Tiga Puluh Nasi Bungkus

Dulu aku memang sempat tidak mempercayainya karena mungkin saja Delia salah lihat. Namun, kini ucapan Bu Retno seolah telah meyakinkanku. Coba aku tanyakan lagi kebenarannya pada Delia setelah ia pulang dari sekolah nanti.

Aku menyimpan sayuran dan beberapa ikan segar juga daging ayam pada lemari pendingin seusai aku belanja sayur pada pedagang sayuran keliling yang biasa lewat di depan rumah. Mang Didin sudah sedari tadi berada di halaman rumahku karena masih ada beberapa ibu-ibu yang sedang membeli sayur.

Pintu utama rumahku sengaja tidak kututup dengan rapat agar memudahkan Delia dan Nurmi masuk ke rumah. Mungkin beberapa jam lagi mereka akan segera sampai ke rumah. Delia dan Nurmi satu sekolah. Delia duduk di bangku sekolah dasar kelas empat, sedangkan si bungsu Nurmi duduk di bangku sekolah dasar kelas dua. Setiap pulang sekolah mereka selalu pulang bersama. Nurmi selalu menunggu Delia di sekolah karena Nurmi selalu pulang lebih awal dari Delia. Antara jarak dari sekolah ke rumahku itu tidaklah jauh. Hanya ditempuh dengan berjalan kaki pun akan segera sampai dan tidak pula memakan waktu yang cukup lama.

Pagi tadi aku sudah memasak rawon. Tiga puluh bungkus sudah kuberikan pada Mas Edi untuk dibawanya. Masih banyak tersisa rawon di dalam panci. Itu aku perkirakan cukup untuk makan siang dan makan malam. Jika siang, Mas Edi tidak makan di rumah. Palingan Mas Edi makan di warung. Bisa pula makan di warungnya Mbak Mila. Jadi, hanya aku dan anak-anak saja yang makan siang di rumah. Barulah pada malam hari kami makan bersama Mas Edi.

Sejumlah sayuran yang kubeli pagi ini aku perkirakan cukup untuk makan buat besok. Aku memasak sayuran itu sebelum azan subuh dan setelah azan subuh harus sudah tersedia tiga puluh nasi bungkus.

Sebelum menunggu anak-anakku pulang sekolah lebih baik kupergunakan waktunya untuk mencuci pakaian. Setiap hari aku mencuci satu keranjang besar baju kotor. Antara baju dan celana dalam aku pisahkan terlebih dulu. Aku rendam saja dulu pakaian kotor itu karena terbesit di pikiranku akan menyapu halaman belakang rumah terlebih dulu. Namun, niatku untuk merendam satu keranjang pakaian kotor dengan detergen musnah seketika kudengar suara ketukan dari pintu utama rumah.

Jika anak-anakku pulang sekolah cepat, tidak mungkin mereka mengetuk pintu terlebih dahulu. Pasti mereka langsung masuk ke dalam rumah karena setiap harinya pintu utama tidak pernah kututup dengan rapat. Mereka sudah mengetahui akan hal itu. Jika ada yang mengetuk pintu, apa lagi berulang kali, berarti itu bukanlah anak-anakku.

Aku melangkah dengan cepat ke pintu utama rumah. Semakin cepat langkahku, semakin cepat pula terdengar bunyi ketukan pintu.

“Tunggu sebentar!” ucapku.

Seketika itu pula ketukan pintu terhenti.

Sesampainya aku di pintu utama rumah, dengan segera pintu kubuka secara perlahan. Namun, tidak sama sekali kulihat ada seseorang di depan pintu utama rumahku. Jalanan pada gang ini juga cukup sepi. Jarang ada sepeda motor melintasi gang kecil ini.

Aku berpikir lagi, “Tidak mungkin jika Delia dan Nurmi mengajakku untuk bercanda seperti ini.” Selama ini kedua buah hatiku itu tidak pernah mengajakku untuk bercanda seperti ini. Lagi pula saat ini masih pagi. Tidak mungkin jika Delia dan Nurmi sudah pulang dari sekolah. Mas Edi juga tidak mungkin mengajak aku bercanda seperti ini. Namun, jelas kudengar jika suara ketukan terdengar pada pintu utama rumahku.

Rumah tetanggaku juga terlihat sepi. Mereka melakukan kegiatan mereka masing-masing. Anak-anak mereka juga semua pada sekolah. Pada sore hari barulah gang ini ramai karena anak-anak pada bermain, ibu-ibu pada keluar dari rumah ada yang menyapu halaman, ada yang mengajak anak-anak mereka jalan-jalan pada sore hari, ada pula yang bergunjing antara satu dengan yang lainnya, dan bapak-bapak hampir semuanya sudah pada pulang kerja.

Jika pagi hari hingga siang hari di gang ini masih dengan suasana sepi. Sepeda motor yang melintas pada gang kecil ini pun hanya bisa dihitung dengan jari. Semua pintu rumah pada di tutup. Para ibu-ibu ada yang berdagang di luar sana. Ada pula yang sedang menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Para bapak-bapak sedang bekerja di luar rumah.

Mungkin hanya halusinasiku saja. Ini akibatnya jika terlalu banyak pikiran. Aku memalingkan tubuhku dan akan segera berjalan untuk menuju ke halaman rumahku. Namun, tak lama kemudian terdengar lagi bunyi ketukan pintu. Bunyi itu terdengar dari pintu utama rumahku. Lagi-lagi suara itu berasal dari pintu utama rumahku.

Sekali lagi aku memalingkan tubuhku lalu berjalan menuju ke arah pintu utama rumah. Semakin lama bunyi itu semakin cepat terdengar. Kali ini aku hanya diam saja. Namun, langkahku semakin cepat mengarah ke pintu utama rumah. Dengan segera kubuka perlahan lagi pintu utama rumah yang memang tidak kututup dengan rapat. Lagi dan lagi tidak ada seorang pun yang berada di ambang pintu. Aku segera melangkah ke teras rumah. Kulihat ke arah samping rumah, tetapi tidak ada juga kutemukan seseorang. Semua terlihat sepi.

Tak lama kemudian kulihat sepeda motor melintas di depan rumahku lalu kulihat pula tetanggaku yang di seberang rumahku membuka pintu utama rumahnya. “Lagi apa, Bu?” tanya tetanggaku itu.

“Lagi mencari seseorang. Tadi ada yang mengetuk pintu rumah, tetapi setelah kubuka pintu rumah, orang tersebut tidak ada,” jawabku.

“Mungkin Bu Sari hanya salah dengar saja,” jawab tetanggaku itu.

“Iya, mungkin juga.”

Sepertinya tetangga di seberang rumahku itu akan menjemput anaknya yang masih duduk di sekolah Taman Kanak-Kanak. Anak-anak yang masih duduk di Taman Kanak-Kanak itu pulang sekolahnya lebih cepat ketimbang anak-anak yang sudah duduk di bangku sekolah dasar.

“Mari, Bu,” pamit tetanggaku itu.

Aku membalasnya dengan tersenyum lebar.

Sebelum aku melangkahkan kaki untuk masuk lagi ke dalam rumah, kulihat di sebelah pot bungaku yang berada di samping rumah ada sebuah surat. Dengan gemetar aku mengambil amplop tersebut. Dengan segera pula amplop itu kubawa masuk ke dalam rumah.

Berati ketukan pintu beberapa kali dari orang misterius itu hanya untuk memberitahu amplop ini. Pada sampul amplop itu tertulis nama suamiku “Untuk Mas Edi” hanya itu saja yang kulihat. Pada sampul amplop di belakangnya tidak tertera nama dari sang pengirimnya.

Dengan lancang kubuka amplop itu tanpa aku harus memberitahukannya pada Mas Edi terlebih dulu. Jika Mas Edi biasa main rahasia-rahasiaan dariku, begitu pula denganku juga akan bermain rahasia-rahasiaan dengannya. Jadi, mulai hari ini tidak ada keterbukaan di antara kami. Bukan aku yang memulai tentang semua ini, tetapi Mas Edi lah yang memulainya terlebih dulu.

Aku duduk di ruang utama rumah dengan merobek amplop itu perlahan sambil menunggu Delia dan Nurmi pulang dari sekolah lebih baik aku membaca isi surat itu. Niatku untuk menyapu halaman belakang rumah pun sirna seketika. Perasaanku terus diselimuti oleh kecurigaan yang tiada tara pada Mas Edi.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.