'Ya tuhan... mengapa hidupku jadi seperti ini'. Hati Alinda menjerit pilu dengan jalan hidup yang dia lalui sekarang. Air mata tak henti menetes dari matanya yang sembab. Dia turun dari ranjang melangkah ke kamar mandi. Dia menggosok kasar badannya. Dia merasa jijik dengan tubuhnya. Setelah selesai mandi dia berbaring di atas ranjang.
Pagi telah datang namun mata Alinda sama sekali tidak bisa dipejamkansedikitpun. Semalaman dia tidak bisa tidur. Setiap dia memejamkan matanya perlakuan dari Alexzno selalu terbayang di pikiranya.
Alinda segera berdiri menuju kamar mandi. Entah sudah berapa kali Alinda mandi dalam semalam. Entah berapa kali dia mencoba membersihkan tubuhnya , namun dia masih merasa kotor. Demi tuhan, dia bahkan masih merasakan tangan Alexzno yang mengerayangi tubuhnya. Tapi dia harus kuat demi daddynya. Dia menata dan menguatkan hatinya kembali. Dia mengangap semua ini adalah bentuk baktinya kepada daddy yang merawatnya penuh sayang dari kecil.
"Nona, Tuan menunggu anda untuk sarapan di bawah". Lenna memberitahu Alinda.
"Saya sedang tidak enak badan." Alinda menjawab dengan lemah.
"Apakah nona mau dibawakan sarapannya ke kamar." Lenna bertanya lagi.
Alinda menjawab dengan menganggukkan kepala. Badan Alinda terasa tidak enak sekarang, Badannya terasa meriang, mungkin ini efek mandi berkali-kali tadi malam.
Pelayan itu keluar dari kamar Alinda untuk mengambilkan sarapan pagi.
"Tuan, Nona sedang tidak enak badan. Nona menyuruh saya mengantarkan sarapan ke kamarnya." Pelayan itu melapor pada Alexzno.
"Hmm, bawakan saja apa yang Dia minta. Pastikan Nona memakan sarapannya dan meminum obat."
"Baik Tuan." jawab sang pelayan.
Sang pelayan segera menggantarkan sarapan ke kamar Alinda.
Alana meletakkan sarapan di atas nakas. Alana membangunkan Nonanya, yang sedang meringkuk di atas tempat tidur.
"Nona. Bangunlah sarapan dulu dan minum obatnya."
Pelayan itu memberi tahu Alinda.
Alinda hanya mengeliat dan melihat dengan malas mangkok yang berisi bubur. Dia tidak bernafsu makan sama sekali.
" Baiklah, nanti akan saya makan. Kamu keluarlah, Saya ingin beristirahat." jawab Alinda.
"Baik Nona."
Pelayan itu undur diri dan meninggalkan Alinda sendirian di kamar.
Alexzno menyelesaikan sarapan paginya. Setelah sarapan dia melangkah ke lantai atas untuk melihat keadaan Alinda.
Alexzno membuka pintu kamar Alinda. Alexzno melangkah masuk ke dalam kamar Alinda. Mata Alexzno melihat mangkok bubur yang masih penuh di atas nakas. Itu tandanya Alinda belum menyentuh buburnya sedikitpun.
Hatinya menggeram marah dengan kelakuan Alinda. Dia menyibakan selimut dengan kasar.
" Cepat bangun dan makanlah! Aku tak ingin ada orang yang menyusahkan di dalam rumahku."
Alinda menatap tajam mata Alexzno. Kenapa orang ini tak membiarkan dirinya tenang sejenak. Kenapa orang ini selalu menganggunya?
Tanpa banyak kata Alinda mengambil mangkok bubur dan memaksakan diri untuk menelan bubur itu. Dirinya terlalu malas berhadapan dengan monster menyebalkan seperti Alexzno.
Alinda bersikap patuh untuk saat ini. tapi jangan salah, di dalam hati Alinda saat ini ia sedang mengucapkan umpatan dan sumpah serapah yang di tunjukkan kepada laki-laki bermuka datar yang sedang berada di sampingnya.
Alexzno memandang dengan awas setiap gerakan Alinda yang menyuapkan bubur ke dalam mulutnya. Diam-diam bibir Alexzno tertarik sedikit , sangat sedikit hingga tak terlihat. Dalam hati, Alexzno menyukai kepatuhan yang di tunjukkan perempuan ini.
Setelah memastikan buburnya habis. Alexzno memandang wajah Alinda, Dia membungkukkan wajahnya tepat berada di depan wajah Alinda, Nafas hangat Alexzno menerpa wajah Alinda. Dan tanpa aba-aba Alexzno menyambar bibir Alinda , Alexzno melumat dan menghisap bibir Alinda dengan pelan.
Sesekali Alexzno mengigit kecil bibir milik Alinda. Mata Alinda melotot kaget dengan kelakuan Alexzno, Dia masih belum terbiasa dengan serangan yang tiba-tiba dari Alexzno.
Alinda secara reflek memukul dada Alexzno. Alinda merasa nafasnya akan hilang jika Alexzno tak melepaskan bibirnya.
Alexzno dengan tidak rela mengakhiri ciuman dibibir Alinda. Dia menatap sayu mata Alinda. Hasrat dalam dirinya selalu bangkit jika bersentuhan dengan Alinda.
"Ahemm." Alexzno berdehem untuk menetralkan hasratnya. Dia mengusap bibir Alinda dengan ibu jarinya sambil berkata.
"Bibir manis ini punyaku, dan seluruh tubuhmu hanya milikku jadi jangan pernah punya fikiran untuk lari dariku. Jika kau berani lari dariku, Jangan salahkan aku jika kakimu nanti tidak utuh lagi." Alexzno berkata dengan nada datar. Bibirnya membentuk senyum . Senyuman yang menunjukkan aura yang mematikan.





