa berpikir dengan benar."

"Kau harus tenang, Bella. Tarik napasmu perlahan, kau bisa melakukannya."

Bella mengangguk, meski masih menangis, ia tetap mengikuti perintah Mikky.

"Jika sudah merasa lebih tenang, kau bisa berpikir dengan benar." Mikky memeluknya. "Beritahu jika aku harus membantu sesuatu, kau tak perlu sungkan pada sahabatmu, Bella."

"Kejadian buruk datang satu per satu, membuatku kembali curiga jika setelah ini mendengar hal yang sama—bagaimana aku sanggup menghadapinya lebih jauh, Mikky? Bagaimana perempuan ini dapat melakukannya?"

Balila sudah berdiri di dekat mereka, ia terdiam memperhatikan interaksi tersebut sampai Mikky menyadari keberadaan Balila dan perlahan melepas pelukannya pada Bella.

"Dia di sini," ucap Mikky.

"Siapa?" Bella menoleh, ia beranjak menghadap Balila.

"Kak Bella, aku—"

"Kau sudah tahu tentang ini, Balila?" Bella seperti kehilangan kesabaran, ia mencengkram lengan Balila. "Kau pasti tahu jika ini pasti perbuatan ibumu, bukan? Katakan padaku, Balila. Jelaskan padaku sekarang." Bella tak sungkan mengguncangnya.

"Bella, tenanglah. Kau menyakitinya, dia merintih." Mikky berusaha mengingatkan ketika melihat ekspresi kesakitan di wajah Balila.

Bella melepaskannya, tapi ia tetap mencecar Balila. "Apa saja rencana ibumu, Balila." Ia meralat perkataannya. "Tidak, apa saja rencana orangtuamu, selain Bibi Paeng, Paman Nabdao juga tahu, bukan? Katakan padaku sekarang jika kau masih menganggap persaudaraan di antara kita."

Gadis itu menunduk di depan Bella, ia terlihat ketakutan sekaligus bingung menghadapi situasi seperti ini, ia sadar jika amarah sedang membakar Bella, meski Balila tahu segala rencana orangtuanya, tapi benarkah Bella harus tahu?

"Balila, katakan padaku. Bukankah kau masih menganggapku kakak tersayangmu? Ayo katakan." Bella menyentuhnya kembali, hanya cukup lembut tanpa cengkraman. Sementara Mikky tetap memperhatikan mereka, ia takut Bella bertingkah kasar.

Jika Bella berpikir Balila akan mengatakan sesuatu atas dasar persaudaraan mereka, maka gadis itu harus menelan kekecewaan, sebab Balila menggeleng.

"Aku tidak tahu, Kak Bella. Ibu dan ayah tak memberitahu apa pun."

"Benarkah? Kalau begitu lihat mataku, bicara kejujuran jika memang kau tak menyembunyikan apa pun, jangan menunduk."

Balila menelan ludah, ia memberanikan diri menatap kobaran api pada sepasang mata Bella, tubuhnya gemetar, meski karakter Bella terkesan lembut, tapi atmosfer kemarahan gadis itu selalu meletup jika sudah melewati batas kesabarannya.

"Kau akan mengatakannya sekali lagi?" tanya Bella.

"Aku tidak tahu apa pun terkait rencana orangtuaku, Kak Bella."

"Kau lihat dia, Mikky." Tiba-tiba saja Bella tertawa hambar. "Bahkan saudariku sendiri akan berbohong, meski dia mengingat kenangan jika kami pernah bertukar pakaian atau meminjam mainan saat kecil, dia akan tetap membohongiku."

"Bella, mungkin Balila memang tidak tahu apa pun. Kau tak bisa memaksanya,"  ujar Mikky.

Bella melihat Balila dengan tatapan bengis serta penuh curiga. "Seharusnya aku melempar pertanyaan itu pada Bibi Paeng dan Paman Nabdao langsung, aku akan melakukannya sekarang."

"Bella, kau akan pergi dalam keadaan seperti ini? Tidak, Bella. Tahan dirimu." Mikky berusaha mencegahnya, tapi Bella sudah mengeraskan hati dan menulikan telinga, ia tak peduli lagi.

Bella tetap menyingkir, berlari meninggalkan koridor utama, ia harus menggapai keadilan kembali.

***

Saat Bella mendatangi MP Group, pihak keamanan melarangnya untuk masuk meski mereka tahu bahwa sebelumnya Chali Parthapat—mendiang ayah Bella yang sempat menjadi CEO perusahaan sebelum berpindah ke tangan Nabdao Parthapat.

Ketika Bella meminta penjelasan, mereka berkata jika Bella serta ibunya memang tak lagi memiliki akses masuk ke tempat itu setelah posisi CEO digantikan pamannya.

Bella hampir terkejut, tapi ia tak berniat melawan atau memprotes lebih banyak, jika Nabdao membatasinya seperti ini, maka Bella akan mengejar Paeng.

Gadis itu memutuskan datang ke rumah besar keluarga Parthapat sepulang dari MC Group, tapi satpam rumah juga mencegahnya agar tidak masuk.

"Kenapa semua orang melakukan ini padaku!" Bella membentak satpam karena terus ditarik mundur menjauhi gerbang.

"Nona, sungguh maafkan aku, aku terpaksa mengikuti perintah Nyonya Paeng, aku masih ingin bekerja di tempat ini." Satpam itu bernama Jirawat, ia merasa kasihan melihat kondisi Bella, tapi Jirawat benar-benar tak bisa berbuat banyak.

"Jika benar seperti itu, sebaiknya tutup kedua telingamu," ucap Bella.

"Apa yang akan Nona lakukan?"

"BIBI PAENG!!! BIBI PAENG KELUARLAH SEKARANG, AKU MENUNGGUMU DI LUAR!!!" Bella berteriak sekuat tenaga sehingga Jirawat menutup telinganya, gadis itu belum kehilangan akal untuk mencari perhatian. "Bibi Paeng keluarlah sekarang!"

Keributan di luar rumah merusak fokus Paeng ketika sibuk membuka majalah mingguan, ia sudah mengincar tas baru untuk dibeli, tapi suara Bella menghancurkan suasana hatinya yang bagus.

Bersama dua asisten rumah, Paeng keluar menemui Bella yang masih berdiri di balik gerbang bersama Jirawat.

Paeng lantas berdecih melihat Bella, ia bersedekap dan tersenyum miring, tatapan menyepelekan.

"Untuk apa kau berteriak di depan rumahku? Aku tak bisa mencabut keputusan bahwa kau dan ibumu tak lagi tinggal di tempat ini, jadi pergilah, Bella."

Gadis itu mencengkram besi gerbang. "Aku dan ibu sudah pergi sesuai keinginanmu, tapi bagaimana mungkin Bibi juga mencabut status mahasiswiku di kampus. Kenapa kalian tega melakukannya, apa rencana kalian, kami sudah cukup teraniaya sekarang."

Paeng tertawa, tapi kedua asisten serta Jirawat hanya diam, ini bukan situasi lucu untuk tertawa, Paeng memang memiliki hati yang keras.

"Teraniaya? Benarkah, tapi kurasa kau belum menyadari segalanya, Bella. Jangan sampai kau menangis darah, aku tak ingin melihatnya."

"Apa maksud, Bibi."

Paeng mendekat, gerbang utama menjadi pembatas antara mereka. "Setelah kematian Chula, kau dan ibumu tak lagi bisa menemukan kebahagiaan di dunia, tak ada yang akan menerima kalian, karena aku ingin melihat kau dan ibumu sengsara selamanya."

***

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.