The Devil

Enam bulan sudah berjalan. Alina sudah kehilangan enak hari kehidupannya selama ini. Ia juga sudah mulai terbiasa dengan sosok Alardo bersamanya.

Pria Iblis itu selalu mengebor Alina ke mana pun Alina pergi bak bodyguard Alina tak pernah sendirian.

Bahkan di tengah malam sekali pun Alardo akan tidur bersama Alina. Membuat mimpi buruk kepada gadis itu kemudian membuat Alina terbangun dan memaki Alardo. Tak heran dan asing lagi bagi Alardo untuk selalu melayani Alina. Bahkan untuk mandi di pagi hari saja Alardo dengan sigap menggosok punggung Alina kemudian menyiapkan beberapa pakaian.

“Ah sepertinya aku terlalu manja terhadapmu Al,” Alina berdecak kesal merampas handuk di tangan Alardo kemudian berjalan santai keluar dari bactup mandi.

Rambut nya benar-benar wangi termasuk kulitnya yang semakin membaik setelah Alardo merawat dirinya dengan sempurna.

“Selama nyawa nona tersisa tidak ada salahnya bergantung pada saya.”

Alardo memakaikan dress Alina dengan baik. Mengancing nya dari belakang kemudian menyisir rapi rambut Alina dengan singkat.

“Hari ini saja aku tak ingin menerima bantuanmu Al, semakin sering menyuruhmu membuat malam akhir bulan itu semakin sakit.”

Alina hendak pergi ke kantor. Ya, Alardo bisa membuat sejumlah uang atau rumah sesuai keinginannya namun tetap saja uang yang di buat itu tak semudah memetik daun dari pohon. Alina harus bekerja dan Alardo akan menerimanya di sana.

“Apa makhluk lemah seperti nona bisa bertahan hidup tanpa saya?”

Alina melempar tas miliknya kepada Alardo. Menatap pria iblis itu dengan amarah.

“Kau pikir aku tak mampu bertahan hidup tanpamu? Cih! Aku bahkan bisa mengurus kantor seharian penuh tanpamu! Lihat saja...”

Terdengar tawa merdu dari Alardo. Pria iblis itu memberikan kembali tas Alina kemudian mengajak nona nya itu untuk segera turun ke pantai satu dan bergegas berangkat.

“Bahkan hidup nona sudah tergadaikan kepada saya.”

“Jangan lancang Al!”

“Apa itu perintah?”

“Akan ku bunuh kau suatu saat nanti Al!”

“Ah, saya tersanjung mendengarnya.”

Pagi ini Alina pergi sendirian ke kantor. Setelah berdebat singkat dengan Alardo pria itu tak lagi menemaninya atas perintah Alina sendiri. Tak si sangka-sangka baru saja ia membawa mobilnya pergi seratus meter dari rumah beberapa orang langsung menghadangnya. Menariknya paksa seperti perampok jalanan.

Semua barang Alina habis di bawa oleh perampok itu termasuk Alina sendiri. Mereka menyekap Alina dalam sebuah kotak kaca yang di mana kain merah menutupinya dari luar. Kedua mata Alina juga di tutup lain, sembari terdengar beberapa suara bariton berat dari sana.

Tak beberapa saat setelah itu Alina melihat dirinya berada di tengah panggung. Dengan pakaian yang dilucuti oleh beberapa orang yang Alina tak kenal. Nyaris Alina teringat kembali hal yang pernah di lakukan pamannya beberapa bulan lalu.

“Di mana aku!” Begitu kain merah kaca uti di buka serta kain penutup mata Alina yang terlepas ia melihat beberapa orang duduk menatap dirinya dengan tatapan tak pantas.

Kemudian terlihat seseorang yang berdiri di samping kotak nya berteriak menawarkan harga sembari mengatakan hal yang benar-benar tak benar tentang Alina.

“Inilah gadis sempurna edisi bulan ini, pintar memasak dan juga berpengalaman dalam beberapa hal. Di jamin tidak akan rugi membelinya, tawaran pertama dimulai dari 100US Dolar!”

Alina mengumpat. Dirinya kini sadar bahwa ia berada di tekan pelelangan wanita-wanita. Terlihat jelas pria-pria kolong merah yang harus nafsu itu mulai menawar harga yang semakin tinggi untuk tubuhnya ini.

“150US Dolar!”

“300US Dolar!”

“500US Dolar!”

Harga senilai 500US Dolar menjadi tawaran terakhir yang kian membuat Alina semakin emosi.

“Hei! Harga diriku tak semurah itu! Setidaknya naikkan angkanya walau kalian tak mungkin sanggup membeliku!” pekik Alina sembari memukul kotak kacanya.

Tak beberapa saat suara bariton yang tak asing di telinga Alina terdengar.

“15000US Dolar!”

Itu adalah Alardo. Pria itu tersenyum licik mendapati Alina sudah berada di ruang lelang dengan pakaian terbuka. Ah, Alardo tak begitu terkejut, ia biasa melihat Alina seperti itu.

“Sialan kau Al! Ini pasti ulahmu! Brengsek!” Amarah Alina pecah saat itu juga. Ingin segera keluar dari kota kata itu dan menusuk Alardo dengan pisau berkali-kali.

“Saya pikir tidak, ah sepertinya tawaran saya paling tinggi di sini. Apa saya mendapatkannya?”

Alardo berjalan mendekati pelelang yang berdiri di samping Alina dengan mikrofon.

“Ya! Anda adalah penawar tertinggi untuk lelang gadis ini.”

Mendengar hal itu Alardo terkekeh. Manusia-manusia di hadapannya benar-benar tergila-gila dengan uang. Bahkan memperjual belikan wanita seperti ini. Alardo tak habis pikir sikap manusia bahkan lebih buruk dari dirinya seorang iblis.

“Tetapi tiba-tiba saya tak menginginkannya lagi,” ucap Alardo menatap Alina lekat.

“Al!” pekik Alina.

“Tetapi anda telah menjadi penawar tertinggi dalam lelang ini. Tidak ada tawaran yang di batalkan tuan,” jelas pria, yang melelang Alina.

“Baiklah saya berikan uangnya dan ambil saja gadis itu untukmu. Dia lebih nyaman di banding guling di malam hari...”

Tawa Alardo pecah. Ia melihat wajah Alina yang memerah karena emosi melihat sikap Alardo. Sengaja sekali agar Alina kembali memerintah Alardo dan terlihat lemah tanpa pria iblis itu.

“Al! Ini terakhir kali ku peringatkan! Hentikan permainan gilamu ini!” amuk Alina.

“Bawa saja gadis itu ke mana pun yang kamu inginkan. Sepertinya dia tak senang melihat saya.”

Alardo mengambil langkahnya pergi dari sana dan Alina otomatis di seret kembali oleh pelelang itu di mana ia sangat, bersemangat mendapatkan Alina sekaligus uang dari Alardo.

Alina panik, ia tak mau di sentuh siapa pun termasuk orang-orang seperti mereka. Akhirnya Alina mengalah, tak ingin melewati masa-masa suram beberapa bulan lalu.

“Baik bisa di hidung dari sekarang...satu...dua...ti—“ ucapan Alardo terpotong oleh teriakan Alina.

“Aku perintahkan Al untuk membunuh mereka semuanya!”

Shinggg!

Dalam sedetik semua orang yang hadir di tempat pelelangan itu kepalanya terpenggal. Alardo hanya perlu bergerak cepat dengan kuku-kukunya yang panjang itu kemudian manusia-manusia di sana tewas seketika.

“Akhirnya nona memberikan perintah kepada saya, akhir bulan ini akan cukup menyakitkan bukan? Lihat ada banyak sekali kepala di sini. Nona benar-benar harus mempersiapkan energi yang banyak.”

Mulut Alardo itu tak bisa menyatakan sesuatu yang baik kepada Alina. Toh Alardo adalah Iblis terkuat dalam klan nya, mustahil mulutnya itu mengatakan sesuatu yang baik.

“Suatu saat kau akan mati di tanganku Al!”

“Saya tunggu nona.”

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.